Perubahan wajah Raka hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk menjawab semua pertanyaanku.
Tangannya yang tadi santai memegang gelas mendadak menegang. Matanya bergerak cepat ke arah Alya, lalu kembali kepadaku.
“Uang apa?” tanya Alya pelan.
Raka langsung menyela. “Bukan urusanmu.”
Aku tertawa kecil.

Selama hampir setahun, aku mentransfer sebagian besar tabunganku ke rekening yang disebut Raka sebagai rekening pembayaran apartemen. Totalnya hampir empat ratus juta rupiah. Uang itu berasal dari honor penelitian, tabungan mengajar, dan sebagian warisan kecil dari ibuku.
Raka mengatakan seluruh dana tersebut sudah masuk sebagai uang muka apartemen kami.
“Besok aku akan menghubungi pihak apartemen,” kataku. “Aku ingin melihat bukti seluruh pembayaran atas namaku.”
Raka berdiri.
“Nadira, duduk.”
Nada suaranya berubah. Bukan lagi suara seorang kekasih yang kesal, melainkan seseorang yang merasa rahasianya mulai terancam.
“Aku mau pulang.”
“Kita bicarakan di rumah.”
“Tidak ada rumah kita lagi.”
Aku berbalik meninggalkan restoran.
Alya mengejarku sampai pintu lift.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Ia berdiri beberapa langkah di belakangku dengan cincin yang baru saja kupasangkan masih melingkar di jarinya.
“Aku benar-benar tidak tahu soal apartemen,” katanya.
“Aku percaya.”
“Kalau keberadaanku membuat kalian seperti ini, aku bisa pindah.”
Aku menggeleng.
“Masalahnya bukan kamu, Alya.”
“Tapi semua yang kamu katakan tadi tentang tiga orang…”
“Aku menyayangimu. Itu tidak berubah.” Aku menatap matanya. “Tapi kakakmu menggunakan rasa sayangnya kepadamu sebagai alasan supaya aku terus mengalah. Itu dua hal yang berbeda.”
Pintu lift terbuka.
Sebelum masuk, aku berkata, “Jangan merasa bersalah atas sesuatu yang bukan keputusanmu.”
Malam itu aku tidak pulang ke apartemen sewaan yang kutempati bersama Raka. Aku menginap di rumah Dinda, teman sekantorku.
Pukul dua dini hari, Raka masih mengirim pesan.
Awalnya marah.
Kemudian membujuk.
Lalu menyalahkanku.
Terakhir, ia menulis bahwa aku sedang menghancurkan keluarga hanya karena tidak mampu menerima kedekatannya dengan Alya.
Aku tidak membalas satu pun.
Keesokan paginya, aku menghubungi kantor pemasaran apartemen di Kuningan.
Jawaban mereka membuat tanganku dingin.
Tidak ada unit atas namaku.
Aku memberikan nama lengkap Raka.
Petugas itu meminta waktu beberapa menit.
“Ada unit atas nama Bapak Raka Mahendra,” katanya kemudian. “Tetapi pembayaran uang muka sudah lunas tujuh bulan lalu.”
Aku menahan napas.
“Boleh saya tahu sumber pembayarannya?”
“Maaf, Bu, kami tidak dapat memberikan informasi transaksi detail kepada pihak yang namanya tidak tercantum dalam dokumen.”
Aku menutup telepon lalu membuka seluruh riwayat transferku.
Transfer terakhir kulakukan tiga minggu lalu.
Kalau uang muka sudah lunas tujuh bulan lalu, ke mana uang yang terus diminta Raka setelah itu?
Aku mengirim satu pesan kepadanya.
“Kita bertemu malam ini. Bawa semua bukti pembayaran apartemen.”
Ia membalas dua menit kemudian.
“Aku bisa jelaskan.”
Empat kata yang hampir selalu muncul sebelum sebuah kebohongan besar terbongkar.
Kami bertemu di sebuah kafe di Kemang.
Raka datang membawa laptop. Wajahnya tampak lelah.
“Aku seharusnya bilang sejak awal,” katanya.
“Uangnya ke mana?”
Ia diam cukup lama.
“Aku memakai sebagian.”
“Berapa?”
“Sekitar dua ratus tujuh puluh juta.”
Dadaku terasa kosong.
“Untuk apa?”
Raka mengusap wajah.
“Pengobatan Alya.”
Aku menatapnya.
Kemarahanku seketika bercampur kebingungan.
“Pengobatan apa?”
“Dia butuh prosedur lanjutan. Ada dokter di Singapura yang—”
“Kapan?”
Raka berhenti.
Aku tahu kebohongan ketika mendengarnya.
Selama empat tahun, aku menemani Alya ke rumah sakit berkali-kali. Aku tahu nama dokter jantungnya, obatnya, bahkan jadwal kontrolnya.
“Telepon Alya sekarang.”
“Nadira.”
“Telepon dia.”
Raka menatap meja.
“Alya tidak tahu.”
“Karena tidak ada pengobatan itu, kan?”
Ia akhirnya mengangkat wajah.
“Aku investasi.”
Aku tidak langsung memahami.
“Investasi apa?”
“Bisnis teman.”
Raka mulai menjelaskan dengan cepat. Sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan. Katanya keuntungan awal mencapai dua puluh persen. Ia berniat mengembalikan uangku sebelum aku mengetahuinya.
“Tapi bisnisnya bermasalah.”
“Jadi uangku hilang?”
“Tidak semuanya.”
“Berapa yang tersisa?”
Raka tidak menjawab.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang jauh lebih buruk daripada kehilangan uang.
Ia tidak hanya mengambil tabunganku.
Ia menggunakan kondisi kesehatan adiknya sebagai kebohongan.
“Selama ini setiap kali aku bertanya kenapa pembayaran apartemen bertambah, kamu bilang biaya administrasi berubah.”
“Aku panik.”
“Dan sekarang kamu memakai Alya sebagai alasan.”
“Aku takut kehilangan kamu.”
Aku tertawa tanpa suara.
“Lucu. Karena semua yang kamu lakukan justru memastikan itu terjadi.”
Raka meraih tanganku.
Aku menariknya.
“Aku akan mengembalikannya.”
“Kapan?”
“Beri aku waktu.”
“Aku sudah memberimu empat tahun.”
Aku berdiri.
“Nadira, jangan pergi ke Surabaya hanya karena sedang marah.”
Aku menatapnya.
“Siapa bilang aku pergi karena marah?”
Ia terdiam.
“Aku pergi karena akhirnya aku sadar hidupku tidak harus menunggu kamu berubah.”
Dua minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Aku mengurus pengunduran diri dari lembaga riset tempatku bekerja, menyiapkan kepindahan ke Surabaya, dan berkonsultasi dengan pengacara mengenai uang yang digunakan Raka tanpa persetujuanku.
Namun kejutan terbesar justru datang dari Alya.
Suatu sore ia datang ke kos sementara tempatku tinggal.
Wajahnya pucat.
“Aku sudah bicara dengan Mas Raka.”
Aku mempersilahkannya masuk.
Alya meletakkan sebuah map di meja.
“Aku menemukan ini di kamarnya.”
Di dalamnya ada dokumen apartemen.
Aku membaca nama pemilik unit.
Raka Mahendra.
Namun ada halaman lain yang membuatku berhenti.
Dokumen pengajuan pinjaman dengan jaminan unit tersebut.
Tanggalnya tiga bulan lalu.
“Dia menjaminkan apartemen?”
Alya mengangguk.
“Untuk menutup kerugian investasinya.”
Aku memejamkan mata.
Berarti bahkan apartemen yang selama ini dianggap sebagai masa depan kami sudah berada dalam risiko.
“Ada lagi,” kata Alya.
Ia menyerahkan ponselnya.
Sebuah percakapan WhatsApp terbuka.
Raka berbicara dengan seseorang bernama Bima.
Pesan terakhir membuat darahku mendidih.
Kalau Nadira tetap jadi istriku, nanti semuanya gampang. Gajinya stabil. Dia juga kemungkinan dapat proyek kampus. Tinggal atur cash flow beberapa tahun.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Empat tahun hubungan kami ternyata telah berubah menjadi perhitungan finansial.
“Aku minta maaf,” kata Alya sambil menangis.
“Kamu tidak melakukan apa pun.”
“Aku melakukannya.”
Aku menatapnya.
Alya melepaskan cincin yang diberikan Raka.
“Selama bertahun-tahun aku membiarkan Mas Raka memperlakukanku seperti aku tidak mampu hidup sendiri. Aku menikmati perhatian itu. Setiap kali kamu keberatan, aku diam karena aku takut kehilangan kenyamanan.”
Ia meletakkan cincin di meja.
“Aku mungkin tidak bermaksud merebut tempatmu. Tapi aku juga tidak pernah memberi ruang supaya kamu punya tempat.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak malam di restoran, aku menangis.
Bukan karena Raka.
Melainkan karena akhirnya seseorang memahami apa yang selama ini tidak mampu kujelaskan.
Sebulan kemudian aku pindah ke Surabaya.
Aku menyewa apartemen kecil dekat kampus. Tidak mewah. Hanya satu kamar tidur, balkon sempit, dan dapur yang bahkan tidak cukup untuk dua orang berdiri berdampingan.
Namun ketika pertama kali membuka pintunya, aku merasa lega.
Semua benda di dalamnya kupilih sendiri.
Tidak ada yang harus dibeli dua.
Tidak ada keputusan yang harus menunggu persetujuan orang lain.
Aku mulai mengajar metodologi penelitian dan bergabung dengan proyek kesehatan masyarakat bersama Profesor Ratih.
Hari-hariku menjadi sibuk.
Raka masih menghubungiku.
Kadang meminta maaf.
Kadang menanyakan kemungkinan kami memulai kembali.
Kadang mengingatkan bahwa empat tahun terlalu panjang untuk dibuang.
Aku hanya menjawab satu kali.
“Empat tahun bukan alasan untuk memberikan tahun kelima kepada orang yang sama.”
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Tiga bulan kemudian, Alya menelepon.
“Aku pindah dari rumah Mas Raka.”
Aku tersenyum.
“Ke mana?”
“Bandung.”
Ternyata ia menerima pekerjaan sebagai ilustrator di sebuah studio desain. Selama ini Raka selalu menentangnya bekerja di luar Jakarta karena menganggap kondisi jantung Alya membuatnya tidak aman tinggal sendiri.
“Dokter bilang aku baik-baik saja,” katanya. “Aku baru sadar Mas Raka yang membuatku merasa sakit terus-menerus.”
Beberapa bulan setelah kepindahanku, proses hukum mengenai uangku selesai melalui kesepakatan tertulis. Raka harus menjual mobil dan melepaskan apartemen untuk mengembalikan sebagian besar dana yang telah digunakannya.
Aku menganggap sisanya sebagai harga mahal untuk sebuah pelajaran yang tidak ingin kuulang.
Setahun kemudian, pada suatu sore setelah selesai mengajar, aku menerima paket.
Pengirimnya Alya.
Di dalamnya ada sebuah kotak beludru biru tua yang kukenal.
Aku membukanya.
Dua cincin yang sama tergeletak di sana.
Cincinku dan cincin Alya.
Ada secarik kertas.
“Aku menemukan keduanya ketika mengambil barang terakhirku dari rumah Mas Raka. Kupikir seharusnya kamu yang memutuskan apa yang dilakukan terhadap benda-benda ini.”
Aku membawa kedua cincin itu ke toko perhiasan.
Bukan untuk menjualnya.
Aku meminta pengrajin melebur keduanya.
Beberapa minggu kemudian aku kembali mengambil hasilnya.
Dua cincin yang identik telah berubah menjadi satu liontin kecil berbentuk lingkaran tidak sempurna.
Aku mengirim foto liontin itu kepada Alya.
Ia langsung menelepon.
“Kamu melebur cincin kita?”
“Ya.”
“Kenapa jadi satu?”
Aku tersenyum sambil berdiri di balkon apartemenku, memandang langit Surabaya yang mulai berubah jingga.
“Karena sesuatu yang sama tidak selalu harus tetap menjadi dua benda yang sama.”
Alya tertawa.
Kemudian suaranya menjadi pelan.
“Nadira, ada sesuatu yang belum pernah kuberitahu.”
“Apa?”
“Malam ulang tahun kalian itu, sebenarnya aku sudah menyiapkan kejutan lain.”
Aku terdiam.
“Aku berniat memberikan kunci apartemen kecil yang kubeli sendiri. Aku ingin bilang kepada Mas Raka bahwa setelah kalian menikah, aku akan pindah dan hidup sendiri.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa kamu tidak bilang malam itu?”
“Karena Mas Raka mengumumkan aku akan tinggal bersama kalian sebelum aku sempat bicara.”
Aku menutup mata.
Ternyata selama ini Raka bukan hanya mengambil pilihanku.
Ia juga mengambil pilihan Alya.
“Aku pikir dia melindungiku,” lanjut Alya. “Sekarang aku sadar, mungkin dia hanya membutuhkan seseorang yang selalu bergantung kepadanya.”
Setelah telepon berakhir, aku menatap liontin di tanganku.
Dulu aku mengira kisah kami adalah tentang seorang laki-laki yang terlalu menyayangi adiknya.
Ternyata bukan.
Raka membutuhkan dua perempuan yang terus mengalah agar ia selalu merasa dibutuhkan.
Aku memasang liontin itu di leher.
Bukan sebagai kenangan tentang hubungan yang gagal.
Melainkan sebagai pengingat bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang mengecilkan dirinya agar muat di dalam kehidupan orang lain.
Ponselku bergetar.
Sebuah surel dari universitas muncul.
Proposal penelitianku diterima untuk program kolaborasi selama satu tahun di Melbourne.
Aku membaca surat itu sambil tersenyum.
Setahun lalu, aku hampir menolak Surabaya karena takut meninggalkan Raka.
Sekarang dunia yang menungguku justru semakin luas.
Aku membuka pintu balkon.
Angin sore masuk memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ketika memikirkan masa depan, aku tidak bertanya siapa yang akan ikut bersamaku.
Aku hanya bertanya satu hal.
Ke mana aku ingin pergi berikutnya?
