Tanganku masih menggantung di udara ketika Sari buru-buru menarik kain untuk menutupi tubuhnya.
Wajahnya yang beberapa menit lalu masih dihiasi senyum kini berubah pucat. Ia tidak berani menatapku.
Aku sendiri merasa seperti kehilangan suara.
Di bagian punggung hingga sisi tubuhnya terlihat bekas luka yang sudah lama mengering. Sebagian membentuk garis tidak beraturan, sebagian lain tampak seperti bekas luka bakar yang telah bertahun-tahun menyatu dengan kulit. Di dekat bahunya ada bekas jahitan panjang yang membuatku langsung mengerti bahwa luka-luka itu bukan berasal dari satu kejadian.
“Sari…”
Suaraku nyaris berbisik.
Ia mundur satu langkah.
“Maaf.”
Aku mengernyit.
“Kenapa kamu minta maaf?”
Sari menggigit bibir. Air matanya mulai memenuhi kedua matanya.
“Aku seharusnya memberitahumu sebelum kita menikah.”
Aku ingin mendekat, tetapi ia justru memalingkan tubuh.
“Mungkin kalau kamu tahu dari awal, kamu akan berpikir lagi.”
Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak.
Aku mengambil pakaian luarnya yang tergeletak di ujung tempat tidur, lalu menyerahkannya tanpa mengatakan apa-apa.
Sari menerimanya dengan tangan gemetar.
Setelah ia kembali berpakaian, kami duduk berjauhan di tepi tempat tidur.
Malam yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam pernikahan kami mendadak terasa sunyi.
Hanya terdengar suara kipas angin dan sesekali motor melintas di jalan depan rumah.
Aku akhirnya bertanya,
“Siapa yang melakukan itu?”
Sari tidak menjawab.
“Sar, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin tahu.”
Ia mengusap air matanya.
Kemudian, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata,
“Suamiku.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Aku mengenal mendiang suami Sari hanya dari cerita orang-orang lama di kampung. Namanya Harsono. Ia pernah memiliki usaha bahan bangunan yang cukup besar. Di mata masyarakat, Harsono dikenal sebagai lelaki tegas, pekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap keluarga.
Aku bahkan pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa kehidupan Sari beruntung karena menikah dengannya.
Ternyata kami semua salah.
“Sejak kapan?”
“Sejak tahun kedua pernikahan.”
Aku menatap Sari tanpa berkedip.
Ia mulai bercerita.
Awalnya Harsono hanya mudah marah. Masakan terlalu asin menjadi masalah. Rumah belum rapi menjadi masalah. Sari pulang terlambat dari pasar lima belas menit juga menjadi masalah.
Kemudian kemarahan itu berubah menjadi bentakan.
Setelah itu menjadi dorongan.
Lalu tamparan.
Dan akhirnya kekerasan menjadi sesuatu yang terus berulang.
“Kenapa kamu tidak pergi?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Sari tersenyum pahit.
“Dulu tidak semudah sekarang, Bud.”
Aku langsung menyesal.
Ia melanjutkan,
“Aku tidak punya penghasilan. Orang tuaku sudah tua. Setelah anak pertama lahir, aku semakin takut. Setiap kali aku bilang ingin pulang ke rumah orang tua, dia mengancam akan mengambil anak-anak.”
Aku mengepalkan tangan.
“Tidak ada yang tahu?”
Sari terdiam lama.
“Ibuku tahu.”
Aku terkejut.
“Dan?”
“Ibu menyuruhku bertahan.”
Sari menatap lantai.
Katanya, rumah tangga pasti memiliki cobaan. Katanya, perempuan harus pandai menjaga nama baik keluarga. Katanya, kalau aku pulang membawa anak, orang-orang akan membicarakan kami.
Aku tidak tahu harus marah kepada siapa.
Kepada Harsono?
Kepada keluarga Sari?
Atau kepada keadaan puluhan tahun lalu yang membuat seorang perempuan percaya bahwa rasa sakit adalah harga yang harus dibayar untuk mempertahankan rumah tangga.
Sari kemudian menunjuk bekas luka di bahunya.
“Yang ini karena aku jatuh membentur lemari.”
Tangannya bergerak ke sisi tubuhnya.
“Yang ini karena air panas.”
Ia berhenti.
Aku tidak sanggup meminta penjelasan lebih jauh.
Namun ada satu bekas luka panjang di punggungnya yang membuatku penasaran.
“Kalau yang itu?”
Wajah Sari berubah.
Untuk pertama kalinya sejak mulai bercerita, ia terlihat benar-benar takut.
“Itu bukan karena Harsono memukulku.”
Aku menunggu.
Sari menarik napas panjang.
“Karena kebakaran.”
Tiga puluh tahun lalu, ketika putra bungsunya baru berusia empat tahun, rumah mereka mengalami kebakaran tengah malam akibat korsleting listrik.
Harsono berhasil keluar terlebih dahulu.
Sari juga sebenarnya sudah berada di halaman.
Namun ketika menyadari putra bungsunya masih berada di kamar belakang, ia kembali masuk.
Api sudah menjalar ke langit-langit.
Tetangga berteriak menyuruhnya keluar.
Sari tetap masuk.
Ia menemukan anaknya menangis di bawah tempat tidur.
Sari menggendongnya, membungkus tubuh anak itu dengan selimut, lalu berlari menerobos asap.
Sebuah bagian kayu dari plafon jatuh mengenai punggungnya.
Anaknya selamat hampir tanpa luka berarti.
Sari menjalani perawatan berbulan-bulan.
Aku menatap perempuan di hadapanku dan tiba-tiba tidak mampu menahan air mata.

Selama dua tahun kami bertemu, Sari selalu mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya dengan rapi.
Aku mengira itu hanya kebiasaannya.
Aku tidak pernah bertanya.
“Sar…”
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Sari tersenyum lemah.
“Karena aku ingin ketika kamu melihatku, kamu melihat Sari.”
Aku mengernyit.
“Bukan perempuan yang penuh luka.”
Kalimat itu menghantam sesuatu di dalam diriku.
Aku bergeser mendekat.
“Lihat aku.”
Sari perlahan mengangkat wajah.
“Kamu tahu apa yang kulihat sekarang?”
Ia menggeleng.
“Aku melihat perempuan yang selama ini jauh lebih kuat daripada yang pernah kukenal.”
Air matanya langsung jatuh.
Aku memeluknya.
Tidak ada lagi rasa canggung.
Tidak ada lagi kegembiraan kekanak-kanakan tentang malam pertama.
Yang ada hanya dua orang tua yang akhirnya menemukan tempat untuk meletakkan segala luka setelah perjalanan hidup yang begitu panjang.
Malam itu kami tidak melakukan apa pun selain berbicara.
Sampai hampir pukul tiga pagi.
Sari bercerita tentang pernikahannya.
Aku bercerita tentang mendiang istriku.
Kami berbicara tentang rasa bersalah, kehilangan, anak-anak, dan keputusan-keputusan yang tidak mungkin diperbaiki lagi.
Menjelang tidur, Sari tiba-tiba berkata,
“Ada satu hal lagi yang belum pernah aku ceritakan.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Namun ia menggeleng.
“Nanti saja.”
Aku tidak memaksanya.
Beberapa minggu setelah pernikahan, kehidupan kami mulai menemukan ritmenya.
Setiap pagi Sari membuat teh. Aku menyapu halaman. Kadang kami pergi ke pasar bersama. Kadang kami bertengkar kecil karena aku lupa menaruh kacamata atau Sari memindahkan barang-barang di dapur tanpa memberitahuku.
Rumah yang selama sembilan tahun terasa terlalu besar untuk satu orang kini dipenuhi suara lagi.
Namun ada sesuatu yang mulai menggangguku.
Hampir setiap Jumat sore, Sari pergi sendirian.
Ketika kutanya, ia hanya menjawab,
“Ada urusan.”
Awalnya aku tidak curiga.
Tetapi suatu hari, ketika sedang mencari kartu ATM di tasnya karena ia sendiri yang memintaku mengambilnya, aku menemukan sebuah amplop.
Di bagian depan tertulis nama sebuah rumah sakit di Yogyakarta.
Di dalamnya terdapat beberapa hasil pemeriksaan medis.
Aku tidak memahami seluruh istilah yang tertulis.
Namun satu kalimat membuat tanganku dingin.
“Evaluasi lanjutan diperlukan.”
Ketika Sari pulang, aku langsung meletakkan amplop itu di meja.
Wajahnya berubah.
“Kamu sakit?”
Sari terdiam.
“Kamu bilang kita tidak akan menyembunyikan apa pun lagi.”
Ia duduk perlahan.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir, bagian punggung yang pernah mengalami luka bakar sering terasa nyeri. Salah satu jaringan bekas lukanya juga mengalami perubahan sehingga dokter meminta pemeriksaan lebih lanjut.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kebahagiaan ini terlalu cepat.”
Aku menatapnya.
Sari tersenyum, tetapi matanya basah.
“Aku baru mendapatkan kembali seseorang yang pernah hilang empat puluh tahun. Aku ingin menikmati sedikit waktu tanpa membicarakan rumah sakit.”
Aku tidak marah lagi.
Keesokan paginya, aku mengantarnya ke rumah sakit.
Pemeriksaan dilakukan.
Kami menunggu hasil biopsi hampir dua minggu.
Dua minggu itu terasa lebih panjang daripada dua tahun.
Aku berusaha terlihat tenang di depan Sari. Tetapi setiap malam setelah ia tidur, aku duduk sendirian di ruang tamu.
Aku takut sejarah berulang.
Sembilan tahun lalu aku pernah duduk di lorong rumah sakit sambil menunggu dokter menjelaskan penyakit istriku.
Aku tahu rasanya kehilangan seseorang sedikit demi sedikit.
Aku tidak yakin sanggup mengalaminya lagi.
Hari ketika hasil pemeriksaan keluar, aku menggenggam tangan Sari begitu kuat hingga ia tertawa.
“Bud, tanganku bisa patah.”
“Biarkan.”
Dokter membuka berkas.
Aku menahan napas.
Kemudian ia mengatakan bahwa perubahan jaringan tersebut tidak menunjukkan keganasan.
Aku sampai harus bertanya dua kali.
“Jadi bukan kanker, Dok?”
“Bukan.”
Aku menundukkan kepala.
Air mataku jatuh begitu saja.
Sari justru tertawa sambil menangis.
Di parkiran rumah sakit, kami duduk cukup lama di atas motor tanpa menyalakan mesin.
“Aku pikir aku akan kehilanganmu,” kataku.
Sari menggenggam tanganku.
“Belum.”
Aku menatapnya.
“Jangan bicara begitu.”
Ia tersenyum.
“Ya sudah. Kita pulang.”
Namun sebelum pulang, Sari meminta mampir ke sebuah tempat.
Ia memberikan alamat.
Kami berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran Yogyakarta.
Seorang lelaki sekitar empat puluh tahun keluar dari dalam rumah.
Begitu melihat Sari, ia langsung tersenyum.
“Ibu.”
Aku mengenalinya dari foto.
Raka, putra bungsu Sari.
Lelaki yang dahulu diselamatkannya dari kebakaran.
Kami masuk.
Di ruang tamu, Raka membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ibu bilang ini harus diberikan kepada Pak Budi kalau semuanya sudah selesai.”
Aku bingung.
Sari menyuruhku membukanya.
Di dalam kotak itu terdapat beberapa surat tua yang warnanya sudah menguning.
Aku mengambil surat paling atas.
Tulisan di sana membuatku membeku.
Namaku.
Budi.
Tanganku gemetar ketika membuka surat itu.
Tanggalnya empat puluh empat tahun lalu.
Isinya hanya beberapa paragraf.
Sari menulis bahwa keluarganya akan menikahkannya. Ia menulis bahwa ia tidak berani melawan ayahnya. Ia memintaku datang jika memang masih ingin memperjuangkannya.
Aku menatap Sari.
“Kamu pernah mengirim ini?”
Sari mengangguk.
“Tiga surat.”
“Tapi aku tidak pernah menerimanya.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana kamu tahu?”
Sari memandang Raka.
Raka kemudian mengambil satu amplop lain.
Di dalamnya ada sepucuk surat yang ditulis ayahku.
Aku mengenali tulisan tangannya.
Isinya membuat tubuhku lemas.
Ayahku ternyata menerima surat-surat Sari.
Namun ia sengaja menyembunyikannya.
Ia tidak ingin aku membatalkan kuliah demi mengejar seorang gadis yang akan menikah. Ia takut masa depanku hancur.
Bertahun-tahun kemudian, sebelum meninggal, ayah menyerahkan surat-surat itu kepada seorang kerabat dan meminta agar suatu hari diberikan kepadaku.
Entah bagaimana, surat-surat itu justru sampai kembali ke tangan Sari.
Aku terduduk.
Selama lebih dari empat puluh tahun, aku percaya bahwa Sari pergi begitu saja.
Sari pun percaya bahwa aku memilih diam.
Ternyata kami sama-sama pernah menunggu.
“Aku marah bertahun-tahun kepadamu,” katanya pelan.
Aku menatapnya.
“Aku juga.”
Sari tertawa kecil sambil menangis.
“Lihat kita sekarang. Dua orang keras kepala beruban baru mengetahui kebenarannya setelah jadi kakek dan nenek.”
Aku ikut tertawa.
Aku mengambil surat pertama itu lagi.
Di bagian terakhir, Sari muda menulis satu kalimat sederhana.
“Kalau suatu hari kita dipertemukan lagi, semoga saat itu kita sudah cukup berani memilih kebahagiaan kita sendiri.”
Aku tidak mampu melanjutkan membaca.
Aku menggenggam tangan Sari.
Empat puluh empat tahun terlambat.
Namun akhirnya aku bisa menjawab surat itu.
“Aku datang, Sar.”
Ia menatapku.
Aku tersenyum.
“Memang terlambat. Tapi aku datang.”
Sari menangis sambil tertawa.
Dalam perjalanan pulang, ia memeluk pinggangku dari belakang. Motor kami melaju pelan melewati jalanan Yogyakarta menjelang senja.
Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu.
Bekas luka tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang telah kalah.
Kadang justru itulah bukti bahwa ia berhasil bertahan.
Begitu pula dengan cinta.
Tidak semua cinta mendapatkan kesempatan pada waktu yang tepat.
Ada yang harus tersesat puluhan tahun, melewati pernikahan, kehilangan, anak-anak, cucu, penyakit, luka, bahkan kematian orang-orang yang pernah menjadi bagian hidup kita.
Tetapi kalau kehidupan cukup baik untuk mempertemukan dua orang itu kembali, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi mengapa mereka terlambat.
Melainkan apakah mereka masih memiliki keberanian untuk menggunakan waktu yang tersisa.
Malam itu hujan turun deras di Yogyakarta.
Dulu, suara hujan selalu membuat rumahku terasa semakin sepi.
Sekarang aku duduk di teras bersama Sari, ditemani dua cangkir teh hangat.
Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku menggenggam tangannya.
Kami tidak tahu berapa tahun lagi yang diberikan kepada kami.
Sepuluh tahun.
Lima tahun.
Atau mungkin jauh lebih singkat.
Namun kali ini aku tidak takut.
Sebab setelah empat puluh empat tahun, tiga surat yang tidak pernah sampai, dan begitu banyak luka yang disembunyikan kehidupan, akhirnya kami berada di tempat yang seharusnya.
Bukan sebagai Budi dan Sari yang berusia tujuh belas tahun.
Melainkan sebagai dua manusia berusia enam puluhan yang telah memahami bahwa cinta bukan tentang menemukan seseorang tanpa luka.
Cinta adalah menemukan seseorang yang melihat seluruh bekas luka itu, mengetahui kisah di baliknya, lalu tetap menggenggam tanganmu sambil berkata,
“Aku tetap memilihmu.”
