Tunangan Aku Meninggalkan Acara Lamaran demi Perempuan Lain, Lalu Pulang Tanpa Tahu Ibuku Sudah Meninggal

“Aku tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja…”

Kalimat Raka terputus ketika ia melihat ekspresiku.

Aku menatapnya cukup lama, mencoba memahami bagaimana seseorang yang pernah begitu kucintai bisa berdiri di depanku dan berbicara tentang Mama seolah beliau masih berada di kamar rumah sakit, menungguku datang membawa bubur hangat seperti biasanya.

“Kamu benar-benar tidak tahu?” tanyaku akhirnya.

Raka mengernyit.

“Tahu apa?”

Dadaku terasa sesak, tetapi anehnya tidak ada air mata yang keluar.

“Mama meninggal.”

Wajah Raka membeku.

Untuk beberapa detik, seluruh ruangan seolah kehilangan suara.

“Apa?”

“Mama meninggal tiga hari lalu.”

Raka mundur setengah langkah. Tatapannya berpindah dari wajahku ke kardus-kardus yang memenuhi ruang tamu, kemudian kembali kepadaku.

“Jangan bercanda, Laras.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bercanda.

Seandainya kematian bisa dibatalkan hanya karena seseorang menganggapnya lelucon.

“Mama mengalami serangan jantung setelah kamu meninggalkan acara lamaran kita.”

Bibir Raka terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku melanjutkan dengan nada datar.

“Di rumah sakit, dokter bilang kondisinya kritis. Aku meneleponmu tujuh belas kali.”

Wajah Raka berubah.

Tangannya spontan merogoh saku celana, mengambil ponsel, seolah baru sekarang tujuh belas panggilan itu memiliki arti.

“Aku…”

“Kamu mematikan ponsel.”

“Karena ayah Tiara sedang menghadapi masalah besar. Aku harus mengurus banyak hal.”

“Aku juga mengirim pesan.”

Raka menatap layar ponselnya.

“Aku bilang Mama kritis.”

Jarinya berhenti bergerak.

“Aku bilang dokter meminta keluarga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.”

Wajahnya semakin pucat.

“Aku bilang Mama terus memanggil namamu.”

Raka mengangkat kepala.

“Namaku?”

Aku mengangguk.

Pada malam terakhir Mama, napas beliau sudah sangat lemah. Selang oksigen menutupi sebagian wajahnya. Tangannya dingin ketika menggenggam jemariku.

Namun beliau tetap memikirkan aku.

“Raka belum datang?” tanyanya berkali-kali.

Aku berbohong.

Aku bilang Raka sedang dalam perjalanan.

Aku bilang mungkin jalanan macet.

Aku bahkan mengatakan baterai ponselnya habis.

Semua kebohongan itu hanya untuk membuat seorang perempuan yang sedang sekarat percaya bahwa calon menantunya tidak benar-benar meninggalkan putrinya di hari lamaran mereka.

Menjelang pukul dua dini hari, Mama menatapku lama.

“Jangan tunggu orang yang membuatmu merasa harus memohon untuk dipilih.”

Itulah kalimat terakhirnya kepadaku.

Beberapa menit kemudian, monitor di samping tempat tidur berbunyi panjang.

Aku menggenggam tangannya sampai perawat memintaku melepaskannya.

Aku sendirian.

Sementara laki-laki yang seharusnya menjadi suamiku berada ratusan kilometer dari Jakarta bersama perempuan lain.

“Aku tidak tahu kondisinya separah itu,” bisik Raka.

Aku menatapnya.

“Karena kamu memilih untuk tidak tahu.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

Raka berjalan mendekat, tetapi aku mundur.

“Pemakamannya kapan?”

“Kemarin.”

Ia memejamkan mata.

“Kenapa tidak ada yang menghubungiku?”

“Kami menghubungimu.”

“Siapa?”

“Om Bima. Tante Rini. Bahkan Pak Darto.”

Raka langsung membuka daftar panggilannya.

Wajahnya berubah ketika melihat banyak nomor tak terjawab.

“Aku pikir mereka menelepon karena acara lamaran…”

“Jadi kamu abaikan.”

Raka tidak membantah.

Aku mengambil kardus terakhir.

“Laras, tunggu.”

Tangannya menahan lenganku.

Aku menepisnya.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, nada suaranya terdengar panik.

“Aku akan pergi ke makam Mama sekarang.”

“Tidak perlu.”

“Laras.”

“Beliau sudah menunggumu ketika masih hidup.”

Raka terdiam.

“Sekarang jangan membuat orang mati menunggumu juga.”

Aku mengangkat kardus dan berjalan menuju pintu.

Namun sebelum aku mencapainya, Raka berdiri menghadang.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Ini rumah kita.”

“Bukan.”

Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas dan menyerahkannya kepadanya.

Raka membukanya.

Di dalamnya ada salinan dokumen kepemilikan rumah.

Nama yang tercetak di sana bukan namaku.

Bukan pula nama Raka.

Melainkan nama Mama.

Rumah itu dibeli Mama enam tahun lalu. Setelah kami bertunangan, beliau mengizinkan kami tinggal di sana agar bisa menabung untuk pernikahan.

Raka selama ini mengira rumah tersebut milikku.

Mungkin karena itu pula ia merasa begitu nyaman memperlakukan tempat itu sebagai miliknya.

“Rumah ini sudah dijual,” kataku.

Raka menatapku tidak percaya.

“Dijual?”

“Seminggu sebelum meninggal, Mama sudah menandatangani surat kuasa penjualan.”

“Kenapa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena sebelum acara lamaran, Mama rupanya sudah mengetahui sesuatu yang belum kuketahui.

Aku baru mengetahuinya setelah pemakaman.

Pengacara Mama, Pak Aditya, datang membawa sebuah map.

Di dalamnya terdapat laporan transaksi perusahaan milik keluarga kami.

Raka bekerja sebagai direktur operasional di perusahaan distribusi milik Mama. Selama dua tahun terakhir, ia mendapatkan kepercayaan penuh.

Terlalu penuh.

Mama menemukan sejumlah pembayaran mencurigakan kepada sebuah perusahaan konsultan.

Pemilik perusahaan itu adalah Tiara Prameswari.

Perempuan yang membuat Raka meninggalkan acara lamaran kami.

Awalnya aku menolak percaya.

Namun bukti transfer, kontrak palsu, dan percakapan yang dicetak Mama tidak memberi ruang bagi penyangkalan.

Lebih dari satu miliar rupiah telah berpindah tangan.

“Besok pagi kamu juga tidak perlu datang ke kantor,” kataku.

Raka mengangkat kepala cepat.

“Apa maksudmu?”

“Pak Aditya sudah menyerahkan laporan audit kepada dewan komisaris.”

Wajah Raka kehilangan warna.

“Kamu mengaudit aku?”

“Bukan aku.”

Aku menatapnya lurus.

“Mama.”

Raka terpaku.

Ternyata beberapa minggu sebelum acara lamaran, Mama sudah mencurigainya. Beliau tidak langsung menuduh karena ingin memastikan semuanya.

Dan pagi sebelum acara lamaran dimulai, Mama akhirnya mendapatkan bukti terakhir.

Beliau sebenarnya berniat membicarakannya denganku setelah acara selesai.

Namun kemudian Tiara menelepon.

Raka meninggalkan ruangan tanpa menjelaskan apa pun, tepat ketika keluarga besar kami sudah berkumpul.

Mama mencoba menghentikannya.

Aku masih ingat bagaimana Mama berdiri di depan pintu hotel dan berkata, “Raka, hari ini kamu sedang menentukan siapa yang kamu pilih.”

Raka menjawab bahwa Tiara sedang mengalami keadaan darurat.

Kemudian ia pergi.

Mama jatuh beberapa menit setelah mobil Raka meninggalkan hotel.

“Aku bisa menjelaskan soal transaksi itu,” kata Raka cepat.

“Jelaskan kepada auditor.”

“Itu bukan penggelapan.”

“Bagus. Berarti kamu tidak perlu takut.”

Raka menggenggam amplop itu erat.

“Laras, dengarkan aku. Hubunganku dengan Tiara bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatapnya tanpa bicara.

“Ayahnya terlilit utang. Perusahaannya hampir bangkrut. Aku hanya membantu.”

“Dengan uang perusahaan Mama?”

“Dana itu akan dikembalikan.”

“Kapan?”

Raka tidak menjawab.

Aku mengangguk pelan.

“Sudah kuduga.”

Aku kembali berjalan.

Namun ponsel Raka tiba-tiba berdering.

Nama Tiara muncul di layar.

Raka buru-buru menolaknya.

Beberapa detik kemudian, panggilan kedua masuk.

Ditolak lagi.

Lalu sebuah pesan muncul.

Raka membacanya.

Wajahnya seketika berubah.

“Ada apa?” tanyaku.

Ia tidak menjawab.

Ponselnya berdering lagi.

Kali ini nomor tidak dikenal.

Raka mengangkatnya.

“Halo?”

Aku tidak mendengar jelas suara dari seberang, tetapi wajah Raka semakin pucat.

“Apa maksud Anda dia sudah pergi?”

Ia terdiam.

“Tidak mungkin. Saya baru mengantarnya ke bandara tadi siang.”

Aku menatapnya.

Bandara.

Jadi beberapa hari terakhir bukan hanya soal membantu keluarga Tiara.

Raka ternyata ikut mengantarnya pergi.

“Pak Raka,” suara dari telepon terdengar samar, “rekening perusahaan atas nama Tiara Prameswari sudah dikosongkan pagi tadi.”

Tangan Raka gemetar.

“Berapa?”

Jawaban dari seberang membuatnya terduduk di sofa.

Aku tidak perlu mendengar jumlahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.

Tiara telah membawa seluruh uang itu.

Perempuan yang membuat Raka meninggalkan hari lamaran kami ternyata juga meninggalkannya.

Raka mencoba menelepon Tiara.

Nomornya tidak aktif.

Ia membuka aplikasi pesan.

Pesannya hanya centang satu.

Ia kemudian membuka media sosial Tiara.

Akunnya sudah menghilang.

Untuk pertama kalinya aku melihat Raka benar-benar ketakutan.

“Dia menipuku.”

Aku tidak menjawab.

“Laras, aku bersumpah aku tidak tahu dia akan melakukan ini.”

Aku mengangkat kardusku lagi.

“Laras, tolong.”

Raka berdiri dan menghadangku.

“Aku akan mengembalikan semuanya. Aku akan menjual apartemenku, mobilku, apa pun.”

“Itu urusanmu.”

“Kita sudah bersama tujuh tahun.”

Aku menatapnya.

Tujuh tahun.

Dulu angka itu terdengar seperti bukti cinta.

Sekarang hanya terdengar seperti waktu yang terlalu lama untuk memahami karakter seseorang.

“Aku memang salah,” katanya dengan mata memerah. “Tapi jangan buang tujuh tahun hanya karena satu kesalahan.”

Aku tersenyum tipis.

“Raka, aku tidak meninggalkanmu karena satu kesalahan.”

Ia terdiam.

“Aku meninggalkanmu karena akhirnya aku sadar tujuh tahun terakhir penuh dengan kesalahan yang selalu kumaafkan.”

Aku mengingat semua makan malam yang batal karena Tiara membutuhkan bantuan.

Semua ulang tahunku yang ia lewatkan karena pekerjaan.

Semua kali aku membela Raka di depan Mama.

Semua kali aku berkata kepada diriku sendiri bahwa lelaki baik memang suka membantu orang lain.

Ternyata kebaikan yang tidak memiliki batas bisa berubah menjadi pengkhianatan.

Atau mungkin sejak awal aku hanya memberi nama yang indah pada sesuatu yang tidak ingin kuakui.

“Aku mencintaimu,” bisik Raka.

Dulu, kalimat itu mungkin cukup membuatku kembali.

Sekarang tidak.

“Mama pernah bilang sesuatu tentangmu,” kataku.

Raka menatapku.

“Malam sebelum acara lamaran, beliau bertanya apakah aku benar-benar bahagia.”

Aku tersenyum getir.

“Aku marah kepada Mama. Aku bilang beliau terlalu curiga kepadamu.”

Raka menunduk.

“Aku bahkan mengatakan kalau suatu hari aku harus memilih antara Mama dan kamu, aku akan tetap mempertahankanmu.”

Dadaku akhirnya terasa panas.

Air mata yang sejak tadi tidak muncul perlahan memenuhi mataku.

“Itulah hal terakhir yang kusesali.”

Raka mengangkat wajah.

“Laras…”

“Ternyata pada akhirnya bukan aku yang harus memilih.”

Aku menatapnya lurus.

“Kamu yang memilih.”

Air mataku jatuh.

“Dan kamu tidak memilihku.”

Aku membuka pintu.

Udara sore menerpa wajahku.

Di depan rumah, sebuah mobil bak sudah menunggu membawa barang-barang Mama menuju rumah Tante Rini untuk disimpan sementara.

Aku melangkah keluar.

“Laras!”

Aku berhenti.

Raka berdiri di ambang pintu.

“Kalau aku menyelesaikan semuanya, apakah kita masih punya kesempatan?”

Aku memandangnya untuk terakhir kali.

“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Raka membeku.

Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas.

“Ini ditemukan Pak Aditya di meja kerja Mama setelah beliau meninggal.”

Aku menyerahkannya.

Di bagian depan tertulis nama Raka dengan tulisan tangan Mama.

Raka membukanya dengan jari gemetar.

Isinya hanya selembar surat pendek.

Aku sudah membacanya.

Mama menulis surat itu dua hari sebelum acara lamaran.

Raka membaca perlahan.

Wajahnya berubah.

Di bagian terakhir, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Mama ternyata sudah mengetahui transaksi ilegal itu sejak awal.

Namun beliau belum melaporkannya.

Bukan karena takut.

Beliau memberinya kesempatan.

Dalam surat tersebut, Mama meminta Raka mengembalikan uang perusahaan dan menjauh dari Tiara sebelum acara lamaran berlangsung.

Jika ia melakukan itu, Mama bersedia merahasiakan semuanya dan tetap menerimanya sebagai menantu.

Artinya Raka sebenarnya tahu.

Ia sudah membaca pesan Mama sebelum acara.

Ia tahu konsekuensinya.

Namun ketika Tiara menelepon, ia tetap pergi.

“Aku…”

Aku menggeleng.

“Tidak perlu berbohong lagi.”

Raka meremas surat itu.

“Aku hanya berpikir bisa menyelesaikan semuanya setelah membantu Tiara.”

“Dan sekarang semuanya memang sudah selesai.”

Aku masuk ke mobil.

Raka berdiri sendirian di depan rumah yang sebentar lagi bukan miliknya.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke makam Mama.

Hujan baru saja berhenti. Tanah masih basah dan aroma rumput memenuhi udara.

Aku membawa bunga putih kesukaannya.

Kasus Raka akhirnya selesai melalui proses hukum dan kesepakatan pengembalian kerugian. Ia kehilangan jabatannya, apartemennya dijual, dan hampir seluruh tabungannya habis.

Tiara ditemukan beberapa bulan kemudian di Surabaya setelah mencoba menggunakan identitas orang lain.

Aku tidak mengikuti detail kasus mereka.

Aku sudah terlalu lama membiarkan hidupku ditentukan oleh pilihan orang lain.

Dengan uang hasil penjualan rumah Mama, aku membuka sebuah rumah singgah kecil untuk perempuan yang kehilangan tempat tinggal setelah mengalami masalah keluarga.

Aku menamainya Rumah Mira.

Nama Mama.

Aku berjongkok di depan makam dan membersihkan beberapa daun yang jatuh di atas batu nisannya.

“Ma,” bisikku, “aku akhirnya baik-baik saja.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Sebelum berdiri, aku teringat kalimat terakhir Mama.

Jangan tunggu orang yang membuatmu merasa harus memohon untuk dipilih.

Dulu aku mengira kehilangan terbesar dalam hidupku adalah kematian Mama.

Ternyata bukan.

Kehilangan terbesar adalah tujuh tahun ketika aku perlahan kehilangan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Mama memang pergi sebelum sempat melihatku menikah.

Namun pada akhirnya, bahkan dalam kematiannya, beliau memberiku hadiah yang jauh lebih berharga daripada sebuah pernikahan.

Beliau membuatku berani pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang