Sebulan Sebelum Menikah, Aku Berhenti Menunggu Dimas yang Selalu Menjadikan Sahabat Masa Kecilnya Prioritas Utama

Sebulan sebelum hari pernikahan kami, aku akhirnya memahami satu hal yang seharusnya kusadari jauh lebih awal. Cinta tidak selalu berakhir ketika seseorang berhenti mencintai. Kadang cinta justru berakhir ketika seseorang terlalu lama merasa yakin bahwa kita tidak akan pernah pergi.

Setelah malam penyambutan Raka itu, hubunganku dengan Dimas masih berjalan seperti biasa dari luar. Kami masih tinggal di apartemen yang sama. Undangan pernikahan sudah dicetak. Gedung sudah dibayar. Ibuku bahkan sudah mulai memilih kebaya untuk acara keluarga.

Hanya saja, sesuatu di dalam diriku perlahan mati.

Dan Dimas sama sekali tidak menyadarinya.

Malam setelah acara itu, dia pulang hampir pukul dua pagi.

Aku sedang duduk di sofa sambil membaca dokumen pekerjaan ketika pintu terbuka. Dimas masuk bersama aroma parfum perempuan yang terlalu kukenal.

Parfum Citra.

“Kamu belum tidur?”

Biasanya aku pasti langsung berdiri dan bertanya dari mana dia. Kalau mendengar nama Citra, wajahku akan berubah. Aku mungkin akan marah, lalu kami bertengkar, dan akhirnya Dimas membujukku sambil tertawa karena menganggap kecemburuanku lucu.

Malam itu aku hanya menjawab, “Belum.”

Dimas meletakkan kunci mobil.

“Tadi Citra minta ditemani cari obat. Dia sakit kepala.”

“Hmm.”

Dimas menatapku beberapa detik.

“Hanya itu?”

Aku mengalihkan halaman dokumen.

“Memangnya harus bagaimana?”

Dia tertawa kecil, seolah lega.

“Tumben nggak cemburu.”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin aku sudah capek.”

Dimas mengira aku bercanda.

Dia mencium rambutku sebelum masuk kamar.

Aku tetap menatap layar laptop yang sebenarnya sudah tidak kubaca sejak lima menit sebelumnya.

Besok paginya, sebuah pesan masuk dari Citra.

Foto secangkir kopi dan tangan seorang laki-laki di seberangnya.

Jam tangan itu milik Dimas.

Aku pernah memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.

Di bawah foto itu, Citra menulis, “Kalau ada seseorang yang selalu datang setiap kali kamu butuh, masih perlu pacar nggak, sih?”

Dulu, aku mungkin akan langsung menelepon Dimas.

Kali ini aku hanya menekan layar beberapa detik, menyimpan foto itu, lalu meletakkan ponsel.

Hari itu juga aku pergi menemui wedding organizer kami.

“Ada kemungkinan pernikahan ini dibatalkan?” tanyaku.

Perempuan di depanku terdiam.

“Mbak Nadia serius?”

“Saya cuma ingin tahu konsekuensinya.”

Dia membuka kontrak dan menjelaskan panjang lebar tentang deposit, vendor, serta biaya pembatalan.

Aku mendengarkan semuanya.

Ternyata harga untuk membatalkan pernikahan tidak semahal harga bertahun-tahun kehilangan harga diri.

Sejak saat itu aku mulai menyiapkan jalan keluar diam-diam.

Aku memisahkan rekening pribadi. Dokumen apartemen kami sebenarnya atas namaku karena uang muka tempat itu berasal dari tabungan yang kuterima setelah menjual rumah peninggalan ayah. Aku menghubungi notaris untuk memastikan semuanya aman.

Aku juga mulai memindahkan barang-barang penting sedikit demi sedikit ke rumah ibuku.

Dimas tidak menyadari apa pun.

Baginya, ketenanganku berarti aku akhirnya menjadi tunangan yang “dewasa”.

Sampai malam ketika dia tertinggal di restoran karena mengejar potongan kue untuk Citra.

Setelah kututup teleponnya, Raka melirikku dari kursi pengemudi.

“Lambungnya sakit?”

Aku menatap jalanan Bandung yang basah setelah hujan.

“Katanya.”

“Kamu nggak khawatir?”

“Kalau orang sakit, dia pergi ke dokter.”

Raka mengangkat satu alis.

“Dulu kamu nggak begitu.”

Aku menoleh.

“Kita baru bertemu beberapa kali. Memangnya kamu tahu aku dulu seperti apa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Lampu merah membuat mobil berhenti.

Dia mengetuk kemudi pelan.

“Dimas sering cerita.”

“Cerita apa?”

“Katanya kamu perempuan paling mudah dibujuk di dunia.”

Dadaku seperti disentuh sesuatu yang dingin.

Raka melanjutkan, “Dia bilang selama dia peluk kamu dan bilang sayang, kamu akan memaafkan apa pun.”

Aku tertawa kecil.

Aneh, tetapi bukan karena lucu.

“Dia benar.”

“Dulu.”

Aku menatap Raka.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ekspresinya tidak dingin.

“Sekarang sepertinya tidak.”

Dimas pulang sekitar satu jam kemudian menggunakan taksi online.

Begitu masuk, dia langsung mencari aku.

“Nadia.”

Aku sedang menyusun pakaian di lemari.

Dia berdiri di pintu kamar dengan wajah kusut.

“Kamu benar-benar lupa aku?”

“Iya.”

Jawabanku membuatnya diam.

“Lupa?”

Aku mengangguk.

“Aku pulang. Baru ingat kamu setelah telepon.”

“Kamu pergi pakai mobilku.”

“Kuncinya kamu kasih ke aku.”

“Nadia.”

Nada suaranya meninggi.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Entah apa yang dilihatnya di wajahku, tetapi kemarahannya tiba-tiba mereda.

Dia mendekat dan memegang bahuku.

“Belakangan kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu aneh.”

Aku hampir tertawa.

Bertahun-tahun aku menangis, marah, meminta batas antara dia dan Citra, lalu dia mengatakan aku terlalu sensitif.

Sekarang ketika aku berhenti peduli, justru dia merasa aku aneh.

Dua hari kemudian, sesuatu terjadi.

Aku sedang fitting gaun pengantin ketika Citra tiba-tiba datang.

Dia masuk ke butik sambil membawa dua gelas kopi.

“Nadia!”

Aku mengernyit.

“Kamu tahu aku di sini?”

“Dimas kasih tahu.”

Tentu saja.

Citra duduk sambil memperhatikanku mengenakan gaun putih.

“Cantik juga.”

“Terima kasih.”

Dia menyerahkan kopi.

Aku tidak menerimanya.

Citra tertawa.

“Kamu masih marah gara-gara Dimas sering sama aku?”

“Nggak.”

Jawabanku tampaknya tidak sesuai harapannya.

Dia memainkan sedotan.

“Kamu tahu kan, aku sama Dimas sudah dekat sejak kecil?”

“Tahu.”

“Bahkan sebelum kamu datang.”

“Tahu.”

“Dia selalu bilang kalau suatu hari aku membutuhkan dia, dia akan datang.”

Aku menatap pantulan kami di cermin.

Citra tersenyum.

Dia datang bukan untuk berteman. Dia datang untuk memastikan bahwa aku tahu posisinya.

Dulu permainan seperti itu selalu berhasil.

Kali ini aku hanya bertanya, “Sudah selesai?”

Senyumnya menghilang.

“Hah?”

“Kalau cuma mau bilang kamu mengenal Dimas lebih dulu, aku sudah tahu.”

Aku berjalan mendekatinya.

“Citra, seseorang bisa datang lebih dulu tetapi tetap bukan orang yang dipilih untuk tinggal.”

Wajahnya berubah.

Namun sebelum aku pergi, dia mengatakan sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

“Kalau aku memintanya membatalkan pernikahan kalian, menurutmu dia akan pilih siapa?”

Aku berbalik.

Dia tersenyum lagi.

Aku tidak menjawab.

Tiga hari kemudian, aku mendapatkan jawabannya.

Malam itu Dimas sedang mandi ketika ponselnya terus bergetar di meja.

Aku tidak berniat membukanya.

Sampai layar menyala dan memperlihatkan nama Citra.

“Aku sudah melakukan tes. Dua garis.”

Tanganku membeku.

Pesan berikutnya masuk.

“Aku takut, Dim.”

Beberapa detik kemudian muncul pesan ketiga.

“Kamu janji jangan bilang Nadia dulu.”

Aku merasa seluruh suara di apartemen menghilang.

Dimas keluar dari kamar mandi sekitar lima menit kemudian.

Ketika melihat ponselnya berada di tanganku, wajahnya langsung pucat.

“Nadia.”

Aku meletakkan ponsel itu.

“Dua garis.”

“Nad, dengar dulu.”

“Anaknya kamu?”

“Bukan!”

Jawabannya terlalu cepat.

“Terus kenapa dia minta kamu jangan bilang aku?”

Dimas berjalan mendekat.

“Citra punya pacar. Mereka bermasalah. Dia cuma percaya sama aku.”

Aku tertawa.

Saat itulah sesuatu yang selama bertahun-tahun menahanku benar-benar putus.

“Dia hamil anak laki-laki lain, lalu orang pertama yang dia hubungi tengah malam adalah calon suami orang?”

“Nadia, jangan dibesar-besarkan.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak membesar-besarkan apa pun.”

Aku mengambil tas.

“Aku cuma akhirnya melihat semuanya sesuai ukurannya.”

“Nadia.”

Dia menarik pergelangan tanganku.

“Pernikahan kita tinggal tiga minggu.”

Aku melepaskan tangannya.

“Aku tahu.”

“Kamu mau ke mana?”

“Rumah Mama.”

“Karena masalah Citra?”

Aku menoleh sekali lagi.

“Bukan karena Citra.”

“Karena kamu.”

Besoknya Dimas datang ke rumah ibuku.

Dia membawa bunga, makanan favoritku, dan cincin yang dulu pernah kulihat di etalase.

Dimas selalu pandai meminta maaf dengan hadiah.

Aku duduk di hadapannya tanpa menyentuh apa pun.

“Nadia, aku sudah bicara dengan Citra. Mulai sekarang aku akan menjaga jarak.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Wajahnya sedikit cerah.

“Jadi kamu pulang?”

“Nggak.”

Dia terdiam.

“Aku sudah membatalkan pernikahan.”

Bunga di tangannya hampir jatuh.

“Apa?”

“Vendor sudah diberi tahu.”

“Nadia, kamu gila?”

Mungkin itu pertama kalinya dia benar-benar panik.

“Keluarga kita sudah mengundang ratusan orang.”

“Aku yang akan menjelaskan kepada keluargaku.”

“Orang tuaku bagaimana?”

“Itu bagianmu.”

Dimas berdiri.

“Kamu membatalkan pernikahan hanya karena aku menolong teman?”

Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai sampai kupikir hidupku akan selesai tanpa dirinya.

Ternyata sekarang melihatnya berdiri di depanku, aku tidak merasakan ketakutan itu lagi.

“Bukan satu kejadian, Dim.”

Aku berbicara pelan.

“Ini tentang setiap kali kita makan dan Citra telepon, kamu meninggalkan meja. Setiap kali aku sakit, kamu bilang aku manja, tapi ketika Citra bersin kamu bisa menyetir tengah malam membelikan obat. Setiap kali aku meminta batas, kamu bilang aku pencemburu. Setiap kali dia melewati batas, kamu bilang dia masih kecil.”

Air muka Dimas berubah.

“Aku selalu memilih kamu.”

Aku tersenyum.

“Tidak.”

“Kamu cuma selalu mengira aku akan tetap ada.”

Dimas tidak datang lagi selama beberapa hari.

Kemudian Raka menghubungiku.

“Kamu sudah tahu soal kehamilan Citra?”

“Iya.”

“Anaknya bukan milik pacarnya.”

Aku terdiam.

“Apa maksudmu?”

Raka mengirim sebuah foto.

Foto hasil pemeriksaan rumah sakit.

Nama pasien memang Citra.

Namun usia kehamilan membuatku menghitung mundur.

Tanggalnya jatuh pada malam ketika Dimas mengaku pergi ke luar kota bersama teman-teman kantornya.

Tanganku menjadi dingin.

“Raka.”

“Iya.”

“Kamu tahu siapa ayahnya?”

Dia lama tidak menjawab.

Akhirnya sebuah pesan muncul.

“Tanya Dimas kenapa dia mentransfer dua puluh juta ke Citra tiga hari setelah dia tahu hasil tes.”

Aku tidak menangis.

Anehnya, aku benar-benar tidak menangis.

Malam itu aku mengundang Dimas datang.

Aku meletakkan bukti transfer di meja.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Nadia, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Dia duduk.

Untuk beberapa detik, bibirnya bergerak tanpa suara.

Kemudian dia menunduk.

“Aku mabuk.”

Kalimat itu cukup.

Aku menutup mata.

“Ternyata memang kamu.”

“Nad, cuma sekali.”

Aku membuka mata lagi.

Dimas menangis.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun aku melihatnya menangis seperti itu.

“Aku menyesal sejak malam itu. Citra juga. Aku mau menikah sama kamu. Aku cinta kamu.”

Aku berdiri.

“Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan membutuhkan alkohol sebagai alasan untuk tidur dengan perempuan yang bertahun-tahun kamu paksa aku percaya sebagai saudara sendiri.”

Dia memegang tanganku.

“Aku akan bertanggung jawab soal anak itu, tapi aku tetap ingin menikah sama kamu.”

Aku menatap tangannya.

Dulu sentuhan itu bisa membuat seluruh kemarahanku runtuh.

Sekarang aku hanya merasa lelah.

Aku menarik tanganku.

“Selamat, Dimas.”

Dia menatapku bingung.

“Kamu akhirnya memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku kepada Citra.”

Wajahnya menegang.

Aku teringat percakapan kami di restoran.

Kalau suatu hari kamu benar-benar memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku kepada dia, aku tidak akan menemui kamu lagi.

Dimas akhirnya mengingatnya juga.

“Nadia…”

“Dan seperti yang pernah kubilang, setelah ini aku tidak akan menemui kamu lagi.”

Aku berjalan menuju pintu.

Namun sebelum membukanya, Dimas bertanya dengan suara pecah.

“Kalau aku dari dulu memilih kamu, kita masih bisa menikah?”

Aku berhenti.

Mungkin beberapa minggu sebelumnya aku masih akan menjawab iya.

Sekarang tidak.

Aku menoleh.

“Masalahnya bukan kamu memilih siapa.”

Aku tersenyum untuk terakhir kalinya.

“Masalahnya, selama bertahun-tahun aku selalu memilih kamu sampai lupa memilih diriku sendiri.”

Enam bulan kemudian, aku bertemu Raka lagi di sebuah kedai kopi di Jakarta.

Dia duduk di hadapanku sambil mengaduk espresso.

Aku sedang menceritakan pekerjaan baruku ketika dia tiba-tiba berkata, “Ada satu hal yang belum pernah aku bilang.”

“Apa?”

“Waktu pertama kali kita bertemu di restoran, aku sengaja menyentuh kakimu.”

Aku hampir tersedak.

“Jadi bukan nggak sengaja?”

Raka tersenyum tipis.

“Itu balas dendam.”

“Balas dendam apa?”

“Karena tiga tahun sebelumnya Dimas menunjukkan fotomu dan bilang calon istrinya adalah perempuan paling cantik yang pernah dia temui.”

Aku mengernyit.

Raka menatapku beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Sejak saat itu aku penasaran.”

“Lalu setelah bertemu?”

Dia mengangkat cangkirnya.

“Ternyata Dimas memang sering bicara sembarangan.”

Aku tertawa.

“Berarti nggak cantik?”

“Bukan.”

Raka menatapku lurus.

“Dia salah karena mengira perempuan sepertimu akan menunggu selamanya.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang mengatakan sesuatu yang tidak membuatku merasa harus menjadi milik siapa pun.

Aku tersenyum.

Di luar kaca, Jakarta baru saja diguyur hujan. Orang-orang berlari mencari tempat berteduh, kendaraan memenuhi jalan, dan hidup terus bergerak tanpa meminta izin kepada siapa pun.

Aku tidak tahu apakah Raka akan menjadi bagian dari masa depanku.

Aku juga tidak lagi membutuhkan jawabannya.

Karena setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup menunggu seorang laki-laki memilihku, akhirnya aku menemukan seseorang yang paling lama kutinggalkan.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang