Dalam Tantangan Sepuluh Detik, Aku Menggendong Jagoan Kampus dan Membawanya Pulang untuk Liburan Tahun Baru

Aku baru memahami arti kalimat Raka keesokan paginya.

Kalau sudah menyukaiku, pelihara aku dengan baik.

Kupikir itu hanya cara aneh seorang laki-laki yang terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa dia juga menyukaiku. Ternyata aku salah. Raka benar-benar menjalani perannya sebagai manusia peliharaan dengan sangat serius.

Pukul enam pagi, ketika aku masih bergelung di bawah selimut, ponselku bergetar.

Citra, aku lapar.

Aku membalas tanpa membuka mata.

Cari makanan di dapur.

Dua menit kemudian pesan lain masuk.

Aku tamu.

Aku langsung duduk.

Kamu semalam menyebut dirimu peliharaan.

Peliharaan juga harus diberi makan.

Aku hampir melempar ponsel ke dinding.

Ketika turun ke ruang makan, aku mendapati Raka sudah duduk bersama Papa. Keduanya minum kopi sambil membicarakan motor, seolah sudah saling mengenal bertahun-tahun.

Yang lebih mengejutkan, Kak Arman duduk di seberangnya dengan wajah suram.

Mama meletakkan sepiring nasi goreng di meja.

“Citra, kenapa tidak bilang temanmu sopan sekali?”

Aku menatap Raka.

“Sopan?”

Raka tersenyum tipis.

“Aku membantu Tante menyapu halaman.”

Papa menambahkan, “Dia juga memperbaiki engsel pintu gudang.”

Aku hampir tidak percaya.

Laki-laki yang di kampus bahkan malas mengambil sedotan sendiri sekarang bangun pagi untuk menyapu halaman rumahku.

Aku duduk di sampingnya dan berbisik, “Kamu sedang mencari muka?”

Raka mendekatkan wajahnya.

“Sedang mencari restu.”

Sendok di tanganku hampir jatuh.

Untung Mama tidak mendengar. Sayangnya, Kak Arman mendengar.

Tatapannya langsung berpindah kepada Raka.

“Restu untuk apa?”

Raka tetap tenang.

“Untuk tinggal sampai liburan selesai.”

Aku mengembuskan napas lega.

Kak Arman tidak terlihat percaya.

Sejak pagi itu, suasana rumah menjadi aneh.

Mama menyukai Raka.

Papa menyukai Raka.

Bahkan kucing liar yang sering tidur di teras membiarkan Raka mengelus kepalanya.

Hanya Kak Arman yang terus mengawasinya seperti petugas keamanan.

Setiap kali aku duduk terlalu dekat dengan Raka, Kak Arman muncul.

Ketika kami menonton film di ruang keluarga, dia duduk di tengah.

Ketika Raka membantuku mencuci motor, Kak Arman ikut keluar membawa selang.

Ketika aku dan Raka pergi membeli martabak, Kak Arman tiba-tiba sudah berdiri di depan gerbang sambil membawa kunci mobil.

“Aku antar.”

Aku akhirnya kehilangan kesabaran.

“Kak, kami cuma membeli martabak!”

“Justru karena cuma membeli martabak, tidak perlu berdua.”

Raka berdiri di belakangku sambil memasukkan tangan ke saku hoodie.

“Kakakmu memang selalu begini?”

“Sejak aku lahir.”

“Pantas kamu kuat.”

Aku menoleh.

“Apa hubungannya?”

“Mungkin karena sejak kecil kamu harus bertahan hidup.”

Aku tertawa begitu keras sampai Kak Arman semakin kesal.

Namun sesuatu berubah pada hari ketiga.

Sore itu hujan turun deras. Mama meminta kami membeli beberapa kebutuhan untuk acara malam tahun baru.

Kak Arman sedang bekerja, jadi untuk pertama kalinya aku dan Raka bisa pergi tanpa pengawal.

Kami mengendarai motor menuju supermarket. Dalam perjalanan pulang, hujan semakin deras sehingga kami berhenti di sebuah kedai kopi kecil.

Raka membeli dua gelas cokelat panas.

Aku duduk di dekat jendela sambil memperhatikan air mengalir di kaca.

“Besok kamu pulang?” tanyaku.

“Kenapa?”

“Orang tuamu mungkin sudah kembali.”

Raka tidak menjawab.

Aku menatapnya.

Ada sesuatu yang berbeda pada wajahnya.

“Ada masalah?”

Dia memainkan tutup gelasnya beberapa saat.

“Ayah dan ibuku sebenarnya tidak pergi berlibur.”

Aku mengernyit.

“Lalu?”

“Mereka sedang mengurus perceraian.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Raka tidak terlihat seperti jagoan kampus yang dingin dan tidak peduli pada apa pun.

Dia terlihat seperti anak laki-laki yang kelelahan.

“Mereka sudah bertengkar sejak lama,” katanya. “Ibu sengaja membuat acara di minimarket sebelum liburan supaya suasana kampus ramai. Dia tidak ingin pulang ke rumah.”

Aku baru mengerti tatapan Bu Ratna setiap kali melihat kami bersama.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Raka tersenyum hambar.

“Aku tidak suka dikasihani.”

“Aku tidak akan mengasihanimu.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku.

“Itulah kenapa aku ikut pulang bersamamu.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi alasan Raka datang bukan hanya karena ingin menggodaku.

Dia tidak ingin berada sendirian di rumah yang sebentar lagi mungkin tidak lagi menjadi rumah.

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya.

“Kalau begitu tinggal saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu bosan.”

“Kalau tidak pernah bosan?”

Aku tersenyum.

“Berarti Mama harus menambah satu kamar.”

Raka tertawa kecil.

Hujan belum berhenti ketika kami kembali.

Namun begitu memasuki rumah, aku langsung tahu ada sesuatu yang salah.

Mama berdiri di ruang tamu.

Papa duduk dengan wajah serius.

Kak Arman berdiri di dekat meja.

Dan di sofa terdapat seorang perempuan yang sangat kukenal.

Bu Ratna.

Aku membeku.

“Bu?”

Bu Ratna berdiri.

Matanya terlihat sembap.

Raka yang berada di belakangku langsung berhenti.

“Ibu ngapain di sini?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Kemudian Bu Ratna berkata pelan, “Ibu datang menjemputmu.”

Raka meletakkan kantong belanja.

“Aku belum mau pulang.”

“Raka.”

“Aku bilang aku belum mau pulang.”

Nada suaranya berubah dingin.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Bu Ratna menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Ayahmu sudah pergi dari rumah.”

Raka terdiam.

“Ibu tidak tahu harus bagaimana.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi wajah Raka langsung berubah.

Dia mengepalkan tangan.

“Selama ini Ibu bilang semuanya baik-baik saja.”

“Ibu tidak ingin kamu terganggu.”

“Lalu sekarang?”

Bu Ratna menunduk.

“Ibu sendirian.”

Raka tertawa pendek, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

“Jadi sekarang Ibu ingat punya anak?”

“Raka.”

“Setiap kalian bertengkar, aku yang harus mendengar. Setiap Ayah pergi, aku yang harus menemani Ibu. Setiap Ibu menangis, aku yang harus pura-pura kuat. Sekarang aku pergi beberapa hari saja, Ibu datang mencariku karena tidak bisa sendirian?”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku perlahan menyentuh lengannya.

Raka menoleh kepadaku.

Kemarahan di matanya perlahan runtuh.

Di balik semuanya, aku melihat kesedihan yang selama ini disembunyikannya.

Bu Ratna mulai menangis.

“Aku minta maaf.”

Itu pertama kalinya aku melihat seorang ibu meminta maaf kepada anaknya bukan karena kesalahan kecil, melainkan karena tanpa sadar menjadikan anak sebagai tempat menopang luka orang dewasa.

Mama mendekati Bu Ratna dan memegang bahunya.

“Bu Ratna boleh tinggal di sini malam ini.”

Aku menoleh kaget.

Mama tersenyum.

“Malam tahun baru besok. Rumah ini cukup besar.”

Bu Ratna terlihat ragu.

Papa mengangguk.

“Tidak baik melewati masa sulit sendirian.”

Aku menatap Raka.

Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi akhirnya mengambil koper kecil ibunya dari dekat pintu dan membawanya ke kamar tamu.

Malam berikutnya, rumah kami penuh aroma sate dan jagung bakar.

Papa menyalakan panggangan di halaman. Mama dan Bu Ratna menyiapkan makanan. Bahkan Kak Arman akhirnya berhenti memasang wajah seperti satpam.

Sekitar pukul sebelas, aku naik ke balkon lantai dua untuk mencari udara.

Beberapa menit kemudian Raka datang.

Dia berdiri di sampingku.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk membawaku pulang.”

Aku tertawa.

“Aku memang kuat.”

“Bukan itu.”

Dia menatap halaman di bawah.

“Ibumu membuat ibuku tertawa lagi.”

Aku mengikuti arah pandangannya.

Bu Ratna sedang duduk bersama Mama. Keduanya tertawa karena Papa gagal membalik sate dan menjatuhkannya ke arang.

Aku tersenyum.

“Mungkin dia memang membutuhkan tempat untuk bernapas.”

Raka mengangguk.

Kemudian dia tiba-tiba berkata, “Citra.”

“Hm?”

“Setelah liburan selesai, jangan menghindariku.”

“Kenapa aku harus menghindarimu?”

“Karena aku akan melakukan sesuatu.”

Aku mengernyit.

“Melakukan apa?”

“Besok kamu tahu.”

Tepat tengah malam, kami menghitung mundur bersama.

Sepuluh.

Sembilan.

Delapan.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Semua ini memang dimulai dari sepuluh detik.

Tujuh.

Enam.

Lima.

Raka berdiri di sampingku.

Empat.

Tiga.

Dua.

Satu.

Suara kembang api memenuhi langit.

Semua orang bersorak.

Aku baru saja hendak mengucapkan selamat tahun baru ketika Raka menarik tanganku.

“Citra.”

Aku menoleh.

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku.

Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kucing.

Aku menatapnya bingung.

“Apa ini?”

“Tanda kepemilikan.”

Aku memukul lengannya.

“Raka!”

Dia tertawa.

Kemudian ekspresinya berubah serius.

“Aku tidak tahu bagaimana orang lain memulai hubungan.”

Jantungku mulai berdetak cepat.

“Aku juga tidak pandai mengatakan hal seperti ini.”

Dia menarik napas.

“Tapi aku tahu satu hal. Waktu kamu menggendongku keluar dari minimarket, sebenarnya aku bisa turun.”

Aku berkedip.

“Apa?”

“Aku bisa menghentikanmu sejak awal.”

“Lalu kenapa tidak?”

“Karena aku tahu kamu.”

Aku semakin bingung.

Raka tersenyum.

“Kamu pikir selama ini hanya kamu yang memperhatikanku?”

Dunia seperti berhenti.

“Aku sudah tahu namamu sejak semester pertama. Aku tahu kamu selalu membeli kopi tanpa gula sebelum kelas pagi. Aku tahu kamu sering membantu penjaga perpustakaan mengangkat kardus. Aku tahu setiap Rabu kamu membeli dua roti, satu untukmu dan satu untuk kucing dekat gedung ekonomi.”

Mulutku terbuka.

“Kamu…”

“Aku juga tahu kamu selalu memperhatikanku dari jauh lalu pura-pura melihat ponsel kalau aku menoleh.”

Wajahku langsung panas.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena setiap kali aku mendekat, kamu kabur.”

“Itu karena aku gugup!”

“Aku tahu sekarang.”

Raka mengulurkan tangan.

“Jadi waktu kamu menggendongku hari itu, aku berpikir mungkin akhirnya kamu berhenti kabur.”

Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Ternyata selama ini aku mengira sedang mengejar seseorang yang bahkan tidak melihatku.

Padahal dia hanya menunggu.

Raka menatap mataku.

“Citra, mau jadi pacarku?”

Aku belum sempat menjawab ketika suara Kak Arman terdengar dari belakang.

“Tidak.”

Kami berdua menoleh.

Entah sejak kapan seluruh keluarga berdiri di pintu balkon.

“Kak!”

Mama memukul lengan Kak Arman.

“Biarkan adikmu menjawab.”

Bu Ratna bahkan terlihat lebih tegang daripada Raka.

Aku menatap laki-laki di depanku.

Kemudian aku tersenyum.

“Mau.”

Bu Ratna langsung bertepuk tangan.

Mama tertawa.

Papa menggeleng sambil tersenyum.

Hanya Kak Arman yang terlihat seperti baru menerima kabar buruk.

Raka memasang gantungan kucing itu pada tasku.

“Mulai sekarang resmi.”

Aku mendengus.

“Harusnya aku yang memasang tanda kepemilikan padamu.”

“Silakan.”

Tanpa pikir panjang, aku membungkuk dan mencoba mengangkatnya.

Raka langsung mundur.

“Citra.”

“Kemari.”

“Jangan di depan keluarga.”

Semua orang tertawa.

Liburan berakhir tiga hari kemudian.

Ketika kami kembali ke kampus, kabar bahwa aku dan Raka berpacaran menyebar lebih cepat daripada pengumuman akademik.

Namun kejutan terbesar terjadi saat aku datang ke minimarket.

Di depan kasir terdapat poster baru buatan Bu Ratna.

Tantangan sepuluh detik ditiadakan untuk selamanya.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

“Bu masih trauma?”

Bu Ratna menunjuk putranya yang berdiri di belakangku.

“Ibu hampir kehilangan anak gara-gara promosi mi instan.”

Raka mengambil sebotol susu kedelai dari lemari pendingin dan menyerahkannya kepadaku.

Aku mengangkat alis.

“Kamu yang mau minum, kenapa aku yang bayar?”

Dia tersenyum.

“Kan kamu yang memeliharaku.”

Aku mengambil botol itu, berjalan ke kasir, lalu menyerahkannya kepada Bu Ratna.

Namun sebelum membayar, aku menoleh kepada Raka.

“Dengar, mulai sekarang aturannya berubah.”

“Apa?”

“Kita saling memelihara.”

Raka terdiam sebentar.

Kemudian dia mengambil dompetnya dan membayar susu itu sendiri.

Setelah keluar dari minimarket, dia menggenggam tanganku.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Kadang cinta tidak datang seperti dalam film.

Tidak selalu dimulai dengan bunga, makan malam romantis, atau pengakuan sempurna di bawah cahaya bulan.

Kadang cinta dimulai dari sepuluh detik yang konyol, satu keputusan nekat, dan keberanian untuk membawa seseorang keluar dari tempatnya bersembunyi.

Hari itu aku memang menggendong Raka keluar dari minimarket.

Tetapi tanpa kusadari, selama liburan itu kami membawa satu sama lain keluar dari kesepian masing-masing.

Dan bertahun-tahun kemudian, setiap kali seseorang bertanya siapa yang lebih dulu menyatakan cinta, Raka selalu menjawab dengan wajah datar bahwa aku bahkan tidak memberinya kesempatan untuk memilih.

Aku langsung membawanya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang