Ketukan di pintu terdengar semakin keras.
“Ibu, buka pintunya.”
Suara Budi datang dari balik pintu, sementara suara yang sama masih terdengar dari ponsel yang menempel di telingaku.
Aku menatap Rizky yang meringkuk di bawah meja makan. Wajahnya pucat. Kedua tangannya menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.
Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku ketakutan. Kenyataan bahwa cucuku yang baru saja kukuburkan ternyata masih hidup, atau kenyataan bahwa anak kandungku sendiri mungkin berdiri beberapa meter dariku dengan niat membawa Rizky pergi sekali lagi.
“Ibu dengar aku?” Budi berkata melalui telepon. “Jangan buka pintu kalau ada anak kecil datang. Polisi bilang Ibu mungkin mengalami syok setelah pemakaman. Kadang orang yang berduka bisa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.”
Aku hampir tertawa mendengar kebohongan itu.

Tanganku gemetar hebat, tetapi untuk pertama kalinya malam itu pikiranku justru terasa jernih.
“Lalu kenapa kamu datang ke rumah Ibu?” tanyaku pelan.
Di seberang telepon terjadi keheningan singkat.
“Hanya mau memastikan Ibu baik-baik saja.”
Aku mengintip melalui celah tirai.
Indah berdiri di belakang Budi sambil memegang payung. Perempuan itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang menghibur orang tua yang sedang berduka. Matanya terus mengamati jendela rumahku.
Kemudian aku melihat sesuatu yang membuat dadaku semakin sesak.
Sebuah mobil lain berhenti agak jauh dari rumah.
Dua pria keluar.
Salah satunya langsung kukenali dari deskripsi Rizky. Pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipi kanan yang menjaganya di gubuk Lembang.
Mereka tahu Rizky berhasil kabur.
Dan mereka datang untuk mengambilnya kembali.
Aku mematikan panggilan.
“Nek,” bisik Rizky dari bawah meja. “Mereka bakal masuk.”
Aku berjongkok dan memegang wajah cucuku.
“Dengar Nenek baik-baik. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari tempat persembunyian sampai Nenek yang memanggil.”
“Tapi Nenek…”
“Percaya sama Nenek.”
Aku membawanya ke kamar belakang dan membuka lemari besar milik almarhum suamiku. Di belakang gantungan pakaian terdapat pintu kecil menuju ruang penyimpanan yang dulu digunakan suamiku menyimpan dokumen.
Rizky masuk.
Aku memberinya ponsel cadanganku yang selama ini tergeletak di laci.
“Kalau Nenek bilang sekarang, kamu tekan tombol ini.”
Aku sudah membuka fitur perekam suara.
Rizky mengangguk.
Aku menutup pintu lemari dan kembali ke ruang tamu.
Ketukan berubah menjadi pukulan.
“Ibu!”
Kali ini Budi membentak.
Aku berdiri beberapa langkah dari pintu.
“Putri mana?”
Pertanyaanku membuat suasana di luar mendadak sepi.
“Putri sedang istirahat.”
“Setelah menguburkan anaknya sendiri, kamu meninggalkan dia dan pergi malam-malam bersama asistenmu?”
“Ibu buka dulu pintunya.”
“Jawab pertanyaan Ibu.”
Budi mengembuskan napas kasar.
“Ibu sedang tidak stabil. Aku cuma mau memastikan keadaan Ibu.”
Aku menggenggam ponselku erat.
“Aneh. Sejak kapan memastikan keadaan ibu sendiri harus membawa dua orang preman?”
Tidak ada jawaban.
Indah berbisik sesuatu.
Kemudian Budi berkata, lebih pelan, “Ibu melihat mereka?”
“Jadi memang mereka orangmu.”
Aku mendengar Budi mengumpat.
Beberapa detik kemudian, gagang pintu bergerak keras.
Mereka mencoba membukanya.
Aku berlari ke dapur dan mengambil sebuah kursi untuk menahan pintu belakang.
Namun suara kaca pecah tiba-tiba terdengar dari samping rumah.
Mereka tidak berniat meminta izin lagi.
Seorang pria masuk melalui jendela dapur yang dipecahkan.
Aku menjerit dan melemparkan vas bunga ke arahnya.
Vas itu mengenai bahunya.
Dia memaki.
Aku berlari menuju ruang tamu.
Pada saat bersamaan, Budi berhasil mendobrak pintu depan.
Pemandangan anakku berdiri di hadapanku dengan wajah tanpa rasa bersalah membuat sesuatu di dalam diriku runtuh.
Lelaki itu tetap memiliki mata yang sama seperti saat kecil.
Mata yang dulu menatapku setiap kali meminta uang jajan.
Mata yang pernah menangis saat ayahnya meninggal.
Namun malam itu aku tidak lagi mengenali siapa yang berdiri di depanku.
“Rizky di mana?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Bukankah Rizky sudah meninggal?”
Rahang Budi menegang.
“Ibu jangan bermain-main.”
Indah masuk dari belakangnya.
Perempuan itu menutup pintu.
“Bu Ratih,” katanya dengan suara lembut yang terasa menjijikkan, “kami tidak ingin menyakiti Ibu. Serahkan anak itu, lalu semuanya selesai.”
Aku menatapnya tajam.
“Kalian sudah menguburkan seorang anak tak dikenal dan sekarang bilang semuanya bisa selesai?”
Wajah Indah berubah.
Budi langsung menoleh padanya.
Aku melihatnya.
Ketakutan.
Mereka tidak tahu seberapa banyak Rizky mendengar.
Aku sengaja melanjutkan.
“Lima puluh miliar rupiah ternyata cukup untuk membuat seorang ayah menjual nyawa anaknya sendiri.”
“Diam!”
Budi membentak begitu keras hingga kaca jendela bergetar.
Mataku panas.
“Kenapa, Budi?”
Aku tidak lagi takut.
Yang tersisa hanya rasa sakit seorang ibu.
“Kenapa harus Rizky?”
Budi tertawa pendek, tetapi matanya merah.
“Ibu tidak tahu apa-apa.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Aku punya utang.”
“Karena itu kamu menculik anakmu?”
“Bukan sekadar utang!”
Dia menendang meja kecil hingga jatuh.
“Perusahaanku hampir bangkrut. Aku berutang kepada orang yang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kalau aku tidak membayar sebelum akhir bulan, bukan cuma aku yang habis. Semua akan habis.”
“Jadi kamu mengorbankan Rizky?”
“Aku tidak berniat membunuhnya!”
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Aku menahan napas.
Budi sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan.
“Aku cuma butuh semua orang percaya dia meninggal,” katanya akhirnya. “Setelah Putri menandatangani pemindahan pengelolaan aset, Rizky akan dibawa ke luar kota. Aku akan mengembalikannya setelah semuanya aman.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dan anak yang kalian kuburkan?”
Budi diam.
Indah memalingkan wajah.
Aku maju satu langkah.
“Siapa anak itu?”
“Tidak penting,” jawab Indah.
Darahku mendidih.
“Tidak penting?”
Aku berteriak.
“Seorang anak dibakar sampai tidak bisa dikenali dan kalian menyebutnya tidak penting?”
Indah tampak gugup.
“Itu bukan urusan Ibu.”
“Tapi itu urusan polisi.”
Budi tertawa dingin.
“Polisi?”
Dia mengeluarkan ponselnya.
“Ibu pikir kenapa pemakaman bisa dilakukan secepat itu? Kenapa laporan identifikasi selesai hanya berdasarkan barang? Ada orang yang sudah mengurus semuanya.”
Untuk sesaat, aku benar-benar merasa tidak memiliki jalan keluar.
Jika polisi setempat sudah dibayar, siapa yang bisa kami percaya?
Kemudian suara dari luar rumah terdengar.
Sirene.
Budi menoleh cepat.
Indah pucat.
Dua pria yang berdiri di halaman langsung bergerak gelisah.
“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Budi.
Aku sendiri kebingungan.
Aku belum menghubungi siapa pun.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang melalui pengeras suara.
“Budi Pratama, keluar dari rumah dengan tangan terlihat.”
Indah mundur satu langkah.
Budi menatapku penuh kebencian.
“Kamu telepon polisi?”
“Bukan aku.”
Lalu dari kamar belakang terdengar suara pintu terbuka.
Rizky muncul.
Di tangannya ada ponsel cadanganku.
“Aku yang telepon.”
Aku membeku.
“Nenek bilang tekan tombol kalau keadaan bahaya. Aku pencet panggilan darurat juga.”
Budi langsung bergerak ke arahnya.
Aku menghadang.
Namun yang mengejutkan, Indah tiba-tiba menarik lengan Budi.
“Sudah, Bud.”
“Lepas!”
“Sudah selesai.”
“Belum!”
Budi mendorong Indah hingga jatuh.
Dia lalu berlari menuju Rizky.
Sebelum sempat mencapai anak itu, pintu depan didobrak dari luar.
Beberapa polisi bersenjata masuk.
“Jangan bergerak!”
Budi berhenti.
Tangannya langsung diangkat.
Aku berlari memeluk Rizky.
Tubuh cucuku gemetar di pelukanku, tetapi dia hidup.
Benar-benar hidup.
Budi dan dua pria yang bersamanya diborgol.
Indah juga diamankan.
Saat melewatiku, Budi menatapku.
“Ibu menghancurkan hidup anak Ibu sendiri.”
Kalimat itu menusuk.
Namun aku menjawab dengan suara pelan.
“Tidak, Budi. Kamu sendiri yang menghancurkannya ketika kamu memilih uang daripada anakmu.”
Malam itu seharusnya semuanya berakhir.
Ternyata justru baru dimulai.
Putri datang satu jam kemudian bersama polisi lain.
Begitu melihat Rizky, dia menjerit dan jatuh berlutut.
“Rizky!”
Rizky berlari memeluk ibunya.
Tangisan mereka memenuhi ruang tamuku.
Aku tidak pernah melihat seorang ibu menangis seperti itu. Putri mencium wajah dan tangan anaknya berkali-kali seperti ingin memastikan tubuh di pelukannya benar-benar nyata.
Namun saat polisi menjelaskan keterlibatan Budi, wajah Putri berubah.
Bukan hanya sedih.
Dia terlihat seperti seseorang yang selama ini sebenarnya sudah mencurigai sesuatu.
“Aku pernah menemukan dokumen pengalihan aset,” katanya. “Budi bilang itu hanya persiapan administrasi kalau terjadi sesuatu pada Rizky.”
Dia menutup wajah.
“Aku bodoh.”
“Kamu bukan bodoh,” kataku. “Kamu percaya pada suamimu.”
Penyelidikan berlangsung cepat setelah kasus itu mendapat perhatian kepolisian tingkat provinsi.
Ternyata tidak semua polisi terlibat. Hanya seorang petugas dan pegawai administrasi rumah sakit yang menerima uang untuk mempercepat identifikasi dan pemakaman.
Namun pertanyaan terbesarnya masih belum terjawab.
Siapa anak di dalam peti?
Tes DNA akhirnya dilakukan.
Hasilnya datang satu minggu kemudian.
Aku sedang bersama Putri dan Rizky ketika seorang penyidik datang ke rumah.
Wajahnya serius.
“Bu Ratih, kami sudah mengetahui identitas korban.”
Aku menelan ludah.
“Siapa?”
Penyidik meletakkan sebuah foto di atas meja.
Foto seorang bocah laki-laki sekitar sembilan tahun.
Namanya Aldi Saputra.
Dia dilaporkan hilang dua minggu sebelum kebakaran.
Ibunya seorang pedagang gorengan di Cimahi.
Dunia terasa berputar.
“Mereka membunuh Aldi?”
Penyidik menggeleng.
“Menurut hasil autopsi, Aldi meninggal sebelum mobil terbakar. Penyebabnya bukan luka bakar.”
Aku menggenggam tangan Rizky lebih erat.
“Lalu apa?”
“Overdosis obat penenang.”
Indah rupanya menculik Aldi untuk dijadikan pengganti Rizky karena bentuk tubuh mereka hampir sama.
Rencana awal mereka tidak bermaksud membunuh Aldi. Anak itu hanya akan dibuat tidak sadar, kemudian ditempatkan di mobil yang sudah disiapkan untuk dibakar setelah Budi mendapatkan dokumen identifikasi palsu.
Namun dosis obat yang diberikan terlalu tinggi.
Aldi meninggal.
Setelah itu mereka tetap menjalankan rencana.
Aku menangis malam itu bukan hanya untuk Rizky.
Aku menangis untuk seorang anak yang bahkan tidak pernah kukenal, yang dikuburkan di tengah hujan dengan nama cucuku.
Sebulan kemudian, jenazah Aldi dipindahkan dan dimakamkan kembali oleh keluarganya.
Aku datang ke pemakamannya.
Ibunya, Bu Sari, berdiri di sampingku.
Perempuan itu kurus dan terlihat jauh lebih tua daripada usianya.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
“Maaf,” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Bu Sari menatapku lama.
Kemudian dia menggenggam tanganku.
“Bukan Ibu yang mengambil anak saya.”
Kalimat itu justru membuat tangisku semakin deras.
Budi akhirnya mengakui hampir seluruh rencananya.
Namun ada satu hal yang mengejutkan semua orang.
Indah bukan sekadar asistennya.
Mereka telah menjalin hubungan selama hampir empat tahun.
Budi berjanji akan menceraikan Putri setelah berhasil menguasai aset tersebut.
Sebagian uang akan digunakan membayar utang, sisanya untuk memulai hidup baru bersama Indah di luar negeri.
Namun dalam pemeriksaan, Indah justru menyerahkan percakapan, rekaman suara, dokumen palsu, dan bukti transfer yang menunjukkan bahwa Budi adalah orang yang merancang semuanya.
Mereka saling mengkhianati demi meringankan hukuman masing-masing.
Putri mengajukan cerai.
Aset warisan Rizky dibekukan dan ditempatkan di bawah pengawasan pengelola independen sampai dia dewasa.
Beberapa bulan kemudian, rumahku kembali ramai oleh suara Rizky.
Dia memang tidak lagi seperti dulu.
Kadang dia terbangun tengah malam karena mimpi buruk.
Dia takut pada mobil berwarna hitam.
Dia tidak mau minum dari kotak minuman yang sudah terbuka.
Namun perlahan, senyumnya kembali.
Suatu sore, aku sedang menggoreng kerupuk di dapur ketika mendengar suara toples dibuka diam-diam.
Aku menoleh.
Rizky berdiri di sana dengan satu kerupuk di tangan.
Wajahnya langsung kaku.
“Aku cuma ambil satu, Nek.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Dulu aku selalu pura-pura marah setiap kali dia mencuri kerupuk.
Namun hari itu aku justru memeluknya erat.
“Nenek?”
Aku menangis sambil tertawa.
“Ambil sebanyak yang kamu mau.”
Dia ikut tertawa.
Dan saat itulah aku memahami sesuatu.
Beberapa bulan sebelumnya, aku berdiri di atas sebuah makam dengan keyakinan bahwa hidup telah mengambil cucuku dariku.
Ternyata yang dikuburkan hari itu bukan hanya seorang anak yang tidak bersalah.
Di sana juga terkubur semua kebohongan yang selama ini disembunyikan keluargaku.
Aku kehilangan seorang anak karena keserakahannya sendiri.
Namun aku mendapatkan kembali seorang cucu yang mengajariku bahwa keluarga bukan tentang darah semata.
Keluarga adalah tentang siapa yang memilih melindungimu ketika seluruh dunia justru berusaha menghilangkanmu.
Dan sejak malam Rizky mengetuk pintuku dalam hujan, aku tidak pernah lagi menganggap ketukan di pintu sebagai gangguan.
Karena kadang-kadang, keajaiban tidak datang dengan cahaya dari langit.
Kadang ia datang dalam keadaan basah kuyup, hanya memakai satu sandal, kelaparan, ketakutan, lalu memanggilmu dengan satu kata sederhana.
“Nenek.”
