Aku tidak jadi masuk rapat pagi itu.
Selama hampir lima menit, aku hanya duduk menatap layar ponsel Ardi dengan napas pendek-pendek, sementara suara rekan-rekanku di luar ruangan terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Di kepalaku hanya ada satu kalimat.
Bayi siapa?
Aku tahu aku tidak seharusnya membuka percakapan orang lain. Aku tahu setiap orang punya batas privasi. Tapi saat sebuah pesan berbunyi seperti itu muncul di ponsel suamimu sendiri, rasanya hampir mustahil untuk tetap berpura-pura tidak melihat.
Dengan tangan gemetar, kubuka percakapan dengan kontak bernama PENJUAL SUSU.
Dan sejak detik itu, hidupku seperti dijatuhkan dari tempat yang sangat tinggi.
Pesan-pesan mereka tidak banyak.
Itulah yang justru membuatku semakin takut.
Tidak ada percakapan romantis panjang. Tidak ada foto mesra. Tidak ada rayuan berlebihan seperti yang biasa kubayangkan tentang perselingkuhan.
Sebagian besar justru berisi hal-hal sederhana.
“Sudah makan?”
“Vitamin jangan lupa.”
“Aku transfer untuk kontrol besok.”
“Dokter bilang berat badannya sudah naik.”
“Besok aku mampir sepulang kerja.”
Lalu ada foto-foto.
Foto sebuah kamar sederhana.
Foto botol susu.
Foto tangan mungil seorang bayi.
Foto hasil USG dari beberapa bulan lalu.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
Duniaku seakan berhenti.
Semakin jauh aku membaca, semakin jelas satu hal.
Ini bukan hubungan yang baru berlangsung beberapa minggu.
Bukan pula kesalahan sesaat.
Pesan paling lama yang kutemukan bertanggal hampir dua tahun lalu.
Dua tahun.
Selama dua tahun, Ardi datang ke rumah sambil tersenyum, makan masakanku, bermain dengan Naya, tidur di sampingku, merayakan ulang tahun pernikahan kami.
Dan pada saat yang sama, dia punya kehidupan lain.
Mataku terasa panas.
Aku ingin langsung meneleponnya.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin bertanya perempuan itu siapa dan bayi itu anak siapa.
Namun sesuatu dalam diriku menahan.
Aku mengenal Ardi.
Dia pandai bicara.
Sangat pandai.
Jika aku menuduhnya tanpa mengetahui apa pun, aku takut justru akan dibuat merasa bersalah karena telah membuka ponselnya.
Jadi aku melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku mencatat alamat yang beberapa kali muncul dalam percakapan mereka.
Sebuah perumahan kecil di daerah Tambun.
Lalu kututup percakapan itu, mengambil tas, dan keluar dari kantor.
Aku mengirim pesan kepada atasanku bahwa ada urusan keluarga mendadak.
Setelah itu, aku memesan taksi online.
Sepanjang perjalanan menuju alamat tersebut, pikiranku dipenuhi bayangan paling buruk.
Aku membayangkan seorang perempuan muda.
Cantik.
Lebih menarik dariku.
Mungkin mantan pacarnya.
Mungkin rekan kerja.
Mungkin seseorang yang dikenalnya diam-diam.
Aku bahkan membayangkan Ardi mempunyai anak lain.
Setiap bayangan itu terasa seperti pisau kecil yang mengiris pelan-pelan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan satu lantai.
Cat dindingnya putih kusam.
Ada beberapa pot tanaman di teras.
Sebuah handuk bayi dijemur di depan.
Aku berdiri cukup lama di seberang jalan.
Kakiku gemetar.
Lalu sebuah motor hitam berhenti di depan rumah.
Aku langsung mengenalinya.
Ardi.
Dia turun sambil membawa kantong plastik besar.
Di tangannya ada satu dus susu rendah gula.
Dan sebungkus popok bayi.
Dadaku seperti diremas.
Jadi semua itu benar.
Ardi masuk ke rumah setelah mengetuk dua kali.
Aku tidak tahu apa yang membuatku punya keberanian, tapi beberapa menit kemudian aku menyeberang jalan.
Tanganku hampir tidak terasa ketika menekan bel.
Pintu dibuka oleh seorang perempuan.
Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun.
Wajahnya pucat dan terlihat lelah.
Rambutnya dikuncir sederhana.
Dia mengenakan kaus longgar dan celana rumah.
Tidak seperti perempuan selingkuhan yang kubayangkan.
Di lengannya ada bayi mungil yang sedang tertidur.
Saat melihatku, ekspresinya langsung berubah.
“Cari siapa, Mbak?”
Sebelum sempat menjawab, suara langkah terdengar dari dalam.
Ardi muncul.
Dan wajahnya seketika kehilangan warna.
“Rina?”
Suara itu nyaris seperti bisikan.
Perempuan di depanku menoleh ke arah Ardi.
“Kamu kenal?”
Aku tidak menjawab.
Mataku hanya tertuju pada suamiku.
“Kita perlu bicara.”
Ardi terlihat panik.
“Rina, kamu kok bisa ke sini?”
Pertanyaan itu justru membuat sesuatu dalam diriku pecah.
“Kamu lebih khawatir aku bisa sampai ke sini daripada menjelaskan kenapa kamu ada di rumah perempuan lain sambil bawa popok bayi?”
Perempuan itu memandang kami bergantian.
Wajahnya perlahan menegang.
“Mas Ardi… siapa dia?”
Ardi menutup mata beberapa detik.
Aku tertawa kecil.
Tawa yang terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
“Lucu. Sepertinya kita sama-sama tidak tahu apa-apa.”
Perempuan itu memeluk bayinya lebih erat.
“Mas Ardi?”
Akhirnya Ardi berkata pelan.
“Dia istriku.”
Perempuan itu langsung membeku.
Aku juga.
Bukan karena aku baru tahu siapa diriku.
Tapi karena cara Ardi mengatakannya terdengar seperti sebuah pengakuan yang selama ini belum pernah disampaikan kepada perempuan itu.
Perempuan tersebut mundur satu langkah.
“Kamu bilang kalian sudah lama pisah.”
Aku menatap Ardi.
Dia menunduk.
Saat itulah aku sadar bahwa kebohongannya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Namanya Mira.
Kami akhirnya duduk di ruang tamu kecil itu.
Bayi yang digendongnya bernama Damar.
Usianya baru tiga minggu.
Ardi duduk di antara kami seperti terdakwa.
Tidak ada yang langsung bicara.
Aku memandang Mira.
“Mbak tahu dia sudah menikah?”
Mira menggeleng cepat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dia bilang masih menikah secara administrasi, tapi sudah berpisah rumah. Katanya cuma menunggu proses cerai selesai.”
Aku tertawa getir.
“Setiap malam dia tidur di rumah saya.”
Mira menutup mulut.
Wajahnya runtuh.
Ternyata Ardi mengenalnya dua tahun lalu lewat sebuah proyek kantor.
Saat itu Mira bekerja sebagai tenaga administrasi kontrak.
Hubungan mereka dimulai ketika Ardi sering membantu mengantarnya pulang malam.
Kepada Mira, Ardi mengaku rumah tangganya denganku sudah lama bermasalah.

Dia mengatakan kami bertahan hanya demi anak.
Kalimat klasik.
Tapi rupanya cukup meyakinkan.
Lalu Mira hamil.
“Aku sempat minta dia memastikan semuanya,” ujar Mira sambil menangis. “Aku bahkan bilang kalau kamu memang masih bersama istrimu, aku tidak mau lanjut.”
Aku menoleh pada Ardi.
“Terus?”
Mira mengambil ponselnya.
Dia menunjukkan beberapa pesan.
Aku membaca percakapan yang membuat dadaku semakin sesak.
Ardi pernah mengirim foto sebuah dokumen perceraian.
Ada nama kami di sana.
Lengkap dengan nomor perkara.
Hanya saja dokumen itu palsu.
Aku tahu, karena aku tidak pernah mengajukan cerai.
“Dia bilang kalian sudah resmi bercerai tahun lalu,” kata Mira.
Aku tidak tahu harus marah kepada siapa lebih dulu.
Kepada Ardi.
Kepada diriku sendiri.
Atau kepada kenyataan bahwa ternyata di ruangan itu ada dua perempuan yang sama-sama dibohongi laki-laki yang sama.
Aku menatap bayi di pelukan Mira.
Damar membuka matanya sebentar.
Begitu kecil.
Tidak tahu apa-apa.
Tidak bersalah apa-apa.
“Dia anak Ardi?” tanyaku.
Mira diam.
Ardi langsung menjawab.
“Iya.”
Namun ada sesuatu pada wajah Mira.
Keraguan.
Aku menangkapnya.
“Kenapa diam?”
Mira menunduk.
“Aku belum pernah tes DNA.”
Ardi langsung berdiri.
“Mira, jangan mulai.”
Nada suaranya berubah.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat sisi Ardi yang berbeda.
Bukan suami lembut yang kukenal.
Bukan laki-laki sabar yang selalu bicara pelan.
Ada kemarahan dalam tatapannya.
Mira langsung terlihat takut.
Aku berdiri.
“Jangan bentak dia.”
Ardi menoleh padaku.
“Rina, ini masalah kami.”
Aku hampir tidak percaya pada kalimat itu.
“Masalah kalian?”
Aku memandangnya tajam.
“Masalah kalian menjadi masalahku sejak kamu berbohong kepada dua perempuan selama dua tahun.”
Ardi mengusap wajah.
“Semua ini tidak sesederhana yang kalian pikir.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia diam.
Lalu, setelah beberapa detik, dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa.
“Aku takut kehilangan kalian.”
Kalimat itu membuatku hampir ingin tertawa lagi.
“Kamu takut kehilangan kami, jadi kamu membohongi kami?”
Ardi menatapku.
“Aku sayang kamu, Rina.”
Aku menahan air mata.
“Jangan.”
“Aku serius.”
“Jangan pakai kata sayang setelah semua ini.”
Ardi menelan ludah.
Lalu dia berkata sesuatu yang membuat ruangan itu benar-benar sunyi.
“Aku awalnya cuma ingin bantu Mira.”
Mira menoleh tajam.
“Apa maksudmu?”
Ardi menghindari pandangannya.
“Kondisinya waktu itu sulit. Bapaknya meninggal. Dia punya utang. Aku sering bantu.”
“Lalu kamu tidur dengannya?” tanyaku.
Dia diam.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Aku pulang sore itu tanpa Ardi.
Di perjalanan, aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Aku justru merasa kosong.
Setibanya di rumah, Naya sedang tidur siang ditemani ibuku yang memang sering datang saat aku sibuk.
Aku duduk di samping anakku cukup lama.
Memandang wajah kecilnya.
Aku berpikir tentang rumah tangga yang selama ini kubanggakan.
Tentang semua foto keluarga.
Tentang semua ucapan manis Ardi.
Tentang perempuan-perempuan yang mengatakan aku beruntung.
Malamnya Ardi pulang hampir pukul sepuluh.
Aku sudah menunggunya di ruang makan.
“Naya tidur?”
“Sudah.”
Dia duduk di depanku.
“Rina, aku bisa jelaskan semuanya.”
“Aku sudah dengar cukup banyak.”
“Aku salah.”
“Ya.”
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
Aku menatapnya lama.
“Bagaimana?”
Dia terlihat lega karena mengira aku memberi kesempatan.
“Aku akan berhenti menemui Mira. Aku tetap akan tanggung jawab soal bayinya, tapi hubungan kami selesai.”
Aku menggeleng pelan.
“Kamu masih belum paham.”
Ardi terdiam.
“Aku bukan sedang memintamu memilih antara aku dan Mira.”
“Terus?”
“Aku yang memilih.”
Wajahnya berubah.
Aku mengeluarkan map cokelat dari laci meja.
Di dalamnya ada salinan dokumen keuangan kami, sertifikat rumah, rekening, dan beberapa bukti transfer Ardi kepada Mira yang sudah kusimpan sejak siang.
“Aku akan mengajukan cerai.”
Ardi langsung berdiri.
“Rina.”
“Duduk.”
Entah kenapa dia menurut.
“Aku tidak membuat keputusan ini karena marah sesaat. Aku membuatnya karena selama dua tahun kamu bukan cuma berselingkuh. Kamu membangun kehidupan ganda. Kamu memalsukan dokumen. Kamu membohongi perempuan lain. Kamu memakai uang keluarga tanpa sepengetahuanku.”
“Aku bisa ganti.”
“Ini bukan cuma soal uang.”
Dia terdiam.
Aku menarik napas.
“Besok kita menemui pengacara.”
Ardi menatapku dengan mata merah.
“Naya bagaimana?”
Kalimat itu akhirnya membuat air mataku jatuh.
“Naya tetap punya ayah.”
Aku menghapus pipiku.
“Tapi aku tidak akan mengajarkan kepada anakku bahwa seorang perempuan harus bertahan dalam pernikahan yang menghancurkan harga dirinya hanya supaya rumah terlihat utuh.”
Ardi menangis malam itu.
Untuk pertama kalinya selama mengenalnya, aku melihat dia menangis.
Tapi anehnya, aku tidak merasa ingin memeluknya.
Dua minggu kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Mira meneleponku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku hampir menolak.
Tapi akhirnya kami bertemu di sebuah kafe kecil.
Wajahnya terlihat semakin kurus.
“Aku mau bilang sesuatu,” katanya.
Dia meletakkan sebuah amplop di meja.
Di dalamnya ada hasil tes DNA.
Aku membaca bagian kesimpulan.
Tanganku kembali dingin.
Probabilitas paternitas: 0%.
Aku menatap Mira.
“Damar bukan anak Ardi?”
Dia menangis.
“Aku juga baru tahu pasti.”
Ternyata sebelum dekat dengan Ardi, Mira memiliki hubungan dengan seorang pria bernama Dimas.
Hubungan itu berakhir tidak baik.
Beberapa minggu setelah perpisahan mereka, Mira mulai dekat dengan Ardi.
Ketika tahu dirinya hamil, berdasarkan perkiraan usia kandungan, Mira sendiri tidak yakin siapa ayahnya.
“Aku pernah bilang ke Ardi.”
Aku tertegun.
“Kapan?”
“Waktu hamil dua bulan.”
“Dia tahu ada kemungkinan Damar bukan anaknya?”
Mira mengangguk.
“Dia bilang tidak masalah.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
Mira menunduk.
“Dia bilang dia sudah telanjur bilang ke keluarganya bahwa aku hamil anaknya.”
“Keluarganya?”
Mira terlihat bingung melihat reaksiku.
“Bukannya keluarganya tahu?”
Aku menggeleng.
Kemudian Mira menceritakan sesuatu yang justru menjadi potongan terakhir dari seluruh kebohongan itu.
Selama hampir satu tahun, Ardi ternyata mengaku kepada sebagian kerabat jauhnya bahwa aku yang meninggalkan rumah.
Dia bahkan mengatakan aku memiliki hubungan dengan pria lain.
Dengan cerita itu, Ardi membangun citra sebagai suami yang dikhianati.
Dan ketika Mira hamil, dia mengatakan bahwa akhirnya Tuhan memberinya kesempatan membangun keluarga baru.
Aku pulang dari pertemuan itu dengan satu perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Lebih seperti akhirnya melihat seseorang tanpa topengnya.
Perceraian kami berjalan beberapa bulan.
Ardi sempat mencoba membujuk.
Mengirim bunga.
Mengirim pesan panjang.
Menunggu di depan kantor.
Bahkan meminta orang tuanya datang membicarakan perdamaian.
Namun ada sesuatu dalam diriku yang sudah berubah.
Kepercayaan bukan seperti kaca yang bisa dilem ulang dan terlihat sama.
Kadang setelah pecah, bentuknya memang tidak bisa dikembalikan.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi diputus.
Rumah dijual dan hasilnya dibagi sesuai kesepakatan.
Hak pengasuhan utama Naya berada padaku, tetapi aku tidak pernah menghalangi Ardi menemuinya.
Aku tidak ingin menjadikan anak sebagai senjata.
Mira sendiri akhirnya pergi dari Bekasi.
Dia kembali ke rumah ibunya di Semarang bersama Damar.
Beberapa bulan setelah itu, kabarnya Dimas menjalani tes DNA kedua dan hasilnya menunjukkan dia memang ayah biologis Damar.
Mereka tidak kembali menjadi pasangan.
Tapi Dimas mulai bertanggung jawab terhadap anaknya.
Sedangkan Ardi?
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar harus hidup sendiri.
Suatu sore, hampir setahun setelah semuanya terbongkar, Ardi datang menjemput Naya.
Setelah Naya masuk ke mobil, dia berdiri sebentar di depanku.
“Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin karena sekarang aku tidak lagi hidup dalam kebohongan.”
Dia menunduk.
“Kalau waktu itu ponselnya tidak tertukar… mungkin kamu tidak akan pernah tahu.”
Aku memandang Naya yang sedang melambaikan tangan dari dalam mobil.
Lalu aku menjawab pelan.
“Mungkin.”
Aku teringat pagi itu.
Dua ponsel hitam yang sama.
Tangan kecil putriku yang tanpa sengaja menukarnya.
Sebuah notifikasi.
Sebuah nama kontak palsu.
PENJUAL SUSU.
Kesalahan kecil yang menghancurkan pernikahanku.
Tapi sekarang aku tidak lagi melihatnya sebagai kehancuran.
Kadang ada sesuatu yang harus runtuh agar kita bisa melihat bahwa fondasinya memang sudah lama retak.
Dan keputusan besar yang dulu begitu kutakuti akhirnya menjadi keputusan terbaik dalam hidupku.
Aku memilih pergi.
Bukan karena aku gagal mempertahankan rumah tangga.
Melainkan karena aku akhirnya mengerti bahwa mempertahankan sebuah pernikahan tidak pernah boleh berarti kehilangan dirimu sendiri.
