ANJING ITU TAK HENTI MENGGONGGONG KE ARAH PETI MATI TUANNYA. SAAT SANG ANAK AKHIRNYA MEMAKSA MEMBUKA PETI TERSEBUT…

Begitu tutup peti itu terangkat, suasana di halaman rumah keluarga Wijaya seketika berubah seperti tersambar petir.

Tak ada jenazah.

Tak ada kain kafan.

Tak ada tubuh Surya Wijaya.

Di dalam peti hanya terdapat beberapa karung pasir yang ditutup kain putih agar peti terasa berat saat diangkat.

Beberapa orang langsung mundur dengan wajah pucat.

“Astaga…”

“Pak Surya di mana?”

“Ini sebenarnya apa?”

Bisikan-bisikan berubah menjadi kegaduhan.

Ardi berdiri kaku di depan peti. Kedua tangannya gemetar. Selama beberapa detik, pikirannya seolah berhenti bekerja.

Bima justru tiba-tiba berhenti menggonggong.

Anjing itu berdiri di samping Ardi, menatap isi peti sambil mengeluarkan rengekan pelan.

Ardi perlahan menoleh kepada Ratna.

Perempuan itu tampak seperti kehilangan seluruh darah dari wajahnya.

“Jelaskan.”

Suara Ardi rendah, tetapi penuh tekanan.

Ratna menggeleng cepat.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kamu yang meneleponku dan mengatakan Ayah meninggal.”

“Aku hanya menyampaikan apa yang dokter katakan.”

“Dokter mana?”

Ratna terdiam.

Ardi melangkah mendekat.

“Rumah sakit mana?”

“Aku sedang kacau waktu itu, Ardi.”

“Rumah sakit mana, Bu Ratna?”

Nada suara Ardi meninggi.

Beberapa kerabat mulai memandang Ratna penuh kecurigaan.

Ratna mundur satu langkah.

“Rumah Sakit Harapan Medika.”

Ardi langsung mengeluarkan ponselnya.

Ratna tampak semakin panik.

“Kamu mau menelepon siapa?”

“Rumah sakit.”

“Sekarang bukan waktunya.”

“Justru sekarang waktunya.”

Ratna mencoba meraih tangan Ardi, tetapi Ardi menepisnya.

Ia mencari nomor rumah sakit tersebut dan menelepon bagian administrasi. Setelah menyebut nama lengkap ayahnya dan tanggal kejadian, Ardi menunggu dengan jantung berdebar.

Beberapa menit kemudian, petugas menjawab.

“Maaf, Pak. Kami tidak menemukan pasien atas nama Surya Wijaya yang dirawat ataupun dinyatakan meninggal pada tanggal tersebut.”

Ardi menatap Ratna.

Semua orang langsung sunyi.

“Bisa diperiksa sekali lagi?”

Petugas kembali memeriksa.

Hasilnya tetap sama.

Tidak ada Surya Wijaya.

Tidak pernah ada pasien dengan nama itu malam tersebut.

Ardi mematikan telepon perlahan.

“Di mana Ayahku?”

Ratna mulai menangis.

“Aku tidak tahu.”

“Kamu bohong!”

Ardi membentak begitu keras sampai beberapa orang terkejut.

“Empat tahun kamu tinggal bersama Ayahku. Kamu yang menelepon mengatakan dia meninggal. Kamu yang melarang petinya dibuka. Sekarang kamu bilang tidak tahu?”

Ratna menutup wajah.

“Aku takut.”

“Takut kepada siapa?”

Ratna tidak menjawab.

Tiba-tiba Bima bergerak.

Anjing itu mengendus lantai di sekitar peti, kemudian berbalik dan berlari menuju sisi belakang rumah.

“Bima!”

Ardi mengejarnya.

Beberapa orang ikut menyusul.

Bima berhenti di depan pintu gudang tua yang berada tak jauh dari garasi. Pintu itu terkunci.

Anjing tersebut mencakar-cakar bagian bawah pintu sambil merengek keras.

Ardi langsung merasa tengkuknya dingin.

“Ambil linggis.”

Salah seorang pegawai perkebunan segera mengambil alat dari garasi.

Ratna yang baru tiba di belakang mereka tiba-tiba berteriak.

“Jangan buka!”

Ardi menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan pada saat itu, Ardi tak lagi melihat kesedihan di wajah Ratna.

Yang terlihat hanyalah ketakutan.

“Buka.”

Pintu gudang didobrak.

Bau lembap langsung menyeruak.

Gudang itu tampak kosong. Hanya ada rak-rak lama, tumpukan kardus, perkakas perkebunan, serta sebuah meja kayu di sudut.

Bima masuk sambil mengendus lantai.

Kemudian anjing itu berhenti di dekat sebuah lemari besar.

Ia menggonggong.

Ardi bersama dua pegawai memindahkan lemari tersebut.

Di baliknya terdapat pintu kecil menuju ruangan penyimpanan bawah tanah yang selama ini bahkan tidak pernah diketahui Ardi.

Saat pintu dibuka, udara dingin langsung terasa.

Ardi turun dengan senter ponsel.

Di bawah terdapat ruangan sempit.

Sebuah kursi.

Beberapa botol air.

Obat-obatan.

Dan sebuah selimut.

Tetapi Surya tidak ada.

Sebaliknya, Ardi menemukan sesuatu yang membuat napasnya tercekat.

Jam tangan ayahnya tergeletak di lantai.

Ardi mengenali jam itu.

Jam hadiah ulang tahun yang ia berikan ketika masih kuliah.

“Ayah pernah bilang dia tidak akan pernah melepasnya.”

Ardi mengambil jam tersebut.

Di bawahnya terdapat noda darah yang sudah mengering.

Polisi segera dipanggil.

Dalam waktu kurang dari satu jam, rumah keluarga Wijaya berubah menjadi tempat penyelidikan.

Ratna terus bersikeras bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Surya.

Namun ceritanya mulai runtuh satu per satu.

Tidak ada laporan resmi kematian.

Tidak ada surat keterangan dokter.

Tidak ada rekam medis.

Bahkan peti mati ternyata dipesan secara tunai oleh seorang pria yang mengaku sebagai perwakilan keluarga.

Ketika polisi memeriksa rekaman CCTV rumah, muncul temuan yang lebih mengejutkan.

Rekaman tiga hari sebelum “kematian” Surya telah dihapus.

Namun teknisi berhasil memulihkan sebagian data dari penyimpanan cadangan.

Dalam video yang buram, terlihat Surya berjalan menuju garasi bersama Ratna.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam masuk.

Dua pria turun.

Mereka membawa Surya yang sudah tak sadarkan diri masuk ke dalam kendaraan.

Ratna terlihat berdiri sambil memperhatikan.

Setelah mobil pergi, perempuan itu kembali masuk ke rumah dengan tenang.

Ardi menonton rekaman tersebut dengan rahang mengeras.

“Kamu menjual ayahku?”

Ratna menangis histeris.

“Tidak!”

“Lalu apa itu?”

“Aku terpaksa.”

“Terpaksa oleh siapa?”

Ratna akhirnya menatap seorang pria yang berdiri di antara kerumunan pegawai.

Pak Darman.

Manajer perkebunan yang telah bekerja untuk keluarga Wijaya hampir dua puluh tahun.

Semua orang menoleh kepadanya.

Wajah Darman langsung berubah.

Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan mencoba berlari.

Polisi langsung mengejar.

Ia berhasil ditangkap sebelum mencapai gerbang.

Di bawah pemeriksaan, rahasia yang lebih besar akhirnya terbongkar.

Selama hampir tiga tahun, Darman telah melakukan penggelapan uang perusahaan melalui perusahaan-perusahaan fiktif.

Nominalnya mencapai puluhan miliar rupiah.

Surya mulai mencurigainya sekitar enam bulan sebelumnya.

Diam-diam, ia melakukan audit internal.

Beberapa minggu sebelum kejadian, Surya menemukan bukti lengkap.

Ia berniat melaporkan Darman kepada polisi.

Tetapi Darman mengetahui rencana tersebut.

Ia kemudian mendekati Ratna.

Menurut pengakuan Ratna, Darman mengancam akan membongkar masalah masa lalunya.

Sebelum menikahi Surya, Ratna ternyata pernah terlilit utang besar karena bisnis gagal.

Sebagian utang itu belum pernah ia ceritakan kepada Surya.

Darman berjanji akan melunasi seluruh utang tersebut jika Ratna membantunya.

Rencananya sederhana.

Membuat seolah-olah Surya meninggal karena serangan jantung.

Kemudian, setelah pemakaman, Darman akan membuat Surya benar-benar “hilang” untuk selamanya.

Ratna mengaku setuju karena takut kehilangan kehidupan mewahnya.

Namun rencana mereka belum selesai.

Surya ternyata masih hidup.

Darman menyembunyikannya di sebuah rumah kosong di daerah pegunungan.

Tujuannya bukan langsung membunuh Surya.

Ia terlebih dahulu ingin memaksa lelaki tua itu menandatangani sejumlah dokumen pengalihan aset.

Polisi bergerak cepat menuju lokasi yang disebutkan Darman.

Ardi bersikeras ikut.

Perjalanan menuju daerah Kaliurang terasa seperti berjam-jam meskipun sebenarnya hanya sekitar empat puluh menit.

Sepanjang jalan, Ardi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menggenggam jam tangan ayahnya.

Ada satu pikiran yang terus menghantuinya.

Bagaimana jika mereka terlambat?

Rumah tempat Surya disekap berada jauh dari jalan utama.

Bangunan kecil itu dikelilingi kebun kosong.

Saat polisi mendobrak pintu, mereka menemukan Surya terbaring lemah di sebuah kamar belakang.

Tangannya diikat.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali Ardi melihatnya.

Namun ia masih bernapas.

“Ayah!”

Ardi berlari masuk.

Surya membuka mata perlahan.

Awalnya tatapannya kosong.

Kemudian ia mengenali wajah putranya.

“Ardi?”

Suara itu sangat lemah.

Ardi langsung berlutut di samping tempat tidur.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Aku di sini, Yah.”

Surya mencoba tersenyum.

“Kamu pulang.”

Hanya dua kata.

Tetapi kalimat itu menghancurkan pertahanan Ardi.

Ia menggenggam tangan ayahnya erat.

“Maaf.”

Surya menatapnya.

“Aku yang seharusnya minta maaf.”

Beberapa hari kemudian, kondisi Surya mulai membaik setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Kasus penculikan dan penggelapan itu menjadi pembicaraan besar.

Darman ditahan.

Dua pria yang membantunya ikut ditangkap.

Ratna juga ditahan karena keterlibatannya dalam penculikan dan pemalsuan kematian.

Namun ada satu bagian cerita yang hanya diketahui sedikit orang.

Di rumah sakit, Surya meminta Ardi datang sendirian.

“Ada sesuatu yang harus Ayah jelaskan.”

Ardi duduk di samping tempat tidur.

Surya menarik napas panjang.

“Ratna memang bersalah. Tapi ada satu hal yang tidak kamu tahu.”

Ardi mengerutkan kening.

“Apa?”

“Ayah sebenarnya sudah tahu soal utangnya sebelum kami menikah.”

Ardi terdiam.

Surya melanjutkan.

“Ayah juga tahu masa lalunya. Ayah menikahinya karena Ayah percaya seseorang berhak mendapatkan kesempatan kedua.”

“Tapi dia mengkhianati Ayah.”

“Ya.”

Surya menatap keluar jendela.

“Kesalahan Ayah adalah berpikir bahwa kebaikan selalu cukup untuk mengubah seseorang.”

Ardi menunduk.

Setelah beberapa detik, Surya berkata lagi.

“Dan Ayah juga salah karena membiarkan pernikahan itu membuat kita menjauh.”

Ardi tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ayah dan anak itu duduk tanpa kemarahan di antara mereka.

Surya kemudian meminta pengacaranya datang.

Semua orang menduga ia akan mengubah surat wasiat.

Dan memang benar.

Namun keputusan Surya mengejutkan Ardi.

Ia tidak menyerahkan seluruh kekayaan kepadanya.

Sebagian besar lahan perkebunan justru dimasukkan ke dalam sebuah yayasan yang akan membiayai pendidikan anak-anak para pekerja perkebunan.

“Kenapa tidak Ayah wariskan saja kepadaku?”

Surya tersenyum.

“Karena harta terbesar yang bisa Ayah tinggalkan bukan uang.”

Ardi menatapnya.

“Tapi sebuah alasan agar keluarga kita tetap dikenang dengan cara yang baik.”

Enam bulan kemudian, Surya kembali ke rumah.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi semangatnya kembali.

Hubungannya dengan Ardi perlahan membaik.

Ardi bahkan memutuskan meninggalkan pekerjaannya di Singapura dan kembali ke Indonesia untuk membantu mengelola usaha keluarga serta yayasan tersebut.

Suatu sore, mereka duduk di teras rumah sambil memandang perkebunan.

Bima tidur di dekat kaki Surya.

Ardi tertawa kecil sambil mengelus kepala anjing itu.

“Kalau bukan karena Bima, mungkin Ayah sudah benar-benar dikuburkan tanpa ada seorang pun tahu apa yang terjadi.”

Surya tersenyum.

“Tidak.”

Ardi menoleh.

“Kenapa?”

Surya memandang Bima.

“Dia bukan menggonggong karena tahu petinya kosong.”

Ardi mengerutkan kening.

Surya lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah peluit kecil.

“Selama bertahun-tahun, Ayah melatih Bima merespons suara ultrasonik dari peluit ini. Saat diculik, Ayah sempat menjatuhkannya di gudang.”

Ardi terdiam.

“Tapi peluit ini ditemukan polisi di gudang.”

Surya mengangguk.

“Benar.”

“Lalu kenapa Bima terus menggonggong ke arah peti?”

Surya tersenyum tipis.

“Karena kain putih di dalam peti itu adalah kain dari kamar Ayah.”

Ardi membeku.

“Bima mengenali bau Ayah.”

Surya mengelus kepala anjing itu perlahan.

“Dia tahu bau Ayah ada di dalam peti, tetapi Ayahnya tidak ada di sana.”

Ardi menatap Bima lama sekali.

Ternyata sejak awal, makhluk yang tidak bisa berbicara itulah satu-satunya yang menyadari ada sesuatu yang tidak masuk akal.

Bima mungkin tidak memahami uang.

Tidak memahami surat warisan.

Tidak memahami pengkhianatan.

Tetapi ia memahami satu hal yang sering kali gagal dipahami manusia.

Kesetiaan.

Dan sejak hari itu, Ardi selalu mengingat satu pelajaran dari peristiwa tersebut.

Kadang-kadang, kebenaran tidak datang dari orang yang paling pintar atau paling berkuasa.

Kadang-kadang, kebenaran datang dari sesuatu yang sederhana.

Dari naluri.

Dari rasa percaya.

Atau dari seekor anjing yang menolak berhenti menggonggong ketika semua orang lain memilih untuk percaya begitu saja.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang