Dimas adalah satu-satunya orang yang pernah mengenal Laras sebelum nama Raka masuk ke dalam hidupku.
Kami belajar menari di sanggar yang sama sejak usia sembilan tahun. Dimas tahu bagaimana aku menangis ketika gagal melakukan satu gerakan, bagaimana aku diam-diam berlatih sampai telapak kakiku lecet, dan bagaimana aku pernah bermimpi berdiri di panggung besar sebelum cedera pinggang menghentikan semuanya.
Ketika aku tiba di restoran, ia sudah menungguku di dekat jendela.
Dimas menatapku beberapa detik sebelum tersenyum.
“Kamu berubah.”

Aku menarik kursi. “Lebih tua?”
“Lebih tenang.”
Aku tertawa kecil. “Itu cara sopan mengatakan aku kelihatan capek?”
“Bukan.” Ia menatapku serius. “Dulu setiap kali bicara tentang Raka, matamu selalu seperti orang yang takut kehilangan sesuatu. Sekarang nggak.”
Aku tidak langsung menjawab.
Pelayan datang membawa menu. Setelah memesan, Dimas memberitahuku bahwa ia baru kembali dari Singapura setelah hampir lima tahun bekerja sebagai koreografer.
“Kebetulan aku sedang menyiapkan proyek pertunjukan di Jakarta,” katanya. “Aku butuh orang yang memahami tari sekaligus bisa mengurus produksi. Aku ingat kamu.”
Aku menunjuk pinggangku.
“Aku bahkan sudah lama nggak menari.”
“Aku nggak menyuruhmu menari.”
“Lalu?”
“Jadi produser kreatif.”
Aku terdiam.
Dimas kemudian mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan proposal kerja sama dengan sebuah pusat kesenian di Singapura. Program itu akan berjalan selama setahun. Tim utama akan tinggal di sana, tetapi sebagian pekerjaan bisa dilakukan dari Jakarta.
“Aku tahu kamu punya Nino,” katanya. “Makanya aku nggak langsung menawarkan posisi penari atau pelatih. Tapi Laras, hidupmu nggak harus berhenti hanya karena satu bagian tubuhmu pernah cedera.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
Bertahun-tahun aku percaya hidupku memang sudah selesai.
Menari selesai karena cedera.
Karier selesai karena menikah.
Kebebasan selesai karena menjadi ibu.
Dan setiap kali merasa kehilangan sesuatu, aku menghibur diri dengan mengatakan bahwa setidaknya aku mempunyai keluarga.
Ternyata keluarga yang kubanggakan bahkan dibangun di atas kebohongan.
Aku menandatangani kontrak awal malam itu.
Ketika keluar dari restoran, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan kami.
Raka turun.
Aku sama sekali tidak terkejut melihatnya.
Yang membuatku hampir tertawa adalah koper di tangannya dan kantong belanja bebas bea yang sengaja ia bawa.
Ia benar-benar pergi ke bandara hanya untuk menyempurnakan kebohongannya.
“Laras?”
Pandangan Raka berpindah dariku kepada Dimas.
“Dimas?” tanyanya.
Dimas mengangguk. “Lama nggak bertemu.”
Wajah Raka berubah.
Ia mengenal Dimas. Sebelum kami menikah, Raka bahkan pernah mengatakan bahwa ia tidak menyukai kedekatanku dengan pria itu.
“Kalian makan malam berdua?”
Aku menjawab tenang, “Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
Aku menatapnya.
“Kenapa harus?”
Raka tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.
Beberapa detik kemudian ia tersenyum, lalu merangkul bahuku seolah ingin menunjukkan kepemilikan.
“Ya sudah. Aku cuma kaget. Bukannya kamu bilang mau makan sama teman perempuan?”
“Aku bilang makan sama teman.”
Tangannya di bahuku menegang.
Dalam perjalanan pulang, ia terus mencoba berbicara.
Ia bercerita tentang penerbangan yang melelahkan, rapat dengan klien, hotel yang buruk, bahkan makanan di pesawat.
Semua detailnya begitu lengkap.
Kalau aku tidak melihatnya sendiri bersama Tiara, mungkin aku akan percaya.
Sesampainya di rumah, Nino berlari keluar.
“Papa!”
Raka langsung berjongkok dan membuka tangan.
Namun Nino berhenti beberapa langkah di depannya.
“Papa tadi naik pesawat?”
“Iya.”
“Pesawatnya dari mana?”
Raka menyebut nama sebuah negara.
Nino menatapku, lalu kembali menatap ayahnya.
“Mama bilang kalau bohong, hidungnya nggak benar-benar panjang. Tapi hati orang bisa jadi jauh.”
Aku membeku.
Aku tidak pernah mengajarkan kalimat itu.
Bu Sari yang berdiri di belakang Nino buru-buru berkata, “Tadi dia menonton film anak-anak, Pak.”
Raka tertawa kaku.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidur sambil memelukku.
Aku tidak menolaknya.
Aku hanya tidak membalas pelukannya.
Dua hari kemudian, asistennya mengirimkan dokumen pembelian apartemen dan rumah di Sentul. Sesuai permintaanku, keduanya dicatat atas nama Nino melalui mekanisme kepemilikan yang telah diatur secara hukum.
Nilainya jauh lebih besar daripada Rp100 juta yang biasa ia kirimkan untuk membuatku diam.
Setelah semuanya selesai, aku mulai mengurus dokumen lain.
Paspor Nino.
Rekening pribadiku.
Kontrak kerja.
Dokumen aset yang selama ini kusimpan tanpa pernah kubaca dengan serius.
Dan yang paling penting, konsultasi dengan pengacara.
Aku tidak ingin membuat keributan.
Aku ingin pergi dengan bersih.
Namun sebelum rencanaku selesai, Tiara datang sendiri ke rumah.
Hari itu Raka sedang berada di kantor.
Bu Sari memanggilku dari ruang keluarga.
“Mbak Laras, ada tamu.”
Tiara berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat.
Tanpa riasan panggung, ia terlihat jauh lebih muda daripada yang kubayangkan.
Mungkin dua puluh empat atau dua puluh lima tahun.
Usia yang hampir sama denganku ketika menikah dengan Raka.
“Aku Tiara.”
“Aku tahu.”
Wajahnya langsung berubah.
Aku mempersilahkannya duduk.
Tangannya gemetar ketika meletakkan ponsel di meja.
“Aku baru tahu Mas Raka sudah menikah.”
Aku hampir tertawa.
“Baru tahu?”
“Dia bilang istrinya meninggal empat tahun lalu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Tiara membuka beberapa percakapan mereka.
Raka memang mengatakan dirinya duda.
Lebih buruk lagi, ia menggunakan foto Nino sebagai anak dari “mendiang istrinya”.
“Dia bilang dia belum menikah lagi karena masih trauma,” suara Tiara pecah. “Aku nggak pernah berniat merebut suami orang.”
Untuk pertama kalinya, kemarahanku tidak tertuju kepada perempuan di hadapanku.
Tiara bukan pemenang.
Ia korban dari kebohongan yang berbeda.
Aku bertanya, “Kamu bersamanya sejak kapan?”
“Empat tahun lebih.”
Jawaban itu sesuai.
Saat aku hamil.
Tiara menggigit bibir.
“Ada sesuatu lagi.”
Ia memperlihatkan dokumen digital di ponselnya.
Raka pernah menjanjikan sebuah apartemen kepadanya. Namun beberapa minggu terakhir, proses pengalihannya tiba-tiba dibatalkan.
Aku langsung mengerti.
Dana itu dialihkan untuk membeli properti yang kuminta atas nama Nino.
Untuk pertama kalinya, kebohongan Raka mulai saling bertabrakan.
Aku meminta Tiara tidak menghubunginya dulu.
