Saat Raka muncul di pintu ruang karaoke, matanya langsung mencari wajahku.
Aku tahu karena meskipun pandanganku tidak cukup jelas untuk melihat ekspresinya dari jauh, aku mengenali kebiasaan kecilnya. Dia selalu berhenti beberapa detik di ambang pintu sebelum masuk ke ruangan ramai, seolah memastikan siapa saja yang ada di dalam.
Dulu, orang pertama yang dia cari adalah aku.
Malam itu, aku tidak ingin tahu apakah kebiasaan itu masih sama.
Aku sengaja memalingkan wajah dan melanjutkan percakapan dengan Naya, teman sebangkuku saat kelas sebelas.
Tidak lama kemudian, suara Tiara terdengar dari dekat pintu.
“Raka, sini. Tempatnya sudah kusisakan.”
Ada kursi kosong di sebelahnya.

Raka tidak langsung menjawab.
“Sebentar.”
Langkahnya justru mendekat ke arahku.
“Laras.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
Dia terdiam sesaat, mungkin tidak terbiasa mendengar nada suaraku sedatar itu.
“Kamu datang sama siapa?”
“Naya.”
“Pulangnya?”
“Ayah jemput.”
“Oh.”
Hanya itu.
Dia berdiri beberapa detik lagi sebelum akhirnya berjalan ke tempat Tiara.
Naya menyenggol lenganku.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Aku tersenyum kecil.
“Kami cuma sudah tidak sedekat dulu.”
Naya tidak bertanya lagi.
Acara berlangsung ramai. Teman-teman menyanyi, berfoto, membicarakan hasil ujian dan rencana kuliah. Sesekali aku mendengar suara Raka bercampur dengan tawa Tiara dan teman-temannya.
Aneh sekali.
Beberapa minggu lalu, suara itu masih bisa membuatku merasa aman.
Sekarang aku hanya merasa lelah.
Sekitar satu jam kemudian, seseorang mengusulkan permainan kejujuran. Botol diputar di atas meja. Siapa pun yang ditunjuk harus menjawab pertanyaan.
Ketika botol berhenti mengarah kepada Raka, seorang teman laki-laki langsung tertawa.
“Pertanyaannya gampang. Di sini ada enggak perempuan yang pernah kamu suka?”
Ruangan langsung ribut.
Beberapa orang meneriakkan namaku. Yang lain menyebut Tiara.
Aku menunduk, berharap permainan itu cepat selesai.
Raka tertawa pendek.
“Enggak ada.”
“Serius?”
“Serius.”
Seseorang berseru, “Terus Laras apa?”
Suasana mendadak berubah.
Aku mendengar Raka menghela napas.
“Kenapa selalu bawa-bawa Laras?”
“Ya, kalian dari kecil selalu bareng.”
“Karena rumah kami dekat.”
“Terus kamu selalu antar dia.”
“Karena matanya bermasalah.”
Kalimat berikutnya keluar begitu cepat sampai mungkin dia sendiri tidak sempat memikirkannya.
“Kalau bukan karena itu, aku juga enggak perlu terus-terusan ngurusin dia.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku merasa seperti kembali berdiri di lapangan saat foto kelulusan.
Menyebalkan sekali. Bisa menjauh sedikit dariku?
Ternyata aku memang tidak salah dengar.
Seseorang mencoba tertawa untuk mencairkan suasana.
“Wah, kedengarannya kayak beban hidup.”
Raka tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Aku berdiri.
Naya segera memegang lenganku.
“Mau ke mana?”
“Toilet.”
Aku berjalan keluar dengan hati-hati. Begitu pintu tertutup di belakangku, napasku bergetar.
Aku tidak menangis.
Anehnya, setelah menyukai seseorang selama bertahun-tahun, ada titik ketika rasa sakit tidak lagi menghasilkan air mata.
Hanya kekosongan.
Aku mencuci wajah, lalu berdiri cukup lama di depan cermin. Wajahku sendiri terlihat seperti bayangan samar.
Sejak kecil aku selalu takut kehilangan Raka.
Aku takut suatu hari dia bosan menuntunku.
Takut dia punya teman baru.
Takut kami kuliah di kota berbeda.
Takut dia menyukai perempuan lain.
Namun aku baru menyadari sesuatu.
Selama ini, aku terlalu sibuk takut kehilangan seseorang sampai tidak menyadari bahwa aku sudah kehilangan harga diriku sendiri.
Ketika kembali, suasana sudah ramai lagi.
Aku mengambil tas.
Raka langsung berdiri.
“Kamu mau pulang?”
“Iya.”
“Bukannya ayahmu baru jemput jam sepuluh?”
“Aku bisa pesan mobil.”
“Aku antar.”
“Tidak perlu.”
Nada suaraku membuat beberapa orang menoleh.
Raka mendekat dan merendahkan suaranya.
“Kamu marah soal tadi?”
Aku menatap bayangan wajahnya yang kabur.
“Kenapa aku harus marah?”
“Laras.”
“Aku memang merepotkanmu, kan?”
Rahangnya menegang.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Dia diam.
Aku tersenyum.
“Tenang saja. Mulai sekarang kamu tidak perlu mengurusku lagi.”
Aku berjalan pergi.
Kali ini dia tidak mengejarku.
Dua minggu kemudian, hasil seleksi universitas keluar.
Aku diterima.
Namun bukan di Universitas Cakrawala Bandung.
Diam-diam, beberapa hari sebelum batas pendaftaran, aku mengganti pilihan utamaku menjadi Universitas Nusantara Surabaya, kampus yang memiliki program komunikasi digital yang sebenarnya lebih kusukai.
Selama bertahun-tahun aku meyakinkan diri bahwa Bandung adalah impianku.
Padahal Bandung adalah impian Raka.
Impianku sendiri sudah lama terkubur di bawah keinginan untuk tetap berada di sisinya.
Ketika kuberi tahu orang tuaku bahwa aku diterima di Surabaya, Ibu memelukku sampai menangis.
Ayah bahkan tertawa keras.
“Akhirnya anak Ayah berani memilih sendiri.”
Aku tersenyum.
Kalimat sederhana itu terasa seperti membuka pintu yang selama ini terkunci.
Sore harinya, Bu Ratna datang membawa kue.
Raka ikut bersamanya.
Begitu mendengar aku diterima di Surabaya, wajahnya berubah.
“Surabaya?”
“Iya.”
“Kamu daftar ke sana?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Aku menatapnya.
“Memangnya harus kuberi tahu?”
Bu Ratna tertawa, mengira kami bercanda.
“Raka juga belum cerita dia diterima di mana.”
Aku terdiam.
Raka memasukkan tangan ke saku.
“Cakrawala Bandung.”
Untuk sesaat, dunia terasa sangat sunyi.
Dia memilih Bandung.
Kampus yang katanya tidak terlalu dia sukai.
Kampus yang selama bertahun-tahun kami janjikan bersama.
Dan beberapa hari sebelum ujian, dia bahkan menanyakan apakah aku masih ingin masuk ke sana.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak masuk akal.
Dia bukan bertanya karena ingin menghindariku.
Mungkin dia ingin memastikan aku tetap datang.
Namun semuanya sudah terlambat.
Bu Ratna terlihat gembira.
“Sayang sekali kalian jadi beda kota. Padahal dari kecil selalu bersama.”
Aku hanya tersenyum.
Raka tidak mengatakan apa-apa sampai ibunya masuk ke dapur bersama Ibuku.
Kemudian dia mendekat.
“Kenapa kamu mengubah pilihan?”
“Karena aku ingin kuliah di Surabaya.”
“Kamu tidak pernah bilang.”
“Kamu juga tidak pernah bilang kalau akhirnya memilih Bandung.”
“Aku mau kasih kejutan.”
Aku hampir tertawa.
“Untuk siapa?”
Dia terdiam.
“Untukmu.”
Dadaku berdenyut, tetapi bukan seperti dulu.
“Aku sudah tidak menunggu kejutan darimu, Raka.”
Wajahnya menegang.
“Ini gara-gara keyboard?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Karena akhirnya aku sadar kamu capek denganku.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Kamu bilang kalau bukan karena mataku, kamu tidak perlu terus mengurusku.”
“Itu karena mereka terus menggoda kita.”
“Dan kalimat di lapangan?”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan, “Waktu foto kelulusan. Kamu bilang aku menyebalkan dan menyuruhku menjauh.”
Dia membeku.
Jadi dia ingat.
“Aku mendengarnya.”
“Laras, waktu itu aku bukan bicara tentang kamu.”
Aku mengernyit.
Raka mengusap wajahnya frustrasi.
“Tiara berdiri di belakang fotografer dan terus menyuruhku merapat ke kamu supaya mereka bisa menggoda kita. Aku kesal sama dia. Aku bilang, ‘Menyebalkan sekali. Bisa menjauh sedikit dariku?’ Aku bicara lewat telepon karena dia meneleponku sambil berdiri di sana.”
Aku terdiam.
Untuk sesaat, semua yang terjadi terasa goyah.
“Tapi di karaoke?”
“Itu salahku.”
Jawabannya datang tanpa pembelaan.
“Aku memang bilang hal bodoh.”
Dia menunduk.
“Aku capek diejek seolah hidupku cuma tentang kamu. Aku ingin punya teman lain tanpa semua orang bilang aku selingkuh dari ‘istri kecilku’. Tapi aku melampiaskan kekesalan itu dengan cara yang salah.”
“Dan hadiahku?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Itu juga salahku.”
“Kamu memberikannya kepada Tiara.”
“Aku pikir itu cuma barang.”
“Nah.”
Aku tersenyum pahit.
“Justru itu masalahnya. Semua yang penting bagiku selalu cuma sesuatu yang kecil buatmu.”
Dia menatapku lama.
“Aku minta maaf.”
Untuk pertama kalinya, aku mendengar permintaan maaf yang sungguh-sungguh darinya.
Namun ternyata permintaan maaf tidak selalu berarti semuanya harus kembali seperti dahulu.
Beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Surabaya, Tiara datang ke rumah.
Aku terkejut mendengar suaranya di ruang tamu.
Dia membawa kotak keyboard.
“Aku mau mengembalikan ini.”
“Tidak perlu.”
“Aku baru tahu kamu yang memberikannya.”
Aku mengerutkan kening.
“Raka tidak bilang?”
Tiara tertawa kecil, tetapi terdengar canggung.
“Dia bilang keyboard itu tidak terpakai.”
Dia meletakkan kotaknya.
“Laras, aku juga mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena aku tahu teman-temanku sering ngomong jelek soal kamu, tapi aku diam.”
Aku tidak menjawab.
Tiara menarik napas.
“Dan mungkin karena aku sempat suka Raka.”
Aku sudah menduganya.
“Tapi dia tidak pernah suka aku.”
Aku terkejut.
Tiara tersenyum.
“Lucu, ya? Aku bahkan pernah terang-terangan bilang suka. Dia menolakku.”
“Kapan?”
“Waktu ulang tahunku.”
Hari ketika Raka meninggalkanku dua jam di kelas.
Tiara melanjutkan, “Makanya dia terlambat menjemputmu. Kami bicara lama. Setelah aku menyatakan perasaan, dia bilang ada seseorang yang sudah dia sukai sejak kecil.”
Jantungku berdetak sekali dengan keras.
“Aku pikir orang itu kamu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Setelah Tiara pulang, aku membuka kotak keyboard.
Di bawahnya ada sebuah amplop.
Tulisan tangan Raka.
Aku mengenalinya bahkan tanpa melihat jelas.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Aku tidak pernah merasa kamu beban. Aku hanya terlalu bodoh untuk menyadari bahwa membuat seseorang merasa menjadi beban sama buruknya dengan mengatakannya langsung.
Aku tidak meminta kamu kembali.
Aku cuma ingin kamu tahu satu hal.
Waktu aku bertanya apakah kamu masih memilih Bandung, sebenarnya aku sudah mengubah pilihanku ke sana.
Karena kupikir kali ini aku yang akan mengikuti mimpimu.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Lalu menangis.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena akhirnya aku memahami betapa mudahnya dua orang yang saling menyayangi melukai satu sama lain ketika mereka tidak pernah belajar berbicara jujur.
Hari keberangkatanku tiba.
Di stasiun, Ayah dan Ibu mengantarku. Bu Ratna juga datang.
Raka tidak terlihat.
Aku tidak kecewa.
Mungkin memang lebih baik begitu.
Ketika kereta hampir berangkat, ponselku bergetar.
Pesan darinya.
Semoga Surabaya baik kepadamu.
Aku mengetik balasan.
Semoga Bandung juga baik kepadamu.
Jari-jariku berhenti sesaat sebelum menambahkan satu kalimat.
Terima kasih sudah menuntunku selama ini. Mulai sekarang, biarkan aku belajar berjalan sendiri.
Pesan terkirim.
Kereta mulai bergerak.
Aku menyandarkan kepala ke jendela.
Beberapa bulan pertama di Surabaya tidak mudah. Aku beberapa kali tersesat di kampus. Aku belajar menggunakan aplikasi navigasi khusus untuk penyandang gangguan penglihatan. Aku belajar meminta bantuan tanpa merasa malu. Aku bahkan bergabung dengan komunitas mahasiswa yang mengembangkan aksesibilitas digital.
Untuk pertama kalinya, kekurangan penglihatanku bukan sesuatu yang membuatku merasa menjadi beban.
Itu justru menjadi alasan aku menemukan tujuan.
Setahun kemudian, tim kami memenangkan kompetisi nasional dengan aplikasi navigasi dalam ruangan untuk mahasiswa tunanetra dan low vision.
Saat namaku dipanggil di panggung, auditorium dipenuhi tepuk tangan.
Setelah acara, ponselku dipenuhi pesan.
Salah satunya dari Raka.
Aku melihat beritanya. Selamat, Laras. Aku bangga padamu.
Aku tersenyum.
Tidak ada lagi sesak.
Aku membalas singkat.
Terima kasih.
Kemudian seseorang di sampingku berkata, “Laras, tangganya dua langkah lagi.”
Aku mengenali suara Damar, teman satu timku.
Tangannya terulur, tetapi dia tidak langsung menggenggamku.
Dia selalu menunggu sampai aku sendiri yang memutuskan apakah membutuhkan bantuan.
Aku tersenyum dan menggeleng.
“Aku bisa.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Aku melangkah turun.
Satu langkah.
Dua langkah.
Aku tidak jatuh.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami selama bertahun-tahun bersama Raka.
Dicintai bukan berarti selalu digandeng agar tidak jatuh.
Kadang cinta yang paling sehat adalah seseorang yang berdiri cukup dekat untuk menangkapmu jika diperlukan, tetapi tetap memberimu ruang untuk membuktikan bahwa kakimu sendiri mampu membawamu ke mana pun kamu ingin pergi.
Dan ternyata, setelah berhenti mengejar seseorang yang kukira adalah masa depanku, untuk pertama kalinya aku bisa melihat masa depanku sendiri dengan jauh lebih jelas.
