BEBERAPA MENIT SEBELUM PERNIKAHAN DIMULAI, SANG PENGANTIN WANITA TANPA SENGAJA MENDENGAR CALON SUAMINYA MENGAKU HANYA MENGINCAR….

Langkah Salsabila tetap tenang ketika memasuki area pernikahan.

Tidak ada seorang pun yang melihat sesuatu yang berbeda dari dirinya. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Tangannya tetap menggenggam buket bunga putih. Bahkan ketika beberapa tamu memandang penuh kagum, ia sempat mengangguk kecil sebagai sapaan.

Hanya Salsabila yang tahu bahwa setiap langkah menuju pelaminan terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

Di ujung lorong, Arga berdiri dengan senyum lebar.

Tatapan pria itu terlihat begitu hangat hingga beberapa tamu tampak terharu.

Andai Salsabila tidak mendengar percakapan beberapa menit sebelumnya, mungkin ia juga masih akan mempercayai tatapan itu.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Arga mengulurkan tangan.

“Kamu cantik sekali,” bisiknya.

Kalimat yang biasanya membuat wajah Salsabila memerah kini justru terasa seperti penghinaan.

Namun ia tetap meletakkan tangannya di telapak tangan Arga.

“Terima kasih,” jawabnya pelan.

Prosesi berjalan seperti yang direncanakan.

Keluarga duduk di barisan depan. Kamera merekam setiap detik. Para tamu memperhatikan dengan penuh antusias.

Arga tampak sangat percaya diri.

Sesekali ia bahkan menatap ibunya, Bu Ratna, dan keduanya bertukar senyum singkat.

Salsabila melihatnya.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya berapa lama sandiwara itu sebenarnya telah berlangsung.

Ketika penghulu selesai menyampaikan beberapa nasihat pernikahan dan prosesi akad hampir dimulai, Salsabila tiba-tiba mengangkat tangan.

“Maaf,” katanya.

Suasana langsung hening.

Penghulu memandangnya dengan bingung.

Arga mengerutkan kening.

“Ada apa, Salsa?”

Salsabila menarik napas perlahan.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu sebelum kita melanjutkan.”

Arga tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

“Sekarang?”

“Iya. Sekarang.”

Tatapan Salsabila begitu tenang hingga senyum Arga perlahan menghilang.

Salsabila meminta mikrofon dari pembawa acara.

Ratusan mata langsung tertuju kepadanya.

Ia berdiri di depan pelaminan dengan gaun putih yang beberapa jam sebelumnya menjadi simbol hari paling bahagia dalam hidupnya.

Kini gaun itu terasa seperti pakaian yang dikenakannya untuk mengubur sebuah kebohongan.

“Terima kasih untuk semua keluarga, sahabat, dan tamu yang sudah datang dari berbagai kota untuk menghadiri pernikahan kami,” ucap Salsabila.

Suaranya sedikit bergetar di awal, tetapi kemudian menjadi semakin mantap.

“Aku tahu banyak dari kalian telah mengorbankan waktu untuk berada di sini. Karena itu, aku merasa kalian berhak mengetahui sesuatu sebelum prosesi ini diteruskan.”

Wajah Arga mulai berubah.

“Salsa,” bisiknya. “Kita bisa bicara nanti.”

Salsabila menoleh kepadanya.

“Nanti sudah terlambat.”

Kalimat itu membuat beberapa tamu saling berpandangan.

Bu Ratna mulai gelisah.

Ia berdiri dari kursinya.

“Salsabila, kalau ada masalah pribadi, sebaiknya jangan dibicarakan sekarang.”

Salsabila tersenyum tipis.

“Justru karena ini menyangkut alasan seseorang menikahi saya, saya rasa waktunya sangat tepat.”

Wajah Bu Ratna langsung pucat.

Arga mencoba mengambil mikrofon dari tangan Salsabila.

Namun perempuan itu mundur satu langkah.

“Beberapa menit sebelum acara dimulai,” lanjutnya, “aku ingin memberikan hadiah untuk calon suamiku.”

Salsabila mengeluarkan kotak jam tangan dari balik buket bunga.

“Aku memesan jam ini khusus untuknya.”

Ia membuka kotak tersebut.

Kilatan logam jam tangan terlihat di bawah cahaya.

“Di belakangnya ada tulisan Selamanya Milikmu.”

Beberapa tamu tersenyum, mengira Salsabila sedang membuat kejutan romantis.

Namun Salsabila kemudian menutup kotak itu.

“Sayangnya, sebelum sempat memberikannya, aku mendengar sesuatu.”

Arga menelan ludah.

“Salsa, cukup.”

Untuk pertama kalinya nada suaranya terdengar keras.

Salsabila menatapnya.

“Apa yang harus cukup? Kebohonganmu?”

Suasana berubah total.

Kamera yang sebelumnya merekam acara romantis kini mengarah pada wajah Arga.

Salsabila lalu mengeluarkan ponselnya.

“Aku memang tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Dimas dan ibumu.”

Wajah Dimas yang duduk di deretan sahabat pengantin langsung pucat.

Arga mematung.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Salsabila menekan layar ponselnya.

Suara rekaman terdengar melalui pengeras suara yang tersambung ke sistem audio acara.

“Lo tahu berapa kekayaan perempuan itu? Nilai asetnya lebih dari delapan puluh triliun rupiah.”

Suara Arga terdengar jelas.

Beberapa tamu langsung bereaksi.

Ada yang menutup mulut.

Ada yang menoleh kepada Arga.

Dimas menundukkan kepala.

Rekaman terus berjalan.

Suara Dimas terdengar.

“Jadi benar cuma karena uang?”

Kemudian suara Arga menjawab.

“Gue bukan orang bodoh. Kalau cuma soal penampilan, jujur saja gue bahkan malu kalau harus mengenalkan dia ke beberapa teman model gue.”

Suasana benar-benar membeku.

Salsabila berdiri tanpa bergerak.

Arga menatapnya seperti baru kehilangan kemampuan berbicara.

Rekaman berlanjut beberapa detik lagi.

Kali ini suara Bu Ratna terdengar.

“Yang penting setelah menikah kamu harus pelan-pelan masuk ke perusahaannya. Kalau sudah punya posisi, semuanya lebih mudah.”

Beberapa tamu mulai berbisik semakin keras.

Bu Ratna segera berdiri.

“Itu dipotong! Itu tidak lengkap!”

Salsabila mematikan rekaman.

“Benarkah?”

Bu Ratna terdiam.

Salsabila menatap Arga.

“Aku memberimu banyak kesempatan untuk jujur.”

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap terkendali.

“Ketika aku bertanya apakah kamu mencintai uangku, kamu mengatakan tidak.”

Arga mendekat.

“Salsa, dengarkan aku. Aku memang salah bicara.”

“Salah bicara?”

“Aku tertekan. Dimas bercanda. Aku cuma ikut bercanda.”

Salsabila menatap Dimas.

Dimas menghindari pandangannya.

Arga mulai panik.

“Salsa, aku tetap mencintaimu.”

Kalimat itu membuat Salsabila tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya ia memahami betapa murahnya kata cinta di mulut seseorang yang tidak menghargainya.

“Kalau kamu mencintaiku,” katanya, “kenapa kamu malu dengan wajahku?”

Arga tidak menjawab.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa kekayaanku harus menjadi alasan utama kamu menikah?”

“Salsa…”

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa ibumu merencanakan bagaimana kamu bisa masuk ke perusahaanku setelah pernikahan?”

Arga mulai kehilangan ketenangannya.

Ia memegang lengan Salsabila.

“Salsa, jangan hancurkan semuanya hanya karena satu percakapan.”

Salsabila perlahan melepaskan tangannya.

“Aku tidak menghancurkan apa pun.”

Ia menatap pria itu tepat di mata.

“Kamu yang menghancurkannya.”

Arga menoleh ke sekitar.

Ratusan orang sedang memperhatikannya.

Beberapa kamera bahkan masih menyala.

Situasi itu jelas bukan hanya mengancam pernikahan mereka, tetapi juga reputasinya sebagai model dan figur publik.

Karena panik, Arga tiba-tiba berlutut di depan Salsabila.

Suara terkejut terdengar dari para tamu.

“Salsa, tolong.”

Salsabila memandang pria yang beberapa menit lalu masih berdiri penuh percaya diri di depan cermin sambil membicarakan kekayaannya.

Kini ia berlutut.

Namun Salsabila tahu itu bukan karena cinta.

Itu karena rasa takut kehilangan.

“Aku minta maaf,” ujar Arga. “Aku salah. Aku bodoh. Tapi jangan batalkan pernikahan kita.”

Salsabila diam.

Arga menggenggam ujung gaunnya.

“Aku bersumpah aku bisa berubah.”

Bu Ratna ikut maju.

“Salsabila, pikirkan baik-baik. Pernikahan ini sudah dipersiapkan begitu besar. Semua orang sudah datang.”

Salsabila menatap perempuan itu.

“Jadi saya harus menikah dengan seseorang yang menipu saya hanya karena dekorasinya sudah dibayar?”

Bu Ratna terdiam.

Beberapa tamu bahkan terdengar menahan tawa getir.

Salsabila kemudian menatap para tamu.

“Aku meminta maaf karena membuat kalian menyaksikan hal seperti ini.”

Ia menarik napas.

“Tapi ada satu hal yang selama ini selalu salah kupahami.”

Ruangan kembali hening.

“Bertahun-tahun aku mengira kekuranganku adalah tubuhku. Tanda lahir di wajahku. Penampilanku.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Salsabila.

“Ternyata bukan itu yang membuatku mudah disakiti.”

Ia menatap Arga.

“Yang membuatku mudah disakiti adalah karena aku terlalu takut tidak dicintai.”

Beberapa perempuan di antara tamu tampak menyeka air mata.

Salsabila melanjutkan.

“Karena takut sendirian, aku hampir menikahi seseorang yang bahkan tidak menghormatiku.”

Arga berdiri perlahan.

“Salsa, jangan melakukan ini.”

Namun Salsabila telah mengambil cincin pertunangan dari jarinya.

Ia meletakkannya di telapak tangan Arga.

“Pernikahan ini batal.”

Arga memejamkan mata.

Bu Ratna berusaha menarik Salsabila menjauh dari mikrofon.

Namun beberapa anggota keluarga Salsabila segera berdiri dan menghalanginya.

Dimas pun bangkit dari kursinya.

“Salsa.”

Semua orang menoleh.

Dimas tampak sangat gelisah.

“Aku minta maaf.”

Arga memandangnya tajam.

“Diam, Dim.”

Namun Dimas justru melanjutkan.

“Aku memang ikut mengejek kamu tadi. Itu salah. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Arga langsung berubah pucat.

“Dimas!”

Dimas mengeluarkan ponselnya.

“Sebenarnya rencana ini sudah berlangsung sejak sebelum Arga melamar kamu.”

Salsabila terdiam.

Dimas membuka percakapan di ponselnya.

“Arga pernah kirim pesan ke grup kami.”

Ia menunjukkan layar kepada Salsabila.

Di sana terdapat pesan berbulan-bulan sebelumnya.

Kalau gue berhasil nikahin Salsa, hidup gue aman selamanya.

Ada pesan lain.

Nyokap bilang minimal gue harus dapat posisi direksi setelah nikah.

Kemudian sebuah pesan yang membuat tangan Salsabila mengepal.

Kalau nanti sudah punya anak, posisi gue makin kuat.

Salsabila memejamkan mata sebentar.

Arga langsung menyerang Dimas.

“Lo pengkhianat!”

Beberapa orang segera menahan Arga.

Dimas mundur.

“Gue memang salah karena selama ini diam. Tapi ini sudah keterlaluan.”

Salsabila meminta salinan percakapan tersebut.

Dimas langsung mengirimkannya.

Arga memandang Salsabila dengan mata merah.

“Salsa, itu cuma omongan teman-teman.”

Namun kali ini Salsabila bahkan tidak menjawab.

Ia memanggil seseorang dari barisan tamu.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan berdiri.

Namanya Pak Hendrawan, pengacara keluarga Salsabila.

“Pak,” ujar Salsabila, “tolong jalankan dokumen yang kita bahas dua minggu lalu.”

Arga langsung menatapnya.

“Dokumen apa?”

Salsabila menghadap kepadanya.

“Perjanjian pranikah.”

Arga terdiam.

Wajah Bu Ratna semakin pucat.

Salsabila melanjutkan.

“Aku sebenarnya sudah menyiapkannya sejak lama.”

Arga terlihat bingung.

“Tapi kamu bilang kita tidak perlu membahasnya.”

“Aku memang tidak memintamu menandatanganinya.”

Salsabila tersenyum pahit.

“Karena aku ingin melihat apakah kamu akan menunjukkan niatmu sendiri.”

Pak Hendrawan mendekat.

Salsabila menjelaskan kepada para tamu tanpa membuka detail hukum secara berlebihan.

Sejak beberapa bulan sebelumnya, seluruh kepemilikan perusahaan utama Salsabila telah dimasukkan ke dalam struktur keluarga dan lembaga pengelolaan aset yang membuat pasangan tidak otomatis memiliki kendali ataupun hak terhadap perusahaan.

Bahkan jika pernikahan terjadi, Arga tidak akan mendapatkan saham, posisi, atau akses terhadap Salsabila Medika Nusantara tanpa keputusan dewan direksi.

Arga membeku.

Semua rencana yang selama ini dibayangkannya ternyata sejak awal tidak akan pernah berhasil.

Bu Ratna menatap Salsabila dengan tidak percaya.

“Kamu sudah merencanakan ini?”

“Bukan untuk menjebak siapa pun,” jawab Salsabila. “Untuk melindungi sesuatu yang dibangun keluargaku puluhan tahun.”

Arga perlahan jatuh terduduk.

Kini rasa malu di wajahnya jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Bukan hanya karena kebohongannya terbongkar.

Tetapi karena seluruh alasan ia bertahan selama ini ternyata sia-sia.

Salsabila menatapnya untuk terakhir kali.

“Lucu, ya?”

Arga mengangkat wajah.

“Kamu mengira aku terlalu bodoh karena begitu ingin dicintai.”

Salsabila menghapus air matanya.

“Ternyata aku hanya perlu satu percakapan untuk sadar bahwa kehilanganmu bukan kerugian.”

Ia kemudian mengambil kotak jam tangan yang sejak tadi masih dibawanya.

Untuk sesaat Arga berharap Salsabila akan memberikannya.

Namun perempuan itu menyerahkannya kepada salah satu staf acara.

“Tolong kembalikan ke toko.”

Lalu Salsabila berbalik.

Ia tidak berjalan menuju pintu belakang.

Ia justru berjalan melewati para tamu dengan kepala tegak.

Beberapa orang berdiri memberikan jalan.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorak-sorai.

Hanya keheningan penuh penghormatan.

Ketika Salsabila hampir mencapai pintu, ayahnya menghampiri.

Sejak tadi pria itu tidak berbicara.

Ia hanya menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

Salsabila berhenti.

“Ayah kecewa?”

Ayahnya menggeleng.

Kemudian memeluknya erat.

“Ayah justru bangga.”

Kalimat sederhana itu membuat pertahanan terakhir Salsabila runtuh.

Ia menangis dalam pelukan ayahnya.

Bukan karena kehilangan Arga.

Melainkan karena akhirnya ia merasa bebas dari ketakutan yang telah mengikutinya bertahun-tahun.

Enam bulan kemudian, Salsabila kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Berita mengenai pembatalan pernikahan memang sempat menjadi pembicaraan besar. Karier Arga terpukul. Beberapa kontrak iklan tidak diperpanjang setelah rekaman percakapan itu tersebar.

Namun Salsabila tidak pernah membicarakannya di depan media.

Ketika wartawan bertanya, ia hanya menjawab satu kalimat.

“Ada hal-hal yang tidak perlu dibalas dengan dendam. Cukup dengan tidak memberikan kesempatan kedua.”

Sementara itu, Salsabila mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah berani ia lakukan.

Ia muncul lebih sering di depan publik.

Bukan untuk memamerkan kekayaan.

Ia mulai berbicara dalam acara-acara mengenai kepercayaan diri, tekanan standar kecantikan, dan bagaimana seseorang bisa kehilangan harga dirinya hanya karena terlalu ingin diterima.

Tanda lahir yang dulu selalu ia tutupi dengan riasan tebal tidak lagi disembunyikan.

Suatu hari setelah sebuah seminar di Jakarta, seorang mahasiswi menghampirinya.

“Mbak Salsa,” katanya gugup.

Salsabila tersenyum.

“Iya?”

Mahasiswi itu menunjuk samar ke tanda lahir di wajahnya sendiri.

“Aku juga punya tanda seperti Mbak. Selama ini aku selalu menutupinya.”

Salsabila terdiam.

Gadis itu tersenyum malu.

“Tapi setelah lihat Mbak, aku pikir mungkin aku nggak perlu terus-terusan merasa ada yang salah dengan wajahku.”

Salsabila merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Pada saat itu, ia akhirnya memahami bahwa hari pernikahan yang gagal tersebut ternyata tidak menghancurkan hidupnya.

Justru hari itulah yang mengembalikan hidupnya.

Malamnya, Salsabila berdiri di depan cermin apartemennya.

Tidak ada gaun putih.

Tidak ada riasan pengantin.

Tidak ada pria yang mengatakan bahwa dirinya cantik.

Namun ketika melihat pantulan dirinya sendiri, Salsabila tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membutuhkan siapa pun untuk meyakinkannya bahwa dirinya layak dicintai.

Dan anehnya, justru sejak saat itulah ia merasa lebih cantik daripada pada hari ketika ia hampir menjadi seorang pengantin.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang