Plak!
Suara tamparan itu menggema di ruang keluarga rumah besar Hartadi di Menteng. Tubuh Indah terjungkal dari kursi dan menghantam lantai marmer. Pipi kirinya terasa terbakar, sementara goresan kecil dari cincin berlian Ratna meninggalkan garis merah di kulitnya.
Namun rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan apa yang terjadi beberapa detik kemudian.
Ratna merampas map biru dari tangan adiknya, berjalan menuju perapian, lalu melemparkan seluruh dokumen warisan Surya Hartadi ke dalam kobaran api.
Kertas-kertas itu terbakar.
Segel, tanda tangan, dan lembaran yang baru beberapa menit sebelumnya dibacakan Pak Bambang perlahan berubah menjadi abu.

Ratna tersenyum puas.
Sampai Pak Bambang mengeluarkan amplop kedua.
“Amplop ini hanya boleh dibuka tepat setelah dokumen pertama dihancurkan oleh anggota keluarga yang paling takut seluruh isi kebusukannya dibaca di depan umum.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ratna mundur satu langkah.
“Apa maksud Bapak?”
Pak Bambang tidak menjawab.
Ia mengambil pembuka surat dari tas kulitnya, memotong segel lilin merah pada amplop tersebut, kemudian mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan sebuah kartu memori kecil.
Ratna langsung berubah pucat.
“Pak Bambang.”
“Silakan duduk, Bu Ratna.”
“Saya bertanya, apa maksud semua ini?”
“Saya menyarankan Ibu duduk.”
Ratna tetap berdiri.
Pak Bambang membuka halaman pertama.
“Dokumen yang Anda bakar tadi bukan surat wasiat asli.”
Beberapa orang menarik napas bersamaan.
Ratna membeku.
“Apa?”
“Itu salinan.”
Pak Bambang menatapnya tenang.
“Salinan yang sengaja dibuat almarhum Pak Surya.”
Ratna menatap perapian seolah baru menyadari dirinya telah masuk ke dalam perangkap.
Pak Bambang melanjutkan.
“Tiga bulan sebelum meninggal, Pak Surya datang ke kantor saya. Kondisi beliau memang sudah lemah, tetapi secara mental beliau sepenuhnya sadar. Beliau mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di perusahaan.”
Ratna menggertakkan rahang.
“Jangan membawa perusahaan ke urusan keluarga.”
“Justru perusahaan adalah alasan utama kita berkumpul malam ini.”
Pak Bambang mengambil sebuah tablet dari tasnya. Ia memasukkan kartu memori tadi, kemudian meletakkannya di atas meja.
Layar menyala.
Beberapa detik kemudian wajah Surya Hartadi muncul.
Indah spontan menutup mulut.
“Bapak…”
Video itu direkam di kamar kerja Surya. Tubuh lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus, tetapi sorot matanya tetap tajam.
“Kalau kalian menonton video ini,” suara Surya terdengar pelan, “berarti seseorang telah menghancurkan dokumen pertama.”
Ratna langsung menatap Pak Bambang.
“Hentikan videonya.”
Pak Bambang tidak bergerak.
Surya melanjutkan.
“Saya mengenal anak-anak saya. Saya tahu Indah akan membaca semuanya sampai selesai. Dan saya tahu Ratna mungkin tidak akan membiarkannya.”
“Matikan!” bentak Ratna.
Indah berdiri.
“Biarkan Bapak bicara.”
Ratna menoleh tajam.
Untuk pertama kalinya, Indah tidak menundukkan kepala.
Video terus berjalan.
“Ratna, kalau ternyata kamu yang membakar dokumen itu, dengarkan Bapak baik-baik. Dokumen yang kamu hancurkan hanyalah umpan. Wasiat asli tersimpan di tempat yang tidak bisa kamu sentuh.”
Wajah Ratna semakin pucat.
Surya kemudian mengungkap sesuatu yang membuat seluruh keluarga terdiam.
Selama dua tahun terakhir, ia mengetahui adanya aliran dana mencurigakan dari Hartadi Sentosa Group menuju beberapa perusahaan pemasok.
Nilainya lebih dari delapan puluh miliar rupiah.
Perusahaan-perusahaan tersebut ternyata memiliki keterkaitan dengan orang-orang dekat Ratna.
“Aku tidak mencuri!” Ratna berteriak. “Itu biaya operasional!”
Pak Bambang menghentikan video.
“Belum ada seorang pun yang mengatakan Ibu mencuri.”
Ratna terdiam.
Kalimatnya sendiri baru saja membuat semua orang memandangnya.
Om Heru berdiri.
“Ratna, delapan puluh miliar?”
“Diam, Om!”
“Jawab!”
Ratna mulai kehilangan kendali.
“Itu uang perusahaan yang aku bangun! Selama Bapak sakit, siapa yang mengurus semuanya? Aku! Siapa yang bertemu investor? Aku! Siapa yang menyelamatkan perusahaan saat proyek Surabaya gagal? Aku!”
Indah menatap kakaknya.
“Kak, perusahaan itu bukan milik Kak Ratna seorang.”
Ratna tertawa sinis.
“Kamu tahu apa tentang perusahaan? Sepuluh tahun kamu cuma mengurus yayasan Bapak dan rumah sakit sosial yang bahkan tidak menghasilkan keuntungan.”
Indah menelan ludah.
Itulah luka lama mereka.
Sejak muda Ratna selalu dianggap sebagai penerus Surya. Ia kuliah bisnis di Singapura, masuk perusahaan keluarga, kemudian naik menjadi direktur utama.
Indah memilih jalan berbeda. Ia mengelola yayasan pendidikan dan klinik gratis milik keluarga.
Di mata Ratna, pilihan itu adalah kelemahan.
Namun Surya ternyata melihatnya dengan cara lain.
Pak Bambang menyalakan video kembali.
“Saya tidak pernah menilai anak dari berapa banyak uang yang bisa dia hasilkan.”
Ratna membeku.
Seolah Surya sedang menjawabnya dari alam lain.
“Ratna mempunyai kemampuan bisnis luar biasa. Tetapi kemampuan tanpa kejujuran bisa menghancurkan keluarga. Indah mungkin tidak menghasilkan keuntungan terbesar, tetapi selama bertahun-tahun dia menjaga sesuatu yang lebih sulit dijaga, yaitu nama baik keluarga Hartadi.”
Air mata Indah jatuh.
Ia teringat malam-malam ketika menemani ayahnya menjalani kemoterapi.
Surya sering meminta maaf karena terlalu sibuk bekerja ketika kedua putrinya kecil.
Indah tidak pernah tahu bahwa di balik percakapan sederhana itu, ayahnya sedang menyiapkan keputusan besar.
Video berhenti.
Pak Bambang membuka dokumen berikutnya.
“Berdasarkan surat wasiat terakhir Pak Surya, kepemilikan saham beliau sebesar lima puluh dua persen tidak dibagi rata.”
Ratna langsung menatapnya.
“Berapa bagian saya?”
Pak Bambang membaca.
“Sepuluh persen diberikan kepada Ibu Ratna.”
“Apa?!”
“Tiga puluh dua persen diberikan kepada Ibu Indah.”
Ratna seperti kehilangan napas.
“Dan sepuluh persen sisanya dialihkan ke Yayasan Surya Hartadi.”
Ratna memukul meja.
“Tidak sah!”
Cangkir teh berguncang.
“Bapak tidak mungkin melakukan itu!”
Pak Bambang tetap tenang.
“Wasiat ini dibuat di hadapan dua saksi independen, disertai pemeriksaan kapasitas mental oleh dokter spesialis, serta dokumentasi audiovisual.”
“Aku akan menggugat!”
“Itu hak Ibu.”
Ratna menunjuk Indah.
“Ini semua rencanamu!”
Indah menggeleng.
“Aku bahkan tidak tahu.”
“Bohong!”
Ratna maju dan hendak meraih Indah, tetapi kali ini Om Heru berdiri di antara mereka.
“Cukup, Ratna.”
“Jangan ikut campur!”
“Dia adikmu.”
Ratna tertawa getir.
“Adik? Sejak kapan dia menjadi adikku? Sejak kecil Bapak selalu membelanya!”
Indah terdiam.
Di balik kemarahan Ratna ternyata ada luka yang jauh lebih tua.
Ratna mulai menangis.
“Aku menghabiskan hidupku menjadi anak yang Bapak inginkan. Aku belajar bisnis karena Bapak. Aku masuk perusahaan karena Bapak. Aku membatalkan rencana menikah karena perusahaan sedang krisis. Dua puluh tahun aku bekerja supaya Bapak bangga.”
Suaranya pecah.
“Tapi akhirnya semuanya diberikan kepada dia?”
Indah merasakan kemarahannya berubah menjadi iba.
“Kak…”
“Jangan kasihani aku!”
Pak Bambang mengangkat tangan.
“Masih ada satu bagian.”
Ratna menoleh.
Pak Bambang menyerahkan sebuah surat kepada Indah.
“Pak Surya menulis ini khusus untuk kalian berdua.”
Indah membukanya dengan tangan gemetar.
Tulisan tangan ayahnya memenuhi dua halaman.
Ia membaca keras-keras.
“Ratna, Bapak tahu kamu selalu merasa harus menjadi kuat. Kesalahan terbesar Bapak adalah membuatmu percaya bahwa cinta seorang ayah harus diperoleh melalui prestasi.”
Suara Indah mulai bergetar.
Ratna perlahan menurunkan kepalanya.
“Bapak bangga kepadamu bukan karena perusahaan. Bapak bangga karena kamu anak Bapak. Tetapi beberapa tahun terakhir, ketakutanmu kehilangan kendali membuatmu melakukan hal-hal yang tidak bisa Bapak benarkan.”
Indah berhenti sebentar.
Ratna menangis tanpa suara.
“Indah, jangan gunakan keputusan Bapak untuk membalas kakakmu. Kekuasaan akan menguji kamu dengan cara yang sama seperti kekuasaan telah menguji Ratna.”
Kemudian muncul kalimat terakhir.
“Warisan terbesar yang bisa Bapak tinggalkan bukan perusahaan, rumah, atau uang. Warisan terbesar Bapak adalah kesempatan agar kalian tidak mengulangi kesalahan Bapak.”
Tidak ada seorang pun berbicara.
Hanya bunyi kayu terbakar dari perapian.
Namun Pak Bambang belum selesai.
“Ada syarat khusus mengenai saham Ibu Indah.”
Indah mengangkat wajah.
“Syarat?”
“Selama tiga tahun, saham tersebut tidak boleh dijual. Ibu Indah juga wajib menunjuk auditor independen untuk memeriksa seluruh transaksi perusahaan selama lima tahun terakhir.”
Ratna menegang.
“Dan apabila ditemukan tindak pidana?”
Pak Bambang menatap Ratna.
“Hasil audit wajib diserahkan kepada pihak berwenang.”
Ratna terduduk.
Semua kekuatan seperti meninggalkan tubuhnya.
Indah akhirnya memahami ketakutan kakaknya.
Ratna bukan takut kehilangan warisan.
Ia takut audit.
Pak Bambang mengeluarkan dokumen terakhir.
“Pak Surya sudah memulai audit pendahuluan sebelum meninggal.”
Ratna menatapnya.
“Dari delapan puluh tiga miliar rupiah transaksi mencurigakan, sebagian dana ditemukan mengalir menuju rekening perusahaan bernama PT Kencana Artha Mandiri.”
Om Heru mengerutkan kening.
“Perusahaan siapa?”
Pak Bambang menjawab.
“Pemegang saham mayoritasnya adalah Bapak Adrian Wijaya.”
Indah mengenal nama itu.
Adrian adalah tunangan Ratna.
Ratna langsung berdiri.
“Tidak.”
Pak Bambang meletakkan beberapa lembar bukti transfer di meja.
Ratna mengambilnya dengan tangan gemetar.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin hancur.
“Aku tidak pernah memerintahkan transfer sebesar ini.”
Semua orang terdiam.
Indah mendekat.
“Apa maksud Kakak?”
Ratna menunjukkan dokumen itu.
“Aku memang menyetujui pembayaran ke perusahaan Adrian untuk proyek logistik. Tapi nilainya hanya sekitar dua puluh miliar. Bukan delapan puluh tiga.”
Pak Bambang mengangguk.
“Itulah temuan yang juga dicurigai Pak Surya.”
Ratna menatapnya tidak percaya.
Ternyata jebakan terakhir bukan hanya untuk Ratna.
Surya mencurigai bahwa putrinya memang menyalahgunakan kewenangan, tetapi ia juga menduga seseorang memanfaatkan keserakahan dan kelemahan Ratna untuk mencuri jauh lebih besar.
Ponsel Ratna tiba-tiba berdering.
Nama Adrian muncul.
Ruangan seketika sunyi.
Ratna menatap layar cukup lama sebelum menjawab dan mengaktifkan pengeras suara.
“Ratna, bagaimana?” suara Adrian terdengar tergesa. “Dokumennya sudah kamu hancurkan?”
Semua orang membeku.
Ratna menutup mulutnya.
Adrian melanjutkan tanpa mengetahui bahwa seluruh keluarga mendengarnya.
“Kalau dokumennya sudah terbakar, mereka tidak punya bukti lagi. Besok kita urus pemindahan sisanya.”
Ratna menutup telepon.
Wajahnya benar-benar kosong.
Lelaki yang selama ini ia percaya ternyata telah mendorongnya menghancurkan dokumen karena mengira semua bukti akan lenyap.
Pak Bambang menghela napas.
“Pak Surya juga menduga Pak Adrian akan menghubungi Ibu malam ini.”
Ratna menatap foto ayahnya yang tergantung di dinding.
Lututnya melemas.
Ia menangis.
Bukan tangisan marah seperti sebelumnya.
Untuk pertama kalinya Indah melihat kakaknya menangis seperti anak kecil.
“Aku bodoh, Ndah.”
Indah tidak menjawab.
Ratna menatap kedua tangannya.
“Aku mengambil uang perusahaan. Aku pikir nanti akan kukembalikan. Adrian bilang semua direktur melakukan hal seperti itu. Lama-lama aku terus menutup transaksi sebelumnya dengan transaksi baru.”
Ia menggeleng.
“Aku tidak tahu dia mengambil sebanyak ini.”
Indah duduk di sampingnya.
Pipi Indah masih merah akibat tamparan kakaknya.
Ratna melihat bekas luka itu dan menunduk.
“Maaf.”
Indah tidak langsung memaafkan.
“Kakak harus bertanggung jawab.”
Ratna menangis semakin keras.
“Aku tahu.”
“Tapi aku akan menemani Kakak menghadapinya.”
Ratna mengangkat wajah.
“Mengapa?”
Indah menatap abu dokumen di perapian.
“Karena mungkin itu alasan Bapak meninggalkan semuanya seperti ini.”
Tiga bulan kemudian, hasil audit lengkap diserahkan kepada pihak berwenang.
Adrian ditetapkan sebagai tersangka utama dalam penggelapan dana perusahaan. Ratna juga harus menghadapi proses hukum atas sejumlah transaksi yang ia setujui secara tidak sah. Ia mengundurkan diri dari seluruh jabatan di Hartadi Sentosa Group dan menyerahkan aset pribadinya untuk membantu mengembalikan kerugian perusahaan.
Indah tidak menggunakan saham mayoritasnya untuk menjadi direktur utama.
Ia menunjuk manajemen profesional dan membentuk komite pengawasan independen.
Rumah besar di Menteng kemudian dijual atas kesepakatan keluarga.
Hasilnya digunakan untuk memperluas klinik dan program beasiswa Yayasan Surya Hartadi.
Sebelum rumah itu diserahkan kepada pemilik baru, Indah datang untuk terakhir kalinya.
Perapian sudah dingin.
Di sanalah ia melihat sesuatu terselip di bawah kursi tempat Pak Bambang duduk malam itu.
Sebuah amplop kecil.
Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan ayahnya.
Untuk Indah, setelah semuanya selesai.
Indah membukanya.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
“Kalau kamu membaca ini, berarti rumah kita mungkin sudah tidak lagi menjadi milik keluarga. Jangan sedih. Rumah bukanlah tempat kita menyimpan keluarga. Keluargalah yang membuat sebuah tempat menjadi rumah.”
Indah tersenyum sambil menangis.
Kemudian ia membaca kalimat terakhir.
“Dan kalau Ratna masih ada di sisimu, peluk kakakmu untuk Bapak.”
Indah berdiri lama di depan perapian yang dahulu menjadi saksi malam paling buruk dalam keluarga mereka.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ratna masuk.
Aku sudah selesai memberikan keterangan. Kalau kamu tidak sibuk, boleh temani aku makan malam?
Indah menatap pesan itu cukup lama.
Lalu ia mengetik.
Tunggu di sana. Aku jemput.
Ia memasukkan surat ayahnya ke dalam tas dan berjalan meninggalkan rumah.
Di belakangnya, perapian itu tetap kosong.
Dokumen yang dibakar Ratna memang telah berubah menjadi abu.
Rumah keluarga mereka juga telah berpindah tangan.
Perusahaan tidak lagi dikuasai seorang Hartadi.
Sebagian harta bahkan harus digunakan untuk membayar kesalahan masa lalu.
Namun pada akhirnya Indah memahami rencana terakhir ayahnya.
Surya Hartadi tidak menyusun jebakan untuk menentukan siapa anak yang pantas menjadi paling kaya.
Ia menyusunnya untuk menghancurkan kebohongan yang selama bertahun-tahun membuat kedua putrinya saling membenci.
Karena seorang ayah yang mengetahui waktunya hampir habis ternyata tidak sedang memikirkan bagaimana membagi hartanya.
Ia sedang mencari satu cara terakhir agar setelah dirinya pergi, kedua anaknya masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi keluarga.
