Malam itu, di dalam kamar yang luas dengan dekorasi marmer yang dingin, udara terasa menyesakkan. Camila berlutut di lantai, membasuh kaki suaminya yang bengkak dengan air hangat. Don Bastián, atau Bastián, duduk di kursi rodanya, napasnya terdengar berat—sebuah simfoni dari paru-paru yang terbebani.
“Kenapa kau tidak menangis?” suara Bastián pecah, kasar seperti gesekan amplas. “Kau dijual oleh ayahmu sendiri. Kau seharusnya membenciku.”
Camila mendongak. Matanya yang cokelat jernih tidak menunjukkan tanda-tanda dendam. “Kebencian tidak akan melunasi utang, Don Bastián. Dan bagi saya, martabat tidak terletak pada siapa yang saya nikahi, tetapi pada bagaimana saya memperlakukan orang lain.”

Bastián terdiam. Matanya yang tersembunyi di balik lipatan lemak wajahnya menyipit. Dia telah terbiasa dikelilingi oleh para penjilat dan wanita pemburu harta yang hanya menginginkan uangnya, lalu diam-diam meludah di belakang punggungnya. Camila adalah anomali.
Waktu berlalu. Tiga bulan dalam pernikahan “sandiwara” itu, Camila tetap menjadi istri yang paling berbakti. Dia tetap menyuapinya, menemaninya membaca buku, dan bahkan membacakan puisi di malam hari. Namun, yang paling mengejutkan bagi Bastián, Camila tidak pernah mencoba menggeledah lemari atau mencari tahu harta bendanya. Dia tulus.
Malam itu, tepat di hari peringatan tiga bulan pernikahan mereka, sebuah badai besar melanda Mexico City. Petir menyambar, memadamkan listrik di rumah besar itu. Kegelapan total menyelimuti kamar utama.
“Camila,” suara Bastián terdengar panik. “Aku merasa sesak. Kostum… maksudku, tubuhku terasa panas sekali.”
Camila mendekat, meraba dalam kegelapan. “Tenang, Bastián. Aku di sini.”
Tiba-tiba, Bastián menarik napas panjang. Dia mulai merobek pakaiannya sendiri dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi pria yang dianggap tidak bisa berjalan. Krek! Suara kain yang robek terdengar seperti kulit yang terkupas.
Camila mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Dalam remang cahaya kilat, dia melihat suaminya berdiri. Ya, dia berdiri. Dan lemak-lemak itu? Itu bukan tubuhnya. Itu adalah prostetik canggih berbahan silikon medis yang menutupi tubuh atletis yang sempurna.
Bastián melepas lapisan terakhir “perut buncit” palsunya dan jatuh terduduk, terengah-engah. Saat lampu cadangan menyala, Camila memekik tertahan. Di depannya, di atas lantai karpet yang mewah, bukan lagi “Babi Miliarder” yang dia kenal. Di sana berdiri seorang pria dengan rahang tegas, tubuh kekar bak dewa Yunani, dan mata tajam yang menyimpan sejuta rahasia.
“Siapa kau?” Camila berbisik, gemetar. “Di mana Bastián?”
Pria itu menatap Camila. Dia bukan Bastián. Dia adalah Alejandro Montiel, saudara kembar Don Bastián yang sebenarnya.
“Bastián yang asli sudah meninggal enam bulan lalu,” suaranya kini dalam dan maskulin, tanpa serak yang dibuat-buat. “Dia meninggal karena penyakit jantung bawaan sebelum dia sempat membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianati keluarga kami. Aku kembali dari penyamaran di luar negeri untuk mengurus bisnis ini, dan untuk menemukan siapa sebenarnya yang membuat keluarga kami jatuh ke dalam lubang utang.”
Camila terbelalak. “Jadi, utang ayahku…”
“Itu jebakan,” potong Alejandro. “Ayahmu tidak berutang kepada Bastián. Dia dijebak oleh firma hukum yang selama ini mencoba mengambil alih aset Montiel. Aku butuh seseorang yang tidak bisa dibeli untuk membantuku mengungkap pengkhianat di dalam perusahaan ini. Aku butuh mata di dalam rumah ini yang tidak akan berkhianat.”
Camila merasa dunia berputar. Pernikahan itu bukan hanya soal utang, itu adalah permainan spionase tingkat tinggi.
“Kau menggunakan aku sebagai umpan?” tanya Camila dingin.
Alejandro mendekat, tatapannya melembut, kontras dengan kekejaman yang dia tunjukkan pada musuh-musuhnya. “Awalnya, ya. Tapi kau berubah menjadi sesuatu yang tidak kuhitung, Camila. Kau adalah satu-satunya orang yang tidak melihatku sebagai ‘Babi’ atau ‘Miliarder’. Kau melihatku sebagai manusia. Dan dalam dunia yang penuh dengan kebohongan ini, itu adalah sesuatu yang sangat mahal.”
Namun, plot twist yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong. Pintu kamar didobrak. Sekelompok pria bersenjata masuk, dipimpin oleh pengacara pribadi keluarga Montiel yang selama ini menjadi tangan kanan “Bastián”.
“Bagus, Alejandro. Kau akhirnya melepas kostum itu,” seringai sang pengacara. “Kami sudah tahu kau bukan Bastián sejak hari pertama. Dan kami membiarkanmu bermain sandiwara ini hanya untuk memastikan kau membawa Camila ke sini.”
Alejandro bersiap untuk bertarung, namun Camila tiba-tiba melangkah di depan Alejandro. Dia tidak ketakutan lagi. Dia tersenyum, sebuah senyuman yang belum pernah dilihat Alejandro sebelumnya—senyuman yang dingin dan berbahaya.
“Kalian pikir aku hanya seorang gadis miskin dari Iztapalapa yang malang?” suara Camila berubah tajam.
Camila menarik sebuah alat kecil dari balik gaun tidurnya. Sebuah pemancar frekuensi tinggi. Sesaat kemudian, terdengar suara sirine dari luar rumah. Bukan polisi, melainkan pasukan keamanan swasta yang sangat terlatih.
“Ayahku memang pecandu judi,” kata Camila sambil menatap sang pengacara dengan mata berkilat. “Tapi dia juga seorang mantan agen intelijen yang memalsukan kematiannya sendiri untuk melindungi keluargaku dari kartel. Dia tidak berutang pada kalian. Dia justru sudah menanam penyadap di setiap sudut rumah ini sejak hari pertama kami pindah.”
Alejandro ternganga. Gadis yang dia kira sebagai “target” ternyata adalah “predator” yang sedang memburu mangsa yang sama dengannya.
Dalam hitungan detik, kekacauan terjadi. Pasukan keamanan yang dipanggil Camila melumpuhkan para pengkhianat dengan presisi yang brutal. Dalam keributan itu, Camila berbalik ke arah Alejandro, menodongkan pistol kecil yang entah dari mana dia ambil.
“Kau pikir kau satu-satunya yang menyembunyikan rahasia, Alejandro?”
Alejandro tertawa, meski berada di bawah todongan senjata. Dia melihat Camila dengan kagum. “Jadi, kita berada di pihak yang sama, atau ini akan menjadi akhir yang tragis?”
“Itu tergantung,” jawab Camila, menurunkan senjatanya. “Apakah kau mau berbagi kekuasaan, atau kau ingin aku menjadi janda kaya malam ini juga?”
Alejandro mendekat, mengabaikan ketegangan di antara mereka, dan meraih tangan Camila. “Sebuah kemitraan? Itu tawaran yang jauh lebih menarik daripada pernikahan paksa.”
Malam itu, di Lomas de Chapultepec, “Babi Miliarder” telah mati, dan sebuah aliansi paling mematikan di Meksiko baru saja lahir. Mereka bukan lagi korban; mereka adalah pemain catur yang baru saja menjatuhkan bidak-bidak yang salah.
Camila menatap ke arah jendela, melihat cahaya lampu kota Mexico City yang luas. Dia bukan lagi gadis yang terkurung kemiskinan. Dia adalah penguasa bayangan yang baru. Dan bagi Alejandro, dia bukan lagi sekadar istri—dia adalah satu-satunya orang yang cukup berbahaya untuk berdiri di sisinya hingga akhir.
Cerita tentang si Babi Miliarder berakhir di sana, digantikan oleh legenda tentang dua sosok yang tak tersentuh: si pria dengan seribu wajah dan wanita yang tak pernah bisa ditebak. Keduanya berdiri di balkon, memandang kehancuran musuh-musuh mereka, siap untuk menaklukkan segalanya—bukan karena cinta, tapi karena mereka adalah dua jiwa yang akhirnya menemukan seteru yang sepadan.
