Aku baru menyadari ada sesuatu yang benar-benar salah ketika tiga hari kemudian aku terbangun dan menemukan seorang pria berdiri di balkon kamar sebelah.
Saat itu pukul enam lewat sedikit. Rambutku berantakan, kausku kebesaran, dan Tahu sedang duduk di atas pagar balkon sambil mengeong manja ke arah pria tersebut.
Pria itu membelakangiku. Tinggi, bahu lebar, kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku.
Aku membeku.
Aroma teh putih samar-samar terbawa angin.

Tidak mungkin.
Pria itu berbalik.
Tatapan kami bertemu.
Aku hampir menjatuhkan cangkir.
“Kamu?”
Suamiku yang baru tiga hari kukenal mengangkat alis.
“Kamu tinggal di sini?”
Aku menunjuk kamar di belakangnya. “Aku yang harusnya tanya! Kenapa kamu ada di rumah Citra?”
Belum sempat dia menjawab, pintu kamarku terbuka.
Citra masuk sambil menguap.
“Laras, sarapan. Kak Aditya sudah pulang.”
Dia berhenti.
Melihatku.
Melihat pria di balkon.
Kemudian melihatku lagi.
“Kak?”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku menoleh perlahan kepada pria di sebelah.
“Nama lengkapmu siapa?”
Dia memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Aditya Mahendra.”
Aku hampir tersedak udara.
Citra tertawa kecil.
“Kalian kenalan?”
Aku membuka mulut.
Aditya menjawab lebih dulu.
“Lumayan.”
Lumayan?
Kami menikah!
Aku langsung menarik lengannya melewati deretan tanaman sampai masuk ke balkon kamarnya.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang kamu kakaknya Citra?”
“Kamu nggak pernah tanya.”
“Aku bahkan nggak tahu nama lengkapmu!”
“Itu juga karena kamu nggak membaca dokumen sebelum tanda tangan.”
Aku terdiam.
Sial.
Benar.
Malam itu aku bahkan masih setengah mabuk dan sangat emosional. Pagi harinya, ketika dia bertanya apakah aku benar-benar serius ingin menikah, aku menjawab bahwa hidup terlalu pendek untuk terus takut mengambil keputusan.
Sekarang kalimat itu terdengar sangat bodoh.
“Tapi kamu tahu aku sahabat Citra?”
“Tahu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu menarik tanganku di depan lounge.”
Aku melotot.
“Jadi kamu tahu aku salah orang?”
“Aku sudah bilang namaku bukan Dimas.”
“Aku kira kamu bercanda.”
“Aku juga bilang aku bukan orang yang mau dikenalkan kepadamu.”
“Aku kira kamu jual mahal.”
Sudut bibirnya bergerak tipis.
Untuk pertama kalinya aku melihat Aditya hampir tersenyum.
Aku semakin kesal.
“Lalu kenapa kamu ikut?”
Dia menatapku beberapa detik.
“Karena aku mengenalmu.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
“Apa?”
Namun sebelum dia menjelaskan, suara Citra terdengar dari kamar.
“Kalian ngapain?”
Aku dan Aditya langsung menjauh seperti dua murid tertangkap guru.
Citra menyipitkan mata.
Tatapannya berpindah dari wajahku ke kakaknya.
“Kalian mencurigakan.”
Aku tertawa kaku.
“Nggak.”
Aditya justru berjalan melewatinya dengan tenang.
“Nanti malam kita bicara.”
Aku tahu kalimat itu ditujukan kepadaku.
Dan Citra juga tahu.
Begitu kakaknya keluar, dia langsung menerkamku.
“Apa hubunganmu dengan Kak Aditya?”
“Nggak ada.”
“Laras.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Lima menit kemudian, jeritan Citra terdengar sampai lantai bawah.
“KAMU MENIKAH DENGAN KAK ADITYA?”
Aku buru-buru membekap mulutnya.
“Pelan!”
Matanya hampir keluar.
“Jadi pria asing yang kamu tarik dari bar itu kakakku sendiri?”
Aku mengangguk kecil.
Citra duduk di tepi tempat tidur seperti baru menerima berita bahwa bumi akan kiamat.
Kemudian dia berdiri lagi.
“Tidak. Ada yang aneh.”
“Apa?”
“Kak Aditya bukan tipe orang yang menikah karena impulsif.”
Aku terdiam.
Citra benar.
Aditya bahkan terlihat seperti pria yang menjadwalkan kapan harus bernapas.
“Dia pernah memutuskan hubungan dengan perempuan yang sudah tiga tahun pacaran dengannya cuma karena perempuan itu berbohong soal utang,” lanjut Citra. “Dia sangat hati-hati. Sangat rasional. Dan dia membenci kejutan.”
Aku mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
“Jadi?”
Citra menatapku tajam.
“Kalau Kak Aditya menikah denganmu dalam waktu kurang dari dua belas jam, itu bukan kecelakaan.”
Malamnya, aku menunggu Aditya di ruang kerjanya.
Dia baru masuk hampir pukul sebelas.
Aku langsung berdiri.
“Kita harus bicara.”
Dia meletakkan laptop di meja.
“Silakan.”
“Kamu sengaja menikah denganku?”
Dia tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Aku merasa dadaku panas.
“Kenapa?”
Aditya menarik kursi.
“Duduk.”
“Aku nggak mau duduk.”
“Baik.”
Dia sendiri tetap berdiri.
“Aku pernah melihatmu dua tahun lalu.”
Aku mengernyit.
“Di mana?”
“Pernikahan Citra.”
Ingatan samar muncul.
Dua tahun lalu, saat sepupu Citra menikah, aku memang datang membantu. Tapi waktu itu keluarga besarnya begitu banyak sampai aku hampir tidak mengingat siapa pun.
“Kamu sedang membawa kotak hadiah. Seorang anak kecil menabrakmu dan semua isinya jatuh.”
Aku mulai ingat.
“Ada laki-laki yang bantu aku.”
“Aku.”
Aku menatap wajahnya.
Sulit menghubungkan pria berkemeja hitam sederhana waktu itu dengan Aditya yang sekarang berdiri di depanku.
“Kemudian kita bertemu lagi enam bulan lalu di Jakarta,” katanya.
“Aku nggak pernah ke Jakarta enam bulan lalu.”
“Kamu transit di bandara.”
Aku terdiam.
Aku memang pernah.
“Kamu bertengkar lewat telepon dengan Galang.”
Wajahku berubah.
Aditya melanjutkan dengan suara datar.
“Dia menyuruhmu berhenti bekerja karena merasa penghasilanmu membuatmu terlalu mandiri.”
Aku mengepalkan tangan.
Itu salah satu pertengkaran terbesar kami.
“Kenapa kamu dengar?”
“Kamu bicara cukup keras.”
Aku malu.
“Jadi kamu menikah denganku karena kasihan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Untuk pertama kalinya ketenangan di wajah Aditya retak sedikit.
“Karena sejak pernikahan itu aku menyukaimu.”
Aku tidak bisa berkata-kata.
“Citra beberapa kali bicara tentangmu. Aku tahu kamu pacaran, jadi aku tidak melakukan apa pun. Ketika dia bilang kalian putus dan ingin mengenalkanmu dengan Dimas, aku baru tahu kamu datang ke Bandung.”
Aku tertawa pendek karena terlalu gugup.
“Jadi malam itu kamu sengaja datang?”
“Aku datang untuk menemui Dimas.”
“Kak Dimas ada di sana?”
“Dia partner bisnisku.”
Aku memejamkan mata.
Ternyata seluruh kekacauan itu jauh lebih memalukan daripada perkiraanku.
“Lalu aku menarikmu.”
“Ya.”
“Dan kamu membiarkanku.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Aditya menatapku lurus.
“Karena untuk pertama kalinya dalam dua tahun, perempuan yang kusukai memegang tanganku sendiri.”
Jantungku seperti kehilangan ritme.
Namun sebelum aku sempat menjawab, HP-ku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesan masuk.
Sebuah foto.
Galang berdiri di depan rumah Citra.
Di bawahnya ada kalimat pendek.
Keluar. Kita bicara.
Wajahku langsung pucat.
Aditya melihat layar HP-ku.
“Dia?”
Aku mengangguk.
“Aku selesaikan sendiri.”
Aku turun.
Galang berdiri dekat mobilnya.
Begitu melihatku, dia langsung mendekat.
“Akhirnya.”
“Aku sudah bilang jangan ikuti aku.”
“Aku cuma mau kamu berhenti marah.”
“Aku nggak marah. Aku sudah selesai.”
Wajah Galang menegang.
“Dua tahun kita bersama dan kamu bilang selesai begitu saja?”
“Seharusnya kamu pikirkan itu sebelum mencium perempuan lain.”
Dia meraih pergelangan tanganku.
Aku refleks menariknya.
Namun sebelum sempat terjadi apa pun, seseorang menarikku ke belakang.
Aditya.
Ekspresinya masih tenang, tapi matanya dingin.
“Lepaskan istri saya.”
Galang membeku.
Aku juga.
“Istri?”
Aditya merangkul pinggangku.
“Kami sudah menikah.”
Galang tertawa tidak percaya.
“Kamu bohong.”
Aditya mengeluarkan HP dan menunjukkan foto dokumen pernikahan kami.
Wajah Galang berubah.
Dia menatapku seolah aku baru mengkhianatinya.
“Kamu menikah tiga hari setelah putus denganku?”
“Aku bebas melakukan apa pun setelah kita putus.”
“Kamu gila.”
“Mungkin.”
Aku menggenggam tangan Aditya.
“Tapi setidaknya sekarang aku memilih orang yang tidak mempermalukanku.”
Galang pergi dengan wajah gelap.
Namun masalah tidak berhenti.
Seminggu kemudian, sebuah akun anonim mengunggah foto pernikahan kami.
Judulnya membuatku hampir pingsan.
CEO Mahendra Capital Menikah Diam-Diam.
Aku baru tahu saat Citra berlari ke kamarku.
“Laras! Kamu tahu Kak Aditya itu siapa?”
“Tentu. Kakakmu.”
“Bukan itu!”
Dia menunjukkan berita.
Mahendra Capital.
Perusahaan investasi yang namanya sering muncul di berita bisnis.
Foto Aditya terpampang jelas.
Aku membaca profilnya.
Pendiri.
CEO.
Pemegang saham terbesar.
Aku hampir melempar HP.
Malam itu aku menunggu Aditya lagi.
Begitu masuk rumah, aku langsung menunjukkan artikel tersebut.
“Kamu bilang bekerja di perusahaan!”
“Aku memang bekerja di perusahaan.”
“Kamu pemiliknya!”
“Itu juga pekerjaan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kenapa nggak bilang?”
“Kamu nggak tanya.”
Aku mengambil bantal sofa dan melemparkannya.
Untuk pertama kalinya Aditya tertawa.
Benar-benar tertawa.
Dan entah kenapa, kemarahanku menghilang.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Kami mulai tinggal di apartemennya, tetapi tidur di kamar berbeda.
Dia berangkat pagi. Aku mencari pekerjaan baru. Malam hari kami makan bersama.
Perlahan aku menemukan sisi lain Aditya.
Dia yang terlihat dingin ternyata selalu menghangatkan susu sebelum tidur untukku.
Dia diam-diam memasang jaring pengaman balkon karena Tahu suka memanjat.
Dia menyimpan obat maag di setiap mobil karena tahu aku sering lupa makan.
Namun dia tidak pernah memaksaku mencintainya.
Suatu malam aku bertanya, “Kalau setelah beberapa bulan aku tetap nggak punya perasaan, bagaimana?”
Dia berhenti membaca.
“Aku akan tanda tangan perceraian.”
“Serius?”
“Aku menikahimu karena egois. Tapi aku tidak akan mempertahankanmu dengan egois.”
Entah kenapa kalimat itu justru membuat dadaku sesak.
Dua bulan kemudian, Citra mengundang kami makan hotpot di rumah.
Dimas juga datang.
Begitu melihatnya, aku hampir tertawa.
Ternyata dia sama sekali tidak mirip Aditya dari depan.
“Jadi ini perempuan yang seharusnya kencan denganku tapi malah membawa pulang partner bisnisku?”
Aku menutup wajah.
“Jangan dibahas.”
Semua orang tertawa.
Aku baru makan setengah mangkuk ketika aroma daging tiba-tiba membuat perutku bergejolak.
Aku berlari ke kamar mandi.
Citra menyusul.
Setelah aku selesai muntah, dia memegang bahuku.
“Jangan bilang kamu hamil. Ayah bayinya mana? Jangan-jangan sudah kabur?”
Aku hendak menjawab ketika suara Aditya terdengar dari pintu.
“Nggak kabur. Orangnya ada di sini.”
Ruang makan langsung sunyi.
Aku menatapnya.
“Jangan asal mengaku. Belum tentu.”
Aditya mengangkat kantong kecil dari apotek.
“Aku beli tes kehamilan.”
Semua orang menatapnya.
Dimas tertawa.
“Gila. Sejak kapan kamu siap begitu?”
“Sejak Laras mulai muntah pagi kemarin.”
Aku sendiri bahkan tidak sadar.
Dua garis muncul beberapa menit kemudian.
Tanganku gemetar.
Citra menjerit kegirangan.
Namun aku justru duduk diam.
Aditya berjongkok di depanku.
“Takut?”
Aku mengangguk.
Pernikahan kami dimulai dari kesalahan. Hubungan kami bahkan belum sempurna.
“Aku belum tahu apakah aku siap.”
Dia menggenggam tanganku.
“Kita nggak harus langsung tahu semuanya.”
Aku menatapnya.
“Aku takut suatu hari kamu menyesal.”
Aditya tersenyum tipis.
“Laras, satu-satunya keputusan impulsif yang pernah kubuat adalah membiarkanmu menarik tanganku malam itu.”
“Dan menikah denganku besoknya.”
“Itu bukan impulsif.”
Aku mengerutkan dahi.
“Apa?”
Dia mengambil dompet.
Dari dalamnya, dia mengeluarkan selembar foto lama.
Foto pernikahan dua tahun lalu.
Di sana aku sedang tertawa sambil memegang kotak hadiah yang hampir jatuh.
Di sudut foto berdiri Aditya, menatap ke arahku.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Kalau bertemu lagi, jangan biarkan dia pergi.
Tanggalnya dua tahun lalu.
Mataku panas.
“Kamu serius?”
“Aku menulisnya setelah pulang dari pernikahan.”
“Jadi malam di lounge itu…”
“Kesalahanmu.”
Dia menyentuh ujung hidungku.
“Tapi kesempatan bagiku.”
Aku tertawa sambil menangis.
Tiga bulan kemudian, ketika dokter memastikan kehamilanku sehat, aku akhirnya pindah seluruhnya ke kamar Aditya.
Suatu malam aku bertanya sesuatu yang selama ini menggangguku.
“Kenapa kode pintu apartemenmu 001199?”
Aditya yang sedang membaca laporan langsung diam.
Aku menyipitkan mata.
“Jangan bilang itu tanggal penting.”
Dia menutup laptop.
“Sebelas September.”
Aku berpikir.
Kemudian tubuhku membeku.
Itu ulang tahunku.
“Aditya.”
Dia berdiri.
“Sudah malam. Tidur.”
Aku menarik bajunya.
“Sejak kapan kode itu dipakai?”
Dia menghindari tatapanku.
“Dua tahun.”
Aku memukul lengannya dengan bantal.
“Jadi kamu sebenarnya sudah tergila-gila padaku sejak lama!”
Dari luar kamar terdengar suara Citra yang kebetulan menginap.
“Aku sudah bilang! Kakakku itu kalau jatuh cinta lebih menyeramkan daripada orang gila!”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Aditya hanya menghela napas, kemudian menarikku ke dalam pelukannya.
Dulu aku mengira malam itu aku salah menarik pria.
Aku salah masuk mobil, salah mengenali orang, salah membuat keputusan, dan mungkin salah memilih jalan hidup.
Ternyata tidak semua kesalahan membawa kita ke tempat yang salah.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari jalan yang sudah direncanakan sampai lupa bahwa hidup punya caranya sendiri mempertemukan dua orang.
Aku memang salah menarik pria di depan bar malam itu.
Tapi ketika melihat Aditya tertidur di sampingku, satu tangan masih melindungi perutku secara refleks, akhirnya aku mengerti.
Mungkin aku hanya salah mengenali wajahnya.
Bukan salah memilih orangnya.
