ADIKKU MENGHANCURKAN LAPTOPKU, DAN AYAH MENGUSIRKU HANYA KARENA AKU TAK MAU “BERBAGI”. DENGAN HATI HANCUR, AKU MENGEMASI BARANG-BARANGKU DALAM DIAM DAN MENINGGALKAN MEREKA KEESOKAN PAGINYA.

Layar ponselku menampilkan foto yang membuat seluruh suara kendaraan di sekelilingku seolah menghilang.

Di dalam foto itu, ayah berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah rumah kami. Wajahnya terlihat tegang. Di sampingnya ada Chloe, adikku, mengenakan hoodie abu-abu yang sama seperti yang kupakai melihatnya beberapa jam sebelumnya.

Namun bukan mereka yang membuat tanganku gemetar.

Di atas meja terlihat laptopku.

Masih utuh.

Foto itu memiliki cap waktu pukul 20.17.

Aku baru pulang dari tempat kerja sekitar pukul 22.10.

Artinya, sebelum aku menemukan laptopku dalam keadaan hancur, seseorang telah memotretnya di ruang kerja ayah.

Di bawah foto itu hanya ada satu pesan.

“Jangan percaya bahwa Chloe merusaknya karena kecelakaan. Periksa cloud-mu sebelum mereka sempat menghapus semuanya.”

Lampu kendaraan di belakangku membunyikan klakson. Aku tersadar bahwa lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

Aku segera meminggirkan mobil di area parkir sebuah minimarket, lalu mengambil laptop tua cadangan yang selama ini kusimpan di bagasi untuk keadaan darurat. Baterainya hanya tersisa tiga puluh persen.

Tanganku gemetar saat menyambungkannya ke hotspot ponsel.

Aku membuka akun penyimpanan cloud-ku.

Untungnya, aku selalu mengaktifkan sinkronisasi otomatis untuk skripsi dan sebagian proyek desain.

File skripsiku masih ada.

Aku hampir menangis karena lega.

Lalu aku melihat folder yang tidak kukenali.

Nama folder itu hanya satu kata.

“Rumah.”

Aku yakin tidak pernah membuatnya.

Ketika kubuka, ada delapan belas file yang baru diunggah malam sebelumnya.

Foto.

Rekaman suara.

Beberapa dokumen PDF.

Dan satu video berdurasi tujuh menit.

Aku menekan video tersebut.

Gambarnya berasal dari kamera laptopku sendiri.

Sudutnya menghadap ke meja.

Aku langsung mengenali ruang kerja ayah.

Suara ayah terdengar lebih dulu.

“Kamu yakin dia belum tahu?”

Kemudian suara Chloe menjawab.

“Dia mana mungkin tahu? Dia sibuk kerja sama skripsi terus.”

“Aku tidak suka kamu masuk kamarnya sembarangan.”

Chloe tertawa kecil.

“Bukannya Papa sendiri yang kasih kuncinya?”

Lalu sebuah suara ketiga terdengar.

Suara perempuan.

Aku tidak mengenalnya.

“Yang penting cari folder desain perusahaan itu. Jangan sampai dia menyerahkannya ke klien.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Folder desain perusahaan.

Dua bulan sebelumnya, aku menerima proyek freelance terbesar sepanjang hidupku. Sebuah perusahaan properti di Jakarta memintaku membuat identitas visual untuk proyek apartemen baru mereka. Nilai kontraknya cukup besar untuk seorang mahasiswa. Kalau proyek itu selesai, uangnya bisa membantuku membayar semester terakhir tanpa meminta sepeser pun dari ayah.

Tetapi ada sesuatu yang bahkan tidak diketahui keluargaku.

Klien itu sedang terlibat sengketa dengan salah satu perusahaan pemasok milik teman lama ayah.

Aku tidak pernah membahasnya karena bagiku itu hanya pekerjaan desain.

Dalam video, tangan Chloe muncul di layar dan membuka laptopku.

“Ada password.”

“Coba tanggal lahirnya,” kata ayah.

Dadaku terasa sesak.

Mereka bukan hanya masuk ke kamarku.

Mereka mencoba membuka file pekerjaanku.

Aku mempercepat video.

Beberapa menit kemudian terdengar suara benda jatuh.

Lalu Chloe memaki.

Layar video berguncang keras.

“Aduh!”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Laptopnya jatuh!”

Suara ayah berubah panik.

“Angkat!”

Kemudian video berhenti.

Aku duduk membeku di dalam mobil.

Jadi Chloe memang menjatuhkannya.

Tetapi itu bukan karena ingin menonton reality show.

Mereka sedang mencari file pekerjaanku.

Aku membuka rekaman suara berikutnya.

Kali ini suara ayah terdengar lebih jelas.

“Kalau dia tahu kita masuk untuk cari dokumen, habis semuanya.”

Chloe terdengar kesal.

“Terus gimana?”

“Bilang kamu cuma mau pinjam laptop.”

“Kalau dia marah?”

Ayah terdiam beberapa detik.

Lalu ia mengatakan kalimat yang membuatku benar-benar memahami apa yang terjadi malam itu.

“Kalau dia tidak mau diam, aku usir.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Bukan ultimatum spontan.

Bukan kemarahan sesaat.

Ayah memang sudah memutuskan untuk menyingkirkanku kalau aku mulai bertanya.

Ponselku bergetar lagi.

Nomor yang sama mengirim pesan.

“Kamu aman?”

Aku langsung membalas.

“Siapa ini?”

Beberapa menit tidak ada jawaban.

Kemudian muncul sebuah nama.

“Rani. Tetangga sebelah.”

Aku tertegun.

Bu Rani tinggal tepat di sebelah rumah kami. Usianya sekitar empat puluh tahun dan bekerja sebagai akuntan dari rumah. Kami tidak terlalu dekat, tetapi sejak ibuku meninggal enam tahun lalu, ia beberapa kali membawakanku makanan ketika ayah dan Chloe pergi.

“Apa hubungan Ibu dengan semua ini?” tanyaku.

Balasannya cepat.

“Datang ke rumah saya. Jangan ke rumah ayahmu.”

Setengah jam kemudian, aku memarkir mobil dua blok dari kompleks dan berjalan ke rumah Bu Rani.

Ia membuka pintu bahkan sebelum aku mengetuk.

“Kamu bawa barang penting?”

Aku mengangguk.

“Masuk.”

Wajahnya pucat.

Di meja makan sudah ada dua cangkir teh dan sebuah map cokelat.

“Aku minta maaf,” katanya. “Seharusnya aku bicara lebih cepat.”

“Tentang apa?”

Bu Rani mendorong map itu ke arahku.

Di dalamnya ada salinan beberapa dokumen bank.

Nama ayah tertera di sana.

Namun ada nama lain yang membuatku terpaku.

Namaku.

“Apa ini?”

Bu Rani menarik napas.

“Warisan ibumu.”

Aku menatapnya tanpa mengerti.

Ibuku meninggal karena kanker ketika aku berusia lima belas tahun. Sejak itu ayah selalu mengatakan biaya pengobatan telah menghabiskan hampir semua tabungan keluarga.

Menurutnya, ibu hanya meninggalkan sedikit uang untuk biaya sekolahku dan Chloe.

Ternyata itu bohong.

Ibu memiliki investasi dan polis asuransi yang nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah diceritakan ayah.

Sebagian dana itu secara khusus ditetapkan untuk pendidikanku.

“Papa bilang uang Mama habis untuk rumah sakit.”

“Tidak.”

Bu Rani menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Saya membantu ibumu mengurus beberapa dokumen finansial sebelum dia meninggal. Dia takut sesuatu terjadi pada dana pendidikanmu.”

Aku merasa tenggorokanku mengering.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena ayahmu menunjukkan surat yang menyatakan dia wali sah sampai kamu berumur dua puluh satu tahun. Saya pikir setelah ulang tahunmu, dia akan menyerahkannya.”

Ulang tahunku yang kedua puluh satu terjadi tiga bulan lalu.

Aku tidak menerima apa pun.

Bu Rani membuka dokumen lain.

Ada transfer dari rekening dana pendidikan itu.

Transfer ke rekening ayah.

Kemudian ke perusahaan milik salah satu temannya.

Jumlahnya hampir seluruh dana.

“Ini ilegal?”

“Kalau dilakukan tanpa hak setelah kamu berusia dua puluh satu tahun, kemungkinan besar ada masalah hukum serius. Tapi kamu harus bicara dengan pengacara.”

Pikiranku langsung kembali pada proyek desainku.

“Perusahaan teman Papa itu… apakah namanya Arwana Konstruksi?”

Bu Rani terdiam.

Kemudian mengangguk.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Arwana Konstruksi adalah perusahaan pemasok yang sedang bersengketa dengan klien desainku.

Tiba-tiba semuanya terhubung.

Ayah tidak mencari file desain.

Ia mencari dokumen komunikasi antara klien dan aku.

Dalam salah satu email, pihak klien pernah tanpa sengaja melampirkan materi internal yang menyebut adanya dugaan manipulasi invoice dari beberapa pemasok lama. Aku tidak pernah membacanya secara mendalam karena bukan urusanku.

Namun mungkin ayah tahu dokumen itu ada di laptopku.

Aku segera membuka cloud lagi.

Email tersebut masih tersimpan.

Lampirannya juga masih ada.

Bu Rani menatap layar.

“Jangan kirim ke siapa-siapa sembarangan. Simpan salinannya dan cari bantuan hukum.”

Saat itulah ponselku mulai dipenuhi panggilan.

Ayah.

Lalu Chloe.

Ayah lagi.

Aku tidak mengangkat.

Kemudian pesan masuk.

“Kembali sekarang. Kita bicara baik-baik.”

Pesan berikutnya datang satu menit kemudian.

“Kamu sudah keterlaluan membawa barang keluarga keluar rumah.”

Aku tertawa kecil.

Barang keluarga.

Bahkan setelah mengusirku, ia masih menggunakan kalimat yang sama.

Lalu Chloe mengirim pesan.

“Papa cuma emosi. Jangan drama. Laptopmu bisa diganti.”

Aku mematikan layar.

Hari itu juga, Bu Rani membantuku menghubungi seorang pengacara bernama Pak Dimas yang pernah menangani urusan warisan temannya.

Aku menceritakan semuanya.

Ia mendengarkan tanpa memotong.

Ketika aku selesai, ia hanya berkata, “Jangan kembali sendirian ke rumah itu. Jangan menandatangani apa pun. Dan simpan seluruh bukti di lebih dari satu tempat.”

Selama seminggu berikutnya, aku tinggal di apartemen kecil milik teman kuliahku, Nisa.

Aku menyelesaikan revisi skripsi menggunakan laptop pinjaman dari kampus. Klienku, setelah mengetahui perangkatku rusak, memberiku perpanjangan waktu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menceritakan kepada seseorang bagaimana keadaan di rumah sebenarnya.

Tentang Chloe yang selalu mengambil barang-barangku.

Tentang ayah yang selalu berkata aku harus mengalah karena aku kakak.

Tentang uang hasil freelance yang beberapa kali “dipinjam” tanpa pernah dikembalikan.

Tentang bagaimana setiap keberhasilanku dianggap ancaman, sementara setiap kesalahan Chloe selalu dianggap wajar.

Aku baru sadar betapa lama aku hidup sambil meyakinkan diri bahwa semua keluarga memang seperti itu.

Dua minggu kemudian, Pak Dimas menemukan lebih banyak hal.

Sebagian dana pendidikan dari ibuku memang telah dialihkan secara tidak sah.

Ayah menggunakannya untuk membantu Arwana Konstruksi menutup utang jangka pendek.

Sebagai imbalannya, ia memperoleh saham tersembunyi melalui nama orang lain.

Ketika sengketa perusahaan itu mulai membesar, ayah panik.

Lalu aku, tanpa sengaja, bekerja untuk perusahaan yang memiliki dokumen yang berpotensi membahayakan mereka.

Itulah alasan laptopku menjadi begitu penting.

Bukan karena Chloe ingin menonton televisi.

Mereka ingin masuk ke emailku.

Yang paling mengejutkan justru datang dari Chloe sendiri.

Pada malam sebelum pertemuan mediasi dengan pengacara, ia meneleponku dari nomor baru.

Aku hampir tidak mengangkat.

“Aku cuma mau ngomong satu hal,” katanya.

Suaranya berbeda.

Tidak ada nada mengejek.

“Aku memang jatuhin laptopmu.”

“Aku tahu.”

Ia terdiam.

“Tapi aku nggak tahu Papa mencuri uang Mama.”

Aku tidak menjawab.

“Papa bilang kamu punya dokumen yang bisa bikin dia masuk penjara. Dia bilang kalau aku bantu cari, dia bakal beliin aku mobil setelah lulus.”

Aku memejamkan mata.

Bahkan saat mengaku, Chloe masih terdengar seperti anak yang baru sadar permainan yang diikutinya ternyata nyata.

“Kenapa sekarang kamu telepon?”

Ia mulai menangis.

“Karena Papa minta aku bilang ke pengacara kalau semua itu ide kamu. Katanya kamu sengaja bikin bukti palsu karena mau balas dendam.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Chloe.”

“Ya?”

“Kalau kamu mau memperbaiki apa pun, jangan bohong lagi.”

Keesokan harinya, Chloe datang ke kantor Pak Dimas.

Ia membawa ponselnya.

Di dalamnya ada percakapan dengan ayah, rekaman suara, dan foto-foto dari malam laptopku rusak.

Termasuk foto yang pertama kali dikirim kepadaku.

Ternyata Chloe bukan pengirim anonim itu.

Bu Rani juga bukan.

Foto tersebut dikirim oleh seseorang yang sama sekali tidak kuduga.

Perempuan ketiga dalam video.

Namanya Siska.

Ia adalah staf keuangan Arwana Konstruksi.

Ia datang beberapa hari kemudian untuk memberikan kesaksian.

Dan saat melihatnya, aku langsung mengenali wajahnya dari foto lama milik ibuku.

Siska pernah menjadi sahabat dekat Mama.

Ia tahu sejak awal tentang dana pendidikanku.

Ia juga tahu ayah memakai uang itu.

“Aku terlalu takut bicara,” katanya sambil menunduk. “Tapi waktu aku melihat mereka menghancurkan laptopmu dan berencana menyalahkanmu, aku merasa sudah cukup.”

Kasusnya kemudian bergerak jauh lebih besar daripada sekadar laptop rusak.

Ada audit perusahaan.

Ada pemeriksaan transaksi.

Ada gugatan atas dana warisan.

Aku tidak mengikuti setiap detailnya.

Aku sudah terlalu lelah membiarkan hidupku terus berputar mengelilingi kesalahan ayah.

Beberapa bulan kemudian, aku lulus.

Skripsi yang hampir hilang itu mendapat nilai sangat baik.

Klienku juga mempertahankanku sebagai desainer untuk proyek berikutnya.

Dengan uang proyek dan sebagian dana pendidikan yang berhasil dipulihkan, aku menyewa apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Tidak mewah.

Hanya satu kamar tidur, meja kerja sederhana, rak buku, dan jendela yang menghadap deretan gedung.

Tetapi pintunya memiliki satu kunci.

Dan hanya aku yang memegangnya.

Pada malam pertama tinggal di sana, sebuah paket datang.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya ada laptop baru.

Aku langsung merasa kesal karena mengira ayah mencoba membeli pengampunanku.

Namun ketika membuka kartu kecil di dalam kotak, aku melihat tulisan tangan Chloe.

“Aku tidak minta kamu memaafkanku. Ini dibeli dari uang tabunganku sendiri. Aku cuma mau mengganti satu hal yang memang aku rusak. Untuk sisanya, mungkin butuh waktu lebih lama.”

Aku duduk lama di lantai.

Aku belum siap memaafkannya.

Mungkin suatu hari nanti.

Mungkin juga tidak sepenuhnya.

Tetapi untuk pertama kalinya, Chloe tidak meminta sesuatu dariku.

Ia memberikan sesuatu tanpa syarat.

Aku membuka laptop baru itu, memindahkan file-file pekerjaanku, lalu menemukan satu folder lama yang terselamatkan dari cloud.

Namanya “Mama”.

Di dalamnya ada rekaman video yang bahkan sudah kulupakan.

Mama duduk di teras rumah lama kami, tersenyum ke kamera.

Aku masih berusia empat belas tahun saat merekamnya.

Di akhir video, ia berkata sambil tertawa, “Kalau suatu hari rumah ini terasa terlalu sempit untuk mimpimu, jangan takut pergi. Rumah yang benar bukan tempat yang menahanmu. Rumah adalah tempat kamu boleh tumbuh.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena laptop.

Bukan karena ayah.

Bukan juga karena uang warisan.

Aku menangis karena setelah bertahun-tahun merasa bersalah setiap kali memilih diriku sendiri, akhirnya aku mengerti sesuatu yang mungkin sejak dulu ingin Mama ajarkan kepadaku.

Pagi ketika ayah mengusirku memang terasa seperti hari ketika aku kehilangan keluarga.

Ternyata aku salah.

Pagi itu adalah hari ketika aku berhenti kehilangan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang