MANTAN SUAMIKU SIBUK MENEMANI CINTA PERTAMANYA MEMILIH GAUN PENGANTIN.

Keisya berdiri di ambang pintu ruang tindakan dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

Matanya terpaku pada lembar hasil pemeriksaan di tanganku.

Tiga janin.

Dua kata itu tampaknya jauh lebih mengejutkannya daripada kenyataan bahwa mantan istri Raka sedang berada di sebuah klinik.

“Kak Alina… hamil tiga bayi?”

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, aku menatap Raka.

Ada sesuatu yang menggangguku sejak tadi.

Raka datang ke klinik ini terlalu cepat.

Aku tidak memberi tahu siapa pun tentang kehamilanku. Bahkan keluargaku sendiri tidak tahu lokasi klinik yang kupilih.

Lalu bagaimana dia bisa menemukanku?

Dan yang lebih aneh lagi, Keisya juga muncul beberapa menit kemudian.

Aku menurunkan lembar pemeriksaan.

“Siapa yang memberi tahu kalian aku ada di sini?”

Tidak ada yang menjawab.

Tatapan Raka langsung berubah.

Dia menoleh kepada Keisya.

“Keisya.”

Nada suaranya dingin.

“Kenapa kamu bisa sampai ke sini?”

Keisya terlihat gugup sesaat.

“Aku… mengikuti mobilmu.”

Raka menyipitkan mata.

“Kamu tadi masih ada di butik.”

“Aku khawatir. Kamu tiba-tiba menerima telepon lalu pergi begitu saja.”

Aku langsung menangkap satu bagian dari kalimatnya.

“Telepon?”

Raka membeku.

Aku menatapnya.

“Siapa yang meneleponmu?”

Dia tidak segera menjawab.

Dokter yang sejak tadi berdiri di sisi ruangan akhirnya berkata dengan tegas, “Saya rasa masalah pribadi ini sebaiknya diselesaikan di luar. Pasien membutuhkan ketenangan.”

Aku mengangguk.

“Dok, saya minta waktu sebentar.”

Kemudian aku turun dari tempat tidur.

Raka refleks maju hendak membantuku.

Aku langsung mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Tangannya berhenti di udara.

Untuk pertama kalinya sejak dia menerobos masuk, wajahnya menunjukkan sesuatu yang mirip rasa terluka.

Namun aku tidak peduli.

Aku mengambil tas dan berjalan keluar menuju sebuah ruang konsultasi kosong di ujung koridor.

Raka mengikutiku.

Keisya juga.

Begitu pintu tertutup, aku langsung bertanya lagi.

“Siapa yang meneleponmu?”

Raka mengeluarkan ponselnya.

“Nomor tidak dikenal.”

Dia memperlihatkan daftar panggilan.

Sebuah nomor tanpa nama menghubunginya kurang dari satu jam lalu.

“Apa katanya?”

Raka menatapku.

“Orang itu bilang kamu sedang hamil dan akan melakukan tindakan hari ini. Dia juga menyebut nama klinik ini.”

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat.

“Apa suara laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan.”

Aku perlahan menoleh kepada Keisya.

Keisya langsung menggeleng.

“Jangan lihat aku seperti itu. Bukan aku.”

“Memangnya aku menuduhmu?”

“Kamu jelas-jelas mencurigaiku.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau kamu merasa dituduh sebelum aku mengatakan apa pun, mungkin ada alasannya.”

Wajah Keisya memerah.

“Raka, lihat dia. Dari dulu dia selalu seperti ini. Selalu mencari cara membuatku terlihat buruk.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Selama tiga tahun pernikahanku, kalimat seperti itu sangat akrab di telingaku.

Setiap kali Keisya menelepon Raka tengah malam karena merasa kesepian, aku disebut terlalu sensitif.

Ketika Raka meninggalkan acara ulang tahunku karena Keisya mengalami serangan panik, aku dianggap tidak punya empati.

Ketika ibu Raka membandingkanku dengan Keisya di meja makan keluarga, aku diminta bersabar.

Dan ketika akhirnya aku meminta perceraian, semua orang mengatakan aku menyerah terlalu cepat.

Padahal tidak seorang pun tahu berapa lama aku bertahan.

Aku menatap Keisya.

“Tenang saja. Aku tidak tertarik bersaing denganmu lagi.”

Keisya mengangkat dagu.

“Aku juga tidak pernah bersaing denganmu.”

“Bagus.”

Aku mengambil tas.

“Berarti kita sepakat.”

Raka berdiri menghadang pintu.

“Alina, masalah anak-anak belum selesai.”

“Memang belum.”

“Lalu kamu mau bagaimana?”

Aku menatapnya lama.

“Pertama, aku ingin tahu siapa yang membocorkan rekam medisku.”

Raka terdiam.

“Setelah itu,” lanjutku, “baru aku memutuskan apa pun tanpa tekanan dari siapa pun.”

Ekspresinya sedikit melunak.

“Aku akan bantu mencari tahu.”

“Aku tidak meminta bantuanmu.”

“Alina.”

“Aku serius.”

Dia mengusap wajahnya frustrasi.

“Kenapa kamu harus selalu membuat semuanya seolah aku musuhmu?”

Aku tertawa pendek.

“Karena selama bertahun-tahun kamu selalu memilih orang lain ketika aku membutuhkanmu.”

Raka hendak membantah.

Namun aku mengangkat tangan.

“Jangan sekarang.”

Aku berjalan melewatinya.

Sebelum meninggalkan klinik, aku meminta dokter menunda tindakan selama beberapa hari.

Bukan karena Raka.

Bukan karena keluarga Mahendra.

Aku hanya menyadari satu hal.

Seseorang telah mengetahui rahasia yang bahkan belum sempat kuceritakan kepada orang terdekatku.

Aku harus tahu siapa.

Keesokan paginya, pihak klinik meneleponku.

Mereka mengatakan tidak menemukan kebocoran dari sistem administrasi.

Data pasien hanya bisa diakses oleh dokter, dua perawat, dan staf pendaftaran.

Namun seorang staf memberikan informasi menarik.

Dua hari sebelum jadwal tindakanku, ada seorang perempuan yang menelepon mengaku sebagai kakakku.

Dia menanyakan jadwal konsultasi lanjutan.

Petugas tidak memberikan informasi karena perempuan itu gagal menyebutkan tanggal lahirku.

Tetapi penelepon tersebut sudah mengetahui bahwa aku sedang hamil.

Aku meminta rekaman percakapan.

Klinik tidak bisa memberikannya langsung tanpa prosedur resmi, tetapi mereka bersedia bekerja sama jika aku membuat laporan.

Siang itu aku pergi ke kantor pengacara yang menangani perceraianku.

Namanya Dimas.

Dia membaca seluruh kronologi sambil mengernyit.

“Yang tahu soal kehamilan ini siapa saja?”

“Dokter, klinik, aku.”

“Tidak ada teman?”

Aku menggeleng.

“Kamu melakukan tes di rumah sebelumnya?”

“Ya.”

“Di rumah lama?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Rumah lama.

Rumah yang kutinggalkan dua minggu setelah gugatan perceraian diajukan.

Aku tiba-tiba mengingat sesuatu.

Tes kehamilan pertama kulakukan di rumah itu.

Aku membuang alat tes ke tempat sampah kamar mandi.

Saat itu hasilnya masih samar.

Aku belum yakin.

Dan di rumah tersebut ada dua orang asisten rumah tangga.

Salah satunya sangat dekat dengan ibu Raka.

Sore harinya, Dimas membantuku menghubungi salah satu dari mereka.

Namanya Mbak Sari.

Awalnya dia menolak bicara.

Namun setelah diyakinkan bahwa tidak ada yang akan menyalahkannya, suaranya mulai gemetar.

“Maaf, Mbak Alina.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

“Untuk apa?”

“Saya pernah menemukan alat tes di kamar mandi.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu?”

“Saya bilang ke Bu Mahendra.”

Ibu Raka.

Dugaanku benar.

“Beliau bilang jangan kasih tahu Pak Raka dulu.”

Aku membuka mata.

“Kenapa?”

“Saya tidak tahu, Mbak.”

“Setelah itu?”

Mbak Sari terdiam cukup lama.

“Beberapa hari lalu Bu Mahendra bertanya apakah saya tahu Mbak sekarang tinggal di mana. Saya bilang tidak tahu.”

Aku menutup telepon dengan tangan dingin.

Jadi ibu Raka sudah mengetahui kemungkinan kehamilanku bahkan sebelum aku sendiri mendapat kepastian.

Namun pertanyaan terbesar justru semakin menggangguku.

Kalau ibu Raka tahu, kenapa dia diam?

Aku langsung pergi ke rumah keluarga Mahendra malam itu.

Aku datang tanpa memberi kabar.

Saat seorang pelayan membukakan pintu, wajahnya terlihat kaget.

Bu Ratih, ibu Raka, sedang duduk di ruang keluarga.

Di depannya terdapat beberapa katalog pernikahan.

Begitu melihatku, ekspresinya berubah.

“Alina?”

Aku meletakkan satu foto alat tes kehamilan lama di meja.

“Mbak Sari sudah cerita.”

Wajahnya langsung menegang.

Aku duduk di hadapannya.

“Ibu tahu aku hamil.”

Dia tidak menjawab.

“Ibu tahu bahkan sebelum perceraian kami resmi.”

Masih diam.

“Kenapa Ibu tidak mengatakan kepada Raka?”

Akhirnya dia menghela napas.

“Karena waktu itu aku belum yakin.”

“Setelah yakin?”

“Aku tahu dari dokter keluarga.”

Aku tersentak.

“Dokter keluarga?”

Bu Ratih tampak sadar telah mengatakan terlalu banyak.

Aku berdiri.

“Ibu menyuruh seseorang memeriksa informasi medis saya?”

“Jangan membuatnya terdengar seperti kejahatan besar. Aku hanya khawatir.”

“Khawatir?”

Suaraku meninggi untuk pertama kalinya.

“Ibu membiarkan anak Ibu menceraikan istrinya ketika tahu istrinya mungkin sedang mengandung?”

Bu Ratih menatapku dingin.

“Justru karena itu.”

Aku membeku.

“Apa maksud Ibu?”

Dia bersandar.

“Raka tidak akan pernah melepaskanmu kalau tahu kamu hamil.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

“Jadi Ibu memang sengaja merahasiakannya?”

“Aku ingin semuanya selesai.”

“Kenapa?”

Bu Ratih melihat katalog pernikahan di meja.

“Karena keluarga Mahendra membutuhkan menantu yang bisa berdiri di samping Raka. Bukan perempuan yang setiap saat mempertanyakan keputusan keluarga.”

Aku tertawa karena tidak percaya.

“Dan Keisya memenuhi standar Ibu?”

“Dia berasal dari keluarga yang tepat. Pendidikan tepat. Lingkungan tepat.”

Aku baru hendak menjawab ketika terdengar suara benda jatuh dari belakang.

Kami menoleh.

Raka berdiri di dekat pintu.

Wajahnya benar-benar pucat.

Entah sejak kapan dia berada di sana.

“Jadi benar?”

Bu Ratih langsung bangkit.

“Raka.”

“Benar Ibu tahu Alina hamil?”

“Dengarkan Ibu dulu.”

“Sejak kapan?”

Bu Ratih diam.

Suara Raka semakin rendah.

“Sejak kapan?”

“Sebelum perceraian kalian selesai.”

Raka menatap ibunya seolah sedang melihat orang asing.

“Aku berkali-kali tanya apakah ada sesuatu yang perlu kupikirkan ulang.”

Bu Ratih mengeras.

“Kamu sendiri yang setuju bercerai.”

“Karena Ibu bilang Alina sudah benar-benar ingin pergi.”

“Memang.”

Aku menatap Raka tajam.

“Jangan pindahkan kesalahanmu ke ibumu. Kamu tetap menandatangani surat itu.”

Raka menoleh kepadaku.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.

“Aku tahu itu salahku.”

Ruangan menjadi sunyi.

Lalu ponsel Bu Ratih yang berada di meja tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat kami semua terdiam.

Keisya.

Bu Ratih buru-buru mengambilnya.

Namun Raka lebih cepat.

Dia mengangkat telepon dan menyalakan pengeras suara.

“Bu?” suara Keisya terdengar.

Tak ada seorang pun menjawab.

Keisya melanjutkan.

“Alina jadi membatalkan tindakan kemarin, kan?”

Wajah Bu Ratih langsung pucat.

Aku menatapnya.

Raka menggenggam ponsel begitu kuat.

Keisya masih berbicara.

“Saya sudah bilang, menelepon Raka itu pilihan terakhir. Kalau dia tahu terlalu cepat, semuanya bisa berantakan.”

Aku merasakan seluruh tubuhku dingin.

Jadi perempuan yang menelepon Raka bukan Keisya.

Keisya tahu siapa pelakunya.

Raka akhirnya bicara.

“Siapa yang meneleponku?”

Di seberang telepon langsung sunyi.

“Raka?”

“Jawab.”

Keisya menarik napas.

“Bu Ratih.”

Aku menoleh kepada mantan ibu mertuaku.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

Raka menatap ibunya dengan tatapan yang bahkan membuatku merasa asing.

“Ibu meneleponku?”

Bu Ratih tidak menjawab.

“Kenapa?”

Akhirnya dia berkata pelan, “Karena Keisya bilang Alina benar-benar akan mengakhiri kehamilan itu.”

Aku semakin bingung.

“Bagaimana Keisya tahu jadwalku?”

Tidak ada jawaban.

Aku merebut ponsel dari tangan Raka.

“Keisya.”

Dia diam.

“Bagaimana kamu tahu?”

Suara Keisya berubah pelan.

“Aku melihat pesan di ponsel Raka.”

Aku menatap Raka.

Dia langsung menggeleng.

“Aku tidak punya pesanmu.”

Keisya mulai menangis.

“Aku tidak bermaksud sejauh ini.”

“Jawab pertanyaanku.”

“Aku… memasang sinkronisasi akunmu waktu kamu masih tinggal di rumah Mahendra.”

Dunia terasa berhenti.

“Apa?”

“Tablet lama yang kamu tinggalkan masih terhubung dengan akun surelmu.”

Aku langsung teringat tablet yang selama ini kugunakan untuk membaca.

Aku meninggalkannya di rumah karena menganggap benda itu tidak penting.

Keisya ternyata membuka surelku dari sana.

Jadwal klinik.

Hasil laboratorium.

Semuanya.

“Kamu membaca surat elektronik pribadiku?”

“Aku cuma ingin tahu apakah kamu masih menghubungi Raka.”

Aku tertawa getir.

“Jadi kamu memata-mataiku.”

Keisya mulai terisak.

“Aku takut kamu kembali.”

Aku memutus sambungan telepon.

Tanganku gemetar.

Ternyata tidak ada satu orang pun dalam keluarga itu yang benar-benar menghormatiku.

Satu orang menganggap hidupku bagian dari strategi keluarga.

Satu orang memata-mataiku karena takut kehilangan laki-laki yang bahkan belum tentu menjadi miliknya.

Dan Raka?

Dia berdiri di tengah semua kekacauan itu sambil baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun dirinya membiarkan orang lain menentukan batas dalam rumah tangganya.

Aku mengambil tas.

“Alina.”

Raka berjalan mendekat.

Aku berhenti.

“Jangan minta aku kembali.”

Dia terdiam.

“Aku tidak akan.”

Aku sedikit terkejut.

Raka menarik napas.

“Aku ingin kamu tahu satu hal. Tidak ada pernikahan antara aku dan Keisya.”

Aku menatapnya.

“Gaun itu?”

“Untuk pernikahan adiknya. Aku menemani karena keluarga kami menghadiri acara bersama. Foto yang kamu lihat dipotong.”

Aku tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin lelah.

“Tapi itu tidak mengubah apa pun.”

Raka mengangguk.

“Aku tahu.”

Matanya memerah.

“Aku kehilangan pernikahanku bukan karena Keisya. Aku kehilanganmu karena selama bertahun-tahun aku membuatmu merasa selalu berada di urutan kedua.”

Aku terdiam.

Itulah kalimat yang selama ini ingin kudengar.

Namun sekarang, saat akhirnya dia mengatakannya, aku sudah tidak membutuhkannya lagi.

Tiga hari kemudian, aku kembali ke klinik.

Kali ini aku datang sendiri.

Tidak ada Raka.

Tidak ada keluarga Mahendra.

Tidak ada Keisya.

Aku duduk berhadapan dengan dokter hampir satu jam.

Kami membicarakan risiko kehamilan tiga janin, kondisi tubuhku, kemungkinan komplikasi, pekerjaan, dukungan keluarga, serta semua pilihan yang tersedia.

Ketika keluar dari ruangan itu, aku sudah mengambil keputusan.

Aku memilih mempertahankan kehamilan.

Bukan karena Raka menerobos ruang tindakan.

Bukan karena keluarga Mahendra.

Bukan karena seseorang memohon.

Aku memilihnya karena setelah semua suara orang lain akhirnya menghilang, aku masih ingin memberi kesempatan kepada tiga kehidupan kecil itu.

Namun aku juga menetapkan satu syarat.

Aku tidak kembali kepada Raka.

Delapan bulan berikutnya tidak mudah.

Kehamilanku membutuhkan pengawasan ketat.

Raka membayar sebagian besar biaya medis setelah kami membuat kesepakatan melalui pengacara.

Dia tidak pernah datang tanpa izin.

Tidak pernah memaksaku bertemu.

Kadang dia hanya mengirim pesan singkat.

“Kontrol hari ini bagaimana?”

Aku biasanya menjawab seperlunya.

“Baik.”

Hubungan kami perlahan berubah.

Bukan suami istri.

Bukan pula musuh.

Hanya dua orang dewasa yang sedang belajar menjadi orang tua setelah gagal menjadi pasangan.

Keisya menghilang dari kehidupan kami setelah aku melaporkan akses ilegal terhadap akun pribadiku.

Keluarganya menyelesaikan masalah itu secara hukum.

Sedangkan Bu Ratih, untuk pertama kalinya dalam hidup Raka, kehilangan kendali atas putranya.

Raka keluar dari perusahaan keluarga dan membangun bisnis sendiri.

Aku baru mengetahuinya berbulan-bulan kemudian.

Ketika kutanya kenapa, jawabannya sederhana.

“Aku terlalu lama hidup berdasarkan keputusan orang lain.”

Pada usia kehamilan tiga puluh empat minggu, ketiga bayiku lahir melalui operasi caesar.

Dua perempuan dan satu laki-laki.

Mereka kecil.

Rapuh.

Namun suara tangisan mereka memenuhi ruang operasi seperti sebuah pengumuman bahwa hidupku benar-benar telah memasuki babak baru.

Raka berdiri di balik kaca ruang perawatan bayi.

Dia menangis.

Benar-benar menangis.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Beberapa hari kemudian, ketika dia datang ke kamarku, aku sedang menggendong salah satu bayi.

Dia duduk di kursi dekat jendela.

“Alina.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Aku mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

“Karena tidak pernah menggunakan anak-anak ini untuk menghukumku.”

Aku menatap bayi di pelukanku.

“Mereka bukan alat untuk menghukum siapa pun.”

Raka mengangguk.

Lalu dia tersenyum tipis.

“Aku dulu berharap suatu hari kamu memaafkanku lalu kita bisa kembali seperti dulu.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi sekarang aku sadar,” lanjutnya, “kembali seperti dulu justru hal terakhir yang seharusnya kita inginkan.”

Aku menatapnya.

Raka tertawa kecil.

“Dulu kita tidak bahagia.”

Untuk pertama kalinya aku ikut tersenyum.

“Benar.”

“Jadi aku tidak akan meminta kita kembali.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Dia berdiri lalu berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, dia menoleh.

“Aku cuma ingin menjadi ayah yang tidak membuat mereka merasa berada di urutan kedua.”

Dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Bukan karena cinta lama kembali.

Melainkan karena akhirnya aku melihat seseorang yang benar-benar memahami kesalahannya.

Setahun kemudian, saat ulang tahun pertama ketiga anak kami, kami berkumpul di rumah kecil yang kubeli setelah perceraian.

Tidak ada pesta mewah.

Hanya keluarga terdekat, beberapa teman, dan tiga kue kecil.

Bu Ratih tidak datang.

Hubungan kami belum membaik.

Mungkin suatu hari nanti.

Mungkin tidak.

Aku sudah tidak memaksakan semua hubungan harus berakhir dengan perdamaian yang sempurna.

Ketika acara hampir selesai, seorang temanku bertanya sambil tertawa, “Jadi kalian berdua sekarang sebenarnya apa?”

Aku menoleh kepada Raka.

Dia sedang duduk di lantai sambil mencoba menghentikan salah satu anak kami menarik pita dekorasi.

Aku tersenyum.

“Kami mantan suami istri.”

Raka langsung menyahut dari kejauhan.

“Dan partner kerja tiga shift tanpa hari libur.”

Semua orang tertawa.

Aku juga.

Setelah semua tamu pulang, aku berdiri di balkon sambil memandangi lampu Jakarta.

Dulu aku mengira akhir sebuah pernikahan berarti aku telah gagal.

Aku mengira kehilangan seseorang berarti seluruh hidupku ikut runtuh.

Ternyata tidak.

Kadang sebuah hubungan memang harus berakhir agar seseorang bisa menemukan kembali dirinya sendiri.

Kadang penyesalan datang terlambat.

Kadang permintaan maaf tidak harus berakhir dengan kesempatan kedua.

Dan kadang cinta yang paling penting bukanlah cinta yang membuat kita kembali kepada seseorang.

Melainkan cinta yang akhirnya membuat kita berani memilih hidup kita sendiri.

Dari dalam rumah terdengar tangisan salah satu bayi.

Kemudian suara Raka panik.

“Alina, yang mana botol susunya?”

Aku menutup mata sesaat lalu tertawa.

“Yang tutup biru, Raka!”

“Tiga-tiganya tutup biru!”

Aku masuk kembali ke rumah.

Bukan ke kehidupan lamaku.

Bukan menuju pernikahan yang dulu gagal.

Melainkan menuju kehidupan baru yang kupilih sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kehilangan apa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang