Semua Orang Mengira Aku Mengejar Idola Kampus, Padahal Aku Digaji Rp45 Juta Sebulan untuk Memasak untuknya

Aku menatap nama Tiara yang berada di urutan pertama daftar peserta kompetisi itu, lalu memandangi namaku yang dicoret begitu tebal sampai kertasnya hampir robek.

Aneh sekali.

Seharusnya aku marah.

Kompetisi memasak antarkampus itu menawarkan hadiah Rp30 juta dan kesempatan magang selama tiga bulan di salah satu restoran ternama di Bandung. Bagi mahasiswa jurusan kuliner seperti kami, kesempatan semacam itu bisa membuka banyak pintu.

Namun yang membuatku benar-benar kesal bukan namaku yang dicoret.

Melainkan buku resep ayahku yang masih terkunci di lemari dapur.

Aku mengangkat kepala.

“Sudah selesai?”

Tiara mengernyit. “Apa?”

“Kalau sudah selesai pamer, aku mau istirahat.”

Senyumnya langsung menghilang.

“Kamu nggak marah?”

“Harus?”

“Aku mengambil tempatmu.”

Aku mengangguk. “Selamat.”

Tiara menatapku seolah aku baru saja kehilangan akal sehat.

Mungkin dia berharap aku menangis, memohon kepada Bu Yanti, atau menyeret rambutnya di lorong klinik.

Sayangnya, aku dibesarkan oleh seorang koki yang selalu mengatakan bahwa tangan seorang juru masak terlalu berharga untuk dipakai berkelahi.

Lagipula, kalau tanganku cedera, siapa yang akan membayar Rp45 juta sebulan?

Tiara mendekat.

“Kamu sok tenang karena merasa Tante Ratna akan membelamu?”

“Nggak.”

“Galang?”

“Nggak juga.”

“Lalu apa?”

Aku tersenyum.

“Karena orang yang benar-benar bisa memasak biasanya nggak perlu mencuri resep orang lain.”

Wajahnya berubah.

Pintu klinik terbuka sebelum dia sempat menjawab.

Galang masuk membawa obat luka dan sekantong makanan.

Tiara langsung kembali memasang ekspresi lembut.

“Galang, aku sebenarnya cuma ingin Laras mengerti bahwa kompetisi ini penting buatku.”

Galang meletakkan obat di meja.

“Terus?”

“Aku berharap dia berhenti mengganggu persiapan.”

Galang menatapku.

“Apa kamu mengganggunya?”

“Banget.”

Aku menunjuk tanganku yang memerah.

“Aku sampai menggunakan punggung tangan untuk menyerang kuah panasnya.”

Galang menahan senyum.

Tiara pergi dengan wajah kaku.

Setelah pintu tertutup, Galang duduk di sebelahku.

“Kamu benar-benar nggak marah?”

“Sedikit.”

“Karena kompetisinya?”

“Buku resep ayahku.”

Ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Galang tidak mengeluarkan komentar menyebalkan.

Dia hanya mengangguk pelan.

“Aku akan bantu ambil.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu ikut campur, gosipnya tambah panjang.”

Galang menatapku beberapa detik.

“Laras.”

“Hm?”

“Kenapa kamu peduli banget sama gosip?”

Aku tertawa kecil.

“Karena aku masih ingin kuliah dengan damai.”

Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering.

Aku melihat nama Bu Ratna muncul di layar.

Galang mengangkat telepon.

Aku juga menerima pesan pada saat bersamaan.

Dari Bu Ratna.

Besok saya datang ke acara kampus. Jangan bilang Galang.

Aku membalas singkat.

Baik, Bu.

Besok malam aula utama kampus penuh sesak.

Festival ulang tahun kampus tahun ini mengundang alumni, sponsor, mahasiswa, dosen, dan beberapa kreator kuliner Bandung. Salah seorang food blogger bahkan menyiarkan acara secara langsung.

Tiara benar-benar menjadi pusat perhatian.

Dia mengenakan seragam koki putih yang masih sangat baru sampai lipatannya terlihat jelas.

Di meja utama tersaji beberapa hidangan yang sangat kukenal.

Sup herbal.

Ayam panggang madu.

Tumis jamur.

Bahkan puding jeruk yang biasa kubuat untuk Galang.

Aku berdiri cukup jauh sambil memegang air mineral.

Temanku, Rena, berbisik, “Itu bukannya makanan yang sering kamu bawa?”

“Mirip.”

“Mirip apanya? Aku pernah bantu kamu potong jamurnya.”

Aku hanya tersenyum.

Di panggung, Tiara menjelaskan konsep makanannya dengan percaya diri.

“Menu ini saya kembangkan berdasarkan prinsip keseimbangan rasa dan kesehatan.”

Food blogger di depannya mengangguk kagum.

Bu Yanti terlihat sangat bangga.

Kemudian Galang datang.

Tiara langsung mengambil semangkuk sup.

“Ini khusus untuk kamu.”

Galang tidak menerimanya.

“Aku nggak lapar.”

“Kamu belum mencobanya.”

“Aku bilang nggak lapar.”

Tiara tersenyum kaku.

Beberapa kamera sudah mengarah kepada mereka.

Mungkin karena merasa kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan, Tiara berkata cukup keras, “Aku membuat semuanya berdasarkan selera kamu.”

Kemudian dia menatapku.

“Nggak seperti orang tertentu yang sengaja membuatmu bergantung pada masakannya.”

Beberapa mahasiswa mulai berbisik.

Aku menarik napas panjang.

Aku hanya ingin datang, mengambil buku ayahku setelah acara, lalu pulang.

Namun sepertinya Tiara tidak mengizinkanku hidup setenang itu.

Dia mengambil mikrofon.

“Sekalian saja malam ini kita buktikan.”

Aku mengernyit.

“Buktikan apa?”

“Siapa yang sebenarnya lebih pantas mewakili kampus dalam kompetisi.”

Bu Yanti tersenyum.

“Saya rasa itu ide bagus.”

Aku menatap beliau.

“Bukannya nama saya sudah dicoret?”

“Kalau kamu percaya diri, seharusnya kamu tidak takut.”

Aku hampir tertawa.

Logika macam apa itu?

Tiara menunjuk meja bahan.

“Kita masak satu menu yang sama. Para tamu akan menilai.”

Aku melihat meja itu.

Bahan-bahannya sudah disiapkan.

Jelas tantangan tersebut direncanakan.

Rena berbisik, “Jangan mau. Ini jebakan.”

Aku sebenarnya setuju.

Sampai mataku melihat sebuah benda di meja Tiara.

Buku resep ayahku.

Terbuka.

Di halaman sup herbal.

Jantungku seperti berhenti satu detik.

Aku berjalan mendekat.

“Kamu membuka buku itu?”

Tiara tersenyum.

“Bu Yanti mengizinkan.”

Aku menatap Bu Yanti.

Beliau mengalihkan pandangan.

Saat itu kemarahanku akhirnya muncul.

Bukan karena Galang.

Bukan karena kompetisi.

Bukan karena Rp30 juta.

Ayahku meninggal tiga tahun lalu.

Buku itu satu-satunya benda yang masih menyimpan tulisan tangannya.

Setiap coretan di sana adalah bagian dari hidupnya.

Dan mereka memperlakukannya seperti bahan contekan.

Aku mengambil celemek.

“Oke.”

Tiara tersenyum puas.

Kompetisi dadakan dimulai.

Menu yang harus dibuat adalah sup herbal.

Tiara langsung bekerja cepat.

Dia mengikuti resep ayahku hampir kata demi kata.

Sementara aku justru tidak menyentuh buku itu.

Aku memotong bahan dari ingatan.

Jahe.

Bawang putih.

Kurma merah.

Ayam.

Jamur.

Rempah.

Tanganku masih terasa perih, tetapi aku terus bekerja.

Setengah jam kemudian aroma memenuhi aula.

Hidangan Tiara terlihat sempurna.

Punyaku jauh lebih sederhana.

Para juri mulai mencicipi.

Food blogger itu mencoba milik Tiara terlebih dahulu.

“Enak.”

Tiara tersenyum lebar.

Kemudian dia mencicipi supku.

Sendoknya berhenti di udara.

Dia mencicipi sekali lagi.

“Ini…”

Semua orang menunggu.

“Rasanya lebih dalam.”

Wajah Tiara langsung berubah.

Juri kedua mengatakan hal serupa.

Kemudian juri ketiga.

Tiara mulai panik.

“Nggak mungkin. Kami menggunakan resep yang sama.”

Aku menatapnya.

“Justru itu masalahnya.”

“Apa maksudmu?”

“Resep bukan rumus matematika.”

Aku menunjuk buku ayahku.

“Takaran di buku itu ditulis berdasarkan bahan yang ayahku gunakan bertahun-tahun lalu. Jenis ayam berbeda, kadar air berbeda, bahkan umur jahe memengaruhi rasa.”

Aku mengambil satu potong jahe dari meja.

“Kalau cuma menyalin angka tanpa memahami bahan, kamu cuma membaca. Bukan memasak.”

Aula menjadi sunyi.

Tiara menggertakkan gigi.

“Setidaknya aku membuat semuanya sendiri.”

Aku tahu kalimat berikutnya akan datang.

Dan benar saja.

“Sedangkan kamu selama ini cuma memasak untuk mengejar Galang.”

Beberapa orang langsung mengangkat ponsel.

Aku memijat pelipis.

Sudah waktunya menyelesaikan ini.

Namun sebelum aku sempat berbicara, terdengar suara perempuan dari belakang aula.

“Siapa bilang dia mengejar anak saya?”

Semua orang menoleh.

Bu Ratna berdiri di pintu.

Beliau mengenakan setelan kerja sederhana, ditemani seorang perempuan dari bagian administrasi keluarga Pratama.

Wajah Tiara langsung bersinar.

“Tante!”

Bu Ratna berjalan melewatinya tanpa berhenti.

Beliau mendatangiku lebih dulu.

“Lukanya bagaimana?”

“Sudah lebih baik.”

Beliau memeriksa tanganku.

“Galang bilang kamu terkena kuah panas.”

Aula mulai dipenuhi bisikan.

Tiara buru-buru mendekat.

“Tante, sebenarnya ada salah paham.”

Bu Ratna akhirnya menatapnya.

“Kamu Tiara?”

Tiara mengangguk cepat.

“Saya yang memasak menu acara malam ini.”

“Oh.”

Bu Ratna melihat meja makanan.

“Yang memakai kaldu buatan Laras?”

Wajah Tiara membeku.

Bu Ratna melanjutkan dengan tenang.

“Bahan-bahan itu saya yang membelinya.”

Bu Yanti berdiri.

“Maaf?”

“Saya salah satu sponsor acara ini. Laras meminta beberapa bahan khusus karena dia ditugaskan menyiapkan menu untuk Galang sekaligus membantu acara.”

Bu Ratna mengambil ponselnya.

“Semua nota pembelian ada.”

Tiara pucat.

Namun kejutan belum selesai.

Bu Ratna menatap orang-orang di aula.

“Dan saya rasa ada kesalahpahaman lain yang harus dibereskan.”

Aku tiba-tiba punya firasat buruk.

“Bu…”

Terlambat.

“Laras bukan mengejar Galang.”

Beliau tersenyum.

“Saya yang mempekerjakannya.”

Suasana langsung meledak.

Galang menoleh kepadaku.

“Apa?”

Aku menutup mata sebentar.

Selesai sudah.

Bu Ratna tampaknya sama sekali tidak merasa bersalah.

“Laras adalah koki pribadi yang saya kontrak untuk mengatur makananmu.”

Galang masih menatapku.

“Dibayar?”

Aku mengangguk kecil.

“Sedikit.”

Bu Ratna berkata santai, “Rp45 juta sebulan.”

Beberapa orang hampir menjatuhkan ponsel.

Rena mencengkeram lenganku.

“EMPAT PULUH LIMA JUTA?”

Aku buru-buru menutup mulutnya.

Tiara terlihat seperti kehilangan kemampuan berbicara.

Galang justru terlihat paling terpukul.

“Jadi selama ini kamu masak buat aku karena dibayar?”

Aku berpikir sebentar.

“Iya.”

“Bubur jam dua pagi?”

“Ada tambahan Rp7,5 juta.”

Wajahnya semakin gelap.

“Puding ulang tahunku?”

“Itu bonus pelayanan.”

“Waktu kamu bilang aku harus berhenti minum kopi?”

“Itu bagian dari pekerjaan.”

“Waktu kamu menungguku di rumah sakit?”

Aku terdiam.

Yang itu sebenarnya tidak termasuk kontrak.

Tapi sebelum aku menjawab, Bu Ratna berdeham.

“Yang itu saya tidak bayar.”

Galang menatapku.

Aku pura-pura sibuk merapikan celemek.

Bu Ratna kemudian berbalik kepada Tiara dan Bu Yanti.

“Untuk kompetisi antarkampus, saya memang sponsor. Tetapi saya tidak pernah meminta nama peserta tertentu.”

Beliau mengambil daftar yang tadi dibawa stafnya.

“Justru sejak awal nama yang direkomendasikan berdasarkan hasil seleksi adalah Laras.”

Bu Yanti langsung pucat.

Tiara menoleh kepadanya.

“Bu?”

Ternyata pencoretan namaku tidak pernah disetujui panitia kompetisi.

Bu Yanti melakukannya sendiri setelah Tiara meyakinkannya bahwa keluarganya akan membantu mencari sponsor tambahan.

Malam itu, semuanya terbongkar di depan siaran langsung.

Buku resep ayahku dikembalikan.

Bu Yanti diminta memberikan klarifikasi resmi kepada pihak kampus.

Tiara kehilangan posisi koordinator kuliner dan otomatis tidak bisa mewakili kampus dalam kompetisi.

Aku pikir masalah selesai.

Ternyata belum.

Dua minggu kemudian, aku memenangkan kompetisi tingkat kota.

Hadiah Rp30 juta masuk ke rekening.

Aku langsung mentransfer sebagian kepada ibuku.

Lalu sebuah pesan masuk dari Bu Ratna.

Kontrak memasak untuk Galang akan berakhir bulan depan. Dia sudah jauh lebih disiplin menjaga pola makan. Terima kasih sudah membantu selama ini.

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Aneh.

Seharusnya aku senang.

Aku akhirnya bebas dari telur yang harus direbus dengan hitungan detik, sayuran yang harus dipotong sama besar, dan bubur dengan kekentalan yang harus sempurna.

Namun malam itu dapur kos terasa terlalu sepi.

Sebulan kemudian aku memasakkan makanan terakhir untuk Galang.

Aku meletakkan kotak makan di depannya.

“Mulai besok, cari makan sendiri.”

Galang menatap kotak itu.

“Kontrakmu habis?”

“Iya.”

“Berarti kamu nggak akan masak lagi?”

“Kalau dibayar, mungkin.”

Dia mengangguk.

Lalu mengeluarkan ponsel.

Beberapa detik kemudian ponselku berbunyi.

Transfer Rp450.000.

Aku menatapnya.

“Apa ini?”

“Bayaran makan malam.”

Aku mengangkat alis.

Galang menatapku lurus.

“Besok aku bayar lagi.”

“Galang.”

“Kalau perlu sebulan langsung.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu nggak punya uang sebanyak ibumu.”

“Aku tahu.”

Dia terdiam sebentar.

“Makanya aku nggak mau bayar Rp45 juta.”

“Terus?”

“Cukup satu kali makan setiap malam.”

“Untuk apa?”

Dia tersenyum.

“Biar aku punya alasan ketemu kamu.”

Aku membeku.

Galang berdiri lalu mengambil kotak makan.

Sebelum pergi, dia menoleh.

“Oh iya.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari kamu masak buat aku tanpa dibayar, kabari.”

Aku mencibir.

“Bermimpi.”

Dia tertawa dan pergi.

Aku melihat punggungnya sampai menghilang di ujung lorong.

Lalu ponselku kembali berbunyi.

Transfer lain masuk.

Rp450.000.

Catatannya hanya satu kalimat.

Untuk makan malam besok.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Selama berbulan-bulan, semua orang mengira aku mengejar Galang karena uang dan status keluarganya.

Mereka salah.

Awalnya aku bahkan tidak mengejar siapa pun.

Aku cuma mengejar gaji Rp45 juta sebulan.

Masalahnya, setelah gajinya berhenti, pelanggan paling menyebalkan itu justru mulai mengejarku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih merepotkan daripada memasak bubur dengan kekentalan sempurna.

Perasaan yang tidak bisa ditimbang dengan timbangan dapur, tidak bisa diatur dengan timer, dan sayangnya, tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang