“Aku merindukan anak kita.”
Kalimat itu keluar begitu pelan hingga Aditya yang sedang menuangkan air berhenti sesaat. Ia menoleh kepadaku, lalu tersenyum seolah tidak ada dosa yang bersembunyi di balik wajahnya.
“Anan ada di ruang bayi. Nanti kalau kondisimu lebih baik, aku minta perawat membawanya ke sini.”
Aku mengangguk.
“Boleh aku melihatnya sekarang?”
Senyumnya menegang.
“Kamu baru mengalami pendarahan hebat, Laras. Jangan keras kepala.”

“Aku cuma ingin melihat anakku.”
Untuk pertama kalinya, aku sengaja menekankan dua kata terakhir.
Mata Aditya berubah sepersekian detik. Namun ia segera membungkuk dan mencium keningku.
“Percayalah padaku. Semua yang kulakukan demi kamu dan anak kita.”
Aku hampir tertawa.
Ternyata kebohongan paling kejam bisa diucapkan dengan suara paling lembut.
Tiga hari berikutnya aku memainkan peran sebagai istri yang tidak mengetahui apa-apa.
Aku meminum obat yang diberikan perawat, tetapi setelah kejadian malam itu, tidak satu pun obat dari Aditya benar-benar kutelan. Aku menyembunyikannya di bawah lidah, lalu membuangnya ketika sendirian.
Sementara itu, aku mengumpulkan bukti.
Aku memotret percakapan Aditya dengan Maya menggunakan ponselku. Aku merekam nama dokter yang membantunya. Aku menemukan bukti transfer lima miliar rupiah kepada seorang laki-laki bernama Bima Santoso.
Yang paling penting, aku menemukan pesan suara Maya.
“Adit, setelah semuanya selesai, kapan kamu menceraikan Laras? Aku tidak mau Anan tumbuh melihat perempuan lain dipanggil Mama.”
Balasan Aditya membuat tanganku gemetar.
“Sabar. Laras masih punya saham perusahaan dari ayahnya. Kalau aku menceraikannya sekarang, keluarga akan curiga. Biarkan dia membesarkan Anan dulu. Nanti setelah semua aset aman, kita pikirkan caranya.”
Aku memejamkan mata.
Jadi bahkan setelah membunuh anakku, ia masih ingin menjadikanku pengasuh anak selingkuhannya.
Pagi keberangkatanku ke Singapura, Aditya harus menghadiri rapat direksi.
Ia mencium keningku sebelum pergi.
“Aku pulang sore. Jangan ke mana-mana.”
Aku tersenyum.
“Baik.”
Begitu pintu tertutup, aku bangkit.
Kakiku masih sakit, tetapi rasa sakit itu tidak lagi berarti dibandingkan apa yang ada di dadaku.
Aku memasukkan dokumen, ponsel, dan beberapa pakaian ke koper kecil. Namun sebelum meninggalkan rumah sakit, ada satu tempat yang harus kudatangi.
Kamar jenazah.
Seorang petugas tua bernama Pak Darto berdiri di depan pintu. Ketika menyebut namaku, wajahnya langsung berubah.
“Bu Laras?”
“Saya ingin melihat bayi saya.”
Ia menunduk.
“Tidak ada bayi atas nama Ibu di sini.”
Aku menatapnya lama.
“Pak, saya tahu anak saya meninggal.”
Tangannya mulai gemetar.
“Saya juga tahu siapa yang membunuhnya.”
Wajah Pak Darto memucat.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Kalau Bapak membantu mereka menghilangkan anak saya, mungkin Bapak bisa terus diam. Tapi kalau Bapak masih punya hati, tolong beri saya kesempatan mengucapkan selamat tinggal.”
Lelaki itu akhirnya menangis.
“Maaf, Bu.”
Ia membuka pintu.
Di dalam ruangan dingin itu terdapat sebuah kotak kecil.
Aku tidak pernah membayangkan pertemuan pertamaku dengan anakku akan menjadi sekaligus perpisahan terakhir.
Tubuhnya sangat kecil.
Aku menyentuh pipinya yang dingin.
“Maafkan Mama.”
Air mataku jatuh untuk pertama kalinya sejak malam aku mengetahui kebenaran.
“Mama terlambat melindungimu.”
Pak Darto berdiri beberapa langkah di belakangku sambil menangis.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Bu, sebelum bayi Ibu meninggal, dokter anak sempat merekam kondisinya.”
Aku menoleh.
“Rekaman?”
“Rumah sakit ini punya kamera medis di ruang neonatal untuk dokumentasi tindakan darurat.”
Dadaku berdebar.
“Masih ada?”
Pak Darto mengangguk.
“Dokter yang membantu Pak Aditya menyuruh bagian IT menghapusnya. Tapi keponakan saya bekerja di bagian server. Dia membuat salinan karena merasa ada yang aneh.”
Beberapa menit kemudian, sebuah flashdisk berada di tanganku.
Aku tidak membukanya sampai berada di dalam mobil menuju bandara.
Ketika video itu diputar, aku hampir tidak sanggup melihat layar.
Anakku hidup.
Tangannya bergerak kecil.
Seorang dokter memeriksa napasnya.
Kemudian Aditya masuk.
Aku menghentikan video.
Tanganku gemetar hebat.
Aku tidak sanggup melihat bagian berikutnya.
Tetapi aku tidak menghapusnya.
Video itu bukan sekadar bukti.
Itu suara terakhir anakku meminta keadilan.
Aku tidak jadi terbang ke Singapura.
Sebaliknya, aku menghubungi satu orang yang selama bertahun-tahun dijauhi Aditya dariku.
Ayahku.
Hubungan kami memburuk sejak aku menikah. Ayah tidak pernah menyukai Aditya. Ia pernah mengatakan ada sesuatu yang terlalu sempurna dalam cara Aditya memperlakukanku.
Saat itu aku menganggap Ayah hanya sulit menerima menantunya.
Ketika ia menjawab telepon, aku tidak mengatakan banyak.
“Ayah, jemput aku.”
Hening beberapa detik.
“Kamu di mana?”
“Bandara.”
“Ayah datang.”
Hanya itu.
Empat puluh menit kemudian, ketika melihat Ayah turun dari mobil, semua kekuatan yang kutahan selama beberapa hari runtuh.
Aku memeluknya dan menangis seperti anak kecil.
“Ayah benar.”
Ia tidak bertanya apa-apa.
Tangannya hanya mengusap kepalaku.
“Pulang dulu.”
Malam itu, di rumah keluarga kami di Menteng, aku menunjukkan semuanya.
Ayah tidak menangis.
Namun ketika melihat video dari rumah sakit, tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih.
“Besok kita ke polisi.”
“Belum.”
Ayah menatapku.
“Aku mau mereka semua muncul.”
Aku mengetahui keluarga Wijaya akan mengadakan acara besar lima hari kemudian untuk memperkenalkan Anan sebagai generasi penerus keluarga.
Semua anggota keluarga, pemegang saham utama, dan beberapa mitra bisnis akan hadir.
Aditya pasti membawaku.
Dan benar saja, malam sebelum acara, ia datang ke rumah Ayah.
Wajahnya panik.
“Laras!”
Ia memelukku begitu melihatku.
“Kamu pergi tanpa bilang apa-apa. Aku hampir gila mencarimu.”
Aku membiarkannya memeluk tubuhku.
“Aku cuma kangen Ayah.”
Ia mengembuskan napas lega.
“Jangan lakukan itu lagi.”
Kemudian ia menggenggam tanganku.
“Besok ikut aku. Kakek ingin memperkenalkan Anan kepada seluruh keluarga.”
Aku menatapnya.
“Baik.”
Malam berikutnya, ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta dipenuhi ratusan tamu.
Maya datang mengenakan gaun sederhana. Secara resmi ia diperkenalkan sebagai teman keluarga.
Namun aku melihat cara Aditya memandangnya.
Begitu pula cara Maya memandang bayi dalam pelukanku.
Anan.
Selama beberapa hari aku terus mengingatkan diriku bahwa bayi ini tidak bersalah.
Ia tidak memilih dilahirkan dari perselingkuhan.
Ia tidak meminta ayahnya membunuh bayi lain demi warisan.
Karena itu, ketika Anan menangis, aku tetap menenangkannya.
Maya menghampiriku.
“Anaknya lucu sekali, Mbak Laras.”
Aku menatapnya.
“Iya. Mirip ibunya.”
Wajah Maya berubah.
“Apa?”
Aku tersenyum.
“Maksudku, setiap bayi pasti punya kemiripan dengan ibunya.”
Ia tertawa kaku lalu pergi.
Tak lama kemudian, Kakek Wijaya naik ke panggung.
“Hari ini saya ingin memperkenalkan cicit pertama keluarga Wijaya.”
Tepuk tangan terdengar.
Aditya menggenggam bahuku.
“Ayo.”
Aku berjalan ke panggung sambil membawa Anan.
Di depan ratusan orang, Kakek tersenyum bangga.
“Namanya Anan Wijaya.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Aku mengambil mikrofon.
“Maaf, Kek. Ada satu hal yang perlu diperbaiki.”
Ruangan perlahan hening.
Aditya menatapku.
“Laras?”
Aku tersenyum kepadanya.
“Anan memang anak keluarga Wijaya.”
Aku menyerahkan bayi itu kepada seorang pengasuh yang sudah disiapkan Ayah.
“Tapi bukan anak saya.”
Bisikan langsung memenuhi ballroom.
Maya memucat.
Aditya mencoba mengambil mikrofon.
“Laras sedang sakit. Dia belum pulih setelah melahirkan.”
Aku mundur.
“Benar. Aku memang belum pulih.”
Layar besar di belakang panggung tiba-tiba menyala.
Foto pertama yang muncul adalah Maya dengan perut hamil delapan bulan.
Di sampingnya berdiri Aditya.
Kemudian foto berikutnya.
Aditya mencium perut Maya.
Foto lain.
Mereka memilih pakaian bayi.
Foto berikutnya menampilkan percakapan mereka.
Ruangan menjadi kacau.
“Apa ini?” bentak Kakek Wijaya.
Aditya kehilangan warna wajah.
“Ini manipulasi!”
Aku menatap operator.
“Putar videonya.”
Aditya langsung bergerak.
“Jangan!”
Namun terlambat.
Video dari ruang neonatal mulai diputar.
Aku membalikkan tubuh.
Aku tidak ingin melihat lagi.
Yang kudengar hanya suara orang-orang menjerit ketika mereka memahami apa yang terjadi.
Maya jatuh terduduk.
Kakek Wijaya memegang dadanya.
Aditya berlari menuju ruang kontrol, tetapi beberapa polisi berpakaian sipil muncul dari antara para tamu.
“Apa-apaan ini?”
Seorang penyidik menunjukkan identitas.
“Saudara Aditya Wijaya, Anda ikut kami terkait dugaan pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan penghilangan barang bukti.”
Aditya menatapku seperti orang gila.
“Laras, dengarkan aku.”
Aku tidak bergerak.
“Aku melakukan semuanya karena aku mencintai anakku.”
Aku akhirnya menatapnya.
“Anakmu?”
Suaraku bergetar.
“Yang kamu bunuh juga anakmu.”
Ia terdiam.
Polisi memborgol tangannya.
Pada saat yang sama, Maya mencoba pergi melalui pintu samping.
Namun dua petugas menghentikannya.
“Aku tidak tahu apa-apa!” teriak Maya. “Aku cuma melahirkan Anan!”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
Aku mengangkat ponsel.
Ada satu pesan yang sengaja kusimpan untuk terakhir.
Pesan Maya kepada Aditya tiga hari sebelum aku didorong.
“Kapan kamu akan menyingkirkan Laras dan bayinya? Kalau kamu benar-benar mencintaiku, buktikan.”
Maya membeku.
Ternyata ia bukan sekadar perempuan yang menerima hasil kejahatan.
Ia ikut mendorong Aditya melakukannya.
Namun kejutan terbesar datang dari Kakek Wijaya.
Lelaki tua itu meminta mikrofon.
Dengan suara gemetar ia berkata, “Mulai malam ini, Aditya dicabut dari seluruh jabatan dan haknya dalam perusahaan keluarga.”
Aditya menatapnya tidak percaya.
“Kakek!”
“Dan mengenai warisan yang kalian perebutkan sampai membunuh seorang bayi…”
Kakek menarik napas panjang.
“Tidak ada yang akan diwariskan kepadamu.”
Ruangan kembali sunyi.
Kakek menatapku.
“Karena sebagian besar saham keluarga Wijaya sebenarnya sudah dialihkan kepada Laras dua tahun lalu.”
Aku sendiri terkejut.
Ternyata Kakek sejak lama mengetahui Aditya tidak mampu mengelola perusahaan. Diam-diam ia mempercayaiku karena selama bertahun-tahun aku yang menyelesaikan banyak masalah perusahaan tanpa pernah meminta pengakuan.
Semua kejahatan Aditya dilakukan untuk warisan yang sebenarnya sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Ia kehilangan segalanya demi sesuatu yang bahkan tidak pernah ia punya.
Enam bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.
Dokter yang membantu Aditya akhirnya bekerja sama dengan penyidik dan mengakui semuanya. Bima, lelaki yang mendorongku, ditangkap di Surabaya sebelum berhasil meninggalkan Indonesia.
Aku resmi menggugat cerai Aditya.
Tentang Anan, aku membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.
Aku tidak mengambilnya.
Aku juga tidak membencinya.
Setelah Maya ditahan, Anan sementara diasuh oleh kakak perempuan Maya yang tidak terlibat dalam kejahatan mereka.
Sebelum menyerahkannya, aku menggendong Anan untuk terakhir kalinya.
Ia menggenggam jariku.
Aku menatap wajah kecil itu lama.
Dulu aku mengira setiap kali melihatnya, aku akan mengingat kematian anakku.
Ternyata tidak.
Aku hanya melihat seorang bayi yang juga menjadi korban keputusan orang dewasa.
“Kamu tidak berutang apa pun kepadaku,” bisikku.
“Jadilah orang baik.”
Setahun kemudian, aku mendirikan yayasan dengan nama anakku.
Arka.
Nama yang sudah kupilih diam-diam sebelum ia lahir.
Yayasan Arka membantu perempuan korban kekerasan rumah tangga mendapatkan bantuan hukum dan layanan kesehatan.
Aku memang tidak bisa mengandung lagi.
Untuk waktu yang lama, kenyataan itu terasa seperti hukuman.
Sampai suatu sore seorang anak perempuan berusia lima tahun di rumah perlindungan berlari menghampiriku.
Ia memeluk kakiku sambil menunjukkan gambar rumah yang baru dibuatnya.
Di dalam gambar itu ada dua orang.
Seorang anak kecil dan seorang perempuan.
“Ini siapa?” tanyaku.
“Aku.”
“Yang ini?”
Ia menunjuk perempuan di sebelahnya.
“Bunda Laras.”
Aku terdiam.
Anak itu bernama Kirana. Ibunya meninggal akibat kekerasan rumah tangga dan tidak ada keluarga yang bersedia merawatnya.
Beberapa bulan kemudian, setelah melalui seluruh proses hukum, Kirana resmi menjadi putriku.
Pada malam pertama ia tidur di rumahku, aku berdiri lama di depan pintu kamarnya.
Dulu Aditya berpikir ia bisa menghancurkan hidupku dengan mengambil anakku dan merusak rahimku.
Ia salah.
Menjadi ibu ternyata tidak hanya ditentukan oleh darah, rahim, atau siapa yang kita lahirkan.
Kadang-kadang, hidup mengambil seseorang yang sangat kita cintai dan meninggalkan luka yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Namun luka tidak selalu menjadi akhir.
Beberapa luka berubah menjadi pintu.
Aku masih mengunjungi makam Arka setiap tahun pada hari kelahirannya.
Aku selalu membawa bunga putih.
Kirana biasanya ikut bersamaku.
Suatu hari ia bertanya, “Bunda, Kak Arka itu siapa?”
Aku berjongkok di depannya.
“Kakakmu.”
“Dia tinggal di mana?”
Aku menatap batu nisan kecil di hadapan kami, lalu menggenggam tangannya.
“Di tempat yang tidak bisa kita datangi sekarang.”
Kirana berpikir sebentar.
Kemudian ia meletakkan bunga kecil di atas makam.
“Kalau begitu nanti kalau ketemu, aku bilang aku adiknya.”
Aku tersenyum sambil menangis.
Untuk pertama kalinya, air mata itu tidak terasa seperti kekalahan.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Aditya memang mengambil banyak hal dariku.
Ia mengambil pernikahanku, kepercayaanku, anak kandungku, bahkan kesempatan tubuhku untuk mengandung kembali.
Tetapi ada satu hal yang gagal ia bunuh.
Kemampuanku untuk mencintai.
Dan justru dari sesuatu yang gagal ia hancurkan itulah, aku membangun kembali seluruh hidupku.
