Ibu tiriku selalu mengatakan bahwa aku adalah anak yang dibuang oleh ibu kandungku sendiri.

Aku menatap amplop cokelat itu seperti sedang menatap sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidupku hanya dengan satu gerakan kecil.

Tanganku bahkan tidak berani menyentuhnya.

Pria tua di hadapanku menarik kursi perlahan, tetapi tidak langsung duduk.

“Nama saya Hendra,” katanya. “Dulu saya bekerja sebagai notaris keluarga ibu Anda.”

Notaris.

Kata itu terasa asing sekaligus menakutkan.

Aku menatapnya tajam.

“Kalau Bapak tahu ibu saya, kenapa baru datang sekarang?”

Pak Hendra menghela napas.

“Itulah bagian yang paling sulit saya jelaskan.”

Dia akhirnya duduk.

“Apa yang Anda ketahui tentang ibu kandung Anda?”

Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa kering.

“Dia meninggalkan saya.”

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Ibu tiri saya.”

“Dan ayah Anda?”

Aku terdiam.

“Ayah hanya bilang ibu saya sudah pergi.”

Pak Hendra menundukkan kepala.

Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat dadaku semakin sesak.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “selama ini Anda hidup dengan kebohongan.”

Aku merasa seluruh ruangan mendadak mengecil.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Hendra menunjuk amplop di atas meja.

“Ibu Anda tidak meninggalkan Anda, Alya.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dia mencari Anda.”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena otakku menolak menerima kalimat itu.

“Tidak mungkin.”

“Ibu Anda mencari Anda selama bertahun-tahun.”

“Kalau begitu kenapa dia tidak datang?”

“Dia datang.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Pak Hendra melanjutkan.

“Bukan sekali.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser ke belakang.

“Jangan main-main dengan saya.”

“Saya tidak main-main.”

“Dua puluh tahun saya hidup dengan cerita bahwa dia membuang saya. Dua puluh tahun.”

Suara terakhirku pecah.

Pak Hendra tetap diam.

Aku berjalan ke jendela.

Di luar, kendaraan berlalu di jalan besar. Orang-orang bergerak seperti biasa. Seolah dunia tidak sedang terbelah di dalam kepalaku.

“Siapa nama ibu saya?”

“Ratih Prameswari.”

Nama itu terasa aneh di telingaku.

Tapi entah kenapa, aku langsung mengingat sesuatu.

Sebuah lagu.

Samar.

Sangat samar.

Seorang perempuan menyanyikan lagu sebelum tidur.

Aku selalu mengira itu hanya potongan mimpi masa kecil.

“Dia masih hidup?”

Pertanyaan itu keluar hampir seperti bisikan.

Pak Hendra menatapku lama.

Kemudian perlahan menggeleng.

“Ibu Anda meninggal tiga tahun lalu.”

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan.

Sedih?

Marah?

Kecewa?

Aku bahkan tidak pernah mengenalnya.

Bagaimana mungkin aku berduka untuk seseorang yang hanya ada sebagai bayangan?

“Kenapa Bapak bilang dia mencari saya?”

Pak Hendra membuka tasnya lagi.

Dia mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dokumen dan meletakkannya di meja.

“Orang tua Anda bercerai ketika Anda masih sangat kecil.”

Aku kembali duduk.

“Perceraian mereka sangat buruk. Ada masalah keluarga, masalah bisnis, juga konflik dengan keluarga ayah Anda.”

Aku mengernyit.

“Bisnis?”

“Ibu Anda berasal dari keluarga yang cukup berada. Keluarganya memiliki perusahaan distribusi bahan makanan di Surabaya.”

Aku hampir tidak percaya.

Ayahku sepanjang hidup bekerja sebagai supervisor gudang.

Kami bukan keluarga kaya.

Rumah kami sederhana.

“Setelah perceraian,” lanjut Pak Hendra, “hak asuh Anda sementara jatuh kepada ayah Anda karena ibu Anda sedang menjalani perawatan setelah kecelakaan.”

“Kecelakaan?”

Pak Hendra mengangguk.

“Mobilnya ditabrak truk di jalan tol. Dia mengalami beberapa patah tulang dan harus menjalani rehabilitasi panjang.”

Aku menelan ludah.

“Setelah sembuh, dia ingin mengambil kembali hak asuh atau setidaknya mendapatkan akses untuk bertemu dengan Anda.”

“Lalu?”

“Ayah Anda menolak.”

Aku memejamkan mata.

Tidak.

Ayah mungkin tidak pernah banyak bercerita, tapi dia menyayangiku.

Aku yakin itu.

“Bapak salah.”

“Saya berharap begitu.”

Pak Hendra mendorong dokumen itu ke arahku.

Ada salinan surat.

Permohonan mediasi.

Catatan pembayaran pengacara.

Bahkan beberapa bukti transfer.

Aku membaca nama ayahku berulang kali.

Arman Setiawan.

Nama yang selama ini selalu terasa aman.

Kini muncul di dokumen-dokumen yang tidak kupahami.

“Kenapa Ayah melakukan itu?”

Pak Hendra menatap meja.

“Awalnya karena marah. Setelah itu situasinya menjadi semakin rumit.”

“Rumit bagaimana?”

Pak Hendra tidak menjawab langsung.

Dia justru melihat amplop cokelat itu.

“Jawabannya ada di sana.”

Aku akhirnya mengulurkan tangan.

Namun tepat ketika jariku hampir menyentuh amplop itu, telepon di mejaku berdering.

Resepsionis.

Aku mengangkatnya.

“Ya?”

Suara pegawaiku terdengar ragu.

“Bu Alya… ada seorang ibu ingin masuk. Katanya keluarga Ibu.”

Aku langsung tahu siapa.

Entah bagaimana, aku tahu.

“Siapa namanya?”

“Siska.”

Aku menatap Pak Hendra.

Wajah pria tua itu berubah.

“Dia di sini?”

Aku menutup telepon.

Belum sempat menjawab, pintu ruanganku terbuka.

Siska masuk dengan napas terengah-engah.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Dua puluh tahun membuat tubuhnya lebih kurus. Rambutnya yang dulu hitam kini dipenuhi uban. Wajahnya penuh garis usia.

Tapi matanya tetap sama.

Mata yang dulu menatapku dari dapur sambil berkata bahwa aku tidak diinginkan.

Ketika melihat amplop di meja, wajahnya langsung pucat.

“Alya.”

Aku berdiri.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Dia tidak menjawab.

Pandangan matanya hanya terpaku pada amplop.

Lalu pada Pak Hendra.

“Kenapa Bapak datang?”

Pak Hendra berdiri.

“Sudah waktunya.”

Siska langsung menggeleng.

“Tidak.”

Dia mendekati meja.

“Alya, jangan buka amplop itu.”

Dadaku berdegup begitu keras.

“Kenapa?”

Siska tidak menjawab.

Aku mengambil amplop.

Tiba-tiba dia bergerak cepat dan mencoba merebutnya.

Refleks, aku menarik tanganku.

“Jangan!”

Suara Siska pecah.

“Alya, tolong.”

Aku membeku.

Selama hidup, aku tidak pernah mendengar Siska berkata tolong kepadaku.

Lalu sesuatu yang lebih tidak masuk akal terjadi.

Siska berlutut.

Benar-benar berlutut di lantai kantorku.

Kedua tangannya terkatup.

Air matanya jatuh.

“Aku mohon. Jangan buka.”

Pemandangan itu terasa seperti potongan mimpi yang salah.

Perempuan yang dulu bahkan tidak membiarkanku mengambil potongan ayam lebih besar daripada Nino, kini berlutut di hadapanku.

Aku memegang amplop semakin erat.

“Kenapa?”

Siska menangis.

“Aku akan jelaskan semuanya.”

“Jelaskan sekarang.”

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

Pak Hendra hanya berdiri diam.

“Aku takut,” kata Siska akhirnya.

Aku tertawa kecil.

“Takut?”

“Iya.”

“Dua puluh tahun kamu membuat aku merasa seperti sampah, dan sekarang kamu bilang takut?”

Siska mengangkat wajah.

“Karena kalau kamu tahu semuanya, kamu akan membenci ayahmu.”

Kalimat itu membuatku diam.

Aku menatap Pak Hendra.

“Buka saja,” katanya.

Siska menangis semakin keras.

Aku merobek sisi amplop.

Di dalamnya ada beberapa surat tulisan tangan, sebuah foto lama, dan satu dokumen resmi.

Tanganku langsung berhenti ketika melihat foto itu.

Seorang perempuan muda berdiri sambil menggendong anak perempuan sekitar tiga tahun.

Aku mengenali anak itu.

Aku sendiri.

Perempuan itu tersenyum lebar.

Wajah kami sangat mirip.

Bentuk mata.

Hidung.

Bahkan lengkungan alis.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Untuk Alya, kalau suatu hari kamu bertanya apakah Ibu pernah mencintaimu, jawabannya adalah: setiap hari.

Air mataku langsung jatuh sebelum sempat kutahan.

Aku membuka surat pertama.

Tulisan tangan ibu kandungku sedikit miring.

Alya sayang, Ibu tidak tahu kapan kamu akan membaca ini. Mungkin kamu masih kecil. Mungkin kamu sudah dewasa. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Ibu tidak pernah meninggalkanmu.

Aku tidak sanggup membaca keras-keras.

Mataku bergerak cepat.

Ibu datang berkali-kali ke rumahmu.

Ibu mengirim hadiah ulang tahun.

Ibu membayar biaya sekolahmu melalui rekening ayahmu.

Ibu bahkan menyiapkan dana pendidikanmu sampai universitas.

Tanganku gemetar.

Aku menatap Siska.

“Dana pendidikan?”

Dia menunduk.

Aku mengambil dokumen resmi.

Itu laporan rekening dan perjanjian dana pendidikan atas namaku.

Jumlah akhirnya membuatku sulit bernapas.

Ratusan juta rupiah.

Dana itu telah dicairkan bertahun-tahun lalu.

Oleh ayahku.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Pak Hendra berkata pelan, “Dana itu dicairkan ketika Anda berusia tujuh belas tahun.”

Aku menatap Siska.

“Ke mana uangnya?”

Siska tidak menjawab.

“KE MANA?”

Dia tersentak.

“Untuk rumah.”

Aku membeku.

“Rumah?”

“Dan usaha ayahmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Ayah tidak punya usaha.”

“Pernah.”

Siska menyeka air mata.

“Dia mencoba membuka usaha distribusi kecil bersama temannya. Gagal. Banyak utang.”

“Uang kuliahku dipakai?”

Siska menutup mata.

“Sebagian besar.”

Aku merasa mual.

“Tapi waktu aku lulus SMA, kamu bilang tidak ada uang.”

“Aku tahu.”

“Kamu bilang lebih baik uangnya dipakai untuk Nino.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu ibuku yang membayar semuanya?”

Siska mulai terisak.

“Iya.”

Aku tertawa kecil.

Suara itu terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

“Jadi selama ini kamu tahu?”

Dia mengangguk.

Aku memandang foto ibuku lagi.

“Tahu dia tidak membuangku?”

“Iya.”

“Tahu dia mencari aku?”

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu tetap mengatakan dia tidak menginginkanku?”

Siska tidak berani mengangkat kepala.

“Kenapa?”

Beberapa detik berlalu.

Lalu dia menjawab.

“Karena aku iri.”

Jawaban itu begitu sederhana sampai terasa lebih kejam daripada alasan apa pun.

“Apa?”

“Ayahmu tidak pernah benar-benar melupakan Ratih.”

Siska menatapku dengan mata merah.

“Setiap kali melihatmu, aku melihat dia. Wajahmu. Cara kamu tertawa. Bahkan cara kamu diam kalau marah. Semuanya seperti Ratih.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku tahu itu salah,” lanjutnya. “Tapi waktu itu aku masih muda. Aku takut ayahmu akan kembali kepadanya. Aku takut Nino akan selalu dianggap nomor dua.”

“Jadi kamu menghancurkan aku?”

“Aku tidak berpikir sejauh itu.”

“Setiap hari kamu bilang aku dibuang.”

Siska menangis.

“Aku menyesal.”

“Tidak. Kamu menyesal karena amplop ini ditemukan.”

Wajahnya langsung berubah.

Aku tahu kalimatku tepat mengenai sesuatu.

Pak Hendra kemudian mengambil dokumen lain dari tas.

“Ada satu hal lagi.”

Siska mendadak berdiri.

“Jangan.”

Pak Hendra tetap menyerahkannya kepadaku.

Itu surat wasiat.

Nama ibuku tercetak di halaman pertama.

Ratih Prameswari.

Aku membaca perlahan.

Sebelum meninggal, ibu mewariskan sebagian kepemilikan perusahaan keluarganya kepadaku.

Aku hampir tidak memahami angka yang tertulis.

Pak Hendra menjelaskan.

“Ibu Anda menjadi pemegang saham utama setelah orang tuanya meninggal. Sebelum wafat, dia menjual sebagian bisnis dan menempatkan hasilnya dalam trust serta investasi.”

Aku menatapnya.

“Untuk saya?”

“Untuk Anda.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena ada syarat.”

Aku membaca bagian yang ditunjuknya.

Dana dan aset hanya boleh diserahkan setelah keberadaan Alya dipastikan secara langsung dan identitasnya diverifikasi.

Pak Hendra melanjutkan.

“Selama bertahun-tahun, kami mencari Anda. Alamat Anda berubah. Nomor Anda tidak terdaftar atas nama yang sama. Setelah ayah Anda meninggal, jejaknya semakin sulit.”

Aku mengerutkan kening.

“Tapi bagaimana Siska tahu Bapak datang hari ini?”

Pak Hendra terdiam.

Aku menoleh kepada Siska.

Dia terlihat panik.

Aku langsung mengerti.

“Bapak pernah menghubunginya?”

Pak Hendra mengangguk.

“Beberapa kali.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar sembilan tahun lalu.”

Aku menatap Siska.

Sembilan tahun.

Dia tahu orang-orang mencariku.

Dia tahu ada warisan.

“Dan kamu bilang apa kepada mereka?”

Siska menggigit bibir.

Pak Hendra menjawab untuknya.

“Dia mengatakan Anda sudah pindah ke luar negeri dan tidak ingin ditemukan.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Kenapa?”

Siska menangis lagi.

“Aku pikir kalau kamu tidak ditemukan…”

“Warisan itu jadi milikmu?”

“Tidak!”

“Lalu?”

Dia menarik napas gemetar.

“Nino.”

Aku mengernyit.

“Apa hubungannya dengan Nino?”

Pak Hendra membuka halaman terakhir.

Ada klausul lain.

Jika Alya tidak dapat ditemukan sampai jangka waktu tertentu, sebagian dana kemanusiaan akan dialihkan kepada yayasan, tetapi dana tertentu yang pernah disalurkan Ratih melalui ayahku harus diaudit.

Dana pendidikan.

Rumah.

Usaha.

Semua transaksi lama.

Aku akhirnya mengerti.

Siska bukan takut aku menerima warisan.

Dia takut audit membuka semuanya.

Pak Hendra berkata, “Ada indikasi tanda tangan ibu Anda pernah dipalsukan untuk mencairkan salah satu rekening.”

Aku menatap Siska.

Dia mundur.

“Itu bukan aku.”

“Siapa?”

“Arman.”

Nama ayahku.

Aku memejamkan mata.

Siska menangis.

“Ayahmu yang melakukannya.”

“Dan kamu diam.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena uang itu juga menyelamatkan kami.”

Kami.

Bukan aku.

Mereka.

Rumah yang kutinggali.

Makanan yang kumakan.

Sekolah Nino.

Semuanya dibangun di atas uang dari perempuan yang selama ini dibuat seolah tidak pernah menginginkanku.

Aku duduk pelan.

Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara.

Anehnya, di tengah semua kemarahan itu, aku justru teringat Ayah.

Cara dia diam setiap kali aku bertanya tentang ibu.

Ekspresi bersalah yang dulu kupikir sebagai kesedihan.

Sekarang semuanya terlihat berbeda.

Mungkin Ayah mencintaiku.

Tapi ternyata cinta tidak selalu membuat seseorang menjadi baik.

Seseorang bisa mencintai kita dan tetap melakukan hal yang menghancurkan hidup kita.

Aku membaca surat terakhir dari ibu.

Alya, kalau suatu hari kamu mengetahui semuanya, Ibu berharap kamu tidak menghabiskan hidup untuk membenci siapa pun. Jangan lakukan itu untuk Ibu. Kebencian hanya membuat orang lain tetap tinggal di dalam hidup kita lebih lama daripada seharusnya.

Aku berhenti.

Baris terakhir membuat air mataku jatuh lagi.

Hiduplah dengan baik. Itu akan menjadi cara terbaik untuk membuktikan bahwa mereka tidak berhasil menghancurkanmu.

Aku menutup surat itu.

Siska masih berdiri di depanku.

“Alya…”

Aku mengangkat tangan.

Dia langsung diam.

“Aku tidak akan melaporkanmu hari ini.”

Matanya melebar.

“Tapi jangan salah paham.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku juga tidak akan melindungimu.”

Wajahnya pucat.

“Pak Hendra akan melakukan semua yang memang harus dilakukan secara hukum. Kalau ada pemalsuan, penipuan, atau apa pun, biarkan prosesnya berjalan.”

Siska mulai menangis lagi.

“Nino tidak tahu apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Jangan libatkan dia.”

“Aku tidak punya alasan melibatkan orang yang tidak bersalah.”

Siska memandangku seperti tidak mengenali orang di hadapannya.

Mungkin dia berharap aku akan membalas dengan cara yang sama kejamnya.

Tapi aku sudah terlalu lama hidup di bawah bayangannya.

Aku tidak ingin menghabiskan satu hari lagi menjadi versi diriku yang dibentuk olehnya.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum dimulai.

Sebagian besar pelanggaran lama ternyata sulit diproses karena Ayah sudah meninggal dan beberapa dokumen sudah melewati batas tertentu.

Namun audit membuktikan dana pendidikanku memang disalahgunakan.

Siska akhirnya harus menjual rumah lama untuk mengembalikan sebagian dana yang secara hukum masih bisa ditagih dari aset keluarga.

Aku tidak mengambil semuanya.

Bukan karena kasihan.

Aku hanya tidak membutuhkannya lagi.

Rumah itu menyimpan terlalu banyak suara yang tidak ingin kubawa ke masa depan.

Yang lebih penting bagiku adalah sesuatu yang lain.

Aku menggunakan sebagian warisan ibu untuk memperbesar usahaku.

Bukan membeli mobil baru.

Bukan rumah besar.

Aku membuat sebuah program beasiswa bagi anak-anak perempuan dari keluarga sederhana yang ingin kuliah tetapi tidak memiliki dukungan finansial.

Aku menamainya Beasiswa Ratih.

Hari pertama program itu dibuka, aku duduk lama di kantor sambil memandangi foto perempuan yang dulu tidak pernah kukenal.

Foto yang sekarang kusimpan di atas meja.

Enam bulan kemudian, seorang gadis datang untuk wawancara beasiswa.

Usianya sekitar delapan belas tahun.

Dia duduk gugup di depanku sambil memegang map plastik.

“Kenapa kamu ingin kuliah?” tanyaku.

Dia terdiam sebentar.

Lalu menjawab,

“Karena banyak orang bilang saya tidak akan bisa.”

Aku tersenyum kecil.

“Dan kamu percaya?”

Dia menggeleng.

“Dulu iya.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Bagus.”

Gadis itu terlihat bingung.

Aku melanjutkan.

“Kadang-kadang, kita memang tumbuh dengan mendengar suara orang lain terlalu lama.”

Aku melirik foto ibuku.

“Tapi pada akhirnya, kita tetap punya pilihan menentukan suara mana yang akan kita bawa seumur hidup.”

Malamnya, sebelum pulang, aku membuka kembali surat terakhir ibu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menangis.

Aku hanya tersenyum.

Selama hampir dua puluh tahun, Siska membuatku percaya bahwa aku adalah anak yang dibuang.

Ternyata justru sebaliknya.

Aku adalah anak yang dicari.

Anak yang ditunggu.

Anak yang diam-diam dicintai seseorang selama bertahun-tahun, bahkan ketika aku sendiri tidak pernah mengetahuinya.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Luka paling dalam dalam hidupku ternyata tidak berasal dari kenyataan bahwa ibuku meninggalkanku.

Melainkan dari kebohongan bahwa aku tidak pernah layak dicintai.

Untungnya, kebohongan—seberapa lama pun dipercayai—tetaplah kebohongan.

Dan kebenaran, meskipun datang dua puluh tahun terlambat, masih memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh cara seseorang memandang hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang