Aku baru mengetahui bahwa namaku mungkin bukan Hara Putra ketika hasil tes DNA itu datang keesokan paginya.
Dokter belum mengatakan apa-apa, tetapi aku tahu sesuatu telah terjadi karena semua orang dewasa di ruangan mendadak bertingkah aneh.
Rangga berhenti mengetik di ponselnya. Bu Sari menutup buku catatan. Bu Ratih menggenggam ujung selimutku erat-erat. Sementara Pak Aditya berdiri di depan jendela, seolah takut berbalik.
Dokter menyerahkan sebuah map putih.

“Hasilnya menunjukkan probabilitas hubungan biologis sebesar 99,99 persen.”
Aku tidak mengerti angka itu.
“Jadi?”
Pak Aditya akhirnya menoleh.
“Kamu Nara.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu aku mengambil permen stroberi dari bawah bantal dan memasukkannya ke saku.
“Kalau begitu, aku boleh pulang?”
Pak Aditya langsung mendekat.
“Tentu.”
“Bukan ke rumah Om.”
Langkahnya berhenti.
“Aku harus pulang ke Bu Mira.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratih yang pertama bereaksi. “Untuk apa kembali kepada perempuan yang memperlakukanmu seperti itu?”
“Barang-barangku masih di sana.”
“Apa yang begitu penting?”
Aku menghitung dengan jari.
“Dua kaus, satu celana sekolah, buku gambar, kotak pensil, sama celengan.”
Pak Aditya berjongkok di samping ranjang.
“Semua itu bisa Ayah belikan lagi.”
Kata terakhir membuatku menatapnya.
Ayah.
Selama delapan tahun, kata itu hanya kukenal dari buku pelajaran dan percakapan anak-anak lain.
Aku tidak tahu bagaimana seharusnya rasanya memiliki seseorang yang boleh dipanggil begitu.
“Aku tetap mau mengambil celenganku.”
“Berapa isinya?”
“Rp37.500.”
Rangga menundukkan wajah. Entah kenapa ia terlihat seperti sedang menahan sesuatu.
Aku segera menjelaskan, “Itu banyak. Aku mengumpulkannya hampir dua tahun.”
Pak Aditya mengangguk.
“Baik. Kita ambil semuanya.”
Bu Sari langsung berkata bahwa polisi akan ikut.
Sore itu, dua mobil polisi berhenti di depan rumah Bu Mira.
Aku duduk di dalam mobil Pak Aditya sambil memeluk tas berisi pakaian baru dari rumah sakit. Pak Aditya duduk di sebelahku, tetapi sejak perjalanan dimulai ia tidak pernah memaksaku berbicara.
Ketika melihat rumah itu, perutku tiba-tiba sakit.
Lampu ruang tamu menyala.
Di balik tirai, aku melihat bayangan seseorang bergerak.
Bu Sari masuk lebih dulu bersama dua polisi. Beberapa menit kemudian terdengar suara Bu Mira berteriak.
“Fitnah! Anak itu pembohong!”
Aku refleks mengecilkan tubuh.
Pak Aditya langsung menyadarinya.
“Kamu tidak perlu masuk.”
“Tapi celenganku.”
“Saya yang ambil.”
“Om tidak tahu tempatnya.”
Pak Aditya terdiam.
Akhirnya kami masuk bersama.
Bu Mira berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat. Dito bersembunyi di belakang tubuhnya sambil memegang mobil mainan.
Begitu melihatku, Bu Mira menunjuk.
“Hara! Bilang kepada mereka! Bilang Ibu menemukanmu di sungai!”
Aku berhenti.
Entah kenapa, melihatnya sekarang terasa berbeda.
Biasanya tubuh Bu Mira tampak sangat besar. Suaranya selalu membuat rumah terasa sempit.
Hari itu, ia terlihat kecil.
Pak Aditya berdiri satu langkah di belakangku.
Bu Sari berkata, “Kami sudah mendapatkan hasil DNA.”
Bu Mira membeku.
“Anak ini adalah Nara Kembali Pradana, putri kandung Pak Aditya Pradana.”
Wajah Bu Mira kehilangan warna.
Aku menatapnya.
“Bu, dulu benar menemukanku di sungai?”
Bibirnya bergerak.
“Iya.”
“Di mana?”
“Cikapundung.”
“Bagian mana?”
Ia tidak menjawab.
Bu Sari mengeluarkan sebuah foto lama dari map.
“Lima tahun lalu, kamera pengawas sebuah minimarket merekam seorang perempuan membawa anak kecil dari area taman dekat Jalan Asia Afrika. Rekamannya buram sehingga wajah pelaku tidak teridentifikasi.”
Foto itu diletakkan di meja.
Aku melihat seorang perempuan mengenakan jaket panjang sambil menggendong anak kecil.
Bu Mira mundur.
“Bukan saya.”
“Belum ada yang mengatakan itu Anda,” jawab Bu Sari.
Wajah Bu Mira berubah.
Aku tidak mengerti kenapa semua orang langsung memandangnya.
Bu Sari kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong barang bukti.
Sebuah gelang kecil berwarna perak.
Jantungku berdegup aneh.
Aku mengenal gelang itu.
Bu Mira menyimpannya di dalam kotak jahit dan pernah memukul tanganku ketika aku mencoba menyentuhnya.
“Ini ditemukan di kamar Anda,” kata Bu Sari.
Pak Aditya mendadak menarik napas tajam.
Ia mengambil gelang tersebut dengan tangan gemetar.
Di bagian dalamnya terukir satu kata.
Nara.
Bu Mira mulai menangis.
Namun yang terjadi selanjutnya justru membuat semua orang terdiam.
Ia berlutut di lantai.
“Saya tidak menculiknya.”
Aku memandangnya.
Bu Mira menangis semakin keras.
“Saya dibayar.”
Pak Aditya bergerak maju, tetapi Rangga segera menahan lengannya.
“Dibayar siapa?”
Bu Mira menutup wajah.
“Seorang perempuan.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu namanya.”
Pak Aditya membanting telapak tangan ke meja.
“Jangan bohong!”
Aku belum pernah melihatnya semarah itu.
Dito langsung menangis.
Anehnya, tubuhku bergerak lebih dulu. Aku berdiri di depan Dito.
Pak Aditya langsung berhenti.
Aku sendiri terkejut.
Dito sering mengambil makananku. Ia pernah merobek buku gambarku dan membiarkanku dihukum karenanya.
Tetapi ia tetap anak enam tahun yang sedang ketakutan.
Pak Aditya menurunkan tangannya.
“Maaf.”
Bu Mira akhirnya mengaku.
Lima tahun lalu, seseorang menghubunginya melalui seorang perantara. Saat itu suaminya baru meninggal dan ia terlilit utang. Ia diminta mengambil seorang anak dari taman, membawa anak itu keluar kota selama beberapa bulan, lalu menyerahkannya kepada orang lain.
Imbalannya Rp50 juta.
Namun orang yang seharusnya mengambilku tidak pernah datang.
Bu Mira panik.
Ia kemudian memutuskan membesarkanku sendiri.
“Kenapa tidak menyerahkanku ke polisi?”
Ia menatap lantai.
“Karena saya takut ditangkap.”
“Lalu kenapa bilang menemukanku di sungai?”
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan ke kamar.
Celenganku masih berada di bawah tempat tidur.
Aku mengambilnya bersama kotak pensil dan buku gambar.
Ketika hendak keluar, Dito berdiri di pintu.
Matanya bengkak.
“Kak.”
Aku menunggu.
“Kalau Kakak pergi, siapa yang dihukum kalau aku nakal?”
Aku memandangnya lama.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa mungkin Dito juga tidak pernah diajari sesuatu yang benar.
“Kamu sendiri.”
Wajahnya langsung ketakutan.
Aku menggeleng.
“Bukan berarti dipukul. Kalau salah, ya bilang salah. Terus perbaiki.”
Aku mengeluarkan permen stroberi dari saku.
Permen untuk diriku yang besok.
Aku menyerahkannya kepada Dito.
“Ini buat kamu.”
Ia menerimanya dengan kedua tangan.
Aku keluar tanpa menoleh lagi.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata baru dimulai.
Polisi menahan Bu Mira untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara Dito dititipkan sementara kepada bibinya.
Aku pindah ke rumah Pak Aditya.
Rumahnya terlalu besar.
Kamar tidurku bahkan lebih luas daripada seluruh rumah Bu Mira. Ada lemari penuh pakaian, meja belajar, boneka, buku, bahkan kamar mandi sendiri.
Malam pertama, aku justru tidur di lantai.
Pak Aditya menemukanku sekitar pukul dua pagi.
Ia tidak memarahiku.
Ia hanya duduk di lantai.
“Kasurnya terlalu empuk?” tanyanya.
“Takut mengotorinya.”
“Kotor bisa dicuci.”
“Kalau rusak?”
“Bisa diperbaiki.”
“Kalau aku salah?”
Ia menatapku.
“Kalau kamu salah, kita bicarakan.”
“Tidak dipukul?”
“Tidak.”
Aku masih tidak percaya.
“Kalau aku mengambil ayam dua potong?”
“Kamu boleh mengambil tiga.”
“Kalau empat?”
“Kalau masih lapar, ambil empat.”
“Kalau lima?”
Pak Aditya tertawa kecil.
Itu pertama kalinya aku melihatnya tertawa.
“Kalau lima, Ayah akan bertanya apakah kamu mau nasi tambahan.”
Aku akhirnya naik ke kasur.
Tetapi beberapa hari kemudian, sebuah masalah baru muncul.
Bu Ratih membawa beberapa album foto lama.
Ia menunjukkan foto ibuku, Maya Wibisana.
Aku terdiam.
Wajahnya memang mirip denganku.
Mata yang ujungnya sedikit turun. Lesung pipi kiri. Bahkan bentuk dagunya.
“Ibumu meninggal dua tahun setelah kamu hilang,” kata Bu Ratih.
“Karena sakit?”
Pak Aditya langsung berdiri.
Bu Ratih menatapnya.
“Sudah waktunya.”
Aku menunggu.
Pak Aditya duduk di depanku.
“Ibumu meninggal dalam kecelakaan mobil.”
Aku mengangguk.
Namun Bu Ratih menambahkan sesuatu.
“Kecelakaan itu terjadi setelah Maya menerima pesan bahwa seseorang mengetahui keberadaanmu.”
Aku merasakan udara di ruangan berubah.
Polisi membuka kembali kasus tersebut.
Penyelidikan terhadap rekening lama Bu Mira akhirnya menemukan transaksi Rp50 juta dari sebuah perusahaan cangkang yang sudah dibubarkan.
Rangga menelusuri dokumennya.
Perusahaan itu ternyata terhubung dengan seseorang yang tidak pernah dicurigai keluarga kami.
Namanya Surya Pradana.
Adik kandung Pak Aditya.
Pamanku sendiri.
Ketika polisi datang ke kantor Pradana Group, Surya tidak melarikan diri.
Ia bahkan tersenyum.
“Akhirnya kalian tahu.”
Pak Aditya hampir menerjangnya.
Surya mengaku bahwa delapan tahun lalu perusahaan keluarga sedang mempersiapkan pembagian saham warisan.
Dalam surat wasiat kakekku, sebagian besar saham akan jatuh kepada keturunan pertama Pak Aditya.
Yaitu aku.
Selama aku hilang dan dianggap mungkin meninggal, pembagian saham itu tertunda.
Surya berharap setelah beberapa tahun, keluarga menyerah mencariku.
Namun ibuku tidak pernah menyerah.
Ketika Maya mulai mendekati orang yang membawa aku pergi, Surya mengatur kecelakaan itu.
Aku mendengar semuanya dari balik pintu ruang penyidik.
Tanganku dingin.
Bukan karena hujan.
Pak Aditya keluar dan menemukan aku berdiri di sana.
Ia tidak menjelaskan apa pun.
Ia hanya berlutut.
Aku bertanya, “Ibu meninggal karena mencariku?”
Wajahnya hancur.
“Bukan salahmu.”
“Tapi kalau aku tidak hilang…”
“Nara.”
Ia memegang kedua bahuku dengan sangat hati-hati.
“Ibumu tidak meninggal karena mencarimu. Ibumu hidup dengan mencintaimu. Itu berbeda.”
Aku menangis untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Bu Mira.
Bukan tangisan karena lapar.
Bukan karena dipukul.
Bukan karena kedinginan.
Aku menangis untuk seorang perempuan yang wajahnya hanya kukenal dari foto, tetapi selama lima tahun tidak pernah berhenti mencari jalan agar aku bisa pulang.
Surya akhirnya ditangkap. Penyelidikan menemukan cukup banyak bukti untuk menjeratnya atas penculikan, konspirasi, dan keterlibatannya dalam kematian ibuku.
Bu Mira juga diproses hukum.
Namun sebelum persidangan, ia meminta bertemu denganku.
Pak Aditya menolak.
Aku justru ingin datang.
Bu Mira duduk di balik meja ruang kunjungan tahanan.
Untuk pertama kalinya ia tidak berani menatap mataku.
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku,” katanya.
Aku mengeluarkan sesuatu dari tas.
Rp10.000.
Uang yang diberikan Rangga ketika Pak Aditya pertama kali meminta melihat tanda lahirku.
Aku meletakkannya di meja.
Bu Mira menatap bingung.
“Dulu Ibu bilang mengambil uang orang lain terlalu banyak akan membuat kita membayar lebih mahal nanti.”
Bibirnya bergetar.
“Aku pikir Ibu benar.”
Aku berdiri.
“Hanya saja Ibu lupa mengikuti nasihat sendiri.”
Aku pergi.
Setahun kemudian, poster orang hilang yang kutemukan di belakang ruko dipasang dalam bingkai kaca di rumah.
Bukan karena Pak Aditya ingin mengenang masa buruk.
Ia bilang poster itu adalah bukti bahwa jalan pulang kadang ditemukan di tempat yang paling tidak masuk akal.
Pada ulang tahunku yang kesembilan, aku meminta satu hal.
Bukan boneka.
Bukan ponsel.
Bukan perjalanan ke luar negeri.
Aku meminta Pak Aditya membuka rumah singgah untuk anak-anak yang mengalami kekerasan atau kehilangan keluarga.
Ia bertanya apa nama yang kuinginkan.
Aku berpikir cukup lama.
Lalu kujawab, “Rumah Kembali.”
Di hari peresmian, aku berdiri di depan bangunan itu sambil memegang semangkuk mi sapi.
Dagingnya banyak.
Pak Aditya duduk di sebelahku.
“Kamu masih menyimpan makanan di saku?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Sudah tidak.”
“Kenapa?”
Aku mengambil satu potong daging dan memakannya.
“Karena sekarang aku tahu besok masih ada makanan.”
Pak Aditya tersenyum, tetapi matanya memerah.
Aku menyenggol lengannya.
“Jangan menangis. Orang-orang melihat.”
“Ayah tidak menangis.”
“Bohong.”
Ia tertawa.
Aku menatap papan bertuliskan Rumah Kembali.
Dulu aku mengira pulang berarti menemukan rumah yang pintunya tidak dikunci ketika hujan turun.
Ternyata aku salah.
Pulang adalah ketika kita tidak lagi menyimpan makanan untuk berjaga-jaga jika besok kelaparan.
Pulang adalah ketika melakukan kesalahan tidak berarti harus menerima pukulan.
Pulang adalah ketika seseorang mencarimu bahkan setelah seluruh dunia menyuruhnya menyerah.
Dan malam itu, sebelum tidur, aku akhirnya melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kulakukan.
Aku meletakkan permen stroberi baru di atas meja.
Tidak kusembunyikan di bawah bantal.
Tidak kusimpan untuk diriku yang besok.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku percaya bahwa ketika besok datang, aku masih akan berada di rumah.
