Aku datang ke perbatasan dengan membawa surat cerai di dalam koper.
Namun malam pertama aku tidur di ranjang suamiku setelah berbulan-bulan hidup terpisah, aku justru memeluk bantalnya seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu.
Ketika terbangun, kamar sudah gelap.
Aku meraba ponsel di meja. Pukul tujuh lewat dua puluh malam.
Bagas belum kembali.
Untuk beberapa detik, rasa kesal yang selama ini menumpuk muncul lagi. Bahkan ketika istrinya datang sejauh ribuan kilometer, pria itu masih bisa menghilang begitu saja.
Aku bangkit dan membuka koper.

Map cokelat berisi dokumen perceraian masih terselip di bawah pakaian.
Aku mengeluarkannya.
Nama kami tercetak jelas di halaman pertama.
Bagas Pratama.
Laras Adhisty.
Aku menatap dua nama itu cukup lama.
Aneh sekali. Di ruang sidang, aku bisa membicarakan perceraian sebagai perkara hukum. Ada pembagian aset, hak dan kewajiban, bukti, kesepakatan, kemudian tanda tangan.
Semuanya terlihat sederhana di atas kertas.
Tapi ketika nama yang tercetak adalah namaku sendiri, setiap halaman terasa jauh lebih berat.
Pintu tiba-tiba terbuka.
Aku refleks memasukkan map itu kembali ke koper.
Bagas berdiri di ambang pintu membawa dua kotak makanan. Rambutnya sedikit basah, entah karena gerimis atau keringat. Seragamnya sudah berganti dengan kaus hitam dan celana lapangan.
“Kamu bangun?”
Aku mengangguk.
“Aku kira kamu pergi lagi.”
“Tadi rapat.”
Dia meletakkan makanan di meja.
“Maaf lama.”
Aku duduk sambil memeluk lutut.
Bagas menatapku sebentar, lalu pandangannya jatuh ke koper yang terbuka.
Aku buru-buru menutupnya.
Dia tidak bertanya.
“Makan dulu,” katanya.
“Aku nggak lapar.”
“Sejak kapan terakhir makan?”
Aku mencoba mengingat.
Bagas menghela napas.
“Berarti kamu sendiri nggak ingat.”
Dia membuka salah satu kotak. Nasi hangat, ayam kecap, tumis sayur, dan telur.
Aku mengerutkan kening.
“Di sini ada makanan begini?”
“Aku minta dapur masak yang nggak pedas.”
“Kenapa?”
“Kamu kalau makan terlalu pedas sakit perut.”
Tanganku berhenti.
Aku bahkan lupa pernah mengatakan hal itu.
Bagas ternyata masih mengingatnya.
Kami makan berhadapan dalam keheningan.
Setelah beberapa suap, aku akhirnya bertanya, “Kenapa kamu nggak pernah menghubungiku?”
Sendok di tangannya berhenti.
“Aku menghubungimu.”
“Seminggu sekali bukan komunikasi, Bagas.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu bagaimana rasanya punya suami tapi nggak tahu dia hidup atau mati?”
Bagas menunduk.
“Aku tahu itu salahku.”
“Bukan cuma salah.”
Suaraku mulai bergetar.
“Aku menikah sama kamu, lalu sebulan kemudian kamu pergi. Aku pulang kerja sendirian. Aku makan sendirian. Kalau sakit, aku ke dokter sendiri. Kalau ada masalah, aku selesaikan sendiri.”
Bagas tidak menyela.
Itu justru membuat emosiku semakin naik.
“Orang-orang bahkan mulai bertanya apa pernikahanku nyata atau cuma kesalahan setelah mabuk.”
Rahang Bagas mengeras.
“Buatku bukan kesalahan.”
Aku terdiam.
Dia mengangkat wajah.
“Aku mungkin buruk dalam menjalani pernikahan ini, tapi aku nggak pernah menganggap menikah denganmu sebagai kesalahan.”
Dadaku seperti dipukul sesuatu.
Aku berdiri.
“Aku mau keluar sebentar.”
“Laras.”
“Aku butuh udara.”
Di luar, udara malam jauh lebih dingin daripada yang kubayangkan.
Aku berjalan melewati bangunan sederhana pos, lalu berhenti di dekat pagar ketika mendengar suara dua orang berbicara.
“Komandan jadi batal mengajukan pindah?”
“Kayaknya.”
“Sayang juga. Katanya tinggal tunggu persetujuan.”
Langkahku terhenti.
Pindah?
Aku berbalik.
Dua petugas muda yang sedang membawa perlengkapan langsung diam ketika melihatku.
“Pindah ke mana?” tanyaku.
Mereka saling berpandangan.
“Sebenarnya kami nggak boleh ngomong, Kak.”
“Sekarang kalian sudah ngomong.”
Salah satunya tampak panik.
“Komandan beberapa bulan lalu mengajukan mutasi ke Jawa.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Kenapa?”
Petugas itu tersenyum kecil.
“Katanya istrinya di Jakarta.”
Aku tidak tahu bagaimana kembali ke kamar.
Yang kuingat hanya langkahku terasa berat.
Bagas sedang berdiri di dekat meja ketika aku masuk.
“Kamu mengajukan mutasi?”
Wajahnya berubah.
“Siapa yang bilang?”
“Jadi benar?”
Dia diam.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
“Belum pasti.”
“Bagas.”
“Aku nggak mau kasih harapan kalau belum ada keputusan.”
Aku tertawa pendek, tetapi mataku mulai panas.
“Itu masalahmu.”
“Apa?”
“Kamu selalu memutuskan sendiri apa yang perlu kuketahui.”
Dia menatapku.
“Kamu pikir dengan tidak memberitahuku, kamu melindungiku. Padahal kamu cuma membuatku merasa nggak punya tempat dalam hidupmu.”
Bagas tidak membantah.
Untuk pertama kalinya aku melihat pria yang biasanya begitu tenang itu seperti kehilangan kata-kata.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
Aku membeku.
Bagas duduk di tepi ranjang.
“Aku bisa menghadapi orang bersenjata. Bisa masuk hutan berhari-hari. Bisa tidur dua jam lalu lanjut patroli.”
Dia tertawa hambar.
“Tapi kalau soal kamu, aku selalu takut salah.”
“Takut apa?”
“Kehilangan kamu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bagas menatap lantai.
“Pernikahan kita dimulai dengan cara yang kacau. Aku tahu hidupmu bagus sebelum mengenalku. Kariermu bagus. Teman-temanmu ada di Jakarta. Kamu terbiasa dengan kehidupan yang jauh berbeda dari tempat seperti ini.”
Dia mengusap wajah.
“Jadi setiap kali mau menelepon dan sudah lewat tengah malam, aku berpikir kamu pasti capek. Setiap kali dapat sinyal setelah berhari-hari, aku berpikir mungkin kamu sedang sidang. Lama-lama aku cuma mengirim pesan pendek karena takut mengganggu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jadi selama ini kamu jarang menelepon karena takut menggangguku?”
Bagas mengangguk.
“Bodoh.”
“Iya.”
“Sangat bodoh.”
“Iya.”
Aku mengambil bantal dan melemparkannya ke wajahnya.
Bagas menangkapnya.
“Kenapa kamu nggak tanya aku?”
“Aku memang bodoh.”
Aku ingin marah.
Tapi tiba-tiba terdengar sirene dari luar.
Bagas langsung berdiri.
Ekspresinya berubah dalam satu detik.
Pintu diketuk keras.
“Komandan, ada laporan dari sektor utara!”
Bagas meraih jaketnya.
“Ada apa?”
“Dua warga belum kembali. Kendaraan mereka ditemukan dekat jalur lama. Cuaca memburuk.”
Bagas menoleh kepadaku.
“Aku harus pergi.”
Rasa dingin menjalar ke punggungku.
“Kapan pulang?”
“Nggak tahu.”
Kalimat itu.
Kalimat yang selama berbulan-bulan membuatku membenci pekerjaannya.
Namun kali ini aku melihat sendiri alasan di baliknya.
Bagas mendekat dan menggenggam kedua bahuku.
“Jangan keluar dari area pos. Kalau listrik mati, senter ada di laci. Makanan ada di lemari.”
Aku hanya menatapnya.
Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengusap kepalaku.
Lalu pergi.
Malam itu aku tidak tidur.
Hujan turun semakin deras.
Angin memukul jendela.
Setiap suara kendaraan membuatku berdiri.
Pukul satu malam, belum ada kabar.
Pukul tiga, masih belum ada.
Pukul lima pagi, beberapa kendaraan operasional akhirnya masuk.
Aku berlari keluar tanpa sempat memakai jaket.
Beberapa petugas turun.
Dua warga yang dicari berhasil ditemukan.
Namun Bagas tidak ada.
“Bagas mana?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Jantungku seperti berhenti.
Seorang petugas mendekat.
“Komandan masih di belakang. Ada anggota yang cedera.”
Aku menunggu hampir empat puluh menit.
Ketika kendaraan terakhir datang, aku melihat Bagas turun sambil membantu seorang petugas berjalan.
Lengan kirinya berlumuran lumpur dan ada sobekan di dekat siku.
Aku langsung berlari.
“Bagas!”
Dia menoleh.
Ekspresinya yang tegang langsung melunak.
“Aku nggak apa-apa.”
Aku memukul dadanya.
“Kamu selalu bilang begitu!”
Lalu aku memeluknya.
Aku tidak peduli ada orang lain.
Tidak peduli rambutku berantakan.
Tidak peduli aku bahkan belum mencuci muka.
Aku hanya memeluknya sekuat mungkin.
Bagas terdiam beberapa detik sebelum membalas pelukanku.
“Aku kira kamu kenapa-kenapa,” bisikku.
“Maaf.”
“Aku benci pekerjaanmu.”
“Iya.”
“Aku benci tempat ini.”
“Iya.”
“Aku juga masih marah sama kamu.”
“Iya.”
Aku mendongak.
“Kenapa jawabannya iya terus?”
“Karena kalau jawab salah, takutnya kamu benar-benar cerai.”
Aku melepaskan pelukan.
Bagas menatapku curiga.
Kemudian matanya bergerak ke arah kamar.
“Kamu memang datang membawa surat cerai, kan?”
Darah di wajahku seperti menghilang.
“Dari mana kamu tahu?”
“Waktu kamu tidur kemarin, koper kamu terbuka sedikit.”
“Kamu baca?”
“Nggak.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku cuma lihat nama pengadilan di map.”
Aku menunduk.
Setelah lukanya dibersihkan, kami kembali ke kamar.
Aku mengeluarkan map cokelat itu.
Bagas duduk di depanku.
Kali ini dia tidak mencoba menghentikanku.
Aku membuka dokumen tersebut.
“Aku sudah menyiapkan semuanya.”
“Aku tahu.”
“Kamu tinggal tanda tangan.”
Bagas mengambil pulpen.
Tanganku spontan mencengkeram kertas.
Dia berhenti.
“Kalau itu yang kamu mau, aku tanda tangan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu nggak akan mempertahankan aku?”
“Aku mau.”
“Terus?”
“Aku nggak mau mempertahankan kamu dengan memaksa.”
Bagas meletakkan pulpen di meja.
“Kalau kamu pulang dan tetap ingin cerai, aku akan tanda tangan. Tapi kalau masih ada sedikit saja bagian dari kamu yang ingin mencoba, kasih aku kesempatan.”
Mataku panas.
“Kesempatan apa?”
“Belajar jadi suami.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Harusnya itu dipelajari sebelum menikah.”
“Aku waktu itu terlalu senang kamu bilang iya.”
Aku menatap dokumen di tanganku.
Kemudian merobeknya menjadi dua.
Mata Bagas membesar.
Aku merobeknya lagi.
Dan lagi.
Sampai surat perceraian yang kusiapkan dengan sangat profesional berubah menjadi potongan kertas di lantai kamar sederhana di perbatasan.
Bagas berdiri.
“Kamu yakin?”
“Belum.”
Dia tampak bingung.
“Aku belum yakin pernikahan kita akan berhasil.”
Aku mengusap air mata.
“Tapi aku juga belum yakin mau kehilangan kamu.”
Bagas perlahan tersenyum.
“Berarti?”
“Kita mulai dari awal.”
Dia mendekat.
“Dari mana?”
“Dari pacaran.”
Bagas mengernyit.
“Kita sudah menikah.”
“Aku tahu.”
“Jadi aku pacaran sama istri sendiri?”
“Masalah?”
“Nggak.”
Dia mengangguk serius.
“Lebih hemat.”
Aku kembali mengambil bantal dan memukulnya.
Dua hari kemudian aku harus pulang ke Jakarta.
Di perjalanan menuju bandara, Bagas terus menggenggam tanganku.
Sebelum berpisah, dia memberikan sebuah amplop.
“Buka di pesawat.”
Aku menatapnya curiga.
“Bukan surat cerai, kan?”
“Buka nanti.”
Di pesawat, setelah lampu sabuk pengaman padam, aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada salinan permohonan mutasi Bagas.
Namun ada satu lembar baru di belakangnya.
Permohonan itu telah disetujui.
Penempatan baru mulai tiga bulan lagi.
Jakarta.
Aku menutup mulut.
Di bawah lembar itu ada secarik kertas dengan tulisan tangan Bagas.
Aku sudah mengajukan ini jauh sebelum tahu kamu akan datang membawa surat cerai.
Bukan karena takut kehilanganmu.
Aku cuma akhirnya mengerti bahwa menikah bukan tentang meminta seseorang menunggu kita pulang.
Menikah juga berarti berusaha mencari jalan untuk pulang kepadanya.
Air mataku jatuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku sebagai pengacara perceraian, aku menangis karena sebuah pernikahan yang batal berakhir.
Tiga bulan kemudian, Bagas benar-benar pindah.
Hari pertama tinggal kembali bersamaku, dia melipat selimut, membersihkan meja, mengatur sepatu, dan memindahkan tumpukan berkas kerjaku yang sudah berbulan-bulan memenuhi sofa.
Aku memprotes.
“Jangan sentuh dokumen klienku!”
“Kalau begitu jangan taruh di atas kaus kakiku.”
Aku terdiam.
“Kaus kaki kamu kenapa ada di sofa?”
Bagas ikut terdiam.
Kami saling menatap.
Ternyata hidup bersama tidak otomatis membuat pernikahan lebih mudah.
Kami tetap bertengkar.
Aku masih terlalu sibuk.
Bagas masih sering menerima tugas mendadak.
Kadang dia lupa memberi kabar.
Kadang aku terlalu keras ketika marah.
Tetapi sekarang kami belajar satu hal yang sebelumnya tidak pernah kami lakukan.
Bicara.
Bukan menebak.
Bukan diam-diam berkorban lalu berharap pasangan mengerti.
Bukan menghilang karena merasa itu lebih mudah.
Setahun setelah perjalanan gilaku ke perbatasan, aku kembali menemukan sebuah map cokelat di meja makan.
Jantungku sempat berdegup aneh.
“Bagas!”
Dia muncul dari dapur.
“Apa?”
“Ini apa?”
“Buka.”
Aku membuka map itu.
Bukan dokumen perceraian.
Melainkan dua tiket pesawat ke Kalimantan Utara.
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
Bagas menyandarkan tubuh ke pintu dapur.
“Anak-anak di pos masih bilang mereka belum pernah lihat wajah asli kakak iparnya.”
Aku memicingkan mata.
“Maksudnya?”
“Waktu pertama datang, eyeliner kamu berantakan.”
Aku mengambil map itu dan mengejarnya.
Bagas tertawa sambil berlari mengelilingi meja makan.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.
Dulu aku pergi ke ujung negeri dengan membawa surat untuk mengakhiri pernikahanku.
Aku mengira jarak adalah masalah terbesar kami.
Ternyata bukan.
Yang hampir menghancurkan kami adalah dua orang yang sama-sama mencintai, tetapi terlalu sibuk menebak isi hati satu sama lain.
Surat cerai itu tidak pernah sampai ke pengadilan.
Sebaliknya, perjalanan membawanya ke tempat yang sama sekali tidak kuduga.
Ke sebuah kamar kecil di perbatasan.
Ke tangan seorang suami yang bersedia melepaskanku jika itu membuatku bahagia.
Dan akhirnya, kembali ke hatiku sendiri.
Kadang cinta tidak gagal karena perasaan sudah habis.
Kadang cinta hanya tersesat karena tidak ada seorang pun yang mengatakan, dengan cukup jelas, bahwa ia masih ingin pulang.
