Tepuk tangan yang semula memenuhi auditorium perlahan mati ketika aku melangkah ke atas panggung sambil menggendong Raka.
Aku masih bisa mendengar bisikan perempuan tadi dari arah deretan tamu undangan.
“Kasihan orang tuanya. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi, malah begini.”
Aku menelan ludah. Tanganku yang menopang tubuh Raka mulai gemetar, tetapi aku memaksa kakiku terus bergerak. Aku sudah melewati terlalu banyak malam tanpa tidur untuk membiarkan beberapa kalimat asing menghancurkan hari ini.
Profesor Ratna berdiri dari kursinya.

“Bolehkah semuanya tenang sebentar?”
Auditorium mendadak sunyi.
Beliau menatapku beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan kepada ribuan orang di hadapannya.
“Saya tahu sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya mengapa seorang wisudawati membawa bayi ke atas panggung.”
Jantungku seperti berhenti.
Aku tidak pernah meminta Profesor Ratna menjelaskan apa pun. Bahkan selama berbulan-bulan terakhir, aku selalu menolak ketika beberapa dosen menawarkan bantuan untuk menceritakan keadaan sebenarnya kepada teman-temanku.
Aku tidak membutuhkan belas kasihan.
Namun Profesor Ratna melanjutkan.
“Sebelum menilai seseorang dari apa yang kita lihat selama tiga puluh detik, mungkin kita perlu mengetahui apa yang ia jalani selama tiga tahun terakhir.”
Raka bergerak kecil dalam pelukanku.
Profesor Ratna menatap bayi itu.
“Bayi yang digendong Larasati bukan anaknya.”
Terdengar beberapa helaan napas tertahan.
Perempuan berkebaya yang tadi mengejekku langsung menoleh kepada temannya.
Aku memejamkan mata.
Kenangan tiga tahun lalu kembali seperti film yang diputar paksa.
Saat itu aku baru berusia sembilan belas tahun.
Ayah sudah lama meninggalkan kami. Aku tinggal bersama ibu dan kakak perempuanku, Maya, di sebuah rumah sederhana di Bantul. Maya tujuh tahun lebih tua dariku dan bekerja sebagai perawat di sebuah klinik swasta.
Ketika ibu meninggal karena serangan jantung, Maya menjadi satu-satunya keluargaku.
Ia membayar sebagian biaya kuliahku, mengirim uang makan ketika tabunganku menipis, bahkan pernah menjual gelang peninggalan ibu agar aku tidak berhenti kuliah.
“Pokoknya kamu harus lulus,” katanya suatu malam.
“Kalau aku lulus, Mbak dapat apa?”
Maya tertawa.
“Aku dapat adik yang bisa mentraktirku bakso sampai tua.”
Itulah Maya.
Ia selalu bercanda bahkan ketika hidup sedang tidak ramah kepadanya.
Setahun kemudian, Maya menikah dengan seorang pria bernama Ardi.
Awalnya aku menyukainya. Ardi terlihat sopan dan perhatian. Namun setelah beberapa bulan, aku mulai melihat perubahan pada kakakku.
Maya semakin jarang menelepon.
Ia berhenti datang ke rumah.
Suatu malam ia datang menemuiku dengan memar tipis di pergelangan tangan.
“Ini kenapa?”
“Terbentur pintu.”
Aku tahu ia berbohong.
Tetapi setiap kali aku mendesaknya, Maya selalu tersenyum.
“Jangan ikut campur rumah tangga Mbak. Fokus kuliah.”
Beberapa bulan kemudian, Maya mengatakan bahwa dirinya hamil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat kebahagiaan kembali di wajahnya.
Ia bahkan sudah memilih nama.
Raka.
“Aku ingin dia tumbuh menjadi laki-laki yang lembut,” katanya sambil mengusap perutnya. “Bukan laki-laki yang mengira kekuatan berarti boleh menyakiti orang lain.”
Kalimat itu membuatku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang selama ini disembunyikannya.
Namun aku tidak pernah menyangka waktu kami tinggal begitu sedikit.
Tiga bulan setelah Raka lahir, aku menerima telepon dari rumah sakit.
Maya mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor sepulang dari tempat kerja.
Aku tiba ketika dokter sedang berusaha menyelamatkannya.
Maya bertahan sampai menjelang subuh.
Tangannya dingin ketika menggenggam jariku.
“Laras.”
“Aku di sini, Mbak.”
“Raka.”
Aku menangis dan mengangguk.
“Jangan ngomong begitu. Mbak akan pulang. Kita besarkan Raka sama-sama.”
Maya menggeleng lemah.
“Kalau sesuatu terjadi sama Mbak, jangan serahkan Raka kepada Ardi.”
Aku terdiam.
“Mbak ngomong apa?”
“Janji.”
“Mbak…”
“Janji, Laras.”
Air matanya mengalir.
Aku akhirnya mengangguk.
“Aku janji.”
Itu menjadi percakapan terakhir kami.
Maya meninggal beberapa menit kemudian.
Aku pikir kesedihan adalah hal terburuk yang harus kuhadapi.
Ternyata aku salah.
Dua hari setelah pemakaman, Ardi menghilang.
Nomornya tidak aktif. Kontrakan mereka kosong. Bahkan beberapa barang berharga milik Maya ikut dibawa.
Raka ditinggalkan bersamaku.
Saat itu usianya bahkan belum genap tiga bulan.
Aku berusia dua puluh satu tahun, masih mahasiswa, bekerja paruh waktu sebagai penulis konten, dan hanya memiliki tabungan beberapa juta rupiah.
Aku tidak tahu cara menjadi ibu.
Aku bahkan tidak tahu cara membuat susu formula dengan benar.
Malam pertama Raka demam, aku menangis bersamanya sampai pukul tiga pagi.
Aku menelepon dosen pembimbingku sambil panik.
Orang yang datang ke IGD malam itu adalah Profesor Ratna, yang ketika itu masih menjabat sebagai dekan.
Beliau tidak bertanya mengapa aku merepotkannya.
Ia hanya duduk di sampingku dan berkata, “Besok kita pikirkan kuliahmu. Malam ini kita pastikan Raka baik-baik saja.”
Sejak saat itulah perjuanganku benar-benar dimulai.
Aku membawa Raka ke kampus ketika pengasuh berhalangan. Aku mengerjakan skripsi setelah ia tidur. Aku pernah presentasi dengan mata bengkak karena semalaman menjaganya sakit.
Aku hampir mengundurkan diri dua kali.
Tetapi setiap kali ingin menyerah, aku teringat Maya.
Pokoknya kamu harus lulus.
Suara Profesor Ratna membawaku kembali ke auditorium.
“Larasati kehilangan ibu, kemudian kakak satu-satunya. Ia mengambil tanggung jawab yang bahkan tidak seharusnya ditanggung seorang mahasiswa seusianya.”
Ruangan benar-benar diam.
“Dan ada satu hal lagi yang mungkin belum diketahui Laras.”
Aku menoleh cepat.
Profesor Ratna berjalan menuju meja di sisi panggung dan mengambil sebuah amplop cokelat.
“Apa itu, Bu?”
Beliau tidak langsung menjawab.
“Dua minggu lalu, universitas menerima surat dari seorang pengacara.”
Perutku terasa mual.
Profesor Ratna menyerahkan amplop itu kepadaku.
Nama Maya tertulis di bagian depan.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen dan sebuah surat tulisan tangan.
Aku mengenali tulisan itu.
Tulisan kakakku.
Laras, kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh untuk pertama kalinya.
Profesor Ratna menyentuh bahuku.
“Baca kalau kamu sanggup.”
Aku menarik napas dan melanjutkan.
Aku tahu Ardi mungkin akan pergi kalau sesuatu terjadi padaku. Karena itu, sebelum Raka lahir, aku sudah mengurus dokumen perwalian sementara dan menyimpan sejumlah uang atas nama Raka. Aku memilihmu sebagai wali yang kupercaya, tetapi aku juga menulis satu hal kepada pengacara. Kalau kamu masih kuliah ketika aku pergi, uang itu baru boleh diberikan setelah kamu lulus. Aku tidak mau kamu mengorbankan masa depanmu karena merasa harus menjadi ibu bagi anakku.
Tanganku menutupi mulut.
Selama berbulan-bulan aku hidup dari honor menulis, menjual beberapa barang, dan menerima pekerjaan tambahan karena mengira Maya tidak meninggalkan apa pun.
Aku membaca kalimat terakhir.
Kalau suatu hari orang-orang menghakimimu karena membawa Raka bersamamu, jangan marah. Mereka hanya melihat apa yang ada di tanganmu. Mereka tidak tahu apa yang ada di pundakmu.
Tangisku pecah.
Lalu terdengar satu tepuk tangan.
Profesor Ratna.
Kemudian dosen di sebelahnya ikut berdiri.
Satu per satu orang di auditorium bangkit.
Dalam hitungan detik, seluruh ruangan dipenuhi tepuk tangan.
Aku memeluk Raka erat.
Tetapi sebelum Profesor Ratna menyerahkan ijazah, suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Laras!”
Tubuhku membeku.
Aku mengenali suara itu.
Ardi.
Ia berjalan dari pintu auditorium dengan wajah tegang.
“Raka anak saya.”
Tepuk tangan berhenti.
“Aku ayah kandungnya. Aku berhak membawanya.”
Aku refleks mundur.
“Setelah hampir setahun menghilang, sekarang kamu datang?”
“Aku punya masalah.”
“Kamu bahkan tidak datang ke pemakaman Maya!”
Wajah Ardi memerah.
“Jangan bikin drama di sini. Serahkan Raka.”
Beberapa petugas keamanan mulai mendekat, tetapi Ardi mengeluarkan selembar dokumen.
“Aku ayah biologisnya.”
Profesor Ratna tetap tenang.
“Dan pengadilan sudah menetapkan wali sementara anak tersebut.”
Ardi terdiam.
Aku menatap Profesor Ratna.
Beliau menunjuk dokumen dalam amplopku.
“Pengacara almarhumah Maya mengurus prosesnya setelah mengetahui Saudara Ardi meninggalkan anak tanpa pengasuhan dan tidak dapat dihubungi.”
Ardi memandangku dengan kebencian.
“Kamu merampas anakku.”
Aku akhirnya menemukan keberanian untuk menatapnya.
“Tidak. Kamu yang meninggalkannya.”
Ardi hendak mengatakan sesuatu, tetapi dua petugas keamanan sudah berdiri di sampingnya.
Saat itulah perempuan berkebaya yang tadi mengejekku mendadak berdiri.
“Ardi?”
Semua orang menoleh.
Wajah perempuan itu pucat.
Ardi juga terlihat terkejut.
“Ibu?”
Aku membeku.
Perempuan yang beberapa menit lalu menghina ibuku ternyata ibu Ardi.
Ia berjalan perlahan mendekati kami.
Tatapannya berpindah dari Ardi kepada Raka.
“Jadi… bayi itu cucuku?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia menutup mulut.
Air matanya mulai mengalir.
“Aku tidak tahu.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
Ia mendekat satu langkah.
“Laras, maafkan saya. Ardi bilang Maya meninggalkannya dan membawa anak mereka pergi.”
Aku tertawa kecil, tetapi rasanya pahit.
“Maya tidak pergi ke mana-mana, Bu.”
Aku menatap Ardi.
“Dia meninggal.”
Perempuan itu terhuyung dan memegang kursi.
Ardi menunduk.
Barulah semuanya masuk akal.
Ia bukan hanya meninggalkan Raka.
Ia berbohong kepada keluarganya agar tidak perlu mempertanggungjawabkan apa pun.
Ibunya menampar Ardi tepat di depan semua orang.
Suara tamparan itu terdengar jelas dalam auditorium yang sunyi.
“Kamu bilang istrimu kabur!”
Ardi tidak menjawab.
“Setahun kamu membohongi kami?”
“Ibu, dengarkan dulu.”
“Keluar.”
“Ibu…”
“Keluar!”
Petugas keamanan akhirnya membawanya pergi.
Aku berdiri tanpa tahu harus merasakan apa.
Marah.
Lega.
Sedih.
Semuanya bercampur.
Perempuan itu memandangku lagi.
“Bolehkah saya melihat cucu saya?”
Aku menatap Raka yang masih tertidur.
Ada bagian dalam diriku yang ingin mengatakan tidak.
Namun kemudian aku teringat Maya.
Ia ingin Raka tumbuh menjadi laki-laki yang lembut.
Dan kelembutan tidak lahir dari dendam yang diwariskan.
“Boleh,” jawabku. “Tapi bukan hari ini.”
Perempuan itu mengangguk sambil menangis.
Aku kembali menghadap Profesor Ratna.
Beliau mengambil ijazahku.
“Larasati Ayu Prameswari, Sarjana Pendidikan, cumlaude.”
Aku menerima ijazah dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggendong Raka.
“Selamat.”
“Terima kasih, Bu.”
Profesor Ratna tersenyum.
“Sekarang foto.”
Aku tertawa di antara air mata.
Kamera mengarah kepada kami.
Tepat ketika kilatan cahaya muncul, Raka terbangun.
Ia menatapku beberapa detik, lalu tersenyum.
Tawa memenuhi auditorium.
Namun kali ini bukan tawa yang merendahkan.
Hari itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.
Orang akan selalu melihat hasil sebelum mengetahui perjuangan.
Mereka melihat bayi di pelukanku, tetapi tidak melihat makam yang kutinggalkan setiap kali pulang ke kampus.
Mereka melihat mahasiswa yang datang terlambat, tetapi tidak melihat malam-malam ketika aku mengerjakan skripsi sambil mengukur suhu tubuh Raka.
Mereka melihat seorang perempuan muda dengan seorang bayi dan merasa sudah mengetahui seluruh hidupnya.
Padahal manusia jauh lebih rumit daripada apa yang terlihat dalam beberapa detik.
Enam bulan kemudian aku diterima mengajar di sebuah SMA di Yogyakarta.
Aku membawa Raka mengunjungi makam Maya pada hari pertama aku menerima gaji.
Aku meletakkan setangkai bunga di atas makamnya.
“Mbak.”
Raka yang kini sudah mulai belajar berdiri memegang batu nisan sambil mengoceh.
Aku tersenyum.
“Aku sudah lulus. Jadi utang baksonya tetap berlaku, ya.”
Angin sore berembus pelan.
Aku mengusap nama Maya pada batu nisan.
“Oh iya, satu lagi. Raka sekarang punya nenek.”
Ibu Ardi akhirnya menjadi bagian kecil dari hidup kami setelah melalui proses panjang. Bukan sebagai seseorang yang mengambil Raka dariku, melainkan sebagai seorang nenek yang datang setiap akhir pekan membawa buah dan mainan terlalu banyak.
Sedangkan Ardi harus menghadapi proses hukum terkait penelantaran keluarga dan persoalan lain yang kemudian terungkap dari penyelidikan.
Aku tidak pernah menjelaskan kisah wisudaku kepada orang-orang di media sosial meskipun foto diriku menggendong Raka sempat tersebar luas.
Aku tidak merasa perlu.
Karena foto itu menyimpan sesuatu yang hanya kupahami setelah kehilangan begitu banyak orang.
Hari wisuda bukanlah hari ketika aku membuktikan kepada orang-orang bahwa mereka salah menilaiku.
Hari itu adalah hari ketika aku akhirnya berhenti merasa wajib menjelaskan hidupku kepada siapa pun.
Aku datang ke panggung bukan sebagai perempuan yang harus dikasihani.
Bukan pula sebagai pahlawan.
Aku hanya seorang adik yang menepati janji kepada kakaknya.
Dan ketika aku menatap Raka yang tertawa di depan makam ibunya, aku akhirnya memahami mengapa Maya mempercayaiku.
Keluarga ternyata tidak selalu berarti orang yang melahirkan kita atau memiliki hubungan darah paling dekat.
Kadang keluarga adalah seseorang yang tetap tinggal ketika semua orang memilih pergi.
Aku mengangkat Raka ke dalam pelukanku.
“Ayo pulang.”
Ia tertawa dan menarik ujung rambutku.
Aku menatap makam Maya sekali lagi.
Kali ini aku tidak menangis.
Sebab aku tahu, janji yang kubuat di sebuah kamar rumah sakit hampir setahun lalu bukanlah akhir dari masa mudaku seperti yang pernah kutakutkan.
Janji itu justru menjadi awal dari hidup yang tidak pernah kurencanakan.
Hidup yang jauh lebih berat.
Namun juga jauh lebih berarti.
