Aku menunjuk pintu.
“Rumah ini milikku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, mabuk di wajah Galang seperti menguap.
Dia menatapku beberapa detik, lalu tertawa pendek.
“Apa?”
“Aku bilang, keluar.”
Citra yang masih menggandeng lengannya ikut terdiam.
Galang melepaskan tangan Citra, lalu berjalan mendekatiku dengan langkah sedikit sempoyongan.
“Laras, jangan mulai drama baru. Apartemen ini aku yang pilih.”

“Benar. Kamu yang pilih.”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Tapi yang membelinya ibuku.”
Senyumnya perlahan menghilang.
Delapan tahun lalu, ketika hubungan kami baru berjalan beberapa bulan, ibuku membeli apartemen ini atas namaku. Beliau mengatakan seorang perempuan harus punya tempat pulang yang tidak bisa direbut siapa pun, bahkan oleh laki-laki yang paling dicintainya.
Waktu itu aku menertawakan nasihatnya.
Aku bahkan pernah berkata, “Galang bukan orang seperti itu, Bu.”
Sekarang kalimat itu terasa seperti tamparan.
Galang mengusap wajahnya.
“Besok kita bicara saat kamu sudah tenang.”
“Aku sangat tenang.”
Aku mengambil ponsel dan menelepon petugas keamanan gedung.
“Pak Dimas, tolong naik ke unit saya. Ada dua orang yang harus keluar.”
Wajah Citra berubah.
“Kak Laras, serius?”
Aku menatapnya.
“Kamu membuang barang terakhir yang dibuat ibuku sebelum meninggal. Menurutmu aku masih bercanda?”
Galang tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.
Cengkeramannya cukup kuat hingga terasa sakit.
“Jangan keterlaluan.”
Aku melihat tangannya, lalu kembali menatap wajahnya.
“Lepaskan.”
Entah apa yang dia lihat di mataku, jemarinya akhirnya mengendur.
Beberapa menit kemudian, dua petugas keamanan datang. Galang jelas tidak menyangka aku benar-benar akan mengusirnya.
Dia berdiri di depan pintu dengan wajah gelap.
“Laras, kalau aku keluar malam ini, jangan berharap aku kembali.”
Dulu, ancaman seperti itu pasti membuatku panik.
Aku mungkin akan memegang tangannya, menangis, meminta maaf meskipun bukan aku yang salah.
Namun malam itu aku hanya membuka pintu lebih lebar.
“Bagus.”
Citra menatapku dengan ekspresi sulit dibaca sebelum mengikuti Galang keluar.
Pintu tertutup.
Aku menguncinya.
Kemudian mengganti kode akses.
Setelah itu, barulah kakiku kehilangan tenaga.
Aku duduk di lantai.
Bukan karena kehilangan Galang.
Aku menangisi diriku sendiri.
Perempuan yang selama delapan tahun terus menurunkan harga dirinya demi mempertahankan seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapnya setara.
Pagi berikutnya, aku bangun karena puluhan notifikasi.
Galang menelepon sebelas kali.
Aku tidak menjawab.
Pesan terakhirnya berbunyi, “Kalau sudah selesai tantrum, hubungi aku.”
Aku memblokir nomornya.
Lalu aku melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kulakukan.
Aku menghubungi pengacara keluarga.
Namanya Armand, sahabat lama ayahku yang selama ini mengurus beberapa aset peninggalan orang tuaku.
Begitu mendengar suaraku, dia langsung bertanya, “Akhirnya kamu siap?”
Aku terdiam.
“Siap untuk apa?”
“Memisahkan hidupmu dari Galang Pradana.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Om sudah tahu?”
Armand menghela napas.
“Ibumu tahu sejak lama.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Ternyata sebelum meninggal, Ibu pernah meminta Armand memastikan aset warisanku tidak pernah bercampur dengan Galang.
Aku tidak pernah tahu.
Ibu tidak melarang hubungan kami karena tahu semakin dilarang, semakin keras aku akan mempertahankannya.
Beliau hanya meninggalkan perlindungan terakhir untukku.
Hari itu aku pergi ke kantor Armand.
Di sana aku baru memahami sesuatu yang selama ini sengaja kuabaikan.
Aku bukan perempuan yang “hidup nyaman karena Galang”, seperti yang selalu dia katakan.
Apartemenku milik sendiri.
Dana investasiku berasal dari warisan orang tuaku.
Bahkan ketika bisnis Galang mengalami masalah arus kas tiga tahun lalu, perusahaan investasi milik keluargaku pernah memberikan pinjaman melalui perusahaan perantara.
Galang tidak pernah tahu pemilik manfaat akhirnya adalah aku karena seluruh transaksi dikelola profesional.
Aku menatap dokumen di meja.
“Berapa utangnya?”
“Dengan bunga dan penalti keterlambatan, sekitar dua puluh tujuh miliar rupiah.”
Aku hampir tertawa.
Pria yang melempar uang ke wajahku semalam ternyata berutang pada perusahaan milikku.
“Jatuh temponya?”
“Dua minggu lagi.”
Aku menutup berkas itu.
“Jangan diperpanjang.”
Armand mengangkat alis.
“Kamu yakin?”
“Sepenuhnya.”
Namun sebelum aku meninggalkan kantor, aku teringat sesuatu.
“Syal ibu saya.”
Armand menatapku.
“Ada cara mencarinya?”
Aku menjelaskan semuanya.
Dua hari kemudian kami memperoleh rekaman CCTV gedung.
Citra memang keluar dari apartemen sebulan lalu membawa syal itu.
Namun dia tidak membuangnya di tempat sampah gedung.
Dia memasukkannya ke tas.
Kecurigaanku muncul.
Aku mencari akun media sosial Citra.
Tidak ada syal.
Sampai akhirnya aku menemukan foto lama dari sebuah acara kantor.
Di leher Citra ada syal biru keabu-abuan itu.
Foto tersebut diunggah tiga minggu lalu.
Jadi dia berbohong.
Aku mengirim satu pesan kepadanya.
“Kembalikan syal ibuku dalam dua puluh empat jam. Setelah itu aku tidak akan menghubungimu lagi.”
Balasannya datang sepuluh menit kemudian.
“Aku sudah bilang, syalnya dibuang.”
Aku mengirim foto tersebut.
Tidak ada jawaban lagi.
Malamnya, Galang datang.
Aku melihatnya dari monitor interkom, berdiri di lobi dengan wajah kesal.
Aku tidak membukakan pintu.
Dia menelepon dari nomor lain.
“Kamu mempermalukan Citra gara-gara kain murah?”
“Aku cuma meminta milikku kembali.”
“Aku akan belikan seratus syal.”
“Aku tidak mau seratus. Aku mau yang dibuat ibuku.”
Dia terdiam sesaat.
Kemudian suaranya berubah dingin.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan hubungan delapan tahun karena benda nggak berharga?”
Aku tersenyum pahit.
“Bukan syalnya yang menghancurkan hubungan kita.”
Aku berhenti sebentar.
“Kamu.”
Aku memutus telepon.
Seminggu berikutnya menjadi minggu paling sunyi dalam delapan tahun hidupku.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada hadiah palsu.
Tidak ada pesan yang membuatku merasa bersalah.
Awalnya kehampaan itu menakutkan.
Kemudian perlahan berubah menjadi damai.
Aku mulai kembali ke kantor yayasan investasi keluarga yang selama ini hanya kudatangi sesekali.
Aku kembali bertemu teman-teman lama yang kujauhi karena Galang tidak menyukai mereka.
Aku memotong rambut.
Memindahkan barang-barangnya ke gudang.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membeli hadiah untuk diriku sendiri.
Bukan tas.
Bukan perhiasan.
Sebuah syal rajutan sederhana dari toko kecil.
Harganya Rp180.000.
Saat kasir memasukkannya ke kantong, aku justru menangis.
Karena akhirnya aku mengerti.
Harga tidak pernah menentukan nilai sebuah benda.
Oranglah yang memberinya makna.
Dua minggu kemudian, telepon dari Armand datang pukul sembilan pagi.
“Laras, pihak Pradana mengajukan permohonan perpanjangan utang.”
“Ditolak.”
“Mereka menawarkan tambahan jaminan.”
“Ditolak.”
Armand tertawa kecil.
“Baik.”
Siang itu, untuk pertama kalinya Galang datang ke kantorku.
Bukan ke apartemen.
Bukan untuk membawakan hadiah.
Dia datang bersama ayahnya.
Wajah Galang berubah ketika melihat namaku tercantum di ruang rapat sebagai komisaris utama perusahaan investasi.
“Ini perusahaanmu?”
Aku duduk di ujung meja.
“Sebagian besar sahamnya milikku.”
Ayah Galang langsung memahami situasinya.
Wajahnya pucat.
“Laras, masalah pribadi sebaiknya tidak dibawa ke bisnis.”
Aku membuka dokumen.
“Tidak ada masalah pribadi di sini, Pak. Pinjaman perusahaan Bapak sudah jatuh tempo.”
Galang menatapku seolah baru pertama kali melihatku.
“Jadi kamu sengaja?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Pinjaman ini diberikan tiga tahun lalu, jauh sebelum aku tahu pacarku menganggapku mainan.”
Rahangnya mengeras.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Yang berubah hanya satu hal. Dulu aku mungkin akan meminta perusahaan ini memberi kelonggaran karena aku percaya pada hubungan kita.”
Aku menatapnya.
“Sekarang tidak.”
Ayah Galang mencoba bernegosiasi hampir satu jam.
Akhirnya disepakati restrukturisasi dengan syarat jauh lebih ketat dan tambahan jaminan aset perusahaan.
Saat pertemuan selesai, ayah Galang keluar lebih dulu.
Galang tetap duduk.
Ruangan menjadi sunyi.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya semua ini?”
Aku hampir tidak percaya dengan pertanyaannya.
“Kenapa aku harus bilang?”
“Delapan tahun, Laras.”
“Ya. Delapan tahun.”
Aku tersenyum tipis.
“Delapan tahun kamu juga tidak pernah bertanya siapa aku. Kamu hanya sibuk menjelaskan kepadaku siapa diriku menurutmu.”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang menyerupai penyesalan di wajahnya.
“Aku cuma bercanda malam itu.”
“Barang-barang palsu juga bercanda?”
Dia tidak menjawab.
“Teman-temanmu menertawakanku delapan tahun juga bercanda?”
Tetap diam.
“Memberikan syal ibuku kepada Citra?”
Wajahnya menegang.
“Laras…”
Aku berdiri.
“Sudah selesai.”
Tangannya tiba-tiba menangkap tanganku.
Kali ini bukan keras.
Hampir putus asa.
“Aku bisa berubah.”
Aku menatap jemarinya.
Dulu aku menunggu kalimat itu bertahun-tahun.
Sekarang ketika akhirnya mendengarnya, tidak ada apa-apa di dadaku.
Aku menarik tanganku.
“Berubahlah.”
Matanya menyala sedikit.
Namun aku melanjutkan.
“Bukan untukku.”
Aku meninggalkannya sendirian di ruang rapat.
Tiga hari kemudian, sebuah paket tiba di apartemen.
Di dalamnya ada syal ibuku.
Aku langsung mengenali benang yang sedikit terlepas di ujungnya.
Tanganku gemetar saat memeluk syal itu.
Ada secarik kertas dari Citra.
“Aku tidak membuangnya. Aku menyimpannya karena aku menyukainya. Maaf.”
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Sore itu Citra menelepon.
Suaranya terdengar berbeda dari biasanya.
“Kak Laras, aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Pak Galang tidak pernah bilang Kakak adalah pacarnya.”
Aku terdiam.
“Dia bilang hubungan kalian sudah lama selesai. Katanya Kakak hanya tinggal di apartemen yang sama karena belum mau menerima putus.”
Dadaku terasa dingin.
Citra melanjutkan.
“Dia juga bilang semua barang mahal yang dia berikan kepadaku dibeli karena… dia serius denganku.”
Aku menutup mata.
Ternyata bukan hanya aku yang dibohongi.
“Kenapa kamu mengatakan ini sekarang?”
Citra tertawa pahit.
“Karena kemarin aku membawa jam tangan yang dia berikan untuk diperbaiki.”
Aku sudah bisa menebak kelanjutannya.
“Palsu?”
“Palsu.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku tertawa.
Bukan karena senang melihat Citra terluka.
Melainkan karena semuanya terasa begitu absurd.
Galang tidak berubah.
Dia hanya mengganti perempuan.
Sebulan kemudian, aku mendengar Citra mengundurkan diri dari perusahaan Pradana.
Hubungannya dengan Galang berakhir.
Teman-teman Galang yang dulu menertawakanku mulai mengirim pesan meminta maaf setelah kondisi bisnis keluarga Pradana menjadi bahan pembicaraan di kalangan mereka.
Tidak satu pun kubalas.
Aku tidak membutuhkan permintaan maaf dari orang-orang yang baru menghormatiku setelah mengetahui nilai rekening bankku.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore aku datang ke makam Ibu.
Aku membawa syal itu.
Warnanya sudah sedikit pudar, dan ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki.
Aku duduk di depan batu nisannya sambil tersenyum.
“Bu, ternyata aku tidak jadi menikah dengannya.”
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
Aku teringat perkataan Ibu saat memberikan syal itu.
“Kalau suatu hari kamu menikah, pakailah ini. Bukan karena mahal, tapi supaya kamu ingat ada rumah yang selalu menunggumu.”
Dulu kupikir rumah yang dimaksud adalah sebuah tempat.
Sekarang aku mengerti.
Rumah itu adalah diriku sendiri.
Aku harus menjadi tempat pertama yang aman bagi diriku sendiri sebelum berharap orang lain melakukannya.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul.
“Aku menemukan sesuatu milikmu. Bisa kita bertemu?”
Ada foto terlampir.
Sebuah kotak beludru kecil.
Aku mengenalinya.
Kotak cincin yang pernah diberikan Galang pada ulang tahunku tiga tahun lalu.
Aku hampir menghapus pesan itu sampai pesan kedua masuk.
“Nama saya Reza. Saya membeli kotak ini dari pasar barang bekas. Ada surat terlipat di bagian bawahnya. Surat itu ditujukan untuk Laras.”
Jantungku berdegup.
Aku memperbesar foto.
Tulisan tangan di amplop itu membuat napasku berhenti.
Itu tulisan Ibu.
Malamnya aku menemui Reza di sebuah kafe.
Dia menyerahkan kotak tersebut tanpa banyak bertanya.
Di balik lapisan kain bagian bawah memang ada sebuah amplop tipis.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Surat itu singkat.
Ibu menulisnya beberapa minggu sebelum meninggal.
“Laras, kalau kamu menemukan surat ini, mungkin kamu akhirnya belajar membedakan sesuatu yang asli dan sesuatu yang hanya terlihat mahal. Ibu tidak bicara tentang tas, cincin, atau jam tangan. Ibu bicara tentang manusia. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan membuatmu merasa harus membuktikan bahwa kamu layak dicintai. Kalau suatu hari kamu kehilangan seseorang karena memilih menghargai dirimu sendiri, jangan menangis terlalu lama. Kamu tidak kehilangan cinta. Kamu hanya berhenti memelihara kepalsuan.”
Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.
Kemudian aku tertawa sambil menangis.
Selama delapan tahun, aku mengira kebodohan terbesarku adalah tidak mampu membedakan barang asli dan palsu.
Ternyata aku salah.
Kesalahanku bukan karena gagal mengenali tas palsu.
Kesalahanku adalah mengira cinta yang membuatku terus merasa tidak cukup sebagai cinta yang asli.
Aku melipat surat itu dengan hati-hati.
Reza yang duduk di seberangku pura-pura sibuk dengan kopinya, memberiku ruang untuk menangis tanpa merasa dipermalukan.
Aku mengenakan syal buatan Ibu, lalu menatap pantulan diriku di jendela kafe.
Tidak ada tas bermerek di tanganku.
Tidak ada jam tangan mahal.
Tidak ada Galang di sampingku.
Anehnya, aku tidak pernah merasa sekaya ini.
Karena akhirnya aku memiliki sesuatu yang selama delapan tahun tidak pernah bisa diberikan Galang kepadaku, bahkan jika dia membuka seribu botol anggur seharga miliaran rupiah.
Harga diri.
Dan kali ini, aku tahu itu asli.
