SUAMIKU MEMBAWA WANITA YANG SELALU DIAKUNYA SEBAGAI ADIK SENDIRI KE HOTEL MEWAH DAN BERBOHONG PADAKU, TAPI HANYA DENGAN SATU FOTO YANG KUSEBAR KE GRUP CHAT KELUARGA, SEMUANYA HANCUR BERANTAKAN HINGGA KEHORMATAN KELUARGA MEREKA RUNTUH DALAM SEMALAM!

Ponsel hampir terlepas dari tangan Rizky.

Wajahnya yang beberapa menit lalu masih dipenuhi kemarahan kini berubah pucat. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajahku, lalu kembali lagi ke layar seolah berharap apa yang baru saja didengarnya hanyalah kesalahan.

“Pa… maksud Papa apa?” suaranya terdengar serak.

Dari pengeras suara, napas Pak Hendra terdengar berat.

“Maya Wicaksono adalah pemegang saham pengendali Wicaksono Group setelah ayahnya meninggal. Grand Celestine termasuk salah satu jaringan hotel mereka.”

Rizky menatapku dengan mata membelalak.

Indah yang berdiri di sebelahnya langsung melepaskan tangannya dari lengan Rizky.

“Jadi…” bibir Rizky bergetar. “Selama ini kamu…”

“Ya,” jawabku tenang. “Aku Maya Wicaksono.”

Lobi mendadak terasa sangat sunyi.

Tidak ada lagi bentakan.

Tidak ada lagi tuduhan bahwa aku menumpang hidup.

Tidak ada lagi kalimat bahwa studio desainku bisa bertahan berkat keluarga Prasetyo.

Yang tersisa hanya wajah dua orang yang akhirnya sadar bahwa mereka telah menghina orang yang selama ini justru diam-diam menopang mereka.

Namun keterkejutan Rizky belum selesai.

Suara Pak Hendra kembali terdengar dari telepon.

“Dan satu hal lagi, Rizky. Dua tahun lalu saat perusahaan kita hampir gagal membayar utang bank, investor yang masuk melalui PT Aruna Capital itu adalah perusahaan afiliasi Wicaksono Group.”

Rizky membeku.

Aku dapat melihat rahangnya mengeras.

PT Aruna Capital.

Nama itu pasti sangat dia kenal.

Perusahaan tersebut menyuntikkan modal hampir seratus miliar rupiah ke Prasetyo Karya ketika bisnis konstruksi milik keluarganya berada di ambang kebangkrutan.

Selama ini keluarga Prasetyo membanggakan investasi itu sebagai hasil kemampuan negosiasi Pak Hendra.

Mereka tidak pernah tahu bahwa aku yang meminta tim investasi keluarga untuk menyelamatkan perusahaan tersebut.

Bukan karena Prasetyo Karya menarik.

Bukan karena prospeknya luar biasa.

Tapi karena saat itu Rizky adalah suamiku.

Aku tidak ingin melihat ayah mertuaku kehilangan usaha yang dibangunnya selama tiga puluh tahun.

“Kenapa…” Rizky menatapku. “Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku tersenyum hambar.

“Karena aku ingin tahu apakah kamu menikahiku karena Maya, atau karena nama Wicaksono.”

“Dan selama tiga tahun aku percaya jawabannya adalah karena Maya.”

Aku memandang Indah.

“Ternyata aku salah.”

Indah buru-buru menggeleng.

“Mbak Maya, jangan salahkan Mas Rizky. Sungguh, hubungan kami tidak seperti yang Mbak pikirkan.”

Aku mengambil flashdisk kecil dari tas.

“Di dalam sini ada rekaman kalian berciuman di lift.”

Wajah Indah langsung kehilangan warna.

Rizky menoleh tajam kepadanya.

Untuk pertama kalinya sejak aku muncul di lobi, Indah benar-benar tidak punya kalimat untuk menyelamatkan dirinya.

Aku memasukkan kembali flashdisk itu ke tas.

“Jadi jangan buang waktuku dengan kebohongan berikutnya.”

Rizky mendekat.

“Maya, kita bisa bicarakan ini di rumah.”

“Tidak ada lagi rumah kita.”

“Maya.”

Tangannya mencoba meraih lenganku, tetapi aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Nada suaraku tidak keras.

Namun cukup membuatnya berhenti.

Aku kemudian menatap manajer hotel yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari kami.

“Pak Adrian, tolong siapkan salinan transaksi kamar atas nama Rizky Prasetyo dan simpan seluruh rekaman sesuai prosedur. Jangan ada yang dihapus.”

“Baik, Ibu Maya.”

Rizky langsung panik.

“Maya, kamu mau melakukan apa?”

“Aku sedang melindungi diriku sendiri.”

Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggil dari belakang.

“Maya!”

Aku berhenti.

Rizky berdiri di tengah lobi dengan wajah hancur.

“Aku memang salah. Tapi jangan hancurkan keluargaku karena kesalahan satu malam.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Satu malam?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau begitu mungkin kamu ingin menjelaskan kenapa selama delapan bulan terakhir kartu kreditmu membayar apartemen di Kuningan atas nama Indah Pertiwi.”

Mata Rizky membesar.

Indah langsung menatapnya.

Aku melanjutkan.

“Atau tiket ke Bali bulan Februari yang kalian pesan di penerbangan yang sama.”

“Kamu menyelidiki aku?” Rizky berbisik.

“Tidak.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku baru mulai memeriksanya tiga hari lalu.”

Tiga hari sebelumnya, staf keuanganku menemukan sesuatu yang janggal ketika sedang memeriksa laporan aset bersama menjelang audit tahunan. Ada pembayaran rutin dari rekening pribadi Rizky menuju sebuah apartemen yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Awalnya aku mencoba percaya.

Mungkin investasi.

Mungkin tempat tinggal karyawan.

Sampai nama penyewanya muncul.

Indah Pertiwi.

Sejak saat itu, semua potongan teka-teki mulai tersambung.

Pertemuan larut malam.

Perjalanan bisnis mendadak.

Pesan Indah setiap akhir pekan.

Dan alasan yang sama.

Dia seperti adikku sendiri.

Malam kemarin aku mengikuti Rizky bukan karena cemburu buta.

Aku hanya ingin memberikan satu kesempatan terakhir bagi kenyataan untuk membuktikan bahwa kecurigaanku salah.

Sayangnya, kenyataan jauh lebih buruk.

Aku meninggalkan hotel tanpa menoleh lagi.

Beberapa jam kemudian, grup keluarga benar-benar meledak.

Puluhan pesan masuk.

Sebagian kerabat Prasetyo meminta penjelasan.

Sebagian menyuruhku menghapus foto.

Sebagian lagi diam-diam mengirim pesan pribadi.

Aku baru sadar ternyata bukan hanya aku yang selama ini curiga terhadap kedekatan Rizky dan Indah.

Seorang sepupu Rizky bahkan mengirim foto lama dari pesta ulang tahun keluarga enam bulan sebelumnya.

Dalam foto itu, aku sedang berbicara dengan kerabat lain di sisi ruangan.

Sementara jauh di belakang, tangan Rizky berada di pinggang Indah.

Aku memperbesar foto tersebut.

Hatiku sudah tidak sakit lagi.

Yang kurasakan justru ketenangan aneh.

Seolah tubuhku akhirnya kehabisan tenaga untuk terluka.

Sore harinya, aku pulang ke rumah.

Bukan untuk berdamai.

Aku datang untuk mengambil dokumen dan barang pribadiku.

Namun begitu pintu terbuka, Ibu Ratna sudah menungguku di ruang tamu.

Rizky duduk di sofa dengan wajah kusut.

Pak Hendra berada di sampingnya.

Sedangkan Indah tidak terlihat.

Ibu Ratna berdiri.

“Jadi selama ini kamu sengaja menyembunyikan siapa keluargamu?”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan permintaan maaf.

Bukan pertanyaan mengenai pengkhianatan anaknya.

Aku menatapnya.

“Apa itu yang paling penting bagi Ibu sekarang?”

“Kalau sejak awal kamu bilang kamu anak Wicaksono, semua ini mungkin tidak akan terjadi!”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi Rizky berselingkuh karena saya tidak memberi tahu Ibu bahwa saya kaya?”

Ibu Ratna terdiam.

Pak Hendra menegur istrinya.

“Ratna, cukup.”

Namun perempuan itu masih menatapku dengan penuh ketidaksukaan.

“Apa pun yang terjadi, masalah rumah tangga tidak seharusnya dibawa ke grup keluarga. Nama keluarga kami jadi bahan pembicaraan.”

Aku meletakkan tas di meja.

“Selama tiga tahun, Ibu berkali-kali bilang saya harus menjaga nama baik keluarga Prasetyo.”

Aku menatapnya lurus.

“Tapi tidak pernah sekali pun Ibu mengajari anak Ibu untuk menjaga istrinya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Rizky bangkit.

“Maya, aku akui aku salah.”

Dia mendekat perlahan.

“Aku dan Indah memang terlalu dekat.”

“Terlalu dekat?”

Aku mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini salinan percakapan yang dikirim Indah kepada teman dekatnya.”

Rizky langsung terdiam.

Pagi tadi, setelah foto tersebar, seorang perempuan bernama Siska menghubungiku melalui Instagram. Dia mengaku sebagai mantan sahabat Indah.

Awalnya aku tidak percaya.

Sampai Siska mengirim tangkapan layar percakapan mereka.

Dalam salah satu pesan, Indah menulis tiga bulan lalu.

Aku cuma tunggu Rizky bosan sama istrinya. Maya itu terlalu tenang, terlalu biasa. Rizky bilang kalau nanti mereka cerai, aku yang akan dibawa masuk keluarga.

Pesan lain jauh lebih buruk.

Bu Ratna sebenarnya lebih suka aku. Katanya Maya susah diatur. Kalau bukan karena belum punya alasan kuat, dari dulu dia sudah ingin Rizky pisah.

Aku meletakkan cetakannya di atas meja.

Wajah Pak Hendra berubah.

Dia mengambil kertas itu.

Lalu menatap istrinya.

“Ratna?”

Ibu Ratna langsung panik.

“Itu bohong! Jangan percaya perempuan itu!”

Aku tidak menjawab.

Pada saat yang sama, ponsel Pak Hendra berbunyi.

Dia melihat layar.

Ekspresinya mendadak berubah.

“Apa ini?”

Rizky menoleh.

Pak Hendra menunjukkan sebuah email.

Aku mengenali pengirimnya.

Divisi investasi Wicaksono Group.

Dalam email itu tertulis pemberitahuan bahwa PT Aruna Capital akan melakukan evaluasi atas seluruh investasi strategis di Prasetyo Karya karena adanya risiko tata kelola.

Rizky langsung menatapku.

“Kamu mencabut investasi?”

“Tidak.”

Aku menjawab tenang.

“Belum.”

Pak Hendra menatapku.

“Maya, tolong. Jangan campurkan masalah perkawinan dengan perusahaan. Ada ratusan karyawan yang hidup dari perusahaan kami.”

Aku mengangguk.

“Itulah sebabnya saya tidak akan bertindak gegabah.”

Aku menatap Rizky.

“Saya tidak akan menghancurkan perusahaan hanya untuk membalas satu orang.”

Wajah Pak Hendra sedikit melunak.

“Tapi mulai hari ini, saya tidak akan lagi memberikan perlindungan khusus.”

Aku menyerahkan dokumen lain kepadanya.

“Tim kami menemukan beberapa transaksi yang perlu diperiksa. Jika perusahaan Bapak sehat dan bersih, tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rizky tiba-tiba menyela.

“Transaksi apa?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu terlalu cepat.

Terlalu gugup.

Pak Hendra juga menyadarinya.

“Rizky?”

Suamiku memalingkan wajah.

Saat itulah aku mengetahui bahwa pengkhianatannya ternyata bukan bagian terburuk.

Dua minggu kemudian, audit menemukan bahwa Rizky telah menggunakan perusahaan vendor fiktif untuk menarik dana dari sejumlah proyek milik Prasetyo Karya.

Nilainya lebih dari dua belas miliar rupiah.

Sebagian uang itu digunakan untuk investasi pribadi.

Sebagian lain membayar apartemen, perjalanan, tas mewah, dan berbagai kebutuhan Indah.

Pak Hendra sendiri yang menyerahkan bukti tersebut kepada pihak berwenang.

Ketika berita itu menyebar di lingkungan bisnis, keluarga Prasetyo yang selama ini begitu menjaga gengsi akhirnya menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada foto di hotel.

Rizky dicopot dari jabatan direksi.

Beberapa mitra bisnis menjauh.

Ibu Ratna berhenti menghadiri acara sosial selama berbulan-bulan.

Dan Indah?

Dia menghilang tiga hari setelah audit dimulai.

Nomornya tidak aktif.

Apartemennya kosong.

Namun sebelum pergi, dia mengirim satu pesan kepada Rizky.

Aku melihatnya beberapa bulan kemudian dalam berkas perceraian.

Maaf, Mas. Aku tidak bisa ikut tenggelam bersama keluarga kamu.

Ironis.

Perempuan yang katanya begitu dicintai ternyata pergi saat uang dan status mulai menghilang.

Rizky mencoba menghubungiku berkali-kali.

Aku tidak pernah menjawab.

Sampai hari sidang perceraian terakhir.

Di lorong pengadilan, dia menghampiriku.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Tidak ada lagi jas mahal.

Tidak ada lagi kesombongan.

“Maya.”

Aku berhenti.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya tanpa kebencian.

“Aku kehilangan pekerjaan. Indah pergi. Papa hampir tidak bicara denganku. Mama sakit karena stres.”

Aku tetap diam.

Matanya mulai memerah.

“Kadang aku berpikir… kalau malam itu kamu tidak mengirim foto itu, mungkin semuanya tidak akan hancur.”

Aku menarik napas.

Kemudian aku tersenyum kecil.

“Kamu masih belum mengerti, Mas.”

Dia menatapku.

“Foto itu tidak menghancurkan hidupmu.”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Foto itu hanya menyalakan lampu di ruangan yang selama ini kalian sengaja biarkan gelap.”

Rizky terdiam.

“Yang menghancurkan hidupmu adalah keputusan-keputusan yang kamu buat sendiri saat mengira tidak ada yang melihat.”

Aku meninggalkannya berdiri di lorong.

Setahun setelah perceraian, aku kembali ke Grand Celestine.

Bukan sebagai istri yang mengintai suaminya.

Aku datang untuk menghadiri pembukaan program baru dari yayasan keluarga kami.

Program itu memberikan modal dan pelatihan bagi perempuan yang ingin membangun usaha setelah mengalami kesulitan ekonomi akibat perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga.

Saat berdiri di depan ruangan penuh peserta, aku teringat malam ketika aku duduk sendirian di lobi hotel sambil memegang secangkir kopi.

Malam ketika kupikir hidupku sedang runtuh.

Ternyata aku salah.

Yang runtuh malam itu bukan hidupku.

Yang runtuh adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun menutup mataku.

Seorang wartawan kemudian bertanya kepadaku seusai acara.

“Bu Maya, apakah Ibu pernah menyesal mempublikasikan foto mantan suami Ibu ke keluarga?”

Aku terdiam beberapa detik.

Kemudian menjawab,

“Saya menyesal pernah berpikir bahwa menjaga kehormatan keluarga berarti harus diam ketika kita diperlakukan tanpa hormat.”

Aku tersenyum.

“Nama baik tidak pernah hancur karena kebenaran terungkap. Nama baik hancur karena orang melakukan sesuatu yang memalukan lalu berharap semua orang diam.”

Malam itu, sebelum pulang, aku berjalan melewati sudut lobi tempat setahun sebelumnya aku menunggu Rizky keluar dari lift bersama Indah.

Meja yang sama masih ada.

Lampu kristal yang sama masih menggantung.

Namun perempuan yang berdiri di sana bukan lagi Maya yang lama.

Aku tidak lagi membutuhkan pembuktian dari siapa pun.

Aku tidak lagi takut disebut istri gagal.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah diajarkan kepadaku.

Kehilangan seseorang yang mengkhianatimu bukanlah kehilangan.

Kadang-kadang, itulah cara hidup mengembalikan dirimu kepada dirimu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang