Suamiku Membela Selingkuhannya di Depanku, Lalu Lupa Perjanjian Pranikah Bisa Membuatnya Kehilangan Segalanya

Aku tidak pernah menyangka kalimat sederhana Bima malam itu akan menjadi sesuatu yang terus terngiang di kepalaku.

“Citra, ini yang kamu inginkan, kan? Sekarang aku sudah cukup banyak bicara, belum?”

Dulu aku mengira Bima memang tidak pandai mengungkapkan perasaan. Karena itu aku belajar menerima diamnya, belajar membaca perubahan kecil di wajahnya, bahkan belajar meyakinkan diri bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kata-kata.

Ternyata aku salah.

Bima bukan tidak pandai berbicara.\

Dia hanya tidak ingin berbicara denganku.

Di hadapan Melati, laki-laki yang selama bertahun-tahun kukenal pendiam itu bisa tersenyum, bercanda, bertanya apakah dia lapar, mengingat makanan kesukaannya, bahkan sabar mendengarkan keluhannya tentang hal-hal sepele.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka seperti orang asing.

Ponselku bergetar.

Notifikasi bank masuk.

Uang pengganti gaun telah ditransfer.

Aku melihat jumlahnya, kemudian tersenyum.

“Terima kasih.”

Bima menoleh sekilas.

Mungkin dia mengira aku sedang berterima kasih karena uang itu.

Padahal bukan.

Aku berterima kasih karena transfer tersebut baru saja memberiku bukti pertama yang kubutuhkan.

Aku meninggalkan studio tanpa mengatakan apa pun lagi.

Begitu masuk ke mobil, aku menelepon seseorang yang sudah hampir empat tahun tidak pernah kuhubungi.

“Pak Surya,” kataku.

Suara laki-laki tua terdengar dari seberang.

“Bu Citra?”

“Masih menyimpan salinan perjanjian pranikah saya?”

Dia terdiam beberapa detik.

“Dokumen asli dan seluruh lampirannya masih ada.”

“Bagus.”

Aku menatap gedung studio melalui kaca mobil.

Bima keluar bersama Melati. Tangannya melindungi kepala perempuan itu ketika mereka memasuki mobil karena gerimis mulai turun.

Gerakan kecil yang dahulu selalu dia lakukan kepadaku.

“Besok pagi saya datang.”

Malam itu Bima tidak pulang.

Aku juga tidak menunggunya.

Untuk pertama kalinya selama enam tahun, aku tidur tanpa meninggalkan lampu kamar untuknya.

Keesokan paginya aku menemui Surya Adinata, pengacara keluarga yang menangani perjanjian pranikah kami.

Dia sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya hampir seluruhnya putih, tetapi ingatannya masih tajam.

Surya meletakkan sebuah map tebal di meja.

“Perjanjian ini dibuat atas permintaan ayah Anda dan ayah Pak Bima,” katanya.

“Aku ingat.”

Aku membuka halaman demi halaman.

Ketika kami menikah, keluarga Pramesti dan keluarga Mahendra sama-sama memiliki perusahaan besar. Pernikahan kami bukan pernikahan bisnis, tetapi kedua keluarga tahu cinta tidak selalu bertahan selama aset perusahaan.

Karena itu dibuatlah perjanjian yang sangat rinci.

Salah satu klausulnya sederhana.

Jika salah satu pihak terbukti melakukan perselingkuhan dan menggunakan aset yang diperoleh selama perkawinan untuk membiayai hubungan tersebut, pihak yang bersalah melepaskan hak ekonominya atas aset bersama yang telah ditentukan dalam perjanjian.

Saat menandatanganinya enam tahun lalu, Bima bahkan tertawa.

“Aku tidak mungkin selingkuh.”

Aku juga tertawa.

“Aku juga.”

Kami menandatanganinya tanpa membaca ulang berkali-kali.

Kami terlalu percaya diri terhadap cinta kami sendiri.

“Masalahnya pembuktiannya,” kata Surya.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau dia membeli apartemen untuk perempuan itu?”

Surya mengangkat alis.

“Dengan dana bersama?”

“Kalau mobilnya juga?”

“Semakin kuat.”

“Perhiasan?”

“Lebih kuat lagi.”

Aku tersenyum.

“Kalau cincin berlian merah muda yang seharusnya diberikan kepadaku ternyata diberikan kepada selingkuhannya, kemudian dia menggantinya dengan tiruan?”

Surya akhirnya menatapku lama.

“Bu Citra, apa sebenarnya yang sudah Anda temukan?”

“Belum banyak.”

Aku berdiri.

“Tapi sebentar lagi akan banyak.”

Tiga tahun lalu aku pernah menyewa penyelidik untuk mencari Melati. Bima berhasil menyembunyikannya karena hampir tidak ada aset yang tercatat atas nama perempuan itu.

Sekarang aku tahu alasannya.

Aku mencari dari arah yang salah.

Aku mencari Melati.

Seharusnya aku mencari uang Bima.

Selama dua minggu berikutnya, aku tidak mengubah apa pun di rumah.

Aku tetap sarapan bersama Bima ketika dia pulang. Tetap menghadiri acara perusahaan di sampingnya. Tetap tersenyum ketika kamera mengarah kepada kami.

Bima bahkan menjadi sedikit lebih baik kepadaku.

Mungkin karena dia merasa bersalah setelah kejadian di studio.

Suatu malam dia membawakan cheesecake kesukaanku.

“Jangan terlalu memikirkan kejadian kemarin,” katanya.

Aku mengambil satu suapan.

“Yang mana?”

“Melati.”

Aku meletakkan sendok.

Bima menatapku hati-hati.

“Aku tidak akan menceraikanmu.”

Aku hampir tertawa.

Dia mengucapkannya seperti hadiah.

“Melati juga tidak meminta posisi kamu,” lanjutnya. “Dia hanya membutuhkan aku.”

“Begitu?”

“Jadi jangan membuat masalah. Kita bisa tetap seperti sekarang.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Wajah Bima terlihat lega.

Dia tidak tahu bahwa pagi itu Surya baru saja mengirimkan laporan setebal seratus dua puluh halaman kepadaku.

Apartemen mewah di Jakarta Selatan.

Sebuah mobil Eropa.

Biaya perjalanan ke Bali, Singapura, dan Jepang.

Tas bermerek.

Perhiasan.

Biaya kuliah pascasarjana yang belum pernah diselesaikan Melati.

Bahkan modal produksi untuk program televisi tempatnya bekerja.

Semuanya berasal dari perusahaan investasi yang dibentuk Bima dua tahun setelah pernikahan kami.

Perusahaan itu termasuk aset yang secara eksplisit tercakup dalam perjanjian pranikah.

Jumlah keseluruhannya hampir tiga puluh miliar rupiah.

Namun kejutan terbesar bukan uang.

Melainkan cincin merah muda itu.

Cincin asli dibeli Bima empat tahun lalu menggunakan rekening bersama kami sebagai hadiah ulang tahunku.

Tiga hari setelah pembelian, cincin tersebut diasuransikan atas nama Melati Prameswari.

Aku menatap dokumennya lama sekali.

Ternyata perselingkuhan mereka bukan dimulai tiga tahun lalu.

Melainkan setidaknya empat tahun lalu.

Pada hari ulang tahunku tahun itu, Bima memasangkan cincin palsu ke jariku sambil mencium keningku.

Aku masih ingat perkataannya.

“Dibuat khusus untuk kamu. Tidak ada yang kedua.”

Memang tidak ada yang kedua.

Karena yang asli berada di tangan perempuan lain.

Aku tidak menangis.

Anehnya, setelah melihat semua bukti itu, rasa sakitku justru menjadi tenang.

Beberapa luka terasa paling menyakitkan ketika kita masih berharap.

Ketika harapan sudah mati, yang tersisa hanya keputusan.

Seminggu kemudian, keluarga Mahendra mengadakan pesta ulang tahun perusahaan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Bima memintaku datang.

“Ayah ingin kita tampil bersama.”

“Tentu.”

Aku mengenakan gaun hitam sederhana.

Sebelum berangkat, Bima berdiri di belakangku dan memasangkan kalung berlian.

Seperti malam ulang tahun pernikahan kami, kami saling melihat melalui cermin.

“Kamu cantik,” katanya.

Aku tersenyum.

“Bima.”

“Hmm?”

“Kalau suatu hari aku pergi, apa kamu akan mencariku?”

Tangannya berhenti.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Kamu mau pergi ke mana?”

Aku tidak menjawab.

Di ballroom, lebih dari tiga ratus tamu hadir. Investor, keluarga, wartawan bisnis, dan mitra perusahaan memenuhi ruangan.

Lalu aku melihat Melati.

Dia berdiri tidak jauh dari panggung dengan gaun merah.

Berani sekali.

Ketika mata kami bertemu, dia sengaja mengangkat tangan untuk memperlihatkan cincin merah muda itu.

Aku membalas dengan senyum.

Bima segera melihatnya.

Wajahnya berubah.

Dia berjalan menghampiri Melati.

“Aku bilang jangan datang.”

“Aku hanya ingin melihatmu.”

“Pulang.”

Melati menggigit bibir.

“Aku bosan terus disembunyikan.”

Beberapa orang mulai memperhatikan.

Aku mendekati mereka.

“Tidak apa-apa,” kataku.

Bima menatapku.

“Citra.”

“Biarkan dia tinggal.”

Melati tersenyum puas.

Mungkin dia mengira aku akhirnya menyerah.

Acara berlanjut sampai ayah Bima naik ke panggung untuk memberikan sambutan. Setelah itu, pembawa acara mempersilakan Bima dan aku naik sebagai generasi penerus perusahaan.

Aku mengambil mikrofon.

“Maaf, sebelum Bima berbicara, saya ingin menyampaikan sesuatu.”

Bima menoleh.

Aku melihat ratusan wajah di hadapanku.

“Enam tahun lalu, saya menikah dengan Bima Mahendra karena cinta.”

Ruangan menjadi tenang.

“Dan hari ini, saya memutuskan mengakhiri pernikahan itu karena alasan yang sama.”

Bima langsung meraih lenganku.

“Citra, apa yang kamu lakukan?”

Aku menarik tangan.

Surya muncul dari sisi ballroom bersama dua rekannya.

Wajah Bima seketika berubah.

Aku menyerahkan sebuah amplop kepadanya.

“Gugatan cerai.”

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Melati yang berdiri di bawah panggung terlihat pucat.

Bima membuka dokumen itu dengan cepat.

Kemudian dia tertawa dingin.

“Kalau kamu mau bercerai, silakan. Kamu pikir aku takut kehilangan setengah harta?”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak kehilangan setengah.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Kamu kehilangan hampir semuanya yang tercakup dalam klausul itu.”

Surya menyerahkan dokumen berikutnya.

Aku bisa melihat tangan Bima mulai gemetar ketika membaca halaman pertama.

“Tidak mungkin.”

“Perjanjian pranikah,” kataku. “Kamu ingat?”

Wajahnya kehilangan warna.

Di bawah panggung, ayah Bima berdiri.

“Apa maksudnya ini?”

Aku menjawab dengan tenang.

“Selama empat tahun, Bima menggunakan aset perkawinan untuk membiayai hubungan dengan perempuan lain.”

Melati langsung maju.

“Itu bohong!”

Aku memandang cincinnya.

“Kalau begitu, boleh jelaskan dari mana cincin itu berasal?”

Secara refleks dia menutup tangannya.

Aku melepas cincin palsu dari jariku dan meletakkannya di meja.

“Nomor seri berlian asli tercatat dalam sertifikat pembelian. Sertifikatnya atas nama saya. Pembayarannya dari rekening bersama. Tetapi polis asuransinya atas nama Melati Prameswari.”

Semua mata beralih kepadanya.

Melati mundur satu langkah.

“Bima bilang cincin ini miliknya.”

Aku mengangguk.

“Bagus. Ulangi kalimat itu nanti kepada pengacara.”

Bima mencengkeram dokumen.

“Citra, kita bicara di rumah.”

“Tidak ada lagi rumah kita.”

“Aku bisa menjelaskan.”

Aku hampir tersenyum mendengar kalimat paling klise dari seorang pengkhianat.

Namun sebelum aku menjawab, Melati tiba-tiba berteriak.

“Kenapa kamu diam saja, Bim? Kamu bilang setelah proyek merger selesai kamu akan menceraikannya!”

Ruangan semakin gaduh.

Bima membalik badan.

“Diam!”

Melati terkejut.

“Kamu bilang saham keluarga Citra akan masuk setelah merger. Setelah itu kamu tidak membutuhkan dia lagi!”

Keheningan jatuh begitu cepat.

Aku menatap Bima.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar panik.

Ternyata perselingkuhan bukan satu-satunya rahasia.

Ayahku yang sejak tadi berdiri di antara tamu berjalan perlahan mendekati panggung.

“Apa maksud perempuan itu tentang saham?”

Bima tidak menjawab.

Surya justru membuka map lain.

“Pak Pramesti, kami menemukan beberapa dokumen terkait rencana pengalihan saham setelah merger. Saya tadinya belum yakin apakah dokumen itu relevan dengan perkara perceraian.”

Wajah Bima memucat total.

Ayahnya menatapnya dengan kemarahan yang belum pernah kulihat.

“Kamu menggunakan pernikahanmu untuk mengambil perusahaan keluarga istrimu?”

“Tidak, Yah. Bukan begitu.”

Ironisnya, orang yang menghancurkan rencana Bima bukan aku.

Melainkan perempuan yang selama ini dia lindungi mati-matian.

Melati mulai menangis.

Dia mencoba memegang lengan Bima.

Namun kali ini Bima menepis tangannya.

“Pergi.”

Melati membeku.

“Bima?”

“Aku bilang pergi!”

Aku melihat wajah Melati berubah.

Barangkali saat itulah dia akhirnya memahami sesuatu yang sudah kupahami lebih dahulu.

Laki-laki yang bisa mengkhianati istrinya demi kamu juga bisa mengkhianati kamu demi kepentingannya sendiri.

Melati melepas cincin merah muda dari jarinya dan melemparkannya ke dada Bima.

“Kamu bilang aku satu-satunya perempuan yang kamu cintai!”

Cincin itu jatuh ke lantai.

Aku membungkuk dan mengambilnya.

Benda kecil itu berkilau di telapak tanganku.

Empat tahun lalu aku mungkin akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya kembali.

Sekarang aku tidak menginginkannya.

Aku menyerahkannya kepada Surya.

“Masukkan ke daftar barang bukti.”

Kemudian aku turun dari panggung.

Bima mengejarku sampai lobi hotel.

“Citra!”

Aku berhenti.

Dia berdiri beberapa meter di belakangku, napasnya tidak teratur.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun mengenalnya, aku melihat Bima benar-benar takut kehilangan aku.

“Kita bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menatap laki-laki yang pernah menjadi seluruh masa depanku.

“Tidak.”

“Aku akan meninggalkan Melati.”

“Itu bukan masalahnya.”

“Aku salah.”

“Benar.”

Dia mendekat.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku tersenyum tipis.

Kalimat itu seharusnya menjadi kalimat yang paling ingin kudengar selama bertahun-tahun.

Aneh sekali karena sekarang tidak berarti apa-apa.

“Bima, kamu tidak kehilangan aku hari ini.”

Dia terdiam.

“Kamu kehilangan aku sedikit demi sedikit setiap kali pulang membawa aroma parfumnya. Setiap kali berbohong. Setiap kali membuatku merasa permintaanku untuk dicintai adalah beban.”

Matanya memerah.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Dan ketika kamu mencengkeram rambutku karena takut aku menyakitinya, sebenarnya saat itulah pernikahan kita selesai. Aku hanya terlambat menyadarinya.”

Pintu hotel terbuka.

Udara malam Jakarta menyentuh wajahku.

Bima tidak mengejar lagi.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Perjanjian pranikah kami akhirnya berlaku sesuai klausul yang telah disepakati. Bukti transaksi membuat posisi Bima hampir mustahil dibantah. Rencana pengalihan saham yang ditemukan Surya juga menggagalkan merger dan membuat Bima dicopot dari beberapa posisi strategis oleh keluarganya sendiri.

Melati kehilangan pekerjaannya setelah rekaman mentah wawancara bocor dari internal stasiun televisi.

Aku tidak pernah mencari tahu siapa yang membocorkannya.

Aku juga tidak peduli.

Beberapa bulan setelah perceraian selesai, sebuah paket tiba di apartemen baruku.

Di dalamnya ada kotak kecil.

Cincin berlian merah muda.

Disertai surat dari Surya.

Barang bukti telah dikembalikan kepada pemilik sah.

Aku memandangi cincin itu cukup lama.

Kemudian keesokan harinya aku menjualnya melalui rumah lelang.

Seluruh hasil penjualan kusumbangkan ke sebuah lembaga pendampingan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.

Surya sempat bertanya apakah aku tidak merasa sayang.

Aku hanya tertawa.

“Untuk apa menyimpan sesuatu yang mengingatkan saya pada harga sebuah kebohongan?”

Setahun kemudian aku menghadiri pesta bisnis yang lain.

Seorang fotografer meminta aku berdiri bersama salah satu rekan perusahaan. Ketika kamera diarahkan, laki-laki itu menawarkan lengannya.

Aku terdiam sesaat.

Pemandangan itu mengingatkanku pada foto bersama Bima yang dahulu memicu Melati keluar dari persembunyiannya.

Aku kemudian tersenyum dan berdiri sendiri.

Fotografer terlihat bingung.

“Bu Citra, sendirian saja?”

“Iya.”

Lampu kamera menyala.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat hasil fotoku dan menyadari sesuatu.

Aku tidak terlihat kesepian.

Aku terlihat bebas.

Belakangan aku mendengar Bima dan Melati tidak pernah bersama lagi. Keduanya saling menyalahkan atas kehancuran hidup masing-masing.

Orang-orang bertanya apakah aku merasa menang.

Tidak.

Pernikahan bukan pertandingan. Tidak ada pemenang ketika kepercayaan dihancurkan.

Namun ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Dahulu aku mengira kehilangan Bima adalah hal paling menakutkan yang mungkin terjadi dalam hidupku.

Ternyata yang jauh lebih menakutkan adalah kehilangan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang yang sudah memilih orang lain.

Untungnya, sebelum terlambat, aku memilih diriku kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang