Tiga Hari Setelah Ibu Meninggal, Ayah Tak Kunjung Menjemputku—Aku Malah Bertemu Pria yang Kulihat Akan Meninggal di Usia Tiga Puluh Satu

Aku baru menghabiskan setengah mangkuk mi ketika tulisan di samping kepala Galang berubah.

Takdir kematian mulai berubah.

Sumpitku berhenti di udara.

Aku mengucek mata dengan punggung tangan, lalu melihat lagi. Tulisan itu masih ada, menggantung tipis seperti cahaya yang hanya bisa kulihat seorang diri.

Aku menatap Galang.

Pria itu masih sibuk membaca dokumen, seolah tidak tahu bahwa kematiannya baru saja bergeser sedikit hanya karena mentraktir seorang anak makan mi ayam.

“Om.”

“Hm?”

“Besok Om masuk kantor?”

Ardi langsung menoleh kepadaku.

Galang mengangkat alis. “Kenapa?”

Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

Kalau aku mengatakan bahwa ada tulisan di samping kepalanya yang memberitahuku dia akan meninggal di kantor, mungkin mereka akan menganggapku aneh.

Aku menunduk dan mengaduk kuah.

“Jangan masuk kantor besok.”

“Alasannya?”

Aku berpikir keras.

“Karena… firasatku jelek.”

Ardi hampir tersedak minumannya.

Galang menutup laptop.

“Kamu umur berapa?”

“Enam.”

“Anak enam tahun sudah punya firasat?”

Aku mengangguk serius. “Punya.”

Entah kenapa, Galang tidak tertawa.

Tatapannya justru berubah lebih dalam.

Sebelum dia sempat bertanya lagi, seorang perawat datang tergesa-gesa. Bu Sari berhenti ketika melihatku duduk bersama mereka.

“Tata!”

Aku langsung berdiri.

Bu Sari terlihat lega sekaligus cemas. “Kamu bikin Ibu cari ke mana-mana.”

“Maaf.”

Dia menatap Galang dan Ardi, kemudian menjelaskan bahwa sejak ibuku meninggal tiga hari lalu, rumah sakit terus berusaha menghubungi keluargaku. Ayah berjanji datang sore itu, tetapi sampai malam belum muncul.

Galang bertanya, “Ibunya meninggal karena apa?”

Bu Sari terdiam sebentar.

“Gagal ginjal. Sudah lama sakit.”

Aku kembali duduk.

Aku tidak suka mendengar orang membicarakan kematian Ibu seolah itu hanya satu kalimat pendek.

Bagi orang lain, Ibu meninggal karena gagal ginjal.

Bagiku, Ibu adalah orang yang selalu menyisakan bagian ayam paling besar untukku, yang menyisir rambutku setiap pagi meski tangannya dipasangi infus, dan yang masih tersenyum sambil mengatakan semuanya akan baik-baik saja beberapa jam sebelum napasnya berhenti.

Galang memperhatikanku.

“Nomor ayahnya?”

Bu Sari memberikan nomor yang tercatat.

Ardi menelepon.

Tidak aktif.

Galang kemudian berkata sesuatu yang membuat Bu Sari terkejut.

“Saya tunggu sampai keluarganya datang.”

Aku langsung menatapnya.

Tulisan di samping kepalanya berubah lagi.

Kemungkinan meninggal pada usia tiga puluh satu tahun menurun.

Dadaku berdebar.

Jadi aku benar-benar bisa mengubahnya?

Aku turun dari kursi, berjalan mendekati Galang, lalu menarik ujung kemejanya.

“Om.”

Dia melihat tanganku.

“Apa lagi?”

“Jangan pergi dulu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak terlihat dingin.

“Baik.”

Ayah akhirnya datang pukul sebelas lewat dua puluh menit.

Namun dia tidak datang sendirian.

Seorang perempuan muda berjalan di sampingnya dengan tas bermerek menggantung di lengan. Aku mengenalnya. Namanya Tante Rina. Beberapa kali aku melihat namanya muncul di layar ponsel Ayah ketika Ibu masih hidup.

Ayah berjalan mendekat dengan wajah kesal.

“Tata, kenapa belum tidur?”

Aku memandangnya.

Aku sudah menunggu hampir sembilan jam, tetapi kalimat pertama Ayah bukan maaf.

Galang berdiri.

“Bapak ayahnya?”

Ayah tampak terkejut melihatnya. Mungkin dia mengenali Galang.

“Iya. Saya Damar.”

“Anak Anda menunggu sejak siang.”

Ayah tersenyum kaku. “Ada urusan mendadak.”

Tante Rina menarik lengannya.

“Kita cepat saja. Besok pagi kita harus berangkat.”

Aku mendengar itu.

“Berangkat ke mana?”

Ayah tidak langsung menjawab.

Akhirnya Tante Rina yang berkata, “Bandung. Ayahmu dapat pekerjaan baru.”

Aku memeluk tas kecilku.

“Berarti Tata ikut?”

Suasana menjadi sunyi.

Ayah menghela napas.

“Tata, untuk sementara kamu tinggal sama Nenek dulu.”

“Nenek sudah bilang rumahnya penuh.”

“Ya nanti Ayah pikirkan.”

“Kapan?”

Ayah mulai kehilangan kesabaran.

“Jangan banyak tanya.”

Aku terdiam.

Galang berdiri beberapa langkah dariku. Rahangnya mengeras.

Kemudian sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Tulisan muncul di samping kepala Ayah.

Damar Wijaya.

Ayah biologis Tata.

Akan menyerahkan hak pengasuhan demi menyelesaikan utang.

Aku belum memahami sepenuhnya kalimat terakhir, tetapi aku tahu satu hal.

Ayah tidak datang untuk membawaku pulang.

“Yah.”

“Apa?”

“Ayah tidak mau Tata?”

Wajahnya berubah.

Mungkin dia malu karena ada orang lain mendengar.

“Bukan begitu.”

“Terus bagaimana?”

Ayah mengusap wajah kasar.

“Tata, Ayah juga punya hidup. Selama ini Ayah sudah banyak keluar uang buat pengobatan ibumu. Sekarang Ayah harus mulai lagi dari nol.”

Aku menatapnya cukup lama.

Aneh.

Aku tidak menangis.

Mungkin karena selama tiga hari terakhir aku sudah menangis terlalu banyak.

Aku hanya bertanya, “Kalau Ibu masih hidup, Ayah tetap pergi?”

Ayah tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Galang memanggil Ardi.

“Hubungi pengacara keluarga saya.”

Semua orang menoleh.

Ayah mengernyit. “Untuk apa?”

Galang memasukkan tangannya ke saku celana.

“Karena Anda barusan mengatakan tidak bisa mengurus anak Anda.”

“Itu urusan keluarga saya.”

“Benar. Jadi selesaikan secara legal. Jangan meninggalkan anak enam tahun di rumah sakit lalu menghilang.”

Wajah Ayah memerah.

Malam itu menjadi panjang.

Ada petugas rumah sakit, pekerja sosial, telepon kepada keluarga, dan pembicaraan yang sebagian besar tidak kupahami.

Yang kupahami hanya satu.

Tidak ada satu pun kerabat yang bersedia membawaku.

Pukul dua pagi aku tertidur di kursi sambil memeluk boneka kelinci.

Ketika terbangun, tubuhku sudah diselimuti jaket hitam milik Galang.

Beberapa hari berikutnya aku ditempatkan sementara di sebuah rumah perlindungan anak sambil urusan administrasi diselesaikan.

Galang datang hampir setiap hari.

Kadang membawa buah.

Kadang buku gambar.

Sekali waktu dia membawa boneka kelinci baru yang kedua telinganya masih lengkap.

Aku tetap memilih boneka lamaku.

“Kenapa tidak pakai yang baru?” tanyanya.

“Yang lama punya Ibu.”

Galang tidak pernah menyuruhku membuangnya lagi.

Seminggu kemudian, aku akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Om, umur Om berapa?”

“Tiga puluh.”

Aku langsung menegang.

“Ulang tahun kapan?”

“Dua bulan lagi.”

Jantungku terasa jatuh.

Tiga puluh satu.

Aku menatap tulisan di samping kepalanya.

Galang Pradana.

Pemegang kendali Grup Pradana.

Tiga puluh satu tahun.

Risiko kematian masih ada.

Penyebab belum berubah.

Sejak hari itu aku mulai mengikuti Galang ke mana pun jika diizinkan.

Aku melarangnya minum kopi terlalu banyak.

Aku menyuruhnya tidur sebelum tengah malam.

Aku bahkan menyembunyikan kunci mobilnya karena kupikir mungkin dia akan meninggal dalam kecelakaan.

Galang tidak pernah marah.

Dia hanya bertanya, “Tata sebenarnya takut apa?”

Aku menjawab jujur.

“Takut Om mati.”

Dia terdiam cukup lama.

Lalu tangannya menyentuh kepalaku.

“Semua orang akan mati.”

“Tapi jangan sekarang.”

Tatapannya berubah lembut.

“Baik. Saya usahakan.”

Dua bulan berlalu.

Proses pengasuhan sementara akhirnya selesai. Dengan persetujuan lembaga sosial dan melalui prosedur hukum, Galang menjadi wali sementaraku.

Rumahnya sangat besar.

Terlalu besar untuk dua orang.

Malam pertama di sana aku tidak bisa tidur.

Aku berjalan ke ruang kerjanya dan menemukan Galang tertidur di depan laptop.

Di meja ada obat sakit kepala.

Tulisan di samping kepalanya berkedip merah.

Tujuh hari menuju kematian.

Aku langsung membangunkannya.

“Om!”

Galang tersentak.

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah sakit.

“Jangan kerja lagi.”

Dia bingung.

“Tata?”

“Om bakal mati.”

Akhirnya aku mengatakan semuanya.

Tentang tulisan yang kulihat.

Tentang usia tiga puluh satu.

Tentang kantor.

Tentang bagaimana tulisan itu berubah setiap kali sesuatu berbeda terjadi.

Aku yakin dia akan menganggapku berbohong.

Namun Galang justru bertanya, “Apa yang tertulis sekarang?”

Aku mengangkat wajah.

“Tujuh hari.”

Wajahnya berubah serius.

Malam itu dia menelepon dokter pribadinya.

Pemeriksaan lengkap dilakukan keesokan hari.

Jantung normal.

Tekanan darah sedikit tinggi, tetapi tidak berbahaya.

Hasil darah juga tidak menunjukkan sesuatu yang fatal.

Ardi mulai terlihat lega.

“Mungkin Tata cuma trauma.”

Namun aku tahu bukan itu.

Enam hari.

Lima hari.

Empat hari.

Tulisan terus menghitung mundur.

Galang akhirnya membatalkan semua jadwal kantor pada hari yang diprediksi menjadi hari kematiannya.

“Kita di rumah saja,” katanya.

Aku merasa sedikit lega.

Sampai pagi hari itu datang.

Tulisan berubah.

Hari ini.

Pukul 14.17.

Kantor pusat Grup Pradana.

Aku langsung pucat.

Padahal Galang berada di rumah.

Pukul sebelas, telepon Ardi masuk.

Ada masalah besar di kantor.

Server utama mati. Beberapa dokumen transaksi penting hilang. Dewan direksi meminta Galang datang.

“Tidak boleh!”

Aku berteriak begitu keras sampai Galang terdiam.

Dia akhirnya menyuruh Ardi menangani semuanya.

Pukul satu siang, telepon lain masuk.

Kali ini dari pamannya, Surya Pradana.

Aku pernah bertemu dengannya dua kali.

Setiap melihatnya, tulisan di samping kepalanya selalu membuatku tidak nyaman.

Surya Pradana.

Direktur keuangan.

Mengincar kendali perusahaan.

Hari itu ada satu baris baru.

Menunggu kematian Galang.

Tanganku langsung dingin.

“Jangan angkat!”

Terlambat.

Galang sudah menjawab.

Surya mengatakan ada dokumen darurat yang hanya bisa ditandatangani Galang. Tanpa tanda tangan itu, perusahaan bisa kehilangan kontrak bernilai triliunan rupiah.

Galang berdiri.

“Aku harus pergi sebentar.”

Aku langsung memeluk kakinya.

“Tidak!”

“Tata.”

“Dia mau Om mati!”

Galang membeku.

“Siapa?”

“Om Surya.”

Dua puluh menit kemudian, bukannya pergi ke kantor, Galang menghubungi kepala keamanan perusahaan dan seorang penyidik yang dikenalnya.

Mereka memeriksa ruang kerja Galang secara diam-diam.

Pukul 13.48, Ardi menelepon.

Suaranya gemetar.

“Pak Galang, jangan datang ke kantor.”

Di bawah meja kerja Galang ditemukan perangkat kecil yang terhubung ke sistem ventilasi pribadi ruangan.

Bukan bom.

Bukan senjata.

Sebuah alat yang dapat melepaskan gas beracun tanpa warna dalam konsentrasi tinggi.

Jika Galang berada di ruangan tertutup itu selama beberapa menit, kematiannya kemungkinan besar akan terlihat seperti serangan jantung mendadak.

Aku memandang tulisan di samping kepala Galang.

Pukul 14.16.

Satu menit.

Kemudian angka itu berhenti.

Tulisan berkedip.

Dan menghilang.

Aku menahan napas.

Beberapa detik kemudian muncul kalimat baru.

Takdir kematian telah berubah.

Aku menangis sambil tertawa dan langsung memeluk Galang.

Surya ditangkap sore itu setelah penyelidikan menemukan bukti komunikasi dengan teknisi gedung serta transaksi pembayaran yang sengaja disamarkan. Masalahnya ternyata bukan sekadar perebutan jabatan. Audit internal menemukan penggelapan dana perusahaan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Jika Galang tetap hidup dan audit selesai, Surya akan kehilangan semuanya.

Malam itu Galang pulang lebih awal.

Kami makan mi ayam.

Sama seperti malam pertama bertemu.

“Om.”

“Hm?”

“Sekarang tulisannya berubah.”

“Apa katanya?”

Aku tersenyum.

“Galang Pradana. Tiga puluh satu tahun. Masih hidup.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Galang tertawa lepas.

Tiga bulan kemudian, proses hukum mengenai pengasuhanku memasuki tahap akhir.

Ayah datang.

Dia terlihat lebih kurus.

Dia mengatakan menyesal.

Katanya dia ingin membawaku pulang.

Aku hampir percaya sampai tulisan muncul di samping kepalanya.

Damar Wijaya.

Utang judi meningkat.

Berniat meminta uang kepada Galang melalui Tata.

Aku menunduk.

“Ayah benar-benar kangen Tata?”

“Tentu.”

“Kalau Om Galang miskin, Ayah tetap datang?”

Ayah terdiam.

Galang yang berdiri di belakangku tidak mengatakan apa-apa.

Aku tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Yah. Tata sudah tahu jawabannya.”

Ayah pergi tanpa membawaku.

Setahun kemudian, pengadilan menetapkan Galang sebagai wali sahku.

Pada hari keputusan itu keluar, kami pergi ke makam Ibu.

Aku meletakkan bunga putih di sana.

“Ibu, Tata sekarang punya rumah.”

Angin bertiup pelan.

Galang berdiri beberapa langkah di belakangku, memberi ruang seolah dia tahu ada percakapan yang hanya boleh terjadi antara aku dan Ibu.

Aku menyentuh batu nisan.

“Ada orang yang suka pura-pura galak. Kerjanya kebanyakan. Makannya juga sering telat.”

Dari belakang terdengar suara Galang.

“Saya dengar.”

Aku tertawa.

Kemudian sesuatu muncul di samping batu nisan Ibu.

Aku membeku.

Selama ini tulisan hanya muncul di dekat orang hidup.

Namun kali ini ada satu kalimat tipis bercahaya.

Bukan nama.

Bukan usia.

Hanya sebuah pesan.

Terima kasih sudah memilih orang yang tepat untuk menjadi keluargamu.

Air mataku jatuh.

Aku menoleh cepat kepada Galang.

Tulisan di samping kepalanya juga berubah.

Galang Pradana.

Ayah dari Tata.

Aku berlari kepadanya.

Galang sempat terkejut ketika aku memeluk pinggangnya erat-erat.

“Ayah.”

Tubuhnya membeku.

Aku belum pernah memanggilnya begitu.

“Apa?”

Aku mendongak sambil menangis.

“Ayah.”

Kali ini suaraku lebih jelas.

Galang berlutut di depanku.

Matanya memerah, tetapi seperti biasa dia berusaha terlihat tenang.

Tangannya mengusap air mata di pipiku.

“Ya?”

Aku tersenyum.

“Ayo pulang.”

Dia mengangguk.

“Ayo.”

Saat kami berjalan meninggalkan makam, aku menoleh sekali lagi ke belakang.

Tulisan di batu nisan Ibu sudah menghilang.

Namun untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku tidak merasa ditinggalkan.

Dulu aku mengira keluarga adalah orang yang seharusnya datang menjemput ketika kita menunggu.

Ternyata aku salah.

Kadang-kadang, orang yang seharusnya datang justru tidak pernah benar-benar memilih kita.

Dan orang asing yang kebetulan berhenti karena mendengar perut seorang anak berbunyi bisa menjadi orang yang menggenggam tangan kita sampai dewasa.

Aku memang menyelamatkan Galang dari kematian pada usia tiga puluh satu tahun.

Tetapi baru bertahun-tahun kemudian aku memahami satu hal.

Malam ketika kami bertemu di koridor rumah sakit itu, bukan hanya aku yang mengubah takdirnya.

Dia juga mengubah takdirku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang