Di sudut ruang tengah itu, ada sebuah boks bayi kecil.
Aku nyaris tidak percaya pada apa yang kulihat.
Di dalamnya terbaring seorang bayi laki-laki yang tubuhnya jauh lebih kecil daripada Kayla. Wajahnya kemerahan, kedua tangannya mengepal lemah, dan selimut tipis membungkus tubuh mungilnya hingga ke dada.
Suara rengekan yang tadi kudengar berasal darinya.
Bu Ratna segera menuangkan ASI dari kantong yang dibawa Ardi ke sebuah botol kecil, lalu menghangatkannya di mangkuk berisi air panas.
Tanganku terasa dingin.
Kakiku bahkan hampir tidak mampu menopang tubuhku sendiri.
Bayi siapa itu?
Mengapa ada bayi di rumah ibu mertuaku?
Dan mengapa selama ini Ardi memberinya ASI milikku secara diam-diam?
Aku terus mengintip.
Ardi mengangkat bayi itu dengan sangat hati-hati, seolah dia sudah sering melakukannya.
“Pelan, Mas,” bisik Bu Ratna. “Tadi sore dia muntah lagi.”
“Iya, Bu.”
“ASI dari Rani cocok. Sejak minum ini, perutnya lebih tenang.”
Jantungku seperti dihantam sesuatu.
Namaku disebut.
Jadi mereka memang sengaja mengambil ASI milikku untuk bayi itu.
Aku sudah tidak sanggup lagi bersembunyi.
Aku mendorong pintu.
“Mas.”
Ardi tersentak.
Botol susu di tangannya hampir jatuh.
Bu Ratna langsung memucat.
“Rani?”
Aku berdiri di ambang pintu dengan napas memburu.
Pandangan mereka kepadaku membuat semuanya terasa semakin buruk.
Tidak ada yang langsung menjelaskan.
Tidak ada yang berkata bahwa aku salah paham.
Ardi hanya memeluk bayi itu lebih erat.
Aku menunjuk ke arah boks.
“Bayi siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Mas, aku tanya sekali lagi. Bayi siapa itu?”
“Rani, kita pulang dulu.”
“Jangan suruh aku pulang!”
Suaraku meninggi hingga bayi di pelukan Ardi mulai menangis.
Bu Ratna segera mendekat.
“Pelankan suaramu. Kasihan bayinya.”
Aku tertawa kecil karena terlalu marah.
“Kasihan bayinya? Bagaimana dengan anakku? Bagaimana dengan aku? Aku memompa ASI sambil sakit, kurang tidur, badan masih belum pulih, lalu kalian diam-diam mengambilnya setiap malam!”
“Rani, dengarkan dulu.”
“Aku sudah melihat semuanya!”
Mataku panas.
Satu pikiran buruk tiba-tiba muncul di kepalaku.
Aku menatap wajah Ardi.
“Jangan bilang bayi itu anakmu.”
Wajah Ardi berubah.
Dan perubahan kecil itu cukup membuat kepalaku berputar.
“Mas…”
Aku mundur satu langkah.
“Bayi itu anakmu?”
“Bukan.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
“Kalau bukan, kenapa kamu diam?”
Ardi menutup mata sesaat.
“Karena ceritanya panjang.”
“Kalau begitu ceritakan sekarang.”
Bu Ratna mulai menangis.
Tangisnya membuat suasana terasa semakin menyesakkan.
Ardi akhirnya menyerahkan bayi itu kepada ibunya, lalu menarik sebuah kursi.
“Duduk dulu.”
“Aku tidak mau duduk.”
“Rani…”
“Jawab!”
Ardi menatapku.
“Bayi itu namanya Damar.”
Aku menunggu.
“Dia anak Dika.”
Aku terdiam.
Dika adalah adik Ardi.
Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali karena dia bekerja di luar kota. Hubungan Ardi dan Dika tidak terlalu dekat. Setidaknya itulah yang selalu kuketahui.
“Dika punya anak?”
Ardi mengangguk.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena kami semua juga baru tahu.”
Aku menatap Bu Ratna.
Perempuan itu duduk perlahan sambil menggendong Damar.
“Dika menikah diam-diam hampir setahun lalu,” katanya lirih.
Aku semakin bingung.
“Menikah dengan siapa?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Ardi meneruskan.
“Namanya Siska. Mereka nikah siri karena keluarga Siska tidak merestui.”
“Kenapa?”
“Dika belum punya pekerjaan tetap waktu itu. Keluarga Siska menganggap dia tidak punya masa depan.”
Aku masih belum mengerti apa hubungannya dengan rahasia sebesar ini.
“Lalu Siska di mana?”
Ardi menelan ludah.
“Sudah meninggal.”
Dadaku terasa sesak.
“Kapan?”
“Dua minggu setelah kamu melahirkan.”
Aku menatap bayi kecil di pelukan Bu Ratna.
Tiba-tiba kemarahanku seperti tertahan di tenggorokan.
“Siska meninggal setelah melahirkan Damar?”
Ardi mengangguk.
“Pendarahan.”
Ruangan itu mendadak sangat sunyi.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Namun masih ada satu pertanyaan.
“Dika?”
Bu Ratna menangis lebih keras.
Ardi menunduk.
“Dika hilang.”
Aku mengerutkan dahi.
“Hilang bagaimana?”
“Tiga hari sebelum Siska melahirkan, dia pergi bekerja ke proyek di Kulon Progo. Setelah itu kami tidak bisa menghubunginya.”
“Sudah dicari?”
“Sudah.”
“Polisi?”
“Sudah.”
“Teman-temannya?”
“Sudah semua.”
Aku menatap Damar.
Bayi itu baru saja berhenti menangis dan mulai mengisap botol susu.
“Jadi selama ini Bu Ratna merawatnya?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
Ardi tidak menjawab.
Kemarahanku kembali muncul.
“Kenapa?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu keberatan.”

Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi karena takut aku keberatan, solusi kamu adalah mencuri ASI-ku?”
“Aku tidak menganggapnya mencuri.”
“Kalau kamu mengambil milikku tanpa izin, itu namanya apa?”
Ardi terdiam.
Aku menarik napas panjang.
“Mas, kalau kamu datang kepadaku dan bilang ada bayi kehilangan ibunya, menurutmu aku akan menolak memberikan sedikit ASI?”
Ardi menunduk.
“Aku tidak tahu.”
Kalimat itu justru lebih menyakitkan daripada kebohongannya.
“Setelah bertahun-tahun menikah, ternyata kamu tidak mengenalku.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Bu Ratna memegang lenganku.
“Rani, jangan salahkan Ardi sepenuhnya. Ibu yang memintanya merahasiakan ini.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Wajah Bu Ratna berubah.
Seolah masih ada sesuatu yang belum mereka katakan.
Aku langsung sadar.
“Masih ada rahasia lain?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mendekati Ardi.
“Mas, apa lagi?”
Ardi mengusap wajahnya.
“Ibu sebenarnya tidak ingin kamu tahu siapa Siska.”
“Kenapa?”
Kali ini Bu Ratna yang menjawab.
“Karena kamu mengenalnya.”
Aku membeku.
“Siapa?”
Bu Ratna menatapku dengan mata merah.
“Siska itu… adik sepupumu.”
Aku merasa suara di sekelilingku menghilang.
“Adik sepupuku?”
Aku mencoba mengingat.
Lalu sebuah nama muncul dalam kepalaku.
“Siska anak Tante Wati?”
Bu Ratna mengangguk.
Aku mundur.
Aku mengenal Siska.
Bukan sangat dekat, tetapi kami pernah beberapa kali bertemu saat acara keluarga.
Usianya lebih muda lima tahun dariku.
Setahun terakhir, aku memang tidak pernah melihatnya.
Tante Wati pernah bilang Siska sedang bekerja di Surabaya.
Ternyata semua itu bohong.
“Berarti keluarga kami tahu?”
“Orang tuanya tahu,” kata Ardi.
“Dan mereka membiarkannya?”
“Mereka tidak mau mengakui pernikahannya dengan Dika.”
Aku merasa mual.
“Sekarang Damar bagaimana?”
Bu Ratna mengusap kepala bayi itu.
“Orang tua Siska tidak mau mengasuhnya.”
Aku tidak percaya.
“Itu cucu mereka.”
“Mereka bilang bayi ini membawa aib.”
Aku menutup mulut.
Dalam hitungan menit, kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Aku masih marah kepada Ardi.
Namun setiap kali melihat Damar, kemarahan itu terasa sulit dipertahankan.
Bayi sekecil itu tidak pernah memilih dilahirkan dalam keadaan seperti ini.
“Aku mau pulang.”
Ardi berdiri.
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
“Rani…”
“Aku butuh waktu.”
Aku berjalan pulang sendirian.
Sepanjang perjalanan, kepalaku penuh dengan berbagai pikiran.
Aku marah karena dibohongi.
Aku marah karena tubuhku seolah dianggap bisa menyediakan apa pun tanpa perlu ditanya.
Namun di sisi lain, aku teringat tubuh kecil Damar.
Ketika tiba di rumah, Kayla masih tertidur bersama ibuku.
Aku duduk di sampingnya dan menangis tanpa suara.
Ibuku terbangun.
“Kamu dari mana?”
Aku akhirnya menceritakan semuanya.
Anehnya, ibuku tidak terlihat terkejut ketika mendengar nama Siska.
Aku menatapnya curiga.
“Ibu tahu?”
Ibuku terdiam terlalu lama.
“Ibu?”
Dia akhirnya menghela napas.
“Ibu tahu Siska menikah.”
Aku merasa seperti dikhianati untuk kedua kalinya malam itu.
“Semua orang tahu kecuali aku?”
“Tidak semua.”
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
“Karena Tante Wati meminta seluruh keluarga tidak membicarakannya.”
Aku tertawa pahit.
“Hebat sekali. Semua orang sibuk menjaga rahasia sampai bayi yatim harus disembunyikan tengah malam.”
Ibuku menunduk.
“Rani, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”
Aku langsung menatapnya.
“Jangan bilang masih ada.”
“Sebenarnya Dika tidak hilang.”
Aku merasa jantungku berhenti.
“Apa?”
“Ibu dengar dari Tante Wati kemarin.”
“Kalau dia tidak hilang, dia di mana?”
Ibuku terlihat ragu.
“Di rumah sakit.”
“Rumah sakit mana?”
“RSUP Dr. Sardjito.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursi hampir jatuh.
“Kenapa Ardi bilang dia hilang?”
“Mungkin Ardi belum tahu.”
Pagi itu juga, setelah matahari terbit, aku menelepon Ardi.
“Aku tahu Dika ada di rumah sakit.”
Hening.
“Dari siapa?”
“Tidak penting. Kamu tahu atau tidak?”
“Aku tidak tahu.”
Nada suaranya berubah serius.
Kami pergi ke Sardjito pagi itu.
Setelah mencari informasi, kami menemukan Dika dirawat di ruang neurologi.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Tubuhnya kurus.
Ada bekas luka di bagian kepalanya.
Ketika Ardi melihat adiknya, dia berdiri terpaku di pintu.
“Dik…”
Dika menoleh perlahan.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Mas?”
Ardi memeluknya.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal suamiku, aku melihat Ardi menangis seperti anak kecil.
Ternyata tiga minggu sebelumnya, Dika mengalami kecelakaan motor ketika pulang dari proyek.
Dompet dan ponselnya hilang.
Dia sempat tidak sadarkan diri beberapa hari dan tidak bisa mengingat banyak hal setelah terbangun.
Polisi baru berhasil mengidentifikasi dirinya setelah seorang pekerja proyek mengenal foto pasien tanpa identitas yang disebarkan rumah sakit.
Namun ada sesuatu yang lebih menyakitkan.
Tante Wati sebenarnya sudah mengetahui Dika ditemukan sejak empat hari lalu.
Dia sengaja tidak memberi tahu keluarga Ardi.
Alasannya sederhana sekaligus kejam.
Dia masih menyalahkan Dika atas kematian putrinya.
Ketika kami memberi tahu Dika bahwa Siska sudah meninggal, wajahnya seketika kosong.
“Tidak…”
Ardi menggenggam bahunya.
“Dik…”
“Tidak mungkin.”
Dika berusaha turun dari ranjang.
“Aku harus ketemu Siska.”
Tubuhnya hampir jatuh.
Aku membantu Ardi menahannya.
“Dika, dengar dulu.”
Dia menatapku.
“Damar selamat.”
Matanya membesar.
“Anakku?”
“Iya.”
Bibir Dika bergetar.
“Dia di mana?”
“Bersama Bu Ratna.”
Dika menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah.
Hari itu menjadi salah satu hari paling berat yang pernah kusaksikan.
Sore harinya kami membawa Damar ke rumah sakit setelah mendapat izin.
Ketika Bu Ratna meletakkan bayi itu di dada Dika, seluruh ruangan seolah berhenti bergerak.
Dika menangis sambil mencium kepala anaknya berulang kali.
“Maafkan Ayah.”
Aku berdiri di belakang Ardi.
Tanpa sadar air mataku ikut jatuh.
Dalam perjalanan pulang, Ardi memegang tanganku.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Aku seharusnya cerita dari awal.”
“Iya.”
“Aku cuma panik. Damar tidak cocok susu formula, sering muntah. Ibu bilang stok susu donor sulit, lalu aku lihat ASI di kulkas…”
Aku menatapnya.
“Mas, masalahnya bukan ASI-nya.”
“Aku tahu.”
“Masalahnya kamu tidak memberiku kesempatan memilih.”
Ardi mengangguk.
“Aku salah.”
Aku terdiam beberapa detik.
“Mulai sekarang jangan pernah ambil tanpa izin.”
“Iya.”
“Kalau Damar butuh, bilang.”
Ardi menatapku.
“Kamu mau bantu?”
Aku melihat Kayla yang tertidur di gendongan ibuku.
“Selama stoknya cukup untuk Kayla, aku akan bantu sebisaku.”
Mata Ardi langsung memerah.
Beberapa minggu kemudian, keadaan perlahan membaik.
Dika keluar dari rumah sakit dan tinggal bersama Bu Ratna untuk masa pemulihan.
Aku mulai rutin membagi sebagian ASI untuk Damar.
Bukan karena merasa wajib.
Bukan pula karena diminta.
Aku melakukannya karena memilih melakukannya.
Perbedaan itu penting bagiku.
Hubunganku dengan Ardi pun perlahan pulih.
Namun rahasia keluarga belum benar-benar selesai.
Suatu sore, Tante Wati datang ke rumah Bu Ratna.
Wajahnya tegang.
Begitu melihat Damar di pelukan Dika, dia langsung menangis.
“Aku mau membawa cucuku.”
Bu Ratna berdiri.
“Untuk apa?”
“Dia darah daging anakku.”
Dika menatap mantan mertuanya.
“Dulu waktu Siska hidup, Tante tidak menganggap pernikahan kami. Setelah Siska meninggal, Tante juga tidak mau melihat Damar.”
Tante Wati terisak.
“Aku salah.”
Ruangan menjadi sunyi.
Tante Wati kemudian mengeluarkan sebuah amplop.
“Ada surat dari Siska.”
Dika gemetar saat menerimanya.
Surat itu ditulis beberapa hari sebelum Siska melahirkan.
Ternyata Siska sudah merasa kondisi kehamilannya tidak baik.
Dalam surat itu, dia menulis bahwa jika sesuatu terjadi kepadanya, dia ingin Damar tetap bersama Dika dan keluarga Ardi.
Namun bagian terakhir surat itu membuat semua orang terdiam.
Siska menulis bahwa selama hamil, satu-satunya orang dari keluarganya yang diam-diam membantu biaya kontrol adalah ibuku.
Aku langsung menoleh kepada Ibu.
“Ibu?”
Ibuku tersenyum kecil.
“Tante Wati keras kepala. Tapi Siska tetap keluarga kita.”
Barulah aku mengerti mengapa ibuku mengetahui begitu banyak hal.
Selama berbulan-bulan, dia diam-diam membantu Siska.
Dia tidak pernah menceritakannya kepadaku karena menghormati permintaan Siska.
Aku memeluk ibuku.
Hari itu, rahasia terakhir akhirnya terbuka.
Enam bulan kemudian, Damar tumbuh sehat.
Dia dan Kayla sering tidur berdampingan ketika keluarga berkumpul.
Kadang aku melihat mereka dan tersenyum sendiri.
Dua bayi yang lahir hanya berselang beberapa minggu, tetapi memulai kehidupan dengan cerita yang sangat berbeda.
Suatu malam, ketika aku sedang menyimpan ASI di kulkas, Ardi berdiri di belakangku.
Dia menunjuk salah satu kantong.
“Boleh ambil satu untuk Damar besok?”
Aku menoleh.
Kemudian tertawa kecil.
“Sekarang baru benar caranya.”
Ardi ikut tertawa.
Aku menyerahkan satu kantong kepadanya.
Namun sebelum dia pergi, aku berkata,
“Mas.”
“Hm?”
“Dulu kalau kamu cerita dari awal, semua ini tidak perlu serumit itu.”
Ardi mengangguk.
“Aku tahu.”
Aku memandang Kayla yang sedang tidur di kamar.
“Kadang kita mengira menyembunyikan sesuatu adalah cara melindungi orang yang kita sayangi.”
Aku menatapnya.
“Padahal sering kali, rahasia justru membuat mereka terluka lebih dalam.”
Ardi menggenggam tanganku.
Malam itu aku akhirnya memahami satu hal.
Yang kulihat di rumah Bu Ratna bukan sekadar seorang bayi yang membutuhkan ASI.
Aku melihat akibat dari terlalu banyak orang dewasa yang memilih diam karena takut, malu, marah, atau merasa paling tahu apa yang terbaik.
Dan di tengah semua kebohongan itu, justru dua bayi kecil yang tidak mengerti apa-apa telah mengajarkan kami sesuatu yang paling sederhana.
Bahwa keluarga bukan hanya soal darah.
Keluarga adalah orang-orang yang memilih hadir ketika keadaan menjadi sulit, berbagi ketika orang lain kekurangan, serta berani mengatakan kebenaran sebelum semuanya terlambat.
Sejak malam itu, tidak ada lagi kantong ASI yang hilang dari kulkasku.
Kalau Damar membutuhkan susu, Ardi selalu bertanya terlebih dahulu.
Dan setiap kali dia melakukannya, aku selalu teringat malam ketika aku mengikutinya diam-diam melewati gang sempit menuju rumah ibunya.
Malam yang awalnya kukira akan menghancurkan rumah tanggaku.
Namun justru malam itulah yang membawa pulang seorang ayah kepada anaknya, mempertemukan dua keluarga yang lama terpecah, dan mengajarkan kami bahwa sebuah rahasia bisa menjadi racun jika disimpan terlalu lama.
Sedangkan sebuah kebenaran, meskipun menyakitkan saat pertama kali dibuka, kadang justru menjadi satu-satunya jalan untuk menyembuhkan semuanya.
