Sosok yang muncul di layar itu adalah Ardi.
Namun bukan Ardi dengan setelan jas hitam yang seharusnya berdiri gagah di samping Kirana di pelaminan.
Bukan Ardi yang tersenyum seperti dalam foto-foto prewedding mereka.
Pria itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat, bibir pecah, dan perban melilit sebagian kepalanya. Sebuah selang oksigen terpasang di hidungnya. Di sebelah ranjang berdiri seorang dokter, sementara di belakangnya tampak seorang perawat memegang tablet.
Kirana seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.
“Ardi…”
Suara itu keluar begitu pelan dari bibirnya.
Beberapa tamu yang tadi paling keras berbisik tentang pengantin pria yang kabur kini menundukkan kepala. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi tatapan mengejek.
Hanya keheningan.
Lalu terdengar suara dokter dari pengeras suara.
“Apakah suara kami terdengar jelas di lokasi acara?”
Seorang teknisi panitia yang masih kebingungan segera mengambil mikrofon.
“Ya, Dok. Terdengar.”
Dokter mengangguk.
“Baik. Saya Dokter Fajar dari Rumah Sakit Harapan Medika Bandung. Kami meminta maaf karena menghubungi acara ini dalam kondisi seperti sekarang.”
Kirana berjalan mendekati panggung dengan langkah goyah.
“Apa yang terjadi pada Ardi, Dok?”
Dokter itu memandang ke arah kamera.
“Tadi sekitar pukul satu siang, pasien atas nama Ardi Pratama dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta.”
Suara tangis kecil langsung terdengar dari ibu Ardi.
Wanita itu yang sejak tadi duduk lemas di kursi tamu langsung berdiri.
“Kecelakaan?”
Dokter mengangguk.
“Mobil yang dikendarai pasien bertabrakan setelah pasien berusaha menghindari sebuah kendaraan lain yang berhenti mendadak. Kondisinya sempat tidak sadar ketika tiba di rumah sakit.”
Kirana memegang sisi panggung agar tubuhnya tidak jatuh.
Pikirannya langsung terlempar ke pagi tadi.
Ardi seharusnya meninggalkan hotel tempat keluarganya menginap sekitar pukul dua siang. Jarak menuju gedung pernikahan tidak sampai empat puluh menit.
Namun jika kecelakaan itu terjadi pukul satu siang, berarti Ardi sudah berada di jalan jauh lebih awal.
“Kenapa tidak ada yang memberi tahu kami?” tanya ayah Kirana dengan suara berat.
Dokter menarik napas.
“Ponsel pasien rusak akibat benturan. Dompet dan beberapa barang pribadinya juga sempat tercecer ketika proses evakuasi. Identitasnya baru kami pastikan sekitar setengah jam lalu setelah salah satu anggota keluarga datang.”
Semua orang menoleh.
“Anggota keluarga?” tanya Kirana.
Dokter menggeser tubuh sedikit.
Seorang pria tua kemudian masuk ke dalam gambar.
Kirana membeku.
Ia mengenali orang itu.
Pak Rahmat.
Sopir keluarga Ardi yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun.
Wajah Pak Rahmat tampak basah oleh air mata.
“Maaf, Neng Kirana,” katanya.
“Mengapa Bapak ada di sana?” Kirana bertanya.
Pak Rahmat menunduk.
“Karena saya yang ada bersama Mas Ardi sebelum kecelakaan itu.”
Suasana kembali tegang.
Pak Rahmat mulai bercerita.
Pagi itu, Ardi sebenarnya sudah berpakaian rapi sejak pukul sepuluh. Ia bahkan sempat meminta Pak Rahmat memastikan mobil pengantin sudah bersih.
Namun sekitar pukul sebelas, Ardi menerima sebuah telepon.
Setelah itu wajahnya berubah.
Ia keluar dari kamar hotel dan meminta Pak Rahmat mengantarnya ke sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota.
“Tapi Mas Ardi bilang saya tidak boleh memberi tahu siapa-siapa,” ujar Pak Rahmat.
Kirana mengernyit.
“Kenapa?”
Pak Rahmat menatap kamera dengan ragu.
“Saya sendiri awalnya tidak tahu.”
Tepat saat itu, Ardi yang sejak tadi hanya terbaring perlahan membuka mata.
Kirana maju selangkah.
“Ardi?”
Pria itu menggerakkan kepalanya pelan. Wajahnya menahan sakit.
“Kirana…”
Suara lemah itu terdengar melalui pengeras suara.
Air mata Kirana langsung jatuh.
“Kamu kenapa tidak bilang? Kenapa kamu pergi sendirian?”
Ardi mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya malah terlihat menyakitkan.
“Aku pikir… aku bisa menyelesaikan semuanya sebelum akad.”
“Menyelesaikan apa?”
Ardi terdiam.
Semua tamu mendengarkan.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Kirana mulai takut pada jawaban berikutnya.
“Ada seseorang yang harus kutemui.”
Bisikan kembali muncul di antara para tamu.
Namun kali ini tak seorang pun berani langsung mengambil kesimpulan.
“Siapa?” tanya Kirana.
Ardi memejamkan mata sejenak.
“Seorang perempuan.”
Jantung Kirana seolah jatuh.
Ibunya langsung memegang lengannya.
Beberapa tamu saling berpandangan.
Seseorang di belakang bahkan berbisik, “Jangan-jangan…”
Ardi rupanya mendengar kegaduhan itu.
“Bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Ia menarik napas susah payah.
“Namanya Bu Lilis.”
Kirana menatap layar tanpa berkedip.
“Aku tidak mengenalnya.”
“Aku tahu.”
Ardi menelan ludah.
“Karena aku memang tidak pernah menceritakannya.”
Sekitar enam bulan sebelumnya, Ardi pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan kecil saat pulang kerja. Waktu itu hujan turun sangat deras. Seorang pengendara motor terjatuh di depan mobilnya setelah tersenggol kendaraan lain.
Ardi berhenti untuk menolong.
Korban adalah seorang pria bernama Damar, buruh gudang berusia tiga puluh tujuh tahun.
Damar mengalami cedera tulang belakang cukup serius.
Meskipun polisi sudah memastikan Ardi bukan penyebab kecelakaan, Ardi merasa bersalah karena ia adalah orang pertama yang melihat Damar tergeletak di jalan.
Ia kemudian mengetahui bahwa Damar adalah tulang punggung keluarga.
Istrinya, Lilis, sedang hamil tujuh bulan.
Mereka juga merawat seorang ibu yang sakit-sakitan.
Tanpa memberi tahu siapa pun, Ardi membantu biaya pengobatan Damar selama beberapa bulan.
Kirana terdiam mendengarnya.
“Kenapa kamu merahasiakannya dariku?”
“Aku takut kamu mengira aku terlalu ikut campur.”
“Itu alasanmu?”

Ardi tersenyum tipis.
“Dan karena uang yang kupakai berasal dari tabunganku untuk bulan madu kita.”
Beberapa tamu spontan terdiam lebih dalam.
Kirana menutup wajahnya.
Ia teringat beberapa bulan terakhir ketika Ardi terus menolak rencana bulan madu ke Jepang.
Katanya pekerjaan sedang sulit.
Kirana sempat kesal.
Bahkan pernah menuduh Ardi terlalu perhitungan.
Ternyata uang itu digunakan untuk membantu seseorang.
“Tapi kenapa hari ini?” tanya Kirana.
Ardi menjawab dengan suara semakin pelan.
“Pagi tadi Bu Lilis menelepon.”
Damar mendadak mengalami komplikasi serius.
Dokter meminta keluarga segera mengurus tindakan operasi lanjutan.
Lilis panik karena biaya yang dibutuhkan cukup besar.
Ardi tahu hari itu adalah hari pernikahannya.
Ia tahu seharusnya tidak pergi.
Namun ia juga tahu bahwa jika terlambat beberapa jam, kondisi Damar bisa semakin buruk.
“Aku cuma mau mengantar dokumen jaminan pembayaran,” ujar Ardi. “Aku pikir hanya setengah jam.”
Kirana menangis.
“Kenapa kamu tidak meneleponku?”
“Aku takut kamu khawatir.”
“Dan sekarang aku tidak khawatir?”
Nada suara Kirana pecah.
Beberapa orang menahan napas.
Ardi hanya bisa menunduk.
“Aku salah.”
Pak Rahmat kemudian melanjutkan.
Setelah urusan di rumah sakit selesai, Ardi mendesak untuk segera kembali ke gedung pernikahan.
Namun di perjalanan, ia menerima kabar bahwa operasi Damar dapat dilakukan.
Ardi begitu lega.
Beberapa menit kemudian, kecelakaan terjadi.
Mobil mereka hampir menghantam sebuah minibus yang berhenti mendadak.
Pak Rahmat selamat karena benturan terjadi di sisi penumpang.
Ardi yang duduk di depan mengalami luka paling berat.
“Mas Ardi masih sempat sadar beberapa menit,” kata Pak Rahmat. “Yang pertama ditanyakan bukan kondisinya sendiri.”
Kirana mengusap air matanya.
“Dia bertanya apa?”
Pak Rahmat terisak.
“Dia bertanya sekarang jam berapa. Dia takut Mbak Kirana menunggu.”
Suasana di taman langsung berubah.
Seorang perempuan tua di kursi belakang mulai menangis.
Orang-orang yang sebelumnya menuduh Ardi kabur tampak semakin tidak nyaman.
Namun dokter Fajar kemudian mengangkat tangan.
“Maaf, ada satu hal lagi yang harus kami sampaikan.”
Kirana langsung tegang.
“Bagaimana kondisi Ardi sebenarnya, Dok?”
Dokter memandang Ardi, lalu kembali melihat kamera.
“Pasien mengalami gegar otak ringan dan patah tulang pada lengan kiri. Namun secara keseluruhan, kondisinya stabil.”
Semua orang serempak menghela napas lega.
Ibu Ardi bahkan langsung terduduk sambil menangis.
Namun dokter belum selesai.
“Masalahnya, pasien terus memaksa pulang.”
Beberapa tamu tertawa kecil karena lega.
Ardi terlihat salah tingkah.
“Aku cuma ingin akadnya tetap berlangsung.”
“Dengan kondisi seperti itu?” Kirana menegur.
“Aku sudah membuatmu menunggu dua jam.”
“Kamu hampir kehilangan nyawa dan masih memikirkan dekorasi?”
Ardi terdiam.
Kirana menatap layar cukup lama.
Lalu tiba-tiba ia melepaskan veil panjang dari rambutnya.
Ibunya terkejut.
“Kirana, kamu mau apa?”
Kirana menoleh ke koordinator acara.
“Mobil saya masih ada?”
“Ada.”
“Siapkan.”
Semua orang menatapnya.
Ayah Kirana maju.
“Kamu mau ke rumah sakit?”
Kirana mengangguk.
“Akadnya pindah ke sana.”
Sejumlah tamu langsung terkejut.
“Kirana,” ujar ibunya, “kamu tidak perlu memaksakan diri. Kita bisa tunda sampai Ardi sembuh.”
Namun Kirana menggeleng.
“Aku sudah menunggu hari ini selama delapan tahun.”
Ia menatap layar.
“Kalau calon suamiku tidak bisa datang ke pelaminan, pelaminannya yang akan datang kepadanya.”
Suara tepuk tangan terdengar dari satu sisi taman.
Kemudian semakin besar.
Dalam hitungan menit, suasana yang sebelumnya dipenuhi bisikan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Dekorasi bunga kecil dilepas dari meja utama.
Penghulu dihubungi.
Keluarga inti bersiap berangkat menuju rumah sakit.
Sementara tamu lainnya tetap tinggal dan menyaksikan prosesi melalui siaran langsung.
Sekitar empat puluh menit kemudian, Kirana tiba di rumah sakit masih mengenakan gaun pengantinnya.
Perawat sampai terpaku ketika melihatnya berjalan di lorong IGD sambil membawa buket bunga yang tadi sempat ia buang ke sofa karena kecewa.
Saat pintu kamar Ardi dibuka, pria itu langsung menangis.
“Kamu benar-benar datang?”
Kirana berdiri di depan ranjang.
“Katanya kamu mau menikahiku hari ini.”
Ardi tertawa kecil sambil menangis.
“Masih mau?”
Kirana mengangkat alis.
“Setelah bikin aku malu di depan hampir empat ratus orang?”
Ardi diam.
Kirana mendekat.
“Sayangnya, aku sudah terlanjur cinta.”
Prosesi akad akhirnya dilakukan di sebuah ruang perawatan VIP sederhana.
Tidak ada lorong bunga panjang.
Tidak ada lampu kristal.
Tidak ada musik megah.
Ardi mengucapkan ijab kabul sambil duduk di ranjang dengan lengan terbalut gips.
Namun ketika penghulu menyatakan pernikahan mereka sah, suara takbir dan tepuk tangan terdengar tidak hanya dari dalam ruangan, tetapi juga dari layar ponsel serta siaran langsung yang ditonton ratusan tamu di gedung pernikahan.
Kirana menangis dalam pelukan ibunya.
Untuk sesaat, semua kekacauan hari itu terasa berakhir dengan indah.
Namun kejutan terbesar ternyata belum datang.
Seorang perawat mengetuk pintu.
“Maaf, ada keluarga pasien lain yang ingin bertemu Pak Ardi.”
Seorang perempuan masuk dengan langkah pelan.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Wajahnya lelah.
Perutnya membesar.
Di belakangnya ada seorang pria menggunakan kursi roda.
Ardi terkejut.
“Bu Lilis?”
Perempuan itu mengangguk.
Pria di kursi roda adalah Damar.
Orang yang selama berbulan-bulan dibantu Ardi secara diam-diam.
Damar baru selesai menjalani tindakan medis darurat.
Dengan suara bergetar ia berkata, “Saya dengar Mas Ardi kecelakaan setelah dari tempat saya.”
Ardi menggeleng.
“Bukan salah siapa-siapa.”
Damar menatap Kirana.
“Kami bahkan tidak tahu hari ini hari pernikahan Mas Ardi.”
Lilis kemudian mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya.
“Kami datang bukan cuma untuk berterima kasih.”
Ardi mengernyit.
“Apa itu?”
Lilis menyerahkan amplop tersebut kepada Kirana.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah surat.
Kirana membaca tulisan di bagian atas.
Ia langsung menatap Ardi.
“Ini apa?”
Ardi ikut terlihat bingung.
Damar menjelaskan.
Beberapa minggu sebelumnya, sebuah perusahaan tempat Ardi bekerja diam-diam melakukan seleksi internal untuk posisi direktur operasional.
Pimpinan perusahaan tidak hanya menilai kinerja.
Mereka juga melakukan pemeriksaan latar belakang kandidat.
Tanpa Ardi ketahui, bantuan yang ia berikan kepada keluarga Damar diketahui oleh salah satu komisaris perusahaan.
Bukan dari media.
Bukan dari unggahan sosial.
Bukan karena Ardi menceritakannya.
Melainkan dari rumah sakit yang pernah menghubungi perusahaan untuk memverifikasi data administrasi penjamin.
Komisaris itu kemudian melakukan pengecekan.
Ia menemukan bahwa selama bertahun-tahun Ardi beberapa kali membantu karyawan kontrak, petugas kebersihan, dan keluarga pekerja yang mengalami kesulitan, tanpa pernah mengajukan penggantian dana ataupun membicarakannya kepada orang lain.
Surat yang kini dipegang Kirana adalah surat keputusan promosi.
Ardi resmi diangkat menjadi direktur operasional mulai bulan berikutnya.
Bukan hanya itu.
Perusahaan juga memberikan program bantuan medis kepada Damar setelah mengetahui kondisinya.
Ardi terdiam lama.
“Kenapa suratnya ada pada kalian?”
Lilis tersenyum sambil menangis.
“Pihak kantor tadi mengirimkannya ke rumah. Karena Mas Ardi sulit dihubungi, mereka menghubungi nomor saya yang tercatat sebagai salah satu penerima bantuan.”
Damar menatap Ardi.
“Mas mungkin mengira selama ini Mas hanya membantu satu keluarga kecil.”
Ia menggenggam tangan istrinya.
“Tapi kebaikan itu ternyata kembali pada hari ketika Mas sendiri sedang jatuh.”
Kirana menoleh kepada suaminya.
Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Bandung.
Pernikahan mereka memang tidak berjalan seperti rencana.
Hampir empat ratus tamu sempat mengira Ardi kabur.
Kirana sempat merasa menjadi perempuan paling dipermalukan di dunia.
Dekorasi mewah yang mereka siapkan berbulan-bulan bahkan tidak pernah digunakan untuk akad.
Namun malam itu, Kirana justru mengerti satu hal yang tidak pernah bisa dibeli dengan pesta ratusan juta rupiah.
Ia menikahi seorang pria yang mungkin buruk dalam memberi kabar.
Pria yang keras kepala.
Pria yang membuatnya menangis berjam-jam.
Namun juga pria yang masih sempat memikirkan nasib orang lain beberapa jam sebelum pernikahannya sendiri.
Kirana menggenggam tangan Ardi.
“Setelah sembuh, ada satu aturan baru dalam rumah tangga kita.”
Ardi menatapnya waspada.
“Apa?”
“Kalau mau menyelamatkan dunia, bilang istri dulu.”
Semua orang di ruangan tertawa.
Ardi pun tertawa sampai meringis kesakitan.
“Siap, Bu Direktur.”
Kirana memukul pelan bahunya.
Beberapa hari kemudian, sebuah foto dari pernikahan mereka beredar luas.
Bukan foto di pelaminan mewah.
Bukan foto dengan dekorasi bunga senilai puluhan juta rupiah.
Melainkan foto Kirana yang masih mengenakan gaun pengantin, duduk di samping ranjang rumah sakit sambil menggenggam tangan Ardi yang dibalut perban.
Di bawah foto itu, seseorang menulis satu kalimat sederhana.
Kadang seseorang terlihat seperti sedang meninggalkan kita, padahal sebenarnya ia sedang berjuang melakukan sesuatu yang belum sempat ia jelaskan.
Dan sejak hari itu, orang-orang yang hadir di pesta pernikahan Kirana tidak lagi mengingat kisah tentang pengantin pria yang kabur.
Mereka mengingat sebuah pernikahan yang nyaris batal karena prasangka.
Lalu justru menjadi bukti bahwa sebelum menilai seseorang dari apa yang terlihat, terkadang kita hanya perlu menunggu sedikit lebih lama sampai kebenaran akhirnya datang.
