Nadia tidak tahu berapa lama ia berlutut di lantai lorong itu.
Matanya tidak mampu berpaling dari celah pintu.
Di dalam kamar, Bu Ratna tidak sedang duduk santai sambil mengobrol dengan Ardi seperti yang selama ini ia bayangkan.
Perempuan berusia enam puluh tiga tahun itu terbaring di ranjang dengan tubuh gemetar hebat. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di samping ranjang terdapat sebuah mesin kecil, beberapa botol obat, sarung tangan medis, kantong cairan, dan perlengkapan lain yang selama ini tidak pernah Nadia lihat.
Ardi duduk di sisi ibunya.
Lelaki itu sedang membersihkan sesuatu di bagian perut Bu Ratna dengan gerakan sangat hati-hati.
“Ibu tahan sebentar, ya,” bisiknya.
Bu Ratna mengangguk lemah.
“Maaf, Di. Ibu merepotkanmu lagi.”
Ardi langsung menggeleng.
“Jangan pernah bilang begitu.”
“Tapi kamu besok kerja.”
“Aku bisa tidur nanti.”
Bu Ratna tersenyum pahit.
“Kapan? Tiga tahun ini kamu selalu bilang begitu.”
Kalimat itu menghantam Nadia lebih keras daripada apa pun.
Tiga tahun.
Berarti semua ini memang sudah berlangsung selama tiga tahun.
Nadia menutup mulutnya semakin kuat ketika melihat Ardi mengambil kantong yang terpasang pada tubuh ibunya, membersihkannya, lalu menggantinya dengan yang baru.
Saat itulah Nadia memahami.
Bu Ratna tidak sekadar mengalami kesulitan tidur.
Ia sakit jauh lebih serius daripada yang pernah Nadia ketahui.
“Kalau Nadia tahu bagaimana keadaan Ibu sebenarnya, dia pasti takut,” ujar Bu Ratna tiba-tiba.
Tangan Ardi berhenti.
Nadia membeku di balik pintu.
“Dia berhak tahu,” lanjut Bu Ratna.
Ardi menunduk.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu masih menyembunyikannya?”
Beberapa detik Ardi tidak menjawab.
Ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar sangat pelan.
“Karena aku tahu Nadia.”
Ardi menarik selimut hingga menutupi kaki ibunya.
“Dia kelihatannya kuat, tapi sebenarnya mudah memikirkan semuanya sendirian. Waktu Ayahnya meninggal, dia hampir setahun menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak cukup banyak merawat beliau.”
Nadia menahan napas.
Ardi ternyata mengingat semuanya.
“Aku tidak mau dia mengalami hal yang sama lagi,” lanjut Ardi. “Aku tidak mau setiap hari dia pulang kerja lalu merasa punya kewajiban merawat Ibu. Ini tanggung jawabku.”
Bu Ratna memandang putranya lama.
“Tapi dia istrimu.”
“Justru karena dia istriku.”
Suara Ardi mulai bergetar.
“Aku ingin rumah ini tetap menjadi tempat dia pulang, bukan tempat dia merasa harus menjadi perawat.”
Air mata Nadia semakin deras.
Betapa kejam prasangkanya selama ini.
Ia mengira suaminya memilih ibunya daripada dirinya.
Padahal setiap malam lelaki itu kehilangan waktu tidur agar Nadia bisa tidur dengan tenang.
Namun Nadia belum mengetahui kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.
Bu Ratna tiba-tiba batuk keras.
Ardi segera menopang tubuh ibunya.
Setelah batuknya mereda, Bu Ratna berkata lirih, “Dokter bilang kondisi ginjal Ibu makin buruk.”
Nadia tercekat.
“Kita masih punya jadwal kontrol minggu depan,” jawab Ardi.
“Bukan itu yang Ibu maksud.”
Bu Ratna menatap putranya.
“Ibu tahu soal uangnya.”
Wajah Ardi berubah.
“Uang apa?”
“Jangan bohong pada Ibu.”
Bu Ratna meraih tangan anaknya.
“Kamu menjual mobilmu, kan?”
Nadia merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
Mobil?
Dua bulan sebelumnya Ardi memang mengatakan mobil mereka dijual karena biaya perawatannya terlalu besar. Ia kemudian menggunakan sepeda motor tua untuk bekerja.
Nadia tidak pernah mempertanyakannya.
“Kamu juga mengambil pekerjaan tambahan malam hari sebelum pulang,” lanjut Bu Ratna.
“Ibu…”
“Dan tabungan yang dulu kamu siapkan untuk uang muka rumah itu sudah habis untuk pengobatan Ibu.”
Nadia menutup matanya.
Sekarang semuanya masuk akal.
Ardi yang selalu pulang lebih lambat.
Kemeja yang kadang basah oleh keringat.
Makan malam yang sering hanya disentuh sedikit.

Wajah yang semakin kurus.
Dan beberapa kali Nadia pernah melihat suaminya tertidur di sofa hanya beberapa menit setelah pulang kerja.
Selama ini Nadia mengira Ardi terlalu sibuk mengejar karier.
Ternyata lelaki itu sedang berjuang menjaga ibunya tetap hidup.
“Cukup, Di,” kata Bu Ratna sambil menangis. “Ibu sudah tua. Jangan habiskan hidupmu untuk Ibu.”
Ardi menggenggam tangan ibunya erat.
“Waktu Ayah meninggal, umurku sebelas tahun.”
Bu Ratna terdiam.
“Waktu itu Ibu kerja dari pagi sampai malam supaya aku tetap sekolah. Ibu jual gelang pemberian Nenek supaya aku bisa bayar uang masuk SMA. Ketika aku kuliah, Ibu bilang warung kita sedang ramai. Bertahun-tahun kemudian baru aku tahu Ibu sampai makan nasi dengan garam supaya uang makan bisa dikirim kepadaku.”
Air mata Bu Ratna jatuh.
“Sekarang Ibu menyuruhku berhenti?”
Ardi tersenyum sambil menangis.
“Aku bahkan belum membayar sepersepuluh dari yang Ibu lakukan untukku.”
Nadia tidak sanggup lagi.
Isakannya terlepas.
Ardi langsung menoleh ke arah pintu.
“Nadia?”
Pintu terbuka.
Nadia masih berlutut di lantai.
Wajahnya basah oleh air mata.
Ardi berdiri dengan wajah terkejut.
“Kamu…”
Nadia mencoba bangkit, tetapi kakinya masih lemas.
Ardi segera menghampirinya.
Namun begitu suaminya berada di depannya, Nadia justru memeluk pinggang Ardi erat-erat.
“Maafkan aku.”
Ardi terdiam.
“Maafkan aku, Di.”
Nadia menangis di dadanya.
“Aku sudah berpikir buruk tentangmu. Aku bahkan berpikir kamu sengaja menjauh dariku.”
Ardi berlutut dan memegang kedua bahunya.
“Kamu dengar semuanya?”
Nadia mengangguk.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku takut kamu ikut terbebani.”
“Aku istrimu!”
Suara Nadia pecah.
“Kalau kamu lelah, aku seharusnya tahu. Kalau kamu takut, aku seharusnya ada di sampingmu. Kalau Ibu sakit, aku juga berhak merawatnya.”
Ardi menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan mereka, Nadia melihat suaminya menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
“Aku cuma ingin melindungimu.”
Nadia menggeleng.
“Melindungi bukan berarti menanggung semuanya sendirian.”
Kalimat itu membuat Ardi terdiam.
Dari dalam kamar terdengar suara Bu Ratna.
“Nadia.”
Nadia segera menghampirinya.
Bu Ratna menggenggam tangannya.
“Jangan salahkan Ardi. Ibu juga yang memintanya merahasiakan penyakit ini.”
Nadia duduk di tepi ranjang.
“Kenapa, Bu?”
Bu Ratna tersenyum lemah.
“Karena setelah menikah, kamu pernah bilang ingin punya rumah sendiri dan memulai hidup baru bersama Ardi. Ibu tidak ingin menjadi alasan kalian kehilangan rencana itu.”
Nadia menangis lagi.
Rumah.
Ternyata itulah sebabnya Bu Ratna beberapa kali menyuruh mereka pindah.
Nadia dulu mengira ibu mertuanya tidak nyaman tinggal bersamanya.
Padahal Bu Ratna hanya takut menjadi beban.
Malam itu tidak ada lagi rahasia.
Ardi akhirnya menceritakan semuanya.
Tiga tahun sebelumnya Bu Ratna didiagnosis menderita penyakit ginjal kronis yang kemudian disertai komplikasi pada saluran pencernaan. Kondisinya masih memungkinkan ia beraktivitas ringan pada siang hari, tetapi malam menjadi waktu paling sulit karena rasa sakit, mual, dan berbagai kebutuhan perawatan yang tidak sanggup dilakukannya sendiri.
Ardi sengaja mengatur jadwal obat ibunya sedemikian rupa sehingga sebagian besar perawatan dilakukan ketika Nadia tidur.
Lebih mengejutkan lagi, pekerjaan tambahan yang dilakukan Ardi ternyata bukan sekadar lembur.
Setelah pulang dari kantor, tiga kali seminggu ia bekerja sebagai pengemudi pengantaran barang selama beberapa jam.
Uangnya digunakan untuk membeli obat yang tidak seluruhnya ditanggung asuransi.
“Kenapa sampai sejauh itu?” tanya Nadia.
Ardi hanya menjawab, “Karena aku masih punya tenaga.”
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Nadia tidak membiarkan Ardi kembali menjalani kehidupan lamanya.
Mereka membagi tugas.
Beberapa malam Nadia menemani Bu Ratna agar Ardi bisa tidur.
Mereka juga kembali menemui dokter untuk mencari pola perawatan yang lebih baik.
Nadia bahkan menghubungi kakak perempuan Ardi di Surabaya yang ternyata sama sekali tidak mengetahui kondisi ibunya sudah separah itu.
Awalnya Ardi marah.
“Kamu menghubungi Mbak Rina?”
“Iya.”
“Aku tidak mau merepotkan dia.”
Nadia menatapnya tajam.
“Itulah masalahmu. Kamu menganggap meminta bantuan sama dengan merepotkan orang.”
Ardi terdiam.
Nadia menggenggam tangannya.
“Keluarga bukan tempat satu orang menjadi pahlawan, Di. Keluarga adalah tempat semua orang bergantian menjadi kuat.”
Untuk pertama kalinya, Ardi tidak membantah.
Mbak Rina datang ke Yogyakarta dua hari kemudian.
Begitu melihat ibunya, ia menangis sambil memarahi Ardi.
“Kamu bodoh atau apa? Tiga tahun kamu simpan sendiri?”
Ardi hanya tersenyum malu.
Dengan bantuan keluarga, kondisi Bu Ratna perlahan menjadi lebih terkontrol.
Ardi berhenti bekerja sebagai pengemudi malam.
Tubuhnya mulai berisi kembali.
Lingkaran hitam di bawah matanya perlahan berkurang.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Nadia kembali terbangun pada pukul satu dini hari dan menemukan suaminya masih tidur di sebelahnya.
Ia memandang wajah Ardi lama.
Ada rasa bersalah yang masih tersisa.
Namun kini rasa itu bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Rasa hormat.
Enam bulan kemudian, keadaan Bu Ratna tiba-tiba memburuk.
Ia dilarikan ke rumah sakit.
Dokter mengatakan fungsi ginjalnya menurun drastis.
Seluruh keluarga berkumpul.
Malam sebelum menjalani tindakan medis penting, Bu Ratna meminta Nadia tinggal bersamanya beberapa menit.
Ardi dan Rina keluar dari kamar.
Bu Ratna kemudian membuka laci kecil di samping tempat tidurnya.
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Ambillah.”
Nadia bingung.
“Apa ini, Bu?”
“Buka nanti bersama Ardi.”
Keesokan harinya, tindakan medis berlangsung cukup lama.
Untungnya Bu Ratna berhasil melewatinya.
Beberapa hari setelah kondisinya stabil, Nadia teringat amplop tersebut.
Ia membukanya bersama Ardi.
Di dalamnya terdapat buku tabungan lama, beberapa dokumen, dan sebuah surat tulisan tangan.
Tangan Ardi gemetar ketika membacanya.
Ternyata selama bertahun-tahun Bu Ratna diam-diam menyimpan sebagian uang dari warung kecil yang dulu dikelolanya.
Jumlahnya memang tidak besar.
Namun ada satu dokumen yang membuat Ardi tidak mampu berbicara.
Sertifikat sebidang tanah kecil di daerah Sleman.
Tanah itu dibeli Bu Ratna belasan tahun lalu.
Dalam suratnya tertulis bahwa tanah tersebut disiapkan untuk Ardi sejak ia masih kuliah.
Bu Ratna tahu putranya pernah bermimpi membangun rumah kecil dengan halaman tempat istrinya bisa menanam bunga.
Di bagian terakhir surat itu tertulis:
Ardi, sejak kecil kamu selalu merasa harus membalas semua yang Ibu berikan. Padahal kasih sayang orang tua bukan utang. Jangan habiskan hidupmu untuk membayarnya. Kalau suatu hari kamu punya keluarga sendiri, cukup lakukan satu hal untuk Ibu. Cintai mereka tanpa menghitung pengorbananmu.
Ardi berhenti membaca.
Tangisnya pecah.
Nadia memeluknya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Bu Ratna cukup stabil untuk kembali ke rumah.
Mereka tidak pernah menjual tanah tersebut.
Sebaliknya, tiga tahun kemudian Nadia dan Ardi membangun rumah sederhana di sana.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun ada tiga kamar.
Satu kamar untuk mereka.
Satu kamar untuk tamu.
Dan satu kamar di lantai bawah yang sengaja dibuat tanpa tangga, dengan jendela besar menghadap taman.
Kamar Bu Ratna.
Pada malam pertama mereka tinggal di rumah baru itu, Nadia terbangun sekitar pukul satu.
Sisi ranjang di sebelahnya kosong.
Untuk sesaat, kenangan lama membuat jantungnya berdegup kencang.
Nadia bangkit dan berjalan keluar.
Namun kali ini ia tidak menemukan Ardi di kamar ibunya.
Lelaki itu sedang berdiri di dapur sambil membuat susu hangat.
“Kamu ngapain?” tanya Nadia.
Ardi terkejut.
“Ibu tadi batuk. Aku mau lihat sebentar.”
Nadia tersenyum.
Ia mengambil satu gelas lagi.
“Buat dua.”
Ardi menatapnya.
Nadia meraih tangannya.
“Kita ke kamar Ibu bersama.”
Mereka berjalan berdampingan melewati lorong.
Dan malam itu Nadia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya tentang pernikahan.
Cinta bukan tentang siapa yang mendapatkan perhatian paling banyak.
Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Cinta adalah keberanian membuka pintu ketika beban terasa terlalu berat, lalu membiarkan orang yang menyayangi kita masuk dan ikut memikulnya.
Dulu Nadia mengira pintu kamar Bu Ratna adalah pintu yang memisahkan dirinya dari suaminya.
Ternyata justru di balik pintu itulah ia menemukan sisi Ardi yang paling tulus.
Dan sejak malam ketika ia jatuh berlutut sambil menangis di depan kamar itu, Nadia tidak pernah lagi bertanya mengapa suaminya begitu menyayangi ibunya.
Ia hanya berjanji pada dirinya sendiri satu hal.
Jika suatu hari Ardi kembali merasa harus menghadapi dunia sendirian, Nadia akan menjadi orang pertama yang berdiri di sampingnya dan berkata bahwa kali ini, mereka akan melewatinya bersama.
