Ketika kursi roda Raka keluar dari kamar, suara tawa di ruang keluarga mendadak mereda.
Semua mata tertuju kepada kami.
Dimas, sahabat Raka sejak kuliah, berdiri paling dekat dengan pintu. Di tangannya ada kotak kue yang baru dibuka. Begitu melihatku mendorong Raka keluar, wajahnya langsung berbinar.
“Nah, akhirnya keluar juga calon pengantinnya.”
Beberapa orang tertawa.

Aku ikut tersenyum, tetapi kali ini aku tidak merasa malu atau bahagia seperti biasanya.
“Bukan,” kataku pelan.
Dimas mengernyit. “Bukan apa?”
Aku menghentikan kursi roda Raka di tengah ruangan.
“Bukan calon pengantin.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku melirik Raka. Wajahnya terlihat tegang, tetapi ia tetap tidak mengatakan apa-apa.
Aku tersenyum kepada teman-temannya.
“Raka sudah sembuh. Dokter bilang sebentar lagi dia bisa berjalan. Jadi mulai hari ini, tugasku juga selesai.”
“Laras…” Bu Ratna yang baru keluar dari dapur memandangku dengan wajah pucat.
Aku berjalan menghampirinya dan memeluknya.
Selama dua tahun terakhir, perempuan itu sudah kuanggap seperti ibu sendiri. Kami pernah bergantian berjaga ketika Raka demam, pernah tertidur di lantai rumah sakit, pernah menangis diam-diam karena hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kemajuan.
Bu Ratna menggenggam tanganku erat.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang, Bu.”
“Pulang ke mana? Rumahmu kan sudah…”
Beliau berhenti.
Dua tahun lalu aku melepas kontrakan kecilku karena hampir setiap hari berada di rumah Raka. Sebagian besar barangku bahkan sudah berada di kamar tamu rumah mereka.
“Aku bisa cari tempat baru.”
Bu Ratna menoleh kepada putranya.
“Raka, bilang sesuatu.”
Semua orang ikut memandang Raka.
Ia menarik napas panjang.
“Laras cuma pulang sebentar.”
Aku menatapnya.
“Tidak. Aku pulang untuk selamanya.”
Wajah Raka berubah.
Mungkin baru saat itu ia memahami bahwa cincin yang kukembalikan bukan sekadar luapan emosi sesaat.
Aku masuk ke kamar tamu dan mulai memasukkan barang-barangku ke dalam koper. Anehnya, hidup selama dua tahun di sebuah rumah ternyata bisa dikemas ke dalam dua koper dan satu kardus.
Ketika sedang melipat pakaian, Bu Ratna masuk.
Beliau menangis.
“Kalau karena Raka mengatakan sesuatu yang menyakitkan, beri dia waktu.”
Aku menggeleng.
“Justru selama ini aku terlalu banyak memberinya waktu.”
“Dia baru selesai operasi. Pikirannya mungkin masih kacau.”
“Bu, aku tidak marah karena dia tidak mencintaiku.”
Kalimat itu terasa pahit, tetapi setelah mengucapkannya, dadaku justru lebih ringan.
“Aku cuma akhirnya sadar bahwa cinta tidak bisa ditagih hanya karena kita sudah berkorban.”
Bu Ratna tidak dapat menjawab.
Aku memeluknya sekali lagi sebelum pergi.
Malam itu aku menginap di apartemen kecil milik Sinta, teman kerjaku. Begitu pintu tertutup, aku menjatuhkan koper dan duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, tidak ada jadwal obat yang harus kuingat.
Tidak ada kaki yang harus kupijat.
Tidak ada alarm pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan rendah garam.
Tidak ada suara kursi roda.
Tidak ada Raka.
Aku mengira aku akan merasa bebas.
Sebaliknya, aku menangis sampai tertidur di lantai.
Tiga hari kemudian, Bu Ratna menelepon.
Aku tidak mengangkatnya.
Kemudian Dimas.
Lalu nomor rumah sakit.
Aku mematikan ponsel.
Namun, pada malam keempat, sebuah pesan masuk dari Bu Ratna.
Raka jatuh.
Tanganku langsung dingin.
Aku membaca pesan berikutnya.
Ia mencoba berdiri sendiri karena tidak mau dibantu perawat. Tidak ada cedera serius, hanya memar.
Aku hampir mengambil tas.
Hampir.
Namun, kakiku berhenti di depan pintu.
Selama dua tahun, setiap kali Raka membutuhkan seseorang, aku selalu menjadi orang pertama yang berlari.
Kali ini aku memaksa diriku kembali duduk.
Raka memiliki ibu. Ia memiliki dokter. Ia memiliki perawat. Ia memiliki teman.
Ia tidak membutuhkan Laras untuk bertahan hidup.
Mungkin justru aku yang selama ini membutuhkan perasaan bahwa ia membutuhkanku.
Dua minggu kemudian aku menerima video dari Dimas.
Raka berdiri.
Tangannya masih mencengkeram pegangan paralel di ruang rehabilitasi. Tubuhnya gemetar hebat. Keringat memenuhi wajahnya.
Namun, ia berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Aku menatap video itu berulang kali.
Dulu aku membayangkan akan berada di sampingnya ketika momen tersebut terjadi. Aku membayangkan menangis sambil memeluknya.
Kenyataannya, aku hanya duduk di kamar kos baru sambil memegang ponsel.
Aku menangis juga.
Tetapi bukan karena menyesal.
Aku bahagia karena perjuangan dua tahun itu tidak sia-sia.
Sebulan berlalu.
Aku mulai kembali bekerja penuh waktu di sebuah agensi pemasaran di Bandung. Selama merawat Raka, aku hanya menerima proyek jarak jauh dan beberapa kali hampir kehilangan pekerjaan.
Sekarang hidupku perlahan kembali memiliki bentuk.
Aku mulai makan tanpa terburu-buru.
Mulai tidur tanpa terbangun untuk memeriksa seseorang.
Mulai membeli pakaian untuk diriku sendiri.
Bekas cincin di jari manisku pun menghilang.
Sampai suatu sore, resepsionis kantor menelepon.
“Mbak Laras, ada yang mencari.”
Aku turun ke lobi.
Langkahku langsung berhenti.
Raka berdiri di dekat pintu kaca.
Tanpa kursi roda.
Tanpa tongkat.
Ia memang masih berjalan sedikit kaku, tetapi ia benar-benar berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Selama beberapa detik aku tidak mampu mengatakan apa pun.
Raka tersenyum.
“Aku sudah bisa berjalan.”
Aku menahan air mata.
“Selamat.”
Hanya itu.
Senyumnya perlahan hilang.
“Cuma selamat?”
“Aku harus bilang apa?”
Ia menatapku lama.
“Aku kira kamu akan lebih bahagia.”
“Aku bahagia.”
“Kelihatannya tidak.”
Aku hampir tertawa.
Dulu aku mungkin akan langsung memeluknya. Namun, perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang bukan lagi Laras yang menunggu satu kalimat cinta sebagai hadiah dari seluruh pengorbanannya.
“Ada perlu apa?”
Raka terdiam.
“Aku mau bicara.”
Kami pergi ke kedai kopi di seberang kantor.
Raka duduk di hadapanku. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia menarik kursinya sendiri.
“Aku mau menjelaskan tentang malam itu.”
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaket.
Cincin itu.
Cincin yang kukembalikan.
“Aku memang pernah bilang akan menikahimu setelah sembuh.”
Aku mengangguk.
“Tapi waktu itu aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau cuma takut kehilangan satu-satunya orang yang masih mau tinggal.”
Aku menggenggam cangkir kopi lebih erat.
Akhirnya.
Inilah jawaban yang seharusnya kudapatkan sejak awal.
Raka melanjutkan, “Ketika dokter bilang operasi berhasil, tiba-tiba aku merasa seperti mendapatkan hidupku kembali. Dan aku takut kalau menikahimu hanya karena janji itu, aku sedang membayar utang.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu menyebutku adik?”
Ia menunduk.
“Aku pengecut.”
Setidaknya kali ini ia jujur.
“Aku pikir kalau aku membuatmu membenciku, kamu akan pergi.”
“Aku memang pergi.”
“Iya.”
Raka tersenyum pahit.
“Dan setelah kamu pergi, baru aku sadar betapa banyak bagian hidupku yang selama ini kamu pegang.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bahkan tidak tahu di mana kaus kakiku disimpan.”
Aku tertawa kecil tanpa sengaja.
Raka ikut tertawa, tetapi matanya memerah.
“Aku belajar semuanya lagi, Laras. Berdiri. Berjalan. Mandi sendiri. Membuat kopi. Bahkan marah tanpa menghancurkan barang.”
“Itu bagus.”
“Aku juga belajar sesuatu yang lain.”
Ia mendorong cincin itu ke arahku.
“Aku merindukanmu bukan karena aku membutuhkan bantuanmu.”
Dadaku bergetar.
“Aku merindukanmu ketika pertama kali bisa berdiri. Aku mencari wajahmu di ruangan itu. Ketika bisa berjalan sepuluh langkah, orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah kamu. Ketika akhirnya bisa turun tangga sendiri, aku ingin meneleponmu.”
Aku menatap cincin di meja.
“Raka…”
“Aku mencintaimu.”
Kalimat yang kutunggu bertahun-tahun akhirnya datang.
Anehnya, aku tidak merasakan kebahagiaan yang pernah kubayangkan.
Hanya ketenangan.
“Aku tidak bisa menerimanya.”
Raka membeku.
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tidak tahu apakah aku masih mencintaimu atau hanya mencintai kenangan tentang seseorang yang pernah sangat ingin kuselamatkan.”
Wajahnya memucat.
Aku mendorong cincin itu kembali.
“Dulu aku menunggu dua tahun untuk mendapatkan jawabanmu. Sekarang kalau kamu benar-benar mencintaiku, jangan minta jawabanku hari ini.”
Raka menatapku lama.
Kemudian ia mengambil cincin tersebut.
“Berapa lama?”
Aku tersenyum.
“Entahlah.”
Untuk pertama kalinya, Raka tidak memaksaku.
Ia hanya mengangguk.
“Baik.”
Setelah hari itu, ia tidak datang setiap hari. Tidak mengirim puluhan pesan. Tidak menggunakan Bu Ratna untuk membujukku.
Sesekali ia mengirim foto sederhana.
Hari ini aku berhasil naik tiga lantai tanpa lift.
Aku membalas singkat.
Bagus.
Beberapa minggu kemudian.
Hari ini aku kembali menyetir.
Hati-hati.
Hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang aneh, tetapi jauh lebih sehat.
Enam bulan kemudian, kantor mengirimku ke Jakarta untuk memimpin proyek besar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menerima kesempatan tanpa mempertimbangkan apakah Raka membutuhkanku.
Pada malam sebelum keberangkatanku, Raka datang.
Kami berjalan di taman dekat apartemenku.
Langkahnya sudah hampir normal.
“Besok jam berapa berangkat?” tanyanya.
“Jam tujuh.”
“Aku antar?”
“Tidak usah.”
Ia mengangguk.
Kami terus berjalan.
Di dekat pintu keluar taman, aku tiba-tiba bertanya, “Cincinnya masih ada?”
Raka berhenti.
Ia menatapku seolah tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Ada.”
“Bawa?”
Tangannya langsung masuk ke saku.
Aku tertawa.
“Kamu bawa cincin itu setiap hari?”
“Siapa tahu ada keajaiban.”
Ia mengeluarkan kotak kecil.
Aku membukanya.
Cincin lama itu masih ada.
Namun, di sampingnya terdapat cincin lain.
Aku mengernyit.
“Kenapa ada dua?”
Raka mengambil cincin lama.
“Yang ini bukan cincin yang kubeli untukmu.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dulu, ketika aku bilang akan menikahimu, aku benar-benar ingin membeli cincin. Tapi aku belum bisa keluar rumah. Jadi aku minta Dimas membelikannya.”
Ia menunjukkan cincin baru.
“Ini cincin yang sebenarnya.”
Aku terpaku.
“Lalu cincin yang kupakai dua tahun itu?”
Raka tertawa kecil.
“Itu cincin almarhum nenekku. Ibu salah mengambil kotak dari lemari.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi selama dua tahun jariku sakit karena Bu Ratna salah ambil cincin?”
“Kurang lebih.”
Aku menutup wajah sambil tertawa. Entah kenapa, setelah semua air mata dan luka yang kami lewati, kenyataan konyol itu terasa seperti lelucon paling sempurna.
Raka ikut tertawa.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Aku tidak akan memakaikan cincin ini sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena aku pernah membuat kesalahan dengan menjadikan pernikahan sebagai janji untuk membalas seseorang yang menyelamatkanku.”
Ia menutup kotak itu.
“Kalau suatu hari kamu memilihku, aku ingin itu karena kita sama-sama bisa berdiri dengan kaki sendiri.”
Aku terdiam.
Dua tahun lalu, aku selalu mengatakan kepadanya satu kalimat.
Percaya padaku.
Sekarang, untuk pertama kalinya, aku mengatakan kalimat berbeda.
“Raka.”
“Ya?”
“Berjalanlah bersamaku.”
Matanya memerah.
Aku tidak meminta cincin itu.
Ia juga tidak berlutut.
Kami hanya melanjutkan langkah menyusuri trotoar Bandung yang mulai basah oleh gerimis.
Setahun kemudian, aku menikah dengan Raka.
Bukan karena aku pernah merawatnya.
Bukan karena ia pernah berjanji kepadaku.
Dan bukan karena salah satu dari kami berutang kehidupan kepada yang lain.
Pada hari pernikahan, sebelum memasangkan cincin, Raka berbisik sambil tersenyum, “Yang ini ukurannya benar. Aku sudah cek tiga kali.”
Aku tertawa di tengah air mata.
Bu Ratna yang berdiri tidak jauh dari kami langsung menutup wajah karena malu.
Semua orang tertawa.
Namun, hanya aku dan Raka yang tahu betapa panjang perjalanan yang membawa kami sampai ke sana.
Dulu aku berpikir cinta berarti bertahan, bahkan ketika seseorang terus menyuruhmu pergi.
Ternyata aku salah.
Kadang-kadang cinta justru membutuhkan keberanian untuk melepaskan.
Karena orang yang benar-benar mencintaimu tidak seharusnya membutuhkanmu dalam keadaan lemah agar tetap memilihmu.
Ia akan tetap memilihmu ketika sudah mampu berdiri sendiri.
Dan yang jauh lebih penting, pada saat itu, kamu juga harus sudah mampu berdiri dengan kakimu sendiri.
