SEMINGGU SEBELUM MENIKAH, TUNANGANKU MEMINJAMKAN GAUN PENGANTINKU KEPADA CINTA PERTAMANYA—LALU DIA BARU SADAR AKU JUGA SUDAH MENYERAHKAN CALON SUAMINYA KEPADA ORANG LAIN UNTUK SELAMANYA

Pesan dari Rani membuat seluruh kemarahan yang sejak tadi kutahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Mbak Maya, gaun itu tidak cuma dipakai untuk acara malam ini. Tiga minggu lalu Mas Reza sudah mengirim foto dan ukuran gaun itu ke tim kami. Dia bilang setelah acara, gaunnya boleh disesuaikan sedikit untuk Nadira karena kemungkinan akan dipakai lagi untuk pemotretan prewedding.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Prewedding.

Jari-jariku terasa dingin.

Aku mengetik perlahan.

Prewedding siapa?

Balasan Rani datang hampir seketika.

Saya kira Mbak sudah tahu. Mas Reza bilang konsepnya masih rahasia. Nadira juga pernah bercanda di ruang fitting, katanya akhirnya dia akan mendapatkan kembali sesuatu yang dulu sempat lepas.

Aku belum sempat membalas ketika bel apartemen berbunyi berkali-kali.

Reza.

Aku membuka pintu.

Dia berdiri dengan wajah merah, masih mengenakan jas dari acara tadi.

“Kamu keterlaluan.”

Tidak ada salam. Tidak ada pertanyaan apakah aku baik-baik saja.

Hanya tuduhan.

Aku membiarkannya masuk.

Reza melihat kardus-kardus di ruang tamu. Wajahnya langsung berubah.

“Apa ini?”

“Barangmu.”

“Maya.”

“Ambil malam ini kalau bisa.”

Dia menatapku seperti sedang melihat orang asing.

“Kamu mau putus cuma karena gaun?”

Aku hampir kagum mendengarnya.

Tujuh tahun bersamaku, dan dia benar-benar mengira masalahnya adalah sepotong kain.

Aku mengambil ponsel dan menunjukkan pesan Rani.

Wajah Reza kehilangan warna.

“Jelaskan.”

Dia membaca layar itu cukup lama.

“Ini salah paham.”

“Bagian mana?”

“Rani tidak tahu konteksnya.”

“Kalau begitu jelaskan konteksnya.”

Reza mengusap wajah.

“Nadira dapat tawaran proyek besar. Ada konsep kampanye pasangan. Mereka butuh materi prewedding palsu untuk promosi.”

“Dan kamu?”

“Aku cuma membantu.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu selalu cuma membantu.”

“Maya, dengarkan dulu.”

“Tidak. Sekarang kamu yang dengarkan.”

Aku berdiri di depannya.

“Waktu Nadira butuh apartemen, kamu membantu. Waktu dia butuh koneksi, kamu membantu. Waktu dia butuh sopir tengah malam, kamu membantu. Waktu dia butuh gaun pengantinku, kamu membantu.”

Aku menatap matanya.

“Sekarang dia butuh calon pengantin pria juga?”

Reza langsung menggeleng.

“Jangan gila.”

“Kalau begitu kenapa ukuran setelanmu dikirim bersama gaunku?”

Dia terdiam.

Dan keheningan itu adalah jawaban yang tidak pernah ingin kudengar.

“Keluar.”

“Maya.”

“Keluar dari rumahku.”

“Ini rumah kita.”

“Kontraknya atas namaku.”

Dia kembali diam.

Aku membuka pintu.

Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun, Reza tidak punya kalimat yang bisa membuatku mengalah.

Sebelum keluar, dia berhenti.

“Pernikahan kita enam hari lagi.”

“Tidak.”

Dia menoleh.

“Pernikahanmu enam hari lagi mungkin. Pernikahanku sudah dibatalkan.”

Wajahnya benar-benar pucat.

“Apa?”

“Aku sudah menghubungi wedding organizer.”

“Kamu tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu sendirian.”

Aku menatapnya.

“Aneh. Kamu bisa mengambil gaun pengantinku tanpa merasa perlu meminta persetujuanku.”

Pintu kututup.

Malam itu aku akhirnya menangis.

Bukan karena kehilangan Reza.

Aku menangisi diriku sendiri yang selama bertahun-tahun mengira kesabaran adalah bentuk cinta paling dewasa.

Padahal kadang-kadang, kesabaran yang tidak memiliki batas hanyalah izin bagi orang lain untuk terus menyakiti kita.

Pagi berikutnya, masalahnya meledak.

Foto Nadira mengenakan gaunku berdampingan dengan Dimas yang memakai setelan Reza viral di media sosial. Orang-orang mengira mereka sedang mengumumkan hubungan.

Tagar nama mereka naik.

Beberapa portal bahkan menulis bahwa keduanya kemungkinan akan bermain dalam proyek romantis baru.

Aku sedang minum kopi ketika Dimas menelepon.

“May, maaf kalau ini jadi terlalu besar.”

“Bukan salahmu.”

“Setelannya mau kukembalikan siang ini.”

“Tidak perlu buru-buru.”

Dimas terdiam sebentar.

“Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu hampir membuatku menangis lagi.

Selama beberapa bulan terakhir, Reza selalu bertanya apakah aku sudah makan, sudah membayar tagihan, sudah menghubungi vendor.

Tapi sudah lama dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

“Aku sedang belajar untuk baik-baik saja.”

Dimas tidak memaksaku bercerita.

“Kalau butuh apa pun, telepon.”

Siang harinya, Nadira datang.

Sendirian.

Aku hampir tidak membukakan pintu, tetapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang berbeda.

Tidak ada kacamata besar.

Tidak ada senyum selebritas.

Matanya bengkak.

“Aku boleh bicara?”

Aku membiarkannya masuk.

Dia duduk di sofa tanpa menyentuh minuman yang kuberikan.

“Aku mau mengembalikan gaunmu.”

“Taruh saja.”

“Maya, aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Karena memakai gaunku atau karena mencoba mengambil calon suamiku?”

Wajah Nadira menegang.

“Reza bilang apa?”

“Justru aku ingin tahu kamu bilang apa.”

Dia menarik napas panjang.

“Aku memang masih punya perasaan untuk Reza ketika kembali ke Jakarta.”

Setidaknya dia jujur.

“Tapi aku tidak datang untuk merebut dia.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Nadira melanjutkan.

“Awalnya aku benar-benar menganggap dia teman. Tapi Reza mulai sering bicara tentang hubungan kalian.”

“Hubungan kami?”

“Dia bilang kalian sudah seperti teman serumah. Dia bilang pernikahan itu terjadi karena keluarga sudah terlalu terlibat dan terlalu banyak uang dikeluarkan.”

Dadaku terasa sesak.

“Dia bilang begitu?”

Nadira mengangguk.

“Dia juga bilang kalau aku pulang setahun lebih cepat, mungkin hidupnya berbeda.”

Aku memalingkan wajah.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada perselingkuhan fisik mana pun.

Karena itu berarti selama aku sibuk menyiapkan masa depan kami, Reza sedang membayangkan masa depan lain.

“Lalu prewedding?”

Nadira menggeleng.

“Itu bukan prewedding sungguhan. Memang proyek iklan. Tapi Reza menawarkan dirinya sendiri sebagai pasangan model.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Nadira tersenyum pahit.

“Mungkin karena dia ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di sampingku memakai pakaian pengantin.”

Ruangan terasa sunyi.

Kemudian Nadira mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Tapi tadi malam aku menolaknya.”

“Kenapa?”

“Karena setelah melihat reaksinya soal Dimas, aku baru sadar sesuatu.”

Dia menatapku.

“Dia tidak marah karena setelannya dipakai orang lain. Dia marah karena menurutnya kamu tidak lagi berada di bawah kendalinya.”

Aku terdiam.

“Aku mengenal Reza waktu kami masih dua puluh tahun. Dulu aku mengira sifat posesifnya romantis. Setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, aku baru sadar itu bukan cinta.”

Nadira berdiri.

“Dan aku tidak mau menjadi alasan seorang perempuan menikah dengan pria seperti itu.”

Dia berjalan ke pintu lalu berhenti.

“Gaunnya ada di mobil. Tidak pernah diubah. Aku sudah meminta tim mengembalikannya seperti semula.”

Sebelum pergi, dia berkata pelan.

“Maya, jangan benci aku terlalu lama. Tapi kalau kamu mau, aku pantas dibenci sebentar.”

Aneh sekali.

Aku hampir tersenyum.

Dua hari berikutnya, Reza menghubungiku puluhan kali.

Ibunya menelepon.

Kakaknya menelepon.

Bahkan ayahku mulai bertanya apakah keputusan membatalkan pernikahan tidak terlalu terburu-buru.

Semua orang membicarakan gedung.

Katering.

Undangan.

Uang.

Tidak seorang pun bertanya bagaimana rasanya menikah dengan pria yang masih menyimpan ruang untuk cinta pertamanya.

Sampai akhirnya ibuku datang.

Dia duduk di sampingku dan hanya berkata, “Kalau kamu tetap menikah, apakah kamu akan bahagia?”

Aku menangis.

“Tidak tahu, Bu.”

Ibu menggenggam tanganku.

“Kalau enam hari sebelum menikah saja jawabannya sudah tidak tahu, jangan berharap buku nikah akan mengubahnya menjadi iya.”

Hari pernikahan yang seharusnya tiba akhirnya datang.

Gedung tidak dibatalkan.

Itu keputusan yang membuat semua orang bingung.

Aku tetap meminta dekorasi dipasang.

Katering tetap datang.

Fotografer tetap bekerja.

Bahkan sebagian besar tamu tetap kuundang.

Namun undangannya berubah.

Bukan pernikahan.

Aku mengubahnya menjadi acara makan malam keluarga dan penggalangan dana untuk sebuah yayasan pendidikan perempuan yang selama beberapa tahun diam-diam kudukung.

Uang vendor yang tidak bisa dikembalikan tidak kubiarkan menjadi monumen kegagalan.

Aku mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna.

Pukul tujuh malam, aku datang mengenakan gaun sederhana berwarna putih gading.

Bukan gaun pengantinku.

Gaun itu kusumbangkan untuk dilelang dalam acara amal beberapa bulan kemudian.

Ketika memasuki ballroom, aku melihat seseorang berdiri di ujung ruangan.

Reza.

Entah siapa yang memberitahunya.

Dia berjalan cepat ke arahku.

“Kita perlu bicara.”

“Tidak ada lagi.”

“Semua orang ada di sini.”

“Memang.”

“Apa kamu mau mempermalukanku?”

Aku menatapnya.

“Tidak semua hal tentang kamu, Reza.”

Dia menahan lenganku.

Aku langsung menariknya.

“Aku masih mencintaimu.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Kalimat yang mungkin seminggu lalu masih bisa menghancurkanku.

Sekarang tidak.

“Tidak,” jawabku.

“Maya.”

“Kamu mencintai kenyamanan bahwa aku selalu menunggu.”

Dia membeku.

“Kamu mencintai perempuan yang memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Perempuan yang selalu mengerti. Perempuan yang tidak pernah pergi.”

Aku tersenyum tipis.

“Perempuan itu sudah tidak ada.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Mas Reza.”

Nadira.

Reza menoleh.

Nadira datang mengenakan setelan hitam sederhana. Di sampingnya ada Rani.

“Aku sudah menyerahkan semua percakapan dan dokumen proyek ke Maya,” kata Nadira.

Wajah Reza berubah.

“Untuk apa?”

“Supaya kamu berhenti bilang semua ini salah paham.”

Reza menatapku.

Aku mengangkat ponsel.

Ada puluhan tangkapan layar.

Termasuk satu pesan yang dikirim Reza kepada Nadira dua minggu sebelumnya.

Setelah pernikahan selesai, beri aku waktu. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Maya pelan-pelan. Aku cuma tidak bisa membatalkan sekarang karena keluarga pasti kacau.

Aku menatap pria yang seharusnya menjadi suamiku malam itu.

Ternyata rencananya sederhana.

Menikahiku dulu.

Meninggalkanku kemudian.

Mungkin setelah semua tamu pulang.

Setelah foto pernikahan selesai.

Setelah keluarganya tidak perlu menanggung malu.

Aku hanyalah solusi sementara untuk menjaga reputasinya.

Reza mencoba berbicara, tetapi aku mengangkat tangan.

“Cukup.”

“Maya, pesan itu ditulis saat aku sedang bingung.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak bingung. Kamu hanya yakin aku tidak akan pernah punya keberanian untuk pergi.”

Aku berjalan meninggalkannya.

Malam itu tidak ada akad.

Tidak ada cincin.

Tidak ada foto pasangan.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak sedang kehilangan masa depan.

Aku sedang mendapatkannya kembali.

Tiga bulan kemudian, gaun pengantinku terjual dalam lelang amal dengan harga hampir dua kali lipat biaya pembuatannya.

Pembelinya meminta identitasnya dirahasiakan.

Aku tidak terlalu memikirkannya sampai sebuah paket tiba di apartemenku.

Di dalamnya ada kotak kecil dan surat.

Aku mengenali tulisan tangan itu.

Dimas.

Aku membeli gaunnya bukan karena ingin menyimpannya. Sebuah rumah produksi akan memajangnya dalam kampanye tentang perempuan yang berani memilih hidupnya sendiri. Kalau kamu mengizinkan.

Aku tertawa sambil menangis.

Di bagian bawah surat ada satu kalimat lagi.

Dan tenang saja. Aku cuma meminjam ceritamu. Bukan calon pengantinmu.

Untuk pertama kalinya, lelucon tentang malam itu tidak terasa menyakitkan.

Setahun kemudian, aku bertemu Reza secara tidak sengaja di sebuah kafe di Jakarta Selatan.

Dia sendirian.

Kami saling menatap beberapa detik.

Dia tampak ingin menghampiriku, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Aku membalas anggukan itu.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada kerinduan.

Hanya dua orang yang pernah berjalan bersama cukup lama, lalu akhirnya memahami bahwa panjangnya sebuah hubungan tidak pernah menjadi alasan untuk mempertahankan hubungan yang salah.

Aku keluar dari kafe.

Dimas sedang menungguku di trotoar sambil memegang dua gelas kopi.

Hubungan kami tidak dimulai seperti dongeng.

Tidak ada pernyataan cinta dramatis.

Kami hanya mulai lebih sering berbicara.

Lalu makan malam.

Kemudian perjalanan singkat bersama teman-teman.

Sampai suatu hari aku sadar bahwa bersama seseorang ternyata tidak seharusnya membuat kita terus-menerus mempertanyakan nilai diri sendiri.

Dimas menyerahkan kopi kepadaku.

“Kok lama?”

“Ketemu seseorang dari masa lalu.”

“Siapa?”

Aku melihat kembali ke arah kafe.

Reza sudah tidak terlihat.

Aku tersenyum.

“Tidak penting.”

Dimas mengangguk dan kami berjalan.

Beberapa langkah kemudian dia bertanya, “Kamu masih menyesal soal pernikahan itu?”

Aku berpikir sebentar.

“Cuma satu.”

“Apa?”

“Seharusnya aku sadar lebih cepat.”

Dimas tertawa.

Aku ikut tertawa.

Dulu aku mengira Nadira telah meminjam gaun pengantinku.

Kemudian aku mengira dia juga berusaha mengambil calon suamiku.

Ternyata keduanya salah.

Gaun itu akhirnya membantu banyak perempuan yang bahkan tidak kukenal.

Dan Reza tidak pernah benar-benar diambil dariku.

Aku sendiri yang menyerahkannya kembali kepada masa lalu yang selama ini tidak pernah benar-benar dia lepaskan.

Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang seberapa keras kita mempertahankan seseorang.

Kadang cinta terbesar kepada diri sendiri justru dimulai ketika kita berani membuka tangan, melepaskan orang yang terus membuat kita merasa tidak cukup, lalu berjalan pergi tanpa menunggu dia menyadari apa yang telah hilang.

Dan ketika Reza akhirnya menyadarinya, aku sudah terlalu jauh untuk menoleh kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang