Tiga Bulan Bau Tanpa Sumber… Hingga Malam Saat Aku Membuka Kebenaran

Di balik lapisan plastik hitam yang lembap itu, bukanlah harta karun, bukan pula potongan tubuh manusia seperti yang kutakutkan dalam skenario terburukku. Di sana, tergeletak sebuah kotak perak kuno yang terkunci rapat dengan ukiran aneh—sebuah simbol yang belum pernah kulihat sebelumnya—dan tumpukan dokumen yang sudah menguning, terikat rapi dengan pita merah yang kini membusuk.

Bau itu tidak datang dari plastik, melainkan dari cairan kental berwarna cokelat tua yang merembes keluar dari kotak tersebut. Aku menarik napas panjang, menahan rasa mual yang mengocok perut, dan membuka kotak itu.

Isinya membuat lututku lemas hingga aku jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin.

Di dalamnya ada puluhan foto diriku. Bukan foto yang diambil secara normal. Ini adalah foto-foto dari sudut yang tidak mungkin; dari balik ventilasi, dari balik lukisan di dinding, bahkan foto diriku saat sedang mandi atau tidur nyenyak. Namun, yang paling mengerikan bukanlah itu. Di setiap foto, wajahku telah dicoret dengan tinta hitam pekat, menutupi mataku.

Dan di bawah tumpukan foto itu, terdapat sebuah akta kematian.

Mael Severino.

Tanggal kematiannya tertera jelas: 12 Desember 2018. Delapan tahun yang lalu.

Duniaku berputar. Delapan tahun yang lalu adalah tahun di mana Mael mengalami kecelakaan tragis di pelabuhan. Namun, dia selamat. Dia pulang ke rumah, memelukku, dan kami menjalani hidup sebagai pasangan suami istri yang bahagia. Atau setidaknya, itulah yang kukira.

Jika dia meninggal delapan tahun lalu, lalu siapa yang telah tidur di sampingku setiap malam? Siapa yang membentakku saat aku membersihkan tempat tidur?

Tiba-tiba, suara kunci pintu depan diputar.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Dia kembali. Mael kembali dari Cebu.

Aku segera menyembunyikan kotak itu, menutup lubang di kasur seadanya dengan seprai, dan berlari menuju kamar mandi, menyalakan keran agar dia tidak curiga dengan kegaduhanku. Aku mencuci tanganku yang gemetar, air mata mengalir deras tanpa suara. Aku harus tenang. Aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa sampai aku bisa keluar dari rumah ini.

“Sayang? Kamu di sana?” suara Mael terdengar dari balik pintu kamar. Suaranya terdengar lebih berat, lebih dalam dari yang kuingat.

“Ya,” jawabku, suaraku hampir tidak terdengar.

“Kenapa pintu depan tidak terkunci?”

Dingin merambat di tulang punggungku. Aku yakin aku telah menguncinya.

Saat aku keluar dari kamar mandi, Mael berdiri di tengah ruangan. Dia tidak memakai pakaian perjalanan. Dia memakai setelan jas hitam rapi, seolah-olah dia baru saja menghadiri sebuah pemakaman. Lampu kamar yang remang-remang membuat bayangannya tampak memanjang, menutupi seluruh tempat tidur—tempat di mana rahasianya terkubur.

“Aku lupa sesuatu,” katanya pelan. Dia mendekat. “Ada sesuatu yang harus kita selesaikan malam ini.”

Dia tidak melihat ke arahku. Matanya tertuju pada tempat tidur. Pada gundukan yang tidak rata di bawah seprai.

“Kamu mencarinya, bukan?” bisiknya. Senyumnya tidak lagi manusiawi. Sudut bibirnya terangkat terlalu tinggi, memperlihatkan deretan gigi yang tampak lebih tajam dari sebelumnya.

“Mael, apa ini?” suaraku bergetar.

Dia tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan tulang. Dia berjalan menuju tempat tidur dan merobek sisa seprai yang menutupi bagian yang kusayat. Dia tidak marah. Dia justru terlihat… lega.

“Aku bosan menjadi manusia, Elena,” katanya sambil menatapku. “Menjadi suami yang penyayang, memiliki pekerjaan, berpura-pura mencium keningmu setiap pagi… itu melelahkan.”

Dia mendekatiku, langkahnya tidak bersuara di atas lantai kayu. “Tiga bulan lalu, kontrak itu berakhir. Aku seharusnya sudah kembali ke tanah tempatku ditarik keluar. Tapi aku menyukaimu. Aku menyukai bagaimana baumu tercampur dengan bau pembusukan yang kubawa.”

Aku berusaha lari, tapi kakiku seolah terpaku di lantai.

“Kamu ingin tahu apa yang ada di dalam kotak itu, kan?” dia menunjuk ke arah tempat tidur. “Itu adalah sisa-sisa diriku yang asli. Dan sekarang, karena kamu sudah menemukannya, kamu telah mengikat kontrak baru.”

Tiba-tiba, lampu kamar mati total. Kegelapan pekat menyelimuti kami. Dalam kegelapan itu, aku tidak mendengar suara napas Mael, melainkan suara gema dari ribuan bisikan yang memenuhi ruangan.

“Satu hal yang tidak pernah kuberitahu padamu,” bisiknya tepat di telingaku, dingin seperti es. “Aku tidak pernah tidur. Aku hanya menjaga agar kau tetap terikat dalam mimpi ini bersamaku.”

Cahaya bulan menembus jendela, menyinari wajahnya. Kulitnya mulai terkelupas, bukan seperti kulit manusia, melainkan seperti lapisan kertas yang terbakar, menampakkan sesuatu yang gelap dan tidak berbentuk di baliknya.

Aku memejamkan mata, menjerit sekuat tenaga, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Namun, saat aku membukanya kembali, aku tidak lagi berada di kamar kami.

Aku berada di sebuah ruangan kosong yang putih bersih. Di depanku, ada sebuah cermin besar. Aku melihat diriku sendiri, namun ada yang berbeda. Mataku tidak lagi memantulkan bayangan dunia nyata. Mataku tertutup oleh noda tinta hitam, persis seperti foto-foto yang kutemukan di bawah tempat tidur.

Di belakangku, bayangan Mael—atau apa pun itu—muncul di cermin, memegang pundakku dengan jemari yang panjang dan kurus.

“Terima kasih, Sayang,” bisiknya. “Sekarang, giliranku untuk tidur.”

Aku menunduk dan melihat tanganku. Kulitku mulai mengeluarkan bau yang sama. Bau pembusukan yang selama tiga bulan ini menghantuiku. Ternyata, dia tidak membawanya dari tempat tidur. Dia telah memindahkan ‘kematian’ itu kepadaku, satu inci demi satu inci, setiap malam saat aku terlelap di sampingnya.

Sekarang, dia adalah manusia yang hidup dan bernapas, berjalan keluar dari rumah kami menuju dunia yang cerah, sementara aku… aku hanyalah rahasia yang terkubur, menunggu seseorang untuk menemukan ‘kasur’ baru di mana aku akan terbaring, menanti korban berikutnya yang akan mencium aroma busuk itu.

Dan di luar sana, aku mendengar suara langkah kaki Mael yang ringan, pergi meninggalkanku, membawa identitas dan hidupku, memulai siklus yang tidak akan pernah berakhir.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang