SAAT ZIARAH MAKAM IBUKU, TANAH MAKAM SEHARGA 300 JUTA TIBA-TIBA DIISI NAMA ORANG LAIN. TERNYATA SUAMIKU SENDIRI YANG MEMINDAHKANNYA DEMI SELINGKUHANNYA! 😡🪦

Palu godam pertama menghantam sisi nisan marmer itu tepat ketika matahari mulai muncul di balik deretan pepohonan.

Suara retakannya terdengar keras di tengah pemakaman yang masih sepi.

Saya berdiri beberapa meter dari liang lahat dengan tangan terlipat di dada. Buket melati yang seharusnya saya letakkan di makam Ibu masih berada di dalam mobil. Saya tidak sanggup menyentuh bunga itu sebelum mengembalikan kehormatan perempuan yang telah membesarkan saya seorang diri.

Namun sebelum pukulan kedua dijatuhkan, sebuah mobil hitam melaju cepat dan berhenti mendadak di dekat kami.

Pintunya terbuka.

Dimas turun dengan wajah merah padam.

Di belakangnya muncul Siska.

Untuk pertama kalinya saya melihat wanita itu tanpa senyum manis yang biasa ia tunjukkan setiap kali datang ke rumah kami dengan alasan mengantar oleh oleh dari kampung.

“Kirana, hentikan!”

Dimas berlari mendekat.

Saya mengangkat tangan kepada para pekerja.

Mereka berhenti.

Dimas berdiri di depan saya sambil terengah engah.

“Kamu sudah gila? Jenazah sudah dimakamkan di sini. Kamu tidak bisa seenaknya membongkar makam orang.”

Saya menatapnya tanpa berkedip.

“Menarik sekali mendengar kata seenaknya keluar dari mulutmu.”

Siska maju sambil menangis.

“Kak Kirana, saya minta maaf. Ibu saya tidak bersalah. Kalau Kakak marah, marahlah kepada saya.”

Saya memandang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu dari ujung kepala hingga kaki.

“Saya tidak marah kepada ibumu. Orang yang sudah meninggal tidak tahu apa yang kalian lakukan.”

Saya menunjuk nisan di belakangnya.

“Saya marah kepada orang hidup yang menganggap makam ibu saya bisa dipindahkan seperti memindahkan pot bunga.”

Wajah Siska memucat.

Dimas langsung menarik lengannya ke belakang.

“Sudah. Jangan bicara dengan dia.”

Saya hampir tertawa.

Selama tujuh tahun menikah, saya mengenal Dimas sebagai pria yang sangat pandai memainkan peran.

Di depan keluarga saya, ia suami penyayang.

Di depan rekan bisnis, ia pengusaha pekerja keras.

Di depan saya, ia selalu mengaku semua yang dilakukan demi keluarga.

Ternyata ada satu peran lain yang selama ini tidak saya ketahui.

Kekasih yang rela mencuri tempat peristirahatan terakhir mertuanya sendiri.

Telepon saya bergetar.

Pesan dari Reihan masuk.

Jangan tanda tangani apa pun. Aku sudah menemukan sesuatu. Lebih besar daripada perselingkuhan.

Saya membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian memasukkan ponsel kembali ke tas.

“Pak, lanjutkan.”

Para pekerja kembali mengangkat peralatan.

Dimas mendadak berdiri menghalangi mereka.

“Kalau kalian menyentuh makam itu, saya laporkan polisi!”

“Silakan.”

Saya mengeluarkan dokumen kepemilikan kavling.

“Pengelola sudah mengakui bahwa proses pemindahan dilakukan tanpa persetujuan pemilik sah. Semua rekaman CCTV sudah diamankan pengacara saya.”

Wajah Dimas berubah.

Saya mendekatinya.

“Dan jangan khawatir. Jenazah ibu Siska tidak akan diperlakukan seperti kamu memperlakukan ibuku. Saya sudah meminta pengelola menyiapkan kavling lain dengan layak. Semua proses pemindahan akan dilakukan sesuai prosedur.”

Siska menatap saya dengan mata membesar.

“Kak Kirana…”

“Jangan berterima kasih.”

Suara saya datar.

“Saya melakukannya karena saya masih tahu bagaimana menghormati orang yang sudah meninggal.”

Dimas tidak mengatakan apa pun lagi.

Dua jam kemudian, nisan Ibu kembali dipasang di tempat semula.

Ketika nama Ratih Wulandari akhirnya kembali terlihat di atas marmer putih itu, lutut saya terasa lemas.

Saya berjongkok dan meletakkan bunga melati di depannya.

“Maaf, Bu.”

Suara saya pecah.

“Anakmu terlambat tahu.”

Saya tidak menangis ketika mengetahui Dimas berselingkuh.

Saya juga tidak menangis ketika melihat rekaman CCTV.

Tetapi di depan nama Ibu, air mata saya akhirnya jatuh.

Dulu Ibu pernah berkata sebelum saya menikah, jangan pernah menyerahkan seluruh hidup kepada seseorang hanya karena mencintainya.

Saat itu saya menganggapnya terlalu khawatir.

Sekarang saya mengerti.

Sore harinya saya langsung menuju kantor Reihan di kawasan Sudirman.

Kakak saya sudah menunggu bersama dua pengacara dan seorang auditor forensik.

Di atas meja terdapat beberapa bundel dokumen.

Reihan tidak berbasa basi.

“Perusahaan Dimas hampir bangkrut.”

Saya terdiam.

“Apa?”

“Enam belas bulan terakhir dia menarik dana perusahaan melalui beberapa vendor fiktif.”

Reihan mendorong laporan ke arah saya.

Jumlahnya membuat tenggorokan saya tercekat.

Lebih dari sebelas miliar rupiah.

Sebagian uang digunakan membeli apartemen, mobil, perhiasan dan membayar berbagai pengeluaran atas nama Siska.

Saya membalik halaman demi halaman.

Kemudian menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Sebuah polis asuransi jiwa.

Nama tertanggung adalah saya.

Nilainya lima belas miliar rupiah.

Penerima manfaatnya Dimas Pratama.

“Tunggu.”

Saya menatap Reihan.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

“Itulah masalahnya.”

Reihan mengeluarkan salinan formulir.

“Tanda tanganmu dipalsukan.”

Darah saya terasa berhenti mengalir.

Perselingkuhan masih bisa saya pahami sebagai pengkhianatan.

Pencurian masih bisa saya pahami sebagai keserakahan.

Tetapi asuransi jiwa dengan tanda tangan palsu membuat semuanya terasa jauh lebih gelap.

“Maksud Mas apa?”

“Aku belum mau menyimpulkan.”

Reihan menatap saya serius.

“Tapi mulai malam ini jangan tinggal sendirian dengan Dimas.”

Saya kembali ke rumah ditemani dua staf keamanan dari kantor Reihan.

Dimas tidak ada.

Lemari pakaiannya terbuka.

Beberapa pakaian hilang.

Di meja makan hanya tersisa makanan yang kemarin ia masak, sudah dingin dan mengering.

Saya berjalan ke kamar kerja Dimas.

Entah mengapa saya teringat aroma parfum Siska yang menempel di kerahnya.

Saya mulai membuka laci.

Tidak ada apa apa.

Kemudian saya melihat sebuah amplop terselip di belakang rak dokumen.

Di dalamnya terdapat kuitansi rumah sakit atas nama seorang perempuan.

Nama pasien membuat saya membeku.

Ratna Suryani.

Ibu Siska.

Tanggal kematian yang tercetak di kuitansi adalah tiga bulan lalu.

Padahal Dimas memindahkan makam Ibu saya dua minggu lalu.

Saya membaca lagi.

Tidak mungkin salah.

Kalau ibu Siska sudah meninggal tiga bulan sebelumnya, lalu siapa yang baru dimakamkan dua minggu lalu di kavling milik saya?

Saya langsung menelepon Reihan.

“Mas, ada yang tidak masuk akal.”

Setelah mendengar penjelasan saya, Reihan terdiam beberapa detik.

“Jangan sentuh dokumen lain. Foto semuanya dan keluar dari rumah.”

Malam itu kami kembali meminta bantuan pengelola pemakaman.

Data administrasi menunjukkan jenazah yang dimakamkan menggunakan identitas Ratna Suryani.

Namun dokumen rumah sakit yang dilampirkan berbeda dari kuitansi yang saya temukan.

Nomor registrasinya tidak cocok.

Reihan segera meminta timnya melakukan penelusuran.

Hasilnya datang keesokan siang.

Dan saat membacanya, saya hampir tidak percaya.

Ibu kandung Siska memang telah meninggal tiga bulan sebelumnya dan dimakamkan secara sederhana di kampung halamannya di Subang.

Artinya, perempuan yang dimakamkan menggunakan nama ibunya bukan ibu Siska.

Polisi akhirnya dilibatkan.

Dimas dan Siska ditemukan di sebuah apartemen di Jakarta Barat dua hari kemudian.

Saat diperiksa, keduanya saling menyalahkan.

Tetapi kebohongan sebesar itu tidak bertahan lama.

Perempuan yang dimakamkan di kavling saya ternyata bernama Maya.

Maya adalah mantan pegawai bagian keuangan perusahaan Dimas.

Ia bukan keluarga Siska.

Ia adalah orang yang mengetahui aliran dana vendor fiktif.

Tiga minggu sebelum meninggal, Maya sempat menghubungi Dimas dan mengancam akan menyerahkan dokumen perusahaan kepada pihak berwenang jika uang yang menjadi hak para karyawan tidak dikembalikan.

Maya kemudian meninggal akibat penyakit yang sudah lama dideritanya.

Tidak ada bukti bahwa Dimas menyebabkan kematiannya.

Namun kematiannya membuat Dimas panik.

Ia takut keluarga Maya menemukan dokumen yang pernah dibawa pulang perempuan itu.

Dimas dan Siska lalu menawarkan membantu biaya pemakaman dengan syarat seluruh barang pribadi Maya diserahkan kepada mereka.

Mereka menggunakan identitas ibu Siska yang sudah meninggal agar hubungan Maya dengan perusahaan sulit dilacak.

Dan mereka memilih kavling milik saya karena dianggap tempat yang aman.

Tempat yang tidak mungkin dicurigai siapa pun.

Makam ibu saya ternyata bukan sekadar dikorbankan demi selingkuhan.

Makam itu digunakan untuk menyembunyikan jejak kejahatan finansial.

Namun Dimas melakukan satu kesalahan.

Maya sudah menduga sesuatu akan terjadi.

Sebelum meninggal, ia mengirim salinan seluruh dokumen transaksi kepada seorang mantan rekan kerjanya.

Dokumen itu akhirnya sampai ke tangan Reihan.

Penyelidikan berkembang cepat.

Vendor fiktif ditemukan.

Rekening penampung ditemukan.

Pemalsuan tanda tangan ditemukan.

Manipulasi dokumen pemakaman juga terbongkar.

Beberapa bulan kemudian, saya duduk di ruang sidang dan melihat Dimas mengenakan kemeja putih sederhana di kursi terdakwa.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Ketika mata kami bertemu, tidak ada lagi kemarahan dalam diri saya.

Hanya rasa asing.

Sulit dipercaya bahwa pria itu pernah tidur di samping saya selama bertahun tahun.

Setelah persidangan selesai hari itu, Dimas meminta berbicara sebentar.

Dengan pengawasan petugas, saya berdiri beberapa meter darinya.

“Kirana.”

Saya diam.

“Aku tahu kamu tidak akan memaafkan aku.”

“Benar.”

Dimas menunduk.

“Aku cuma ingin bilang satu hal. Awalnya aku benar benar mencintaimu.”

Saya tersenyum tipis.

“Orang selalu mengatakan itu setelah menghancurkan seseorang.”

“Semua berubah ketika aku merasa hidup di bawah bayang bayang keluargamu. Perusahaan itu kelihatan milikku, tapi modal awalnya berasal dari bantuan keluargamu. Rumah kita milikmu. Bahkan makam itu milikmu.”

Untuk pertama kalinya saya memahami sesuatu.

Dimas bukan membenci saya karena saya kurang memberinya.

Ia membenci saya justru karena terlalu banyak menerima.

Harga dirinya mengubah rasa terima kasih menjadi iri.

Dan iri berubah menjadi keinginan menghancurkan sumber rasa rendah dirinya.

Saya menatapnya.

“Kalau kamu merasa kecil di sampingku, seharusnya kamu tumbuh. Bukan mencoba mengecilkan aku.”

Dimas tidak menjawab.

Saya berbalik dan pergi.

Siska akhirnya juga diproses hukum atas keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen dan pengalihan dana.

Saya mengajukan perceraian.

Tidak ada perebutan panjang.

Tidak ada kesempatan kedua.

Setahun setelah semuanya selesai, saya kembali ke Karawang.

Kali ini sendirian.

Pagi itu cerah.

Rumput di sekitar makam Ibu tumbuh rapi.

Saya membersihkan sedikit debu dari nisan marmernya lalu meletakkan bunga melati.

“Bu, aku datang.”

Saya duduk cukup lama.

Anehnya, tempat yang dahulu menjadi awal kehancuran rumah tangga saya kini terasa seperti tempat paling tenang.

Sebelum pergi, seorang petugas pemakaman menghampiri.

“Ibu Kirana?”

“Ya?”

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Ini ditemukan saat kami memindahkan kembali makam almarhumah waktu itu. Terselip di bagian bawah kotak penyimpanan nisan lama. Kami baru menemukannya saat inventarisasi.”

Saya membuka amplop itu.

Tulisan tangan di dalamnya langsung saya kenali.

Tulisan Ibu.

Ternyata sebelum meninggal, Ibu pernah menitipkan surat kepada pengelola untuk diletakkan bersama dokumen makamnya.

Saya membaca kalimat pertama dengan tangan gemetar.

Kirana, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak bisa lagi berdiri di sampingmu.

Air mata saya mulai mengaburkan tulisan.

Ibu menulis tentang masa kecil saya, tentang Ayah yang meninggal terlalu cepat, tentang bagaimana ia membesarkan saya dan Reihan sambil menjalankan usaha kecil hingga keluarga kami mampu hidup berkecukupan.

Kemudian saya sampai pada paragraf terakhir.

Ibu tidak meninggalkan pesan tentang uang.

Tidak tentang rumah.

Tidak juga tentang menjaga nama keluarga.

Ia hanya menulis satu kalimat yang membuat saya menangis seperti anak kecil di depan makamnya.

Jangan mempertahankan seseorang hanya karena takut kehilangan, Nak. Kadang kehilangan adalah cara Tuhan mengembalikan hidupmu kepadamu.

Saya menempelkan surat itu ke dada.

Selama ini saya mengira Dimas telah merampas tempat terakhir milik Ibu.

Ternyata justru karena ia memindahkan makam itulah semua kebohongannya terbongkar.

Kalau hari itu saya tidak datang membawa bunga melati, mungkin saya masih tinggal bersama seorang pria yang memalsukan tanda tangan saya, mencuri uang perusahaan, dan tersenyum setiap malam di meja makan seolah tidak terjadi apa apa.

Saya memandang nama Ibu sekali lagi.

Angin pagi membuat bunga melati di atas makam bergerak perlahan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tersenyum.

Dimas memang pernah mencoba memindahkan Ibu dari tempat peristirahatan terakhirnya.

Namun tanpa ia sadari, perbuatannya justru membawa saya kembali ke satu tempat yang selama bertahun tahun saya tinggalkan.

Diri saya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang