Tamparan Bu Ratih masih terasa panas di pipiku ketika aku menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada rasa perih itu.
Reza tidak bergerak.
Laki-laki yang delapan tahun terakhir selalu mengatakan akan menjadi orang pertama yang berdiri di depanku jika siapa pun menyakitiku, kini hanya berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah lelah.
“Bu, sudah,” katanya lagi.

Aku menatapnya.
“Hanya itu?”
Reza mengerutkan kening. “Apa?”
Aku menunjuk pipiku sendiri.
“Ibumu baru menamparku.”
“Alya, situasinya sedang panas.”
“Dan kamu membiarkannya.”
Bu Ratih mendengus.
“Masih berani menuntut dibela? Kamu mengandung anak laki-laki lain!”
Pak Damar mencoba menarik istrinya mundur, tetapi Bu Ratih menepis tangannya.
“Besok kita batalkan semua rencana pernikahan. Keluarga kita tidak akan menanggung malu.”
Aku hampir menjawab ketika Nadia tiba-tiba memegang perutnya.
“Reza…”
Semua perhatian langsung beralih kepadanya.
“Aku pusing.”
Reza refleks menghampiri.
“Nad?”
“Aku mual.”
Dia memegang bahu Nadia.
Bu Ratih yang semenit lalu terlihat seperti ingin mencabik wajahku langsung berubah panik.
“Ya Allah, duduk dulu. Jangan berdiri lama-lama.”
Aku memperhatikan mereka dalam diam.
Nadia didudukkan di sofa.
Reza mengambilkan air.
Bu Ratih mengusap punggungnya.
Pak Damar memanggil asisten rumah tangga untuk membuat teh hangat.
Dan aku berdiri sendirian di dekat tangga dengan pipi merah.
Saat itu aku akhirnya mengerti.
Tidak ada tempat untukku di rumah itu.
Bukan karena aku hamil anak laki-laki lain.
Bahkan sebelum malam di Bandung, aku sudah selalu berada di urutan kedua.
Aku kembali ke kamar dan memasukkan pakaian ke koper.
Tidak sampai dua puluh menit.
Reza baru menyadarinya ketika aku turun membawa koper.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ke apartemen?”
Aku mengangguk.
Reza menghela napas.
“Jangan kekanak-kanakan.”
Aku berhenti.
Aneh sekali.
Kalimat itu justru membuatku tenang.
“Reza, selama delapan tahun aku selalu mencoba memahami hubunganmu dengan Nadia. Setiap ulang tahunnya kamu datang. Kalau dia sakit, kamu mengantar obat. Kalau pacarnya menyakitinya, kamu orang pertama yang dia telepon.”
“Alya…”
“Bahkan saat aku memohon kamu jangan meninggalkanku di Bandung, kamu tetap pergi.”
Nadia berdiri perlahan.
“Aku bisa pulang kalau keberadaanku membuat kalian bertengkar.”
Aku menatapnya.
“Jangan.”
Dia terdiam.
“Kamu tetap di sini saja. Bukankah itu yang kamu inginkan?”
Wajahnya berubah.
Reza mendekatiku.
“Kita bicara besok setelah semuanya tenang.”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
Aku melepas cincin pertunangan dari jari.
Untuk beberapa detik aku memandang benda kecil yang dulu membuatku menangis bahagia.
Kemudian aku meletakkannya di meja.
“Akad kita batal.”
Bu Ratih langsung menyahut, “Memang seharusnya batal.”
Namun Reza justru terlihat panik.
“Alya.”
“Apa?”
“Kita sudah bicara. Aku tetap mau menikah denganmu.”
Aku menatap Nadia.
“Lalu dia?”
Reza tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Aku menarik koper keluar rumah.
Reza mengejarku sampai halaman.
“Alya, jangan membuat keputusan saat emosi.”
Aku membuka pintu taksi daring yang baru tiba.
“Justru untuk pertama kalinya aku membuat keputusan tanpa emosi.”
“Kamu mau membesarkan anak itu sendirian?”
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti.
Reza menatapku dengan wajah serius.
“Pikirkan baik-baik. Anakmu tetap butuh ayah.”
Aku tersenyum tipis.
“Lebih baik tidak punya ayah daripada tumbuh melihat ibunya diperlakukan seperti cadangan.”
Aku masuk ke mobil.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku meninggalkan Reza tanpa menoleh ke belakang.
Tiga hari kemudian, aku kembali ke dokter kandungan.
Sendirian.
Aku duduk cukup lama sebelum akhirnya mengatakan keputusan yang bahkan membuat diriku sendiri terkejut.
“Saya mau mempertahankannya, Dok.”
Dokter menatapku.
“Sudah yakin?”
Aku mengangguk.
Aku memang melakukan kesalahan malam itu.
Tetapi bayi di dalam tubuhku bukan kesalahan.
Dia tidak meminta diciptakan dari kemarahan dua orang dewasa.
Dia tidak pantas kehilangan kesempatan hidup hanya karena aku takut menghadapi konsekuensiku sendiri.
Aku juga mulai mencari Arga.
Satu-satunya informasi yang kumiliki hanyalah nama depan dan hotel tempat kami bertemu.
Aku menghubungi panitia gathering.
Meminta daftar tamu.
Tidak ada Arga.
Aku menghubungi hotel.
Mereka menolak memberikan data tamu karena privasi.
Akhirnya aku menyerah.
Sampai dua minggu kemudian sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.
“Alya Prameswari?”
“Iya.”
“Saya Arga.”
Aku sampai berdiri dari kursi.
Suara di ujung telepon terdengar tenang.
“Kamu mencari saya?”
Kami bertemu sore itu di sebuah kafe di Senopati.
Ketika melihatnya dalam keadaan sadar sepenuhnya, aku hampir tidak mengenalinya.
Arga ternyata bukan tamu gathering.
Dia pemilik perusahaan teknologi yang sedang melakukan pertemuan investor di hotel yang sama.
Aku mengatakan semuanya.
Tentang kehamilan.
Tentang Reza.
Tentang keputusan mempertahankan bayi.
Arga tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap meja beberapa detik.
Kemudian bertanya, “Kamu yakin anaknya anak saya?”
“Tidak seratus persen sampai tes DNA dilakukan.”
Dia mengangguk.
“Bagus.”
Aku tersinggung.
Tetapi Arga melanjutkan.
“Bukan karena saya menuduh kamu. Saya cuma tidak mau kita membangun keputusan besar dari asumsi.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, ada seseorang yang berbicara kepadaku tanpa menghakimi.
“Apa pun hasilnya nanti,” katanya, “kalau memang anak saya, saya akan bertanggung jawab.”
“Aku tidak meminta kamu menikahiku.”
Arga hampir tersenyum.
“Saya juga tidak sedang menawarkan.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
Kami sepakat menjalani semuanya perlahan.
Sementara itu, hidup Reza justru mulai berantakan.
Aku mengetahuinya dari teman kantor.
Nadia pindah ke rumah keluarga Reza.
Bu Ratih memperlakukannya seperti calon menantu.
Foto kontrol kandungannya bahkan pernah dikirim ke grup keluarga.
Reza tetap menghubungiku hampir setiap hari.
Aku tidak pernah membalas.
Sampai suatu malam dia datang ke apartemenku.
Wajahnya kacau.
“Aku perlu bicara.”
“Ada apa?”
“Nadia masuk rumah sakit.”
Aku spontan khawatir.
“Bayinya?”
Reza menggeleng.
“Dokternya bilang usia kehamilannya tidak cocok.”
Aku membeku.
“Apa maksudmu?”
Reza mengeluarkan beberapa lembar pemeriksaan.
USG pertama Nadia menyebut enam minggu.
Tetapi pemeriksaan lanjutan menunjukkan perkembangan janin yang diperkirakan sudah hampir sepuluh minggu.
“Nadia bilang mungkin dokter pertama salah.”
“Bisa saja.”
“Aku juga pikir begitu.”
Reza menelan ludah.
“Sampai mantan pacarnya datang.”
Aku langsung memahami arah pembicaraan itu.
“Anaknya bukan anakmu?”
“Aku belum tahu.”
“Tes DNA?”
“Belum bisa sekarang.”
Reza mengusap wajah.
“Tapi mantannya bilang mereka masih tidur bersama sampai seminggu sebelum Bandung.”
Aku seharusnya merasa puas.
Anehnya, tidak.
Aku hanya merasa lelah.
“Aku turut prihatin.”
Reza menatapku.
“Alya, aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku benar-benar salah.”
Dia mendekat.
“Aku meninggalkanmu malam itu karena Nadia menelepon sambil menangis. Ketika aku sampai, dia minum. Kami bertengkar soal pacarnya, lalu…”
“Tidak perlu diceritakan.”
“Aku mau kamu tahu.”
“Untuk apa?”
Reza terdiam.
Aku akhirnya bertanya, “Kalau bayi Nadia memang anakmu, apakah kamu akan datang malam ini?”
Pertanyaan itu menghentikannya.
“Apa?”
“Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan seratus persen anak itu anakmu, apakah kamu akan datang ke sini meminta maaf?”
Dia tidak mampu menjawab.
Aku tersenyum.
“Berarti kamu tidak menyesal memilih Nadia. Kamu hanya menyesal karena pilihanmu mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang kamu kira milikmu.”
Wajah Reza pucat.
“Alya…”
“Pulang.”
Tiga bulan berlalu.
Perutku mulai terlihat.
Arga selalu datang setiap kali ada pemeriksaan penting, tetapi tidak pernah memaksakan dirinya masuk ke kehidupanku.
Dia bahkan tidak pernah menyentuh perutku tanpa izin.
Sementara itu, hubungan Nadia dengan keluarga Reza runtuh.
Tes prenatal akhirnya memastikan bahwa Reza bukan ayah biologis bayi Nadia.
Ayahnya adalah mantan pacarnya.
Bu Ratih mengusir Nadia dari rumah hari itu juga.
Reza meneleponku tujuh belas kali.
Aku tetap tidak menjawab.
Sampai dia mengirim pesan.
“Aku tahu aku nggak pantas meminta ini. Tapi kalau anakmu memang anak Arga, aku tetap bersedia menikahimu dan membesarkannya.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Dulu kalimat seperti itu mungkin akan membuatku menangis.
Sekarang justru terasa menghina.
Seolah-olah aku masih menunggu persetujuannya.
Enam bulan kemudian, putraku lahir.
Aku menamainya Raka.
Arga berada di rumah sakit.
Ibuku juga.
Reza tidak tahu tanggal persalinanku.
Setelah kondisi Raka stabil, kami melakukan tes DNA.
Hasilnya keluar dua minggu kemudian.
Aku membuka amplop itu bersama Arga.
Tanganku gemetar.
Probabilitas paternitas 99,99 persen.
Arga adalah ayah biologis Raka.
Dia membaca hasil itu lama sekali.
Kemudian matanya memerah.
“Boleh saya gendong dia?”
Aku menyerahkan Raka kepadanya.
Arga menangis tanpa suara.
Tidak ada janji menikah.
Tidak ada kalimat dramatis.
Hanya seorang laki-laki yang memeluk anaknya dengan tangan gemetar.
Kami menjalani hidup seperti itu hampir setahun.
Belajar menjadi orang tua tanpa berpura-pura menjadi pasangan.
Anehnya, justru dari sana kami mulai saling mengenal.
Bukan dari luka.
Bukan dari alkohol.
Bukan dari kesepian malam di Bandung.
Dari pagi-pagi kurang tidur.
Dari jadwal imunisasi.
Dari perdebatan soal popok.
Dari tawa Raka ketika pertama kali belajar berdiri.
Pada ulang tahun pertama Raka, Arga mengajakku makan malam.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Aku langsung tertawa.
“Jangan bilang…”
“Tenang.”
Dia membuka kotaknya.
Bukan cincin.
Sebuah kunci rumah.
“Saya beli rumah dekat rumah ibumu. Ada kamar untuk Raka. Ada kamar untuk kamu. Ada kamar untuk saya.”
Aku mengangkat alis.
“Pisah?”
“Kalau kamu mau.”
Aku tertawa lagi.
Arga menatapku serius.
“Saya tidak mau menikahimu karena kita punya anak. Saya mau menikahimu kalau suatu hari kamu memilih saya ketika kamu benar-benar bebas memilih.”
Kalimat itu membuatku menangis.
Enam bulan kemudian, aku yang mengajaknya menikah.
Akad kami dilakukan sederhana.
Ironisnya, di KUA yang sama.
Saat turun dari mobil, aku sempat berdiri di trotoar tempat dulu aku menyerahkan hasil USG kepada Reza.
Aku memandang gedung itu lama.
Arga menggandeng Raka beberapa langkah di depanku.
“Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Cuma ingat sesuatu.”
Kami hampir menyeberang ketika seseorang memanggil namaku.
“Alya.”
Aku berbalik.
Reza berdiri di belakangku.
Dia tampak lebih kurus.
Sendirian.
Matanya berpindah dari wajahku ke Raka, lalu kepada Arga.
“Aku dengar kamu menikah hari ini.”
Aku tidak bertanya dari mana dia tahu.
Reza tersenyum pahit.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Dia menatap Raka.
“Dia mirip Arga.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Beberapa detik kami hanya berdiri dalam kebisingan jalan.
Kemudian Reza berkata pelan, “Kadang aku masih berpikir, kalau malam Bandung itu aku nggak pergi…”
Aku memotongnya.
“Jangan.”
Dia menatapku.
“Bukan karena aku membencimu.”
Aku memandang Arga yang sedang mengajari Raka melambaikan tangan kepadaku.
“Tapi karena kalau malam itu kamu tidak pergi, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa selama delapan tahun aku terus meminta dipilih oleh seseorang yang sebenarnya sudah berkali-kali menunjukkan pilihannya.”
Mata Reza memerah.
Aku melanjutkan.
“Kita berdua melakukan kesalahan malam itu. Bedanya, aku berhenti menggunakan kesalahanmu untuk membenarkan kesalahanku sendiri.”
Reza menunduk.
“Aku minta maaf.”
“Aku sudah memaafkanmu.”
Dia mengangkat wajah.
“Mungkin kedengarannya aneh, tapi aku benar-benar berharap kamu bahagia.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
Aku berbalik.
Namun sebelum menyeberang, aku mendengar Reza memanggil sekali lagi.
“Alya.”
Aku menoleh.
Dia tersenyum kecil.
“Dulu aku bilang anak kalian bisa tumbuh bersama.”
Aku diam.
Reza menarik napas.
“Ternyata aku bahkan nggak punya satu pun.”
Ada kesedihan dalam suaranya.
Tetapi kali ini aku tidak merasa harus menyelamatkannya.
“Anak bukan hadiah untuk orang yang paling benar, Za.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Dan kehilangan bukan selalu hukuman. Kadang itu cuma akibat dari pilihan yang kita buat.”
Lampu penyeberangan berubah hijau.
Aku berjalan menuju Arga dan Raka.
Di depan pintu KUA, Arga mengulurkan tangannya.
Aku menyambutnya.
Setahun lebih sebelumnya aku berdiri di tempat yang hampir sama dengan hasil USG enam minggu di tangan, merasa hidupku sudah berakhir karena laki-laki yang kucintai memilih perempuan lain.
Hari ini aku kembali membawa anak yang dulu dianggap masalah.
Anak yang pernah ingin diselesaikan seperti sebuah kesalahan.
Raka menarik jariku dan tertawa.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Malam di Bandung memang menghancurkan masa depan yang sudah kurencanakan selama delapan tahun.
Tetapi ternyata tidak semua yang hancur harus diperbaiki.
Ada sesuatu yang memang harus runtuh agar kita berhenti tinggal di dalamnya.
