Dia berdiri tepat di depan gerbang rumahnya sendiri

Mesin mobil itu meraung pelan, suara yang begitu akrab hingga membuat tulang punggung Victoria terasa dingin. Itu adalah Rolls-Royce Phantom hitam dengan pelat nomor yang selalu dia hafal di luar kepala. Pintu belakang terbuka, dan sosok yang keluar bukanlah seseorang yang asing.

Marco. Putranya.

Pria itu keluar dengan setelan jas bespoke yang tampak sempurna, namun raut wajahnya terlihat lelah dan penuh beban. Di sampingnya, seorang pria tua berpakaian formal—pengacara keluarga, Atty. Salazar—melangkah keluar dengan dokumen tebal di tangannya.

Sabrina, yang tadinya angkuh, seketika berubah. Wajahnya yang penuh penghinaan tadi langsung berganti menjadi topeng kemanisan yang dibuat-buat. Dia berlari kecil menghampiri Marco, suaranya berubah menjadi nada manja yang memuakkan.

“Sayang, kau sudah pulang? Lihat, ada pengemis kotor di depan gerbang kita. Menjijikkan sekali, bukan? Aku sedang menyuruh penjaga untuk mengusirnya agar tidak merusak pemandangan saat kita berangkat nanti.”

Marco tidak langsung menjawab. Matanya yang dingin menatap tajam ke arah gerbang. Dia tidak melihat ke arah Sabrina, melainkan ke arah sosok tua yang membungkuk di balik pilar batu. Victoria menahan napas. Dia sudah siap untuk melangkah maju, membuka wig-nya, dan melihat keterkejutan di wajah putranya. Tunggu sebentar lagi, batinnya. Biarkan aku melihat sejauh mana mereka berani melangkah.

Atty. Salazar berdeham. “Tuan Marco, kita harus segera menandatangani dokumen pengalihan aset properti ini sore ini juga. Setelah itu, rumah ini akan resmi menjadi milik Sabrina dan hak akses Ibu Anda—jika dia masih hidup—akan dihapuskan sepenuhnya dari sistem.”

Victoria merasakan dunia seolah berhenti berputar. Pengalihan aset? Dia tidak pernah menandatangani surat apa pun.

Marco berjalan mendekat ke arah gerbang. Dia berdiri tepat di depan Victoria. Bau parfum mahal pria itu menusuk indra penciuman Victoria, mengingatkannya pada masa kecil Marco yang penuh kasih sayang. Namun, saat Marco berbicara, suaranya sedingin es kutub.

“Kau dengar Sabrina? Pergi dari sini. Jika kau berani kembali, aku akan memastikan kau berakhir di sel penjara karena masuk tanpa izin di properti pribadi.”

Victoria mendongak sedikit, suaranya parau. “Apakah kau tidak mengenaliku, Marco?”

Sabrina tertawa sinis. “Oh, lihat! Si pengemis mencoba berakting dramatis. Jangan dengarkan dia, Marco. Dia pasti gila.”

Marco menatap wajah Victoria yang tersembunyi di balik rambut kusut itu dengan tatapan yang nyaris tidak berminat. “Aku tidak peduli siapa kau. Aku hanya tahu kau menghalangi masa depanku.”

Victoria merasakan duri di hatinya. Dia perlahan berdiri tegak. Postur tubuhnya yang dulu selalu tegak seperti seorang ratu perlahan kembali, meski pakaiannya masih terlihat usang. Dia menarik wig kusut itu dan membiarkan rambut abu-abu yang elegan jatuh tergerai. Wajahnya yang keriput namun berwibawa terpampang nyata di bawah cahaya matahari sore.

Keheningan yang mencekam menyelimuti area itu. Sabrina ternganga, wajahnya memucat seketika hingga ia terlihat seperti mayat hidup. Penjaga itu menjatuhkan tongkatnya ke tanah dengan dentuman keras.

Namun, yang paling mengejutkan adalah reaksi Marco.

Putranya itu tidak terkejut. Dia tidak terlihat menyesal, apalagi takut. Marco justru tersenyum—sebuah senyuman tipis yang sangat kejam.

“Ibu,” ucap Marco tenang. “Aku tahu kau ada di sini sejak satu jam yang lalu. Kamera keamanan di gerbang ini sudah mengenali wajahmu melalui pemindaian biometrik sejak kau menginjakkan kaki di depan pos satpam.”

Victoria membeku. “Apa… apa maksudmu?”

“Aku sengaja membiarkanmu melihat ini,” lanjut Marco. Dia memberi isyarat kepada pengacara untuk menyerahkan dokumen tersebut. “Surat kuasa ini sudah disiapkan selama dua tahun terakhir. Kau mungkin ratu properti di Eropa, tapi di Manila? Aku sudah menguasai setiap jengkal kekuasaanmu saat kau sibuk dengan kontrak-kontrakmu yang tak berguna di luar negeri.”

Atty. Salazar maju, suaranya datar. “Nyonya Victoria, Anda dinyatakan tidak kompeten secara mental oleh pengadilan bulan lalu, berdasarkan bukti-bukti ‘kegilaan’ dan ‘kepergian mendadak’ Anda. Semua aset Anda, termasuk mansion ini, sudah dibekukan atas nama Marco.”

Victoria menatap putranya, pria yang dia besarkan dengan cinta, pria yang dia perjuangkan seluruh hidupnya agar bisa memberikan warisan terbaik.

“Kau membenciku?” tanya Victoria lirih.

Marco mendekat, berbisik di telinga ibunya, “Aku tidak membencimu, Ibu. Aku hanya lelah menunggu kau mati agar aku bisa menikmati hidup. Jadi, aku memutuskan untuk mempercepat prosesnya. Dan terima kasih, karena dengan kedatanganmu hari ini, kau secara resmi menyerahkan diri ke dalam pengawasan hukumku. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini lagi—bukan sebagai pemilik, tapi sebagai tahanan di paviliun belakang.”

Sabrina kembali mendapatkan keberaniannya, dia memegang lengan Marco dan tertawa kecil. “Satpam, bawa dia ke paviliun. Beri dia makanan sisa dan pastikan dia tidak bisa menghubungi siapa pun.”

Victoria terdiam. Dia melihat ke arah pembantu wanita yang tadi mencoba memberinya roti. Wanita itu menangis, menatap Victoria dengan penuh penyesalan.

Tiba-tiba, Victoria tersenyum. Senyum yang sangat mengerikan bagi orang yang melihatnya.

“Marco,” suaranya tenang, bergema di halaman yang luas itu. “Kau pikir aku kembali tanpa persiapan? Kau pikir aku akan datang ke kandang serigala tanpa membawa racun?”

Marco mengerutkan kening, keraguan mulai muncul di matanya. “Apa maksudmu?”

“Semua properti, saham, dan aset yang kau sebutkan tadi? Semuanya memang milikku. Tapi, saat aku pergi sepuluh tahun lalu, aku melakukan satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Aku memberikan hak veto mutlak atas seluruh perusahaan kepada seseorang yang tidak pernah kau perhitungkan.”

Victoria menunjuk ke arah pembantu wanita yang tadi mencoba membantunya.

“Siapa dia?” tanya Marco, suaranya mulai bergetar.

“Dia bukan pembantu,” kata Victoria sambil membersihkan debu dari bajunya yang usang. “Dia adalah putri kandung dari rekan bisnis lamaku yang paling setia—orang yang kau khianati lima belas tahun lalu. Dia bekerja di sini selama lima tahun terakhir sebagai mata-mata yang aku kirim. Dan hari ini, dia baru saja mengunggah semua bukti transaksi ilegalmu dan Sabrina ke situs publik serta ke semua regulator keuangan.”

Tepat pada saat itu, ponsel Marco berdering. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat melihat notifikasi di layarnya. Puluhan pesan masuk, panggilan dari bank, dari kepolisian, dari dewan direksi.

Victoria berjalan mendekati gerbang, dia berhenti tepat di samping Marco.

“Kau benar, Marco. Aku memang tidak kompeten. Tapi aku cukup cerdas untuk mengetahui bahwa seekor ular akan selalu menunjukkan taringnya jika diberi kesempatan. Selamat menikmati kebangkrutanmu.”

Victoria berjalan keluar gerbang dengan punggung yang tegak, meninggalkan putranya yang terduduk lemas di atas tanah mansion yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak menoleh lagi. Dia telah kehilangan seorang putra, tetapi dia baru saja memenangkan kembali sisa hidupnya yang berharga, bebas dari topeng-topeng kebohongan yang selama ini menghuni rumahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang