IBU BERUSIA 88 TAHUN DITINGGALKAN PUTRANYA DI PEGUNUNGAN. TUJUH TAHUN KEMUDIAN, PASANGAN SUAMI ISTRI ITU KEMBALI…

Dimas merasa kedua lututnya kehilangan tenaga.

Selama tujuh tahun, ia telah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ibunya pasti sudah meninggal pada malam ketika ia meninggalkannya di lereng Gunung Lawu. Keyakinan itu kejam, tetapi justru itulah satu-satunya cara agar ia bisa terus hidup tanpa kehilangan kewarasan.

Namun suara dari balik pintu gubuk itu menghancurkan semua kebohongan yang selama ini ia bangun.

“Bu…” suara Dimas nyaris tidak terdengar.

Rina langsung menoleh kepadanya.

“Mas, jangan.”

Entah apa yang sebenarnya ingin dicegah Rina. Memanggil Bu Marni, membuka pintu, atau menghadapi dosa yang mereka kubur selama tujuh tahun.

Dimas melangkah maju.

Pintu kayu di depannya tampak rapuh. Di salah satu sisinya tergantung lampu minyak kecil yang sudah menghitam karena asap. Ada sepasang sandal tua di dekat anak tangga dan beberapa ikat daun obat yang dijemur di bawah atap.

Tangannya terangkat untuk mengetuk.

Belum sempat jemarinya menyentuh pintu, terdengar langkah dari dalam.

Pelan.

Terseret.

Semakin dekat.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan tua berdiri di sana.

Rambutnya putih seluruhnya. Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang Dimas ingat. Punggungnya membungkuk dan tangan kirinya bertumpu pada tongkat bambu.

Namun wajah itu tidak mungkin salah.

Dimas mundur satu langkah.

“Ibu…”

Bu Marni menatapnya lama.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada kemarahan.

Justru ketenangan di wajah perempuan itu membuat dada Dimas terasa semakin sesak.

“Dimas?”

Hanya satu kata.

Tetapi laki-laki itu langsung jatuh berlutut.

Air matanya pecah.

“Ibu… Ibu masih hidup.”

Rina berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tubuh gemetar. Wajahnya pucat seperti tidak dialiri darah.

Bu Marni memandang keduanya bergantian.

Lalu ia berkata sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.

“Kalian akhirnya datang juga.”

Rina membeku.

Dimas mengangkat kepala.

“Akhirnya?”

Sebelum Bu Marni sempat menjawab, terdengar suara laki-laki dari dalam gubuk.

“Siapa, Marni?”

Dimas menoleh.

Seorang lelaki tua keluar membawa teko logam. Usianya mungkin sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya memutih, kulit wajahnya gelap terbakar matahari, tetapi tubuhnya masih terlihat kuat.

Begitu melihat Dimas dan Rina, wajah lelaki itu berubah dingin.

“Jadi ini mereka?”

Bu Marni mengangguk.

Dimas semakin bingung.

“Ibu… siapa dia?”

“Pak Wiryo,” jawab Bu Marni. “Orang yang menyelamatkan Ibu malam itu.”

Kalimat itu membawa mereka kembali pada malam tujuh tahun lalu.

Setelah mobil Dimas menghilang, Bu Marni menunggu berjam-jam di pinggir jalan.

Ia masih percaya putranya akan kembali.

Bahkan ketika langit menjadi gelap, ia tetap duduk sambil memeluk syal pemberian Rina.

Setiap kali terdengar suara mesin dari kejauhan, Bu Marni berdiri dengan penuh harap.

Namun tidak pernah ada mobil yang berhenti.

Menjelang tengah malam, hujan turun lagi.

Bu Marni mencoba berjalan mencari tempat berlindung, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Di sebuah tikungan, ia terpeleset dan jatuh.

Ia tidak tahu berapa lama dirinya terbaring di tanah.

Ketika membuka mata, ia sudah berada di dalam gubuk milik Pak Wiryo, seorang pencari madu hutan yang tinggal sendirian setelah istrinya meninggal.

Pak Wiryo menemukannya dalam keadaan demam tinggi.

Selama beberapa hari Bu Marni bahkan tidak mampu menyebutkan namanya dengan jelas.

Setelah kondisinya membaik, Pak Wiryo menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Bu Marni menolak.

“Kenapa?” tanya Dimas dengan suara patah ketika mendengar cerita itu. “Kenapa Ibu tidak pulang?”

Bu Marni menatapnya.

“Pulang ke mana?”

Dimas tidak mampu menjawab.

“Ke rumah orang yang membuang Ibu?”

Kata-kata itu terasa seperti pisau.

Rina mulai menangis.

“Bu, waktu itu saya…”

Bu Marni mengangkat tangan.

“Jangan dulu.”

Rina langsung terdiam.

Pak Wiryo meletakkan teko di meja kayu dan berdiri di samping pintu, seolah memastikan Bu Marni tidak menghadapi mereka sendirian.

Bu Marni kemudian mempersilakan Dimas dan Rina masuk.

Gubuk itu sederhana, tetapi bersih.

Ada tempat tidur kayu, lemari kecil, kompor, radio tua, serta beberapa foto yang ditempel di dinding.

Dimas tiba-tiba terpaku pada salah satunya.

Foto Bu Marni bersama beberapa warga desa.

Di bawah foto itu tertulis tanggal tiga tahun lalu.

“Jadi… orang-orang tahu Ibu hidup?”

Bu Marni tidak segera menjawab.

Pak Wiryo yang akhirnya berkata, “Beberapa orang tahu.”

Dimas menatapnya tak percaya.

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya?”

Pak Wiryo tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa humor.

“Memberi tahu anak yang membuang ibunya di gunung?”

Dimas terdiam.

Bu Marni lalu menjelaskan bahwa sekitar setahun setelah kejadian, kesehatannya sudah cukup baik untuk turun sesekali ke desa di sisi lain gunung. Ia membantu seorang perempuan menjual jamu dan tanaman obat. Dari sana, beberapa warga Karangrejo akhirnya mengenalinya.

Mereka ingin menghubungi anak-anaknya.

Namun Bu Marni meminta mereka diam.

“Aku malu,” katanya lirih. “Bukan malu karena dibuang. Aku malu karena selama puluhan tahun aku selalu membanggakan anak-anakku. Aku selalu bilang kepada orang-orang bahwa anakku baik. Ternyata aku sendiri salah mengenal anak yang kubesarkan.”

Dimas menunduk.

Tangisnya jatuh ke lantai.

“Ampuni Dimas, Bu.”

Bu Marni memandangnya lama.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan malam itu?”

Dimas menggeleng.

“Bukan dinginnya. Bukan lapar. Bukan takut mati.”

Suara Bu Marni mulai bergetar.

“Yang paling menyakitkan adalah selama berjam-jam Ibu terus membela kamu di dalam hati.”

Dimas menutup wajah.

“Ibu bilang kepada diri sendiri, mungkin Dimas tersesat. Mungkin mobilnya rusak. Mungkin ada kecelakaan. Ibu mencari seribu alasan supaya tidak percaya bahwa anak Ibu sengaja meninggalkan Ibu.”

Bu Marni mengusap matanya.

“Bahkan ketika hujan turun, Ibu masih khawatir kamu kehujanan.”

Rina menangis semakin keras.

Untuk pertama kalinya, ia memahami betapa kejamnya keputusan yang dulu terasa seperti solusi praktis bagi masalah rumah tangga mereka.

“Bu,” katanya, “saya yang terus mengeluh. Saya yang membuat Mas Dimas merasa Ibu adalah beban. Kalau Ibu ingin membenci seseorang, bencilah saya.”

Bu Marni menatap menantunya.

“Kamu memang salah, Rina. Tapi mobil itu dikemudikan Dimas.”

Rina terdiam.

“Orang lain boleh menanam keburukan di kepala kita. Tetapi tangan kita sendiri yang memilih apakah akan melakukannya.”

Dimas mengangkat wajah dengan mata merah.

“Saya akan memperbaiki semuanya. Ibu ikut kami ke Surabaya. Kami akan merawat Ibu. Rumah kami cukup besar sekarang. Saya akan membayar dokter terbaik. Apa pun yang Ibu mau.”

Bu Marni tersenyum tipis.

“Apa kamu pikir semua kesalahan bisa dibayar setelah kamu punya uang?”

Dimas tercekat.

“Bukan begitu maksud saya.”

“Ibu tahu.”

Bu Marni berdiri perlahan.

Ia berjalan menuju lemari kecil lalu mengambil sebuah map plastik.

“Justru karena kalian datang membicarakan tanah warisan, Ibu sudah menduga hari ini akan tiba.”

Dimas dan Rina saling berpandangan.

Bu Marni meletakkan map itu di atas meja.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.

Dimas membacanya.

Wajahnya berubah.

Tanah keluarga yang membuatnya kembali ke Karangrejo ternyata masih tercatat atas nama Bu Marni.

Selama ini Dimas mengira ibunya sudah meninggal sehingga tanah tersebut otomatis menjadi hak ketiga anaknya.

Namun secara hukum, pemiliknya masih hidup.

Dan beberapa bulan sebelumnya, Bu Marni telah membuat keputusan.

Tanah itu tidak akan diwariskan kepada Dimas maupun kedua saudaranya.

Sebagian telah diserahkan untuk dikelola sebagai kebun bersama oleh warga. Sebagian lagi akan digunakan untuk membangun rumah singgah kecil bagi lansia yang hidup sendirian.

Dimas menatap dokumen itu lama.

Anehnya, ia tidak marah.

Tidak ada lagi ruang dalam dirinya untuk memikirkan tanah.

“Kalau itu membuat Ibu bahagia, saya tidak akan menuntut apa pun.”

Bu Marni menatap wajah anaknya seolah mencari kebohongan.

Namun kali ini Dimas tidak menghindari tatapannya.

“Saya datang ke desa karena tanah,” katanya. “Tapi sekarang saya bahkan tidak peduli lagi.”

Ia menarik napas gemetar.

“Saya cuma ingin tahu apakah masih ada kesempatan untuk menjadi anak Ibu lagi.”

Ruangan itu sunyi.

Angin meniup dinding papan hingga terdengar berderit.

Bu Marni tidak menjawab.

Dimas kemudian mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.

“Ada sesuatu yang harus saya lakukan.”

Ia menelepon kedua saudaranya.

Selama bertahun-tahun, Dimas mengatakan kepada mereka bahwa Bu Marni pergi dari rumah karena pikun dan mungkin tersesat ke gunung.

Itulah kebohongan yang membuat kedua saudaranya percaya bahwa hilangnya ibu mereka adalah kecelakaan.

Hari itu, di depan Bu Marni, Dimas mengakui semuanya.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Ia menceritakan bagaimana ia membawa ibunya ke gunung, meninggalkannya, lalu pulang ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.

Dari seberang telepon terdengar kemarahan, tangisan, dan makian.

Dimas menerima semuanya.

Setelah sambungan berakhir, ia berkata, “Besok saya akan bicara kepada warga desa juga.”

Rina menatap suaminya terkejut.

“Mas…”

“Saya sudah tujuh tahun bersembunyi di balik kebohongan.”

Dimas menatap ibunya.

“Kalau saya ingin meminta maaf, saya harus berhenti melindungi nama baik saya sendiri.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, sorot mata Bu Marni berubah.

Bukan memaafkan.

Belum.

Tetapi ada sesuatu yang melunak.

Sore itu mereka turun dari gunung tanpa membawa Bu Marni.

Dimas tidak memaksanya.

Keesokan harinya, ia benar-benar berdiri di balai desa dan mengakui perbuatannya di hadapan kedua saudaranya, perangkat desa, serta beberapa warga yang dahulu ikut mencari Bu Marni.

Tidak semua orang bisa menerimanya.

Kakaknya bahkan memukul wajahnya sekali.

Dimas tidak melawan.

Setelah urusan tanah selesai, Dimas dan Rina tidak langsung kembali ke Surabaya.

Mereka menyewa rumah kecil di Karangrejo.

Setiap pagi Dimas naik menuju gubuk membawa makanan, obat, atau sekadar air bersih.

Pada minggu pertama, Bu Marni hampir tidak berbicara kepadanya.

Minggu kedua, ia mengizinkan Dimas memperbaiki atap.

Bulan berikutnya, Dimas membuat pegangan kayu di sepanjang jalan kecil menuju kebun agar ibunya tidak mudah jatuh.

Rina pun mulai datang.

Tidak dengan hadiah mahal.

Ia mencuci pakaian Bu Marni, membersihkan gubuk, memasak, lalu pulang tanpa meminta pujian.

Mereka tidak pernah lagi berkata, “Maafkan kami.”

Bu Marni sudah mendengar kalimat itu cukup banyak.

Mereka memilih membiarkan tindakan berbicara.

Enam bulan kemudian, rumah singgah lansia mulai dibangun di atas tanah milik Bu Marni.

Namanya Rumah Teduh Marni.

Ketika papan nama dipasang, Dimas berdiri cukup jauh sambil menahan air mata.

Bu Marni melihatnya.

“Kenapa menangis?”

Dimas tersenyum.

“Dulu saya berpikir merawat Ibu akan mengambil terlalu banyak dari hidup saya.”

Ia memandang bangunan itu.

“Ternyata ketika saya membuang Ibu, justru saya yang kehilangan tujuh tahun hidup saya.”

Bu Marni tidak menjawab.

Ia hanya menyentuh bahu putranya sebentar.

Sentuhan sederhana itu lebih berarti bagi Dimas daripada kata maaf mana pun.

Setahun setelah pertemuan mereka di gubuk, kondisi Bu Marni mulai menurun.

Pada suatu pagi yang berkabut, Dimas datang dan menemukan ibunya duduk di depan gubuk bersama Pak Wiryo.

“Ibu ingin turun ke desa,” katanya.

Dimas terkejut.

“Sekarang?”

Bu Marni mengangguk.

Dimas membantu ibunya masuk ke mobil.

Untuk beberapa saat, Bu Marni duduk diam di kursi belakang.

Lalu ia memandang syal tua yang masih tersimpan di pangkuannya.

Syal pemberian Rina.

Dimas melihatnya dari kaca spion.

Pemandangan itu membuat dadanya sesak.

Tujuh tahun lalu, ia melihat ibunya melalui kaca yang sama sebelum meninggalkannya.

Kini tangan Dimas gemetar di atas kemudi.

Bu Marni menyadarinya.

“Dimas.”

“Iya, Bu?”

“Kenapa tidak jalan?”

Dimas menelan ludah.

“Takut.”

“Takut apa?”

Dimas menatap mata ibunya melalui kaca spion.

“Takut Ibu masih melihat saya sebagai anak yang meninggalkan Ibu di sini.”

Bu Marni diam cukup lama.

Kemudian ia membuka pintu mobil.

Dimas panik.

“Ibu mau ke mana?”

Bu Marni turun perlahan, berjalan ke sisi pengemudi, lalu mengetuk kaca.

Dimas menurunkannya.

Perempuan tua itu menatap anaknya.

“Ibu memang tidak bisa melupakan malam itu.”

Wajah Dimas langsung berubah.

“Tapi memaafkan tidak selalu berarti melupakan.”

Dimas menatapnya tanpa berkedip.

Bu Marni tersenyum.

“Kali ini, jangan tinggalkan Ibu.”

Tangis Dimas pecah.

Ia turun, memeluk tubuh renta yang tujuh tahun sebelumnya ia tinggalkan sendirian di antara kabut dan hujan.

Bu Marni membalas pelukannya.

Beberapa bulan kemudian, perempuan itu meninggal dengan tenang di Rumah Teduh Marni.

Dimas berada di sisinya.

Setelah pemakaman, Pak Wiryo menyerahkan sebuah kotak kayu kecil.

“Ibumu menitipkan ini.”

Di dalamnya ada syal tua dan selembar surat.

Dimas membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Tulisan Bu Marni tidak lagi rapi.

Ia hanya menulis beberapa kalimat.

Dimas, Ibu pernah menunggu kamu kembali selama satu malam dan rasanya seperti seumur hidup. Ketika kamu benar-benar kembali tujuh tahun kemudian, Ibu sadar bahwa manusia bisa tersesat jauh lebih lama daripada sebuah malam. Ibu tidak memaafkan perbuatanmu. Ibu memaafkan anakku yang akhirnya berani pulang.

Di bawah kalimat terakhir terdapat tulisan yang membuat Dimas menangis hingga tidak mampu berdiri.

Dan sejak malam kamu meninggalkan Ibu, tidak pernah sekali pun Ibu berhenti menyebut namamu dalam doa.

Dimas memeluk syal itu di dadanya.

Saat itulah ia akhirnya memahami sesuatu yang selama tujuh tahun tidak pernah mampu ia mengerti.

Pada malam ketika ia meninggalkan ibunya di gunung, orang yang benar-benar tersesat bukanlah Bu Marni.

Melainkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang