Enam bulan setelah putus, Raka berdiri di depan rumahku dalam keadaan basah kuyup, menatap seorang pria setengah telanjang di belakangku seolah baru saja menemukan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
Padahal, ketika aku meninggalkannya, dialah yang berkata aku tidak boleh menyesal.
Malam itu, wajahnya berubah begitu cepat.
Tatapan yang semula malas mendadak tajam. Rahangnya mengeras. Tangan yang menggantung di sisi tubuh mengepal.
“Sial,” desisnya. “Siapa kamu?”

Pria di belakangku mengangkat alis.
“Aku yang seharusnya bertanya. Siapa kamu datang tengah malam begini?”
Raka hendak melangkah masuk, tetapi aku menahan pintu.
“Jangan bikin keributan.”
Ia menatap tanganku yang menghalangi dadanya, lalu menatapku.
“Laras, enam bulan aku menunggu kamu menghubungiku. Begitu aku datang, ada laki-laki seperti ini di rumahmu?”
Aku hampir tertawa.
“Memangnya kenapa aku harus menghubungimu?”
Raka terdiam.
Hujan di belakangnya turun semakin deras.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat selama kami berpacaran.
Kepanikan.
Namun, semua itu terlambat enam bulan.
Dulu, setelah malam di restoran itu, aku tetap menjalani hubungan kami seperti biasa.
Aku tahu Raka menerimaku karena lelah dikejar. Aku juga tahu ia mungkin akan meninggalkanku kapan saja.
Anehnya, saat itu aku tidak terlalu peduli.
Selama bisa melihat wajahnya setiap hari, aku merasa cukup.
Dan ternyata, Raka bukan pacar yang buruk.
Ia jarang mengatakan kata-kata manis, tetapi selalu menungguku selesai kelas. Ketika aku sakit, obat dan bubur tiba di kos tanpa pesan apa pun. Kalau aku lupa membawa payung, ia akan muncul sambil mengomel lalu memberikan jaketnya.
Masalahnya hanya satu.
Nadia.
Perempuan itu kembali dari Melbourne menjelang kelulusan kami.
Cantik, percaya diri, berasal dari keluarga terpandang, dan sudah mengenal Raka sejak kecil.
Pertama kali kami bertemu, Nadia memandangku dari kepala sampai kaki sebelum tersenyum.
“Jadi kamu Laras?”
Aku mengangguk.
“Aku sering dengar tentangmu.”
Aku tersenyum balik. “Semoga yang baik-baik.”
Nadia tertawa kecil.
“Katanya kamu mengejar Raka tiga tahun.”
“Iya.”
“Kamu gigih juga.”
Nada suaranya terdengar seperti pujian, tetapi matanya mengatakan hal lain.
Sejak Nadia pulang, telepon Raka semakin sering berbunyi. Kadang ia membatalkan janji denganku karena keluarga Nadia datang ke rumah. Kadang Nadia menelepon tengah malam hanya karena mobilnya bermasalah.
Aku tidak pernah melarang.
Sampai ulang tahunku.
Hari itu aku menunggu Raka hampir dua jam di sebuah restoran kecil di Dago. Kue yang kupesan sudah mulai kehilangan bentuk ketika akhirnya pesan darinya masuk.
Aku tidak bisa datang. Nadia kecelakaan.
Aku langsung menelepon.
“Parah?”
“Tidak. Tangannya terkilir.”
“Kalau begitu aku ke rumah sakit.”
Raka diam sebentar.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Keluarganya ada di sini.”
Kalimat itu sederhana, tetapi aku langsung mengerti.
Aku bukan bagian dari dunia yang sedang ia lindungi.
Aku pulang sendirian malam itu.
Besok paginya, Nadia mengunggah foto.
Ia duduk di ranjang rumah sakit dengan tangan diperban. Raka tertidur di sofa di sampingnya.
Keterangan fotonya hanya satu kalimat.
Ada orang yang selalu kembali ke tempatnya.
Aku menatap foto itu lama.
Anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin rasa cinta memang tidak hilang dalam satu malam. Tetapi harga diri bisa bangun hanya karena satu foto.
Malam berikutnya, Raka datang ke apartemenku membawa kue.
“Maaf soal kemarin.”
Aku menerima kotaknya.
“Terima kasih.”
Ia menatapku heran.
“Cuma begitu?”
“Aku harus bagaimana?”
“Biasanya kamu akan cerewet.”
Aku tersenyum.
“Raka, kita putus saja.”
Ekspresinya membeku.
Beberapa detik kemudian ia tertawa.
“Karena Nadia?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Aku memandang wajah yang pernah membuatku mengejar seseorang selama tiga tahun.
Masih tampan.
Tetapi untuk pertama kalinya, ketampanan itu tidak cukup.
“Aku capek.”
Raka menatapku lama.
“Bukannya kamu bilang akan terus menyukaiku?”
“Dulu.”
“Jadi sekarang tidak?”
Aku tidak langsung menjawab.
Mungkin aku masih mencintainya. Justru karena masih cinta, aku harus pergi sebelum kehilangan diriku sendiri.
“Aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu menunggu kamu memilihku.”
Wajah Raka perlahan kehilangan senyum.
Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk menahanku.
“Bagus.”
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Jangan menyesal nanti.”
“Aku tidak akan menyesal.”
Aku menutup pintu.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku tidak berputar di sekitar Raka.
Aku pindah ke Jakarta setelah menerima pekerjaan di sebuah perusahaan teknologi. Aku mengganti nomor pribadi, menutup akun media sosial lama, dan mulai membangun kehidupan yang sama sekali baru.
Awalnya sulit.
Aku sering terbangun dan refleks ingin mengirim pesan kepada Raka.
Tetapi perlahan, kebiasaan itu menghilang.
Sampai enam bulan kemudian, ia muncul di depan rumah kontrakanku.
Sekarang ia masih berdiri di sana, menunggu penjelasan mengenai pria di belakangku.
Aku menghela napas.
“Namanya Dimas.”
“Dimas siapa?”
“Kenapa aku harus menjelaskan?”
“Karena aku mantan pacarmu.”
“Justru karena mantan, kamu tidak punya hak bertanya.”
Raka tampak seperti baru saja ditampar.
Dimas tiba-tiba tertawa.
“Laras, biarkan dia masuk dulu. Tetangga bisa bangun.”
Aku menoleh.
“Pakai bajumu dulu.”
Dimas melihat tubuhnya sendiri, kemudian tertawa.
“Ah, iya.”
Raka semakin pucat.
Begitu Dimas masuk ke kamar, Raka langsung mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kalian tinggal bersama?”
Aku menarik tanganku.
“Jangan sentuh aku.”
Ia langsung melepaskan.
Untuk pertama kalinya, suaranya melemah.
“Laras, jawab aku.”
“Dia kakakku.”
Raka membeku.
“Kakak?”
“Kakak sepupuku. Apartemennya kebanjiran, jadi malam ini menginap di sini. Bajunya basah karena tadi membantu memindahkan motor.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku belum pernah melihatnya terlihat sebodoh itu.
Tetapi bukannya tertawa, aku justru merasa sedih.
“Kenapa kamu datang?”
Raka menurunkan tangannya.
“Nadia menikah minggu lalu.”
Aku terdiam.
“Selamat untuk Nadia.”
“Dengan orang lain.”
“Lalu?”
“Aku tidak datang karena dia.”
Raka menatapku tepat di mata.
“Aku datang karena kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Enam bulan terlambat.”
“Tidak.”
Ia menggeleng.
“Mungkin tiga tahun terlambat.”
Aku tidak memahami maksudnya.
Raka mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Layarnya retak di sudut. Ia membuka sebuah percakapan lama, lalu menyerahkannya kepadaku.
Itu grup teman-temannya.
Pesan-pesan setelah kami putus memenuhi layar.
Salah seorang temannya menulis, Laras benar-benar pergi?
Raka menjawab, Biarkan saja.
Dua hari kemudian seseorang bertanya lagi, Kamu sudah hubungi dia?
Jawabannya, Tidak.
Seminggu kemudian.
Raka, kamu tiap malam buka profil Laras. Telepon saja.
Tidak perlu.
Sebulan kemudian.
Dia pindah Jakarta.
Aku tahu.
Dua bulan kemudian.
Nomornya sudah tidak aktif.
Aku tahu.
Tiga bulan kemudian.
Kamu kelihatan menyedihkan.
Diam.
Aku mengembalikan ponselnya.
“Untuk apa menunjukkan ini?”
Raka tertawa hambar.
“Supaya kamu tahu aku ternyata sama bodohnya denganmu.”
Hujan mulai mengecil.
“Aku pikir kamu akan kembali,” katanya. “Karena selama tiga tahun, kamu selalu kembali.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi kamu menunggu?”
“Iya.”
“Kenapa tidak mencariku?”
“Karena aku sombong.”
Jawabannya terlalu jujur sampai aku tidak bisa membantah.
Raka menatap lantai.
“Setelah satu bulan, aku pikir kamu sedang marah. Setelah dua bulan, aku mulai takut. Bulan ketiga aku datang ke kosmu dan katanya kamu sudah pindah.”
“Bagaimana kamu menemukan rumah ini?”
“Dimas.”
Aku menoleh ke dalam rumah.
Pada saat bersamaan, Dimas keluar mengenakan kaus.
Ia tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Maaf. Dia meneleponku dua minggu lalu.”
Aku menatap kakakku tajam.
“Kenapa kamu memberikan alamatku?”
Dimas mengangkat kedua tangan.
“Karena dia terdengar seperti orang hampir mati.”
Raka mendengus.
“Aku tidak terdengar seperti itu.”
“Kamu meneleponku jam dua pagi.”
“Itu karena beda waktu.”
“Kamu waktu itu di Bandung.”
Raka terdiam.
Aku hampir tertawa.
Dimas masuk lagi sambil berkata, “Selesaikan sendiri. Jangan libatkan aku.”
Keheningan kembali turun.
“Bagaimana dengan Nadia?” tanyaku akhirnya.
Raka mengusap rambutnya yang basah.
“Aku tidak pernah mencintainya.”
“Tapi kamu selalu memilihnya.”
“Itu yang baru kusadari setelah kamu pergi.”
Aku menatapnya.
“Keluargaku dan keluarganya sudah dekat sejak lama. Semua orang menganggap kami akan menikah. Jadi setiap Nadia membutuhkan sesuatu, aku merasa bertanggung jawab.”
“Termasuk meninggalkan pacarmu sendirian saat ulang tahunnya?”
Raka menunduk.
“Tidak ada pembenaran untuk itu.”
Aku terdiam.
“Aku datang ke rumah sakit karena ayah Nadia menelepon. Aku tertidur karena menunggu dokter. Foto itu diambil tanpa aku tahu.”
“Tidak penting lagi.”
“Aku tahu.”
Raka menarik napas.
“Aku tidak datang untuk meminta kamu melupakan semuanya.”
“Lalu?”
“Untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan sebelum kamu pergi.”
Matanya memerah, entah karena hujan atau karena sesuatu yang lain.
“Aku mencintaimu.”
Jantungku masih bereaksi.
Sialnya, cinta tidak memiliki tombol mati.
Tetapi aku bukan Laras yang dulu.
Aku tidak lagi menganggap jantung berdebar sebagai alasan untuk menyerahkan seluruh hidup kepada seseorang.
“Raka.”
“Aku tahu.”
Ia tersenyum getir.
“Kamu tidak harus menerimaku kembali.”
“Benar.”
“Tapi izinkan aku mengejarmu sekarang.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Tiga tahun.”
Ia menatapku serius.
“Kamu mengejarku tiga tahun. Beri aku kesempatan melakukan hal yang sama.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya malam itu.
“Kalau setelah tiga tahun aku tetap tidak mau?”
“Berarti aku kalah.”
“Kalau aku menikah duluan?”
Wajahnya langsung gelap.
“Jangan sengaja menakut-nakuti aku.”
Aku tertawa semakin keras.
Malam itu aku tetap tidak mengizinkannya masuk.
Raka pulang dalam keadaan basah kuyup.
Kupikir setelah dipermalukan seperti itu, harga dirinya akan membuatnya menyerah.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, ada kopi di depan kantor.
Hari berikutnya, sarapan.
Seminggu kemudian, ketika mobilku mogok, Raka muncul sebelum montir datang.
Sebulan kemudian, ia masih ada.
Tetapi kali ini ia tidak memaksa.
Ia tidak pernah meminta balasan.
Kalau aku mengatakan sibuk, ia pergi.
Kalau aku tidak menjawab pesan, ia tidak menerorku.
Ketika ibunya menelepon dan meminta ia menemani Nadia menghadiri sebuah acara keluarga setelah Nadia resmi menikah, Raka menolak untuk pertama kalinya.
“Aku sudah terlalu lama hidup berdasarkan harapan keluarga,” katanya kepadaku. “Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.”
Aku tidak langsung menerimanya kembali.
Butuh hampir setahun.
Suatu sore, kami duduk di sebuah kedai kopi di Bandung setelah menghadiri reuni kampus.
Teman yang dulu bertanya mengapa Raka mau berpacaran denganku kembali menggodanya.
“Dulu katanya Laras yang tergila-gila. Sekarang kenapa kamu yang seperti pengawal?”
Raka menyeruput kopinya.
“Dulu aku bodoh.”
Semua orang tertawa.
Aku menoleh kepadanya.
“Cuma dulu?”
Raka menatapku, lalu tersenyum.
“Sekarang juga masih. Bedanya sekarang aku tahu siapa yang tidak boleh kulepaskan.”
Di bawah meja, tangannya perlahan mencari tanganku.
Kali ini aku tidak langsung menyambutnya.
Aku membiarkannya menunggu beberapa detik.
Baru kemudian kugenggam.
Raka tersenyum seperti orang yang baru memenangkan dunia.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Tiga tahun aku mengejarnya karena wajahnya.
Enam bulan aku meninggalkannya karena akhirnya belajar menghargai diriku sendiri.
Dan hampir setahun ia mengejarku kembali untuk membuktikan bahwa manusia memang bisa berubah ketika kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu ada.
Kami akhirnya menikah dua tahun kemudian.
Namun kejutan terbesar justru terjadi pada malam setelah resepsi.
Ketika aku sedang membersihkan riasan, Raka datang membawa sebuah kotak tua.
Di dalamnya ada puluhan benda kecil.
Tiket bioskop pertama kami.
Struk restoran tempat kami pertama kali makan.
Kartu ucapan ulang tahun yang pernah kuberikan.
Bahkan bungkus permen yang kuberikan kepadanya saat tahun pertama kuliah.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ini dari kapan?”
Raka duduk di sampingku.
“Sejak sebelum kita pacaran.”
Aku membeku.
“Bukannya kamu bilang aku menyebalkan?”
“Iya.”
“Katanya kamu menerima aku karena capek dikejar?”
“Iya.”
“Lalu kenapa menyimpan semua ini?”
Ia diam cukup lama.
Kemudian laki-laki yang dulu membuatku mengejarnya selama tiga tahun menundukkan kepala dengan wajah sedikit merah.
“Karena ternyata aku sudah menyukaimu jauh sebelum berani mengakuinya.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi selama ini siapa sebenarnya yang bodoh?”
Raka tersenyum.
“Kita berdua.”
Aku tertawa, kemudian menyandarkan kepala di bahunya.
Dulu aku percaya cinta adalah tentang mengejar seseorang sampai berhasil memilikinya.
Ternyata bukan.
Cinta yang sehat bukan soal siapa yang mengejar lebih dulu atau siapa yang lebih sulit ditaklukkan.
Cinta adalah ketika dua orang akhirnya berhenti bermain dengan harga diri, berhenti menganggap kehadiran seseorang sebagai sesuatu yang pasti, lalu memilih berjalan ke arah satu sama lain.
Karena terkadang, seseorang baru memahami nilai sebuah langkah setelah orang yang selama ini mengejarnya memutuskan untuk berhenti.
