“Jadi, ternyata kamu sedang menunggu ambulans.”
Suara Mahesa berubah pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar terlihat panik.
Aku tidak menjawab.
Sakit di perutku sudah menjalar sampai ke punggung. Napasku pendek-pendek, telapak tanganku dingin, dan pandanganku mulai berkunang-kunang.
Dua petugas medis berlari mendekat sambil membawa tandu.
“Pasiennya siapa?”
“Saya,” jawabku lirih.

Mahesa masih menggendongku. Seorang petugas segera meminta dia menurunkanku ke atas tandu.
“Apa keluhannya?”
“Perutnya sakit,” Mahesa menjawab lebih dulu. “Sepertinya lambung. Dia sering telat makan.”
Aku membuka mata.
“Bukan kamu yang ditanya.”
Mahesa terdiam.
Petugas itu memeriksa tekanan darahku lalu bertanya beberapa hal. Kapan sakitnya mulai terasa, apakah aku muntah, apakah pernah mengalami nyeri serupa.
Aku berusaha menjawab satu per satu.
Di belakang mereka, Kalista akhirnya keluar dari mobil.
Dia berdiri di bawah payung sambil memeluk dirinya sendiri. Wajahnya pucat dan terlihat rapuh seperti yang selama ini diceritakan Mahesa.
“Mas,” panggilnya.
Hanya satu kata.
Namun Mahesa langsung menoleh.
“Aku takut.”
Aku bahkan hampir tertawa.
Di tengah aku yang sedang dinaikkan ke ambulans, hanya dengan dua kata itu Kalista kembali berhasil menarik seluruh perhatian Mahesa kepadanya.
“Sebentar, Lis. Safira harus ke rumah sakit.”
Kalista menggigit bibir.
“Aku tahu. Tapi petirnya keras banget.”
Mata Mahesa langsung berubah penuh rasa bersalah.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi.
Mahesa menoleh kepadaku, lalu ke Kalista, seolah sedang dipaksa memilih untuk pertama kalinya.
“Mahesa.”
Aku memanggil namanya.
Dia cepat-cepat mendekat.
“Aku ikut ambulans. Kamu tenang saja. Mobil kita bisa dititipkan dulu di sini.”
Aku menggeleng.
“Nggak perlu.”
“Safira, jangan keras kepala.”
“Aku tidak keras kepala.”
Aku menatap matanya untuk terakhir kali sebelum pintu ambulans ditutup.
“Aku hanya akhirnya belajar untuk tidak menunggu orang yang selalu memilih orang lain.”
Wajah Mahesa menegang.
Pintu ambulans tertutup.
Dari kaca kecil di belakang, aku melihat Kalista kembali berdiri di samping Mahesa.
Dan Mahesa tidak mengejar ambulans.
Entah kenapa, pemandangan itu justru membuatku merasa tenang.
Setidaknya malam ini aku tidak perlu bertanya-tanya lagi.
Sesampainya di IGD, dokter mengatakan aku mengalami gastritis akut yang diperparah kelelahan dan konsumsi alkohol. Aku harus menjalani observasi beberapa jam karena tekanan darahku rendah dan tubuhku mengalami dehidrasi.
Aku berbaring dengan infus terpasang di tangan ketika ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Mahesa.
Aku mematikan layar.
Lima menit kemudian, sebuah pesan muncul.
Safira, aku antar Kalista pulang dulu. Setelah itu aku langsung ke rumah sakit. Kasih tahu kamu di rumah sakit mana.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Bahkan setelah semuanya terjadi, dia masih mengantarkan Kalista lebih dulu.
Aku menghapus pesan itu tanpa membalas.
Sekitar tengah malam, Tania datang membawa jaket dan charger ponsel.
Begitu melihatku, dia langsung menghela napas.
“Gila, Saf. Besok kamu mau pindahan dalam kondisi begini?”
“Aku tetap pergi.”
“Kamu yakin?”
Aku menatap cairan infus yang menetes perlahan.
“Lebih yakin daripada sebelumnya.”
Tania diam sebentar sebelum menarik kursi di samping tempat tidur.
“Aku sebenarnya mau bilang sesuatu dari beberapa hari lalu, tapi takut kamu salah paham.”
Aku menoleh.
“Soal apa?”
“Soal Kalista.”
Nama itu membuat tubuhku otomatis menegang.
Tania membuka ponselnya.
“Temanku kerja di agensi tempat Kalista jadi account executive.”
“Terus?”
“Katanya Kalista sudah punya pacar.”
Aku mengernyit.
“Tidak mungkin.”
“Sudah hampir enam bulan.”
Tania kemudian menunjukkan sebuah foto.
Kalista duduk di sebuah kafe bersama seorang pria. Tidak ada sesuatu yang terlalu intim, tetapi tangan pria itu berada di atas tangan Kalista.
Tanggal unggahannya tiga minggu lalu.
Aku langsung duduk tegak.
“Siapa laki-laki ini?”
“Namanya Raka. Temanku kenal dia. Mereka memang pacaran.”
Kepalaku mendadak penuh dengan berbagai pertanyaan.
“Kalau begitu kenapa setiap hujan dia menelepon Mahesa?”
Tania mengangkat bahu.
“Itulah yang bikin aku merasa kamu perlu tahu.”
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena sakit.
Melainkan karena untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku hanya melihat sebagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Mahesa datang pukul dua pagi.
Begitu memasuki ruang observasi, rambut dan bajunya masih sedikit basah.
Dia langsung mendekat.
“Kenapa kamu nggak jawab telepon?”
Aku menatap jam di dinding.
“Kalista sudah sampai rumah?”
Wajahnya berubah kaku.
“Sudah.”
“Bagus.”
“Aku minta maaf.”
Aku sudah lelah mendengar kalimat itu.
“Aku mau pindah ke Bandung.”
Mahesa membeku.
“Apa?”
“Senin.”
Dia tertawa kecil, seolah mengira aku sedang menggertak.
“Kamu jangan ambil keputusan waktu lagi emosi.”
“Aku menerima promosi.”
“Safira.”
“Dan kita putus.”
Kali ini dia tidak tertawa.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Kamu serius?”
“Serius.”
Mahesa menarik kursi dan duduk sangat dekat denganku.
“Karena Kalista?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Karena kamu.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Aku melepas cincin kecil yang pernah diberikannya pada ulang tahunku dan meletakkannya di meja.
“Kalista mungkin punya masalah. Mungkin traumanya nyata. Mungkin dia benar-benar membutuhkan bantuan.”
Aku menarik napas.
“Tapi bukan itu masalah kita. Masalah kita adalah kamu selalu menjadikan kebutuhannya sebagai alasan untuk mengabaikan kebutuhanku.”
“Aku cuma berusaha menolong seseorang yang pernah mengalami trauma.”
“Lalu perempuan yang dilecehkan kemarin itu siapa?”
Bibir Mahesa terkatup.
Aku melanjutkan.
“Aku nggak pernah minta kamu meninggalkan orang yang sedang dalam bahaya. Aku cuma minta sekali saja, ketika aku juga dalam bahaya, kamu memilih datang kepadaku.”
Mahesa menunduk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.
Pagi harinya aku diizinkan pulang.
Mahesa bersikeras mengantarku, tetapi aku memilih pergi bersama Tania.
Selama tiga hari berikutnya, aku memindahkan sebagian besar barang ke Bandung. Perusahaan memberiku apartemen sementara yang tidak jauh dari kantor cabang.
Mahesa datang ke apartemenku di Surabaya berkali-kali.
Aku tidak pernah membukakan pintu.
Sampai Minggu malam, ketika aku sedang memasukkan pakaian terakhir ke koper, bel berbunyi.
Aku mengira Mahesa lagi.
Namun ketika membuka pintu, yang berdiri di sana justru Kalista.
Sendirian.
Tidak ada Mahesa.
Tidak ada hujan.
Dia mengenakan kemeja putih dan celana jins. Wajahnya jauh berbeda dari perempuan rapuh yang kulihat di mobil malam itu.
“Boleh bicara?”
Aku hampir menutup pintu.
Namun dia berkata cepat.
“Aku datang soal Mahesa.”
Aku membiarkannya masuk.
Kalista duduk di sofa dan langsung menatap koper-koper di ruang tamu.
“Jadi kamu benar-benar pindah?”
“Iya.”
“Mahesa kacau sejak kalian putus.”
“Itu bukan urusanku.”
Kalista terdiam.
Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga keluar dari mulutnya.
“Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena membiarkan semuanya terjadi.”
Dia menggenggam tangannya sendiri.
“Aku memang pernah mengalami kejadian buruk dua tahun lalu. Itu benar. Setelahnya aku takut naik kendaraan sendirian ketika hujan karena kejadian itu memang terjadi saat hujan.”
Aku tidak menyela.
“Tapi aku sudah terapi.”
Kalista menelan ludah.
“Dan kondisiku jauh lebih baik sejak hampir setahun lalu.”
Dadaku seperti ditimpa sesuatu.
“Lalu selama setengah bulan ini?”
“Aku tidak pernah meminta Mahesa menjemputku setiap hari.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Apa maksudmu?”
“Mahesa yang menawarkan.”
Kalista mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan percakapan mereka.
Pesan-pesannya membuat tengkukku dingin.
Hujan deras. Aku jemput kamu, ya.
Tidak usah, aku bisa pesan mobil.
Jangan. Aku tahu kamu masih takut.
Safira bagaimana?
Dia bisa pulang sendiri.
Di percakapan lain, Kalista bahkan beberapa kali menolak.
Aku sudah ada Raka.
Mahesa membalas.
Kalau hujan begini aku tetap lebih tenang kalau aku yang antar.
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”
Mata Kalista memerah.
“Awalnya aku pikir itu bukan urusanku. Kemudian aku mulai sadar dia memakai traumaku untuk membuat dirinya merasa dibutuhkan.”
Aku terdiam.
“Mahesa suka jadi penyelamat,” lanjutnya. “Dia suka ketika seseorang bergantung padanya. Dan mungkin… kamu terlalu mandiri untuk membuatnya merasa seperti itu.”
Tiba-tiba banyak hal menjadi masuk akal.
Setiap kali aku menyelesaikan masalah sendiri, Mahesa selalu berkata aku hebat.
Namun ada nada kecewa yang dulu tidak pernah kusadari.
Sementara ketika Kalista panik, menangis, atau meminta bantuan, Mahesa seolah berubah menjadi manusia paling penting di dunia.
“Raka tahu?”
“Sekarang tahu.”
Kalista tersenyum pahit.
“Dan dia hampir memutuskan aku karena semua ini.”
Aku bersandar ke sofa.
“Mahesa bilang kamu pernah memegang pisau dan mau menyakiti diri sendiri kalau ditinggalkan.”
Wajah Kalista berubah.
“Apa?”
Aku langsung tahu jawabannya.
“Itu bohong?”
“Aku memang pernah mengalami fase buruk setelah kejadian dua tahun lalu. Tapi itu terjadi sebelum aku mengenal Mahesa.”
Untuk beberapa detik, ruang tamu terasa sangat sunyi.
Jadi Mahesa bukan sekadar gagal memilihku.
Dia sengaja membesar-besarkan kondisi Kalista agar tindakannya terlihat benar.
Kalista berdiri.
“Aku datang bukan supaya kamu memaafkan dia. Aku datang karena kamu berhak tahu.”
Sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu.
“Safira.”
Aku menoleh.
“Malam di rumah sakit itu, Mahesa sebenarnya sempat mau mengejar ambulansmu.”
Aku menunggu kelanjutannya.
“Tapi aku bilang aku bisa pulang sendiri.”
Kalista menatapku dengan ekspresi sulit dijelaskan.
“Dia tetap memilih mengantarku.”
Pintu tertutup.
Anehnya, aku tidak menangis.
Justru saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar selesai.
Senin pagi aku terbang ke Bandung.
Ketika pesawat lepas landas, Surabaya di bawah sana tertutup awan tebal.
Mahesa mengirim puluhan pesan.
Yang terakhir berbeda dari biasanya.
Aku baru sadar aku kehilanganmu karena terlalu sibuk ingin menjadi orang yang dibutuhkan semua orang.
Aku membalas untuk pertama dan terakhir kalinya.
Kamu tidak kehilangan aku karena menolong orang lain. Kamu kehilangan aku karena setiap kali aku membutuhkanmu, kamu memilih membuktikan bahwa kebutuhanku tidak sepenting kebutuhan orang lain.
Setelah itu, aku memblokir nomornya.
Enam bulan berlalu.
Hidupku di Bandung ternyata jauh lebih baik daripada yang kubayangkan. Aku mendapat posisi baru, memimpin tim sendiri, dan mulai kembali menjalani terapi untuk memulihkan trauma setelah pelecehan yang kualami.
Aku tidak sembuh dalam semalam.
Kadang-kadang aku masih merasa takut ketika harus naik mobil seorang diri.
Kadang tubuhku menegang ketika pengemudi berbicara terlalu banyak.
Namun perlahan aku belajar bahwa menjadi mandiri bukan berarti harus menghadapi semuanya sendirian.
Suatu sore, hujan turun deras di Bandung.
Aku sedang berdiri di lobi kantor ketika ponselku berbunyi.
Tania mengirim sebuah foto.
Mahesa sedang duduk di sebuah kafe di Surabaya.
Di depannya ada seorang perempuan yang tidak kukenal, sedang menangis sambil memegang tangannya.
Pesan Tania menyusul.
Katanya ini rekan kantor barunya. Sepertinya sekarang dia punya orang lain untuk diselamatkan.
Aku memandang foto itu cukup lama.
Dulu mungkin dadaku akan terasa sakit.
Sekarang aku hanya tersenyum kecil.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
Seorang rekan kerja menghampiriku.
“Safira, hujannya parah. Aku antar?”
Aku melihat ke luar.
Air mengguyur jalanan Bandung hingga lampu kendaraan tampak seperti garis-garis kabur.
Dulu hujan selalu mengingatkanku pada malam ketika seseorang yang kucintai memilih perempuan lain.
Kini hujan hanya hujan.
“Nggak usah,” jawabku. “Aku sudah pesan mobil.”
Dia terlihat khawatir.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Yakin.”
Namun sebelum berjalan keluar, aku membuka aplikasi dan membagikan detail perjalanan kepada Tania.
Aku juga mengaktifkan fitur rekam otomatis dan memeriksa identitas pengemudi dengan teliti.
Bukan karena aku takut hidup.
Melainkan karena sekarang aku tahu perbedaan antara mandiri dan mengabaikan keselamatan diri sendiri.
Mobil berhenti di depan lobi.
Aku membuka pintunya dan masuk.
Saat kendaraan mulai bergerak menerobos hujan, aku melihat pantulan wajahku sendiri di kaca jendela.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perempuan di dalam pantulan itu tidak sedang menunggu siapa pun datang menyelamatkannya.
Dan ternyata, perasaan paling aman yang pernah kurasakan bukan ketika seseorang memilihku dibanding perempuan lain.
Melainkan ketika akhirnya aku belajar memilih diriku sendiri.