Seminggu kemudian, proyek tari Dimas mengadakan pertemuan besar dengan sponsor dan beberapa komunitas seni.
Aku datang sebagai bagian dari tim produksi.
Aku tidak tahu bahwa sanggar Tiara juga diundang.
Ketika ia muncul, kami hanya saling menatap.
Tidak ada yang menyapa.
Namun kejutan terbesar datang dua puluh menit kemudian.
Raka masuk.
Ia pasti datang karena Tiara.
Begitu melihatku berdiri bersama Dimas, wajahnya berubah.
“Laras?”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Tiara berdiri tidak jauh darinya.
Raka melihat kami bergantian.
Aku berkata, “Bukannya kamu ada rapat di Surabaya?”
Wajahnya kehilangan warna.
Tiara melangkah maju.
“Bukannya istrimu sudah meninggal?”
Semua orang terdiam.
Raka menatap Tiara dengan panik.
“Sayang, dengarkan dulu.”
Aku hampir tersenyum mendengar panggilan itu.
Raka segera menoleh kepadaku.
“Laras, ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku belum mengatakan aku memikirkan apa.”
“Dia cuma teman.”
Tiara tertawa getir.
“Teman?”
Ia mengangkat ponselnya.
“Teman yang kamu ajak menikah tahun depan?”
Suara bisik-bisik mulai terdengar.
Raka menarik lenganku.
“Kita bicara di rumah.”
Aku melepaskan tangannya.
“Rumah yang mana?”
Ia membeku.
“Apartemen tempat kamu menemui Tiara? Rumah kita? Atau hotel tempat kalian menginap setelah pertunjukan?”
Wajah Raka benar-benar pucat.
“Kamu tahu?”
“Aku duduk tepat di belakangmu malam itu.”
Aku melihat perubahan di matanya.
Kaget.
Takut.
Lalu marah.
“Jadi selama ini kamu sengaja diam?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin melihat seberapa jauh kamu bisa berbohong.”
Raka menurunkan suara.
“Kita punya anak. Jangan mempermalukan keluarga di depan orang lain.”
Kalimat itu akhirnya membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar putus.
“Keluarga?”
Aku menatapnya.
“Ketika Nino menunggu kamu datang ke acara sekolah, kamu sedang menemani Tiara latihan. Ketika aku cedera dan menangis kesakitan, kamu bilang keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Tapi ketika Tiara lelah sedikit, kamu meminta seluruh sanggar menjaganya.”
Raka terdiam.
“Aku nggak marah karena kamu mencintai perempuan lain,” lanjutku. “Aku marah karena selama bertahun-tahun kamu membuatku percaya bahwa aku terlalu banyak menuntut hanya karena ingin suamiku pulang.”
Tiara menundukkan kepala.
Dimas tidak ikut campur.
Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakangku.
Raka akhirnya berkata, “Aku bisa mengakhiri semuanya dengan Tiara.”
Tiara mengangkat kepala tajam.
Aku justru tersenyum.
“Lihat? Bahkan sekarang kamu masih berpikir masalahnya adalah memilih salah satu dari kami.”
Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Surat gugatan cerai.
Raka menatapnya lama.
“Laras, jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
“Aku nggak akan tanda tangan.”
“Kamu nggak harus langsung tanda tangan.”
“Aku bisa berubah.”
“Empat tahun cukup untuk belajar berubah.”
Ia mulai panik.
“Kalau soal uang, semua aset bisa kuberikan kepadamu.”
“Aku nggak butuh semuanya.”
“Kamu mau apa?”
Aku melihatnya beberapa detik.
“Aku mau hidupku kembali.”
Raka tertawa sinis, mungkin karena putus asa.
“Hidup apa? Kamu sudah bertahun-tahun nggak bekerja. Kamu pikir dunia masih menunggumu?”
Dimas bergerak maju, tetapi aku mengangkat tangan menghentikannya.
Aku tidak membutuhkan siapa pun membelaku.
“Aku mulai bekerja minggu depan.”
Aku menunjukkan kartu identitas proyekku.
“Dan bulan depan aku membawa Nino ke Singapura selama masa proyek, sesuai izin dan prosedur hukum yang sudah disiapkan.”
Mata Raka melebar.
“Kamu nggak bisa membawa anakku pergi begitu saja.”
“Anakmu?”
Aku menatapnya.
“Kamu bahkan nggak tahu nama guru kelasnya.”
Raka tidak mampu menjawab.
Perceraian kami berlangsung hampir delapan bulan.
Tidak mudah.
Raka sempat mencoba menggunakan uang, keluarga, bahkan Nino untuk membuatku kembali.
Namun bukti perselingkuhan dan kebohongannya terlalu banyak.
Tiara memberikan seluruh percakapan mereka kepada pengacaraku.
Setelah itu ia meninggalkan sanggar lama dan pindah ke Yogyakarta.
Sebelum pergi, ia mengirimiku satu pesan.
“Aku minta maaf.”
Aku membalas singkat.
“Kita sama-sama dibohongi. Jangan habiskan hidupmu meminta maaf atas dosa orang lain.”
Setahun kemudian, aku kembali berdiri di belakang panggung.
Bukan sebagai penari utama.
Tubuhku memang tidak lagi seperti dulu.
Pinggangku masih sakit ketika terlalu lama berdiri.
Namun namaku tercetak di buku pertunjukan sebagai produser kreatif.
Nino duduk di barisan depan.
Ketika lampu menyala setelah pertunjukan selesai, ia berdiri di atas kursi sambil berteriak paling keras.
“Mama!”
Aku tertawa.
Di kursi kosong di sebelahnya terdapat sebuah buket bunga.
Aku bertanya kepada Bu Sari siapa yang mengirimkannya.
Ia menyerahkan kartu kecil.
Tulisan tangan di sana sangat kukenal.
Selamat untuk pertunjukan pertamamu setelah sekian lama.
Aku minta maaf karena baru memahami nilaimu setelah kehilanganmu.
Raka.
Aku membaca kartu itu sekali, kemudian meletakkannya kembali.
Nino bertanya, “Dari Papa?”
“Iya.”
“Mama senang?”
Aku memandang panggung yang perlahan gelap.
Dulu, mungkin aku akan menangis hanya karena Raka mengingat sesuatu tentangku.
Sekarang tidak.
Aku menyerahkan bunga itu kepada salah satu penari muda yang baru selesai tampil.
Wajahnya langsung berbinar.
Nino memiringkan kepala.
“Kok diberikan?”
Aku menggenggam tangannya.
“Karena Mama sudah punya hadiah yang lebih bagus.”
“Apa?”
Aku menatap anakku, lalu pintu panggung yang terbuka menuju cahaya sore Jakarta.
“Kesempatan untuk memilih hidup Mama sendiri.”
Nino tidak benar-benar memahami jawabanku. Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat dan berjalan bersamaku.
Dimas menunggu di luar bersama tim produksi.
Tidak ada kisah cinta baru yang langsung dimulai setelah perceraian.
Aku tidak membutuhkan seorang pria untuk membuktikan bahwa hidupku telah membaik.
Aku hanya membutuhkan waktu untuk mengenali perempuan yang selama bertahun-tahun hilang di balik peran sebagai istri seseorang.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar Raka dan Tiara tidak pernah kembali bersama.
Raka juga tidak menikah lagi.
Namun itu bukan lagi urusanku.
Ada satu hal yang akhirnya kupahami.
Perselingkuhan Raka memang menghancurkan pernikahan kami, tetapi bukan malam ketika aku melihatnya membawa bunga untuk perempuan lain yang mengubah hidupku.
Yang mengubah hidupku adalah keputusan sederhana setelahnya.
Untuk pertama kalinya, ketika seseorang memilih meninggalkanku demi orang lain, aku berhenti mengejarnya.
Aku memilih diriku sendiri.
