Pesan dari Ibu Rahmi hanya terdiri dari dua kalimat.
“Budi, Ibu tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi kalau kamu sudah tahu soal uang itu, jangan langsung menyalahkan Indah. Ada sesuatu yang selama ini dia sembunyikan darimu.”
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Jari-jariku membeku di atas layar ponsel.
Jangan menyalahkan Indah?
Bagaimana mungkin aku tidak menyalahkannya ketika Rp637.500.000 dari tabungan kami mengalir ke rekening mantan kekasihnya?

Aku langsung menelepon Ibu Rahmi.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga.
Baru pada panggilan ketiga terdengar suara pelan dari ujung sana.
“Halo, Budi.”
“Ibu tahu?”
Suaraku terdengar lebih kasar daripada yang kuinginkan.
“Ibu tahu soal transfer ke Rizky?”
Ibu Rahmi terdiam cukup lama.
“Iya.”
Jawaban itu membuat dadaku semakin panas.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
Aku berdiri dari tepi ranjang dan berjalan mondar-mandir.
“Dan Ibu diam saja?”
“Budi, dengarkan dulu.”
“Apa yang harus saya dengarkan? Hampir seluruh tabungan saya habis, Bu. Uang yang saya kumpulkan bertahun-tahun diberikan Indah kepada mantan pacarnya. Tadi sore saya bahkan memergoki mereka bermesraan di rumah saya.”
“Bukan cuma Indah yang mengirim uang itu.”
Aku berhenti berjalan.
“Apa maksud Ibu?”
Suara Ibu Rahmi terdengar bergetar.
“Rizky memeras Indah.”
Aku tidak langsung percaya.
“Memeras?”
“Iya.”
“Dengan apa?”
Hening kembali memenuhi sambungan telepon.
Kemudian Ibu Rahmi mengucapkan sebuah kalimat yang membuat seluruh kemarahanku berubah menjadi kebingungan.
“Dengan rahasia tentang perusahaan tempat kamu bekerja.”
Aku duduk perlahan.
“Apa hubungannya dengan perusahaan saya?”
“Budi, tiga tahun lalu waktu kamu menangani proyek apartemen di Bekasi, pernah ada kecelakaan konstruksi, kan?”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku ingat.
Sebuah bagian perancah di lantai sebelas ambruk saat subuh. Dua pekerja terluka parah. Salah satunya tidak pernah bisa berjalan normal lagi.
Perusahaan menyebutnya sebagai kelalaian subkontraktor.
Aku waktu itu masih menjabat sebagai site manager.
“Apa hubungannya Rizky dengan itu?”
“Rizky punya dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Dokumen yang katanya bisa membuat kamu dituduh bertanggung jawab.”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Itu tidak masuk akal. Semua investigasi sudah selesai. Saya bahkan bukan orang yang menandatangani persetujuan teknis terakhir.”
“Ibu juga tidak mengerti. Tapi beberapa bulan lalu Rizky datang menemui Indah. Dia membawa salinan laporan, rekaman percakapan, dan tanda tangan yang mirip tanda tanganmu.”
Darahku langsung terasa dingin.
“Mirip?”
“Iya.”
Aku teringat sesuatu.
Pada proyek Bekasi itu, atasanku saat itu bernama Surya Hadi. Ia pernah beberapa kali meminta sekretaris proyek mengambil contoh tanda tanganku untuk dokumen administratif.
Dulu aku tidak pernah memikirkannya.
Sekarang semua potongan kecil mulai terasa mengerikan.
“Kenapa Indah tidak memberi tahu saya?”
“Karena Rizky bilang kalau Indah melapor atau memberitahumu, dokumen itu akan dikirim ke polisi, media, dan keluarga korban.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi kenapa sampai enam ratus juta?”
“Awalnya Rizky minta lima puluh juta. Katanya untuk membeli semua salinan dokumen.”
“Lalu?”
“Setelah dibayar, dia minta lagi.”
Aku menggertakkan gigi.
“Dan Indah terus membayar?”
“Dia panik.”
“Dia bisa bicara kepada saya.”
“Ibu sudah bilang begitu.”
Suara Ibu Rahmi mulai terdengar seperti sedang menangis.
“Tapi dia takut kamu akan menghadapi Rizky langsung. Dia takut kariermu hancur. Dia juga takut kamu masuk penjara.”
Aku menatap jendela hotel.
Cahaya gedung-gedung Jakarta berkilauan di balik kaca.
Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahanku terhadap Indah bercampur dengan sesuatu yang lain.
Namun bayangan tangan Rizky melingkar di pinggangnya kembali muncul.
“Kalau dia sedang diperas, kenapa tadi mereka terlihat seperti pasangan?”
Ibu Rahmi terdiam.
“Itu yang Ibu tidak tahu.”
Aku mengakhiri telepon sekitar tengah malam.
Aku tidak tidur.
Sepanjang malam aku mengunduh seluruh mutasi rekening dan menyimpannya ke laptop. Aku juga mengambil tangkapan layar setiap transfer ke Rizky.
Pukul enam pagi, satu pesan masuk dari Indah.
“Kamu sudah puas drama semalaman? Pulang. Kita selesaikan baik-baik.”
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada penjelasan.
Aku tidak membalas.
Sebaliknya, aku menelepon seseorang yang sudah lama kukenal, Arman, seorang pengacara yang pernah menangani sengketa kontrak perusahaan.
Kami bertemu pukul sembilan pagi di sebuah kedai kopi di Kuningan.
Setelah mendengar semuanya, Arman tidak langsung berbicara.
Dia membaca mutasi rekening, lalu menatapku.
“Jangan konfrontasi Rizky sendirian.”
“Kenapa?”
“Kalau benar pemerasan, kita butuh bukti. Kalau tidak benar, kita juga perlu tahu sebenarnya Indah terlibat sampai sejauh mana.”
Kalimat terakhir itu menusuk tepat pada ketakutanku.
Arman membantuku menyusun langkah.
Kami menghubungi bank dan meminta penelusuran transaksi.
Kemudian aku menghubungi mantan rekan proyek Bekasi yang masih kupercaya, Dimas.
Saat kutanyakan tentang laporan kecelakaan tiga tahun lalu, suaranya langsung berubah.
“Bud, kamu dapat informasi dari mana?”
“Jawab saja.”
Dimas terdiam.
“Ada laporan kedua.”
Aku membeku.
“Laporan kedua?”
“Laporan internal. Tidak pernah masuk ke dokumen resmi.”
“Apa isinya?”
“Perancah itu seharusnya dihentikan penggunaannya dua hari sebelum kecelakaan karena ada sambungan yang bermasalah.”
“Siapa yang memerintahkan pekerjaan tetap jalan?”
Dimas tidak langsung menjawab.
“Pak Surya.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
“Lalu kenapa nama saya ada?”
“Karena persetujuan lapangan memakai tanda tanganmu.”
“Saya tidak pernah tanda tangan.”
“Aku tahu.”
Suara Dimas merendah.
“Waktu itu aku pernah lihat sekretaris proyek membawa beberapa dokumen kosong yang sudah ada tanda tangan hasil scan.”
Aku merasa seisi ruangan berputar.
Jadi ancaman Rizky tidak sepenuhnya bohong.
Seseorang memang pernah menggunakan identitasku sebagai tameng.
“Tapi bagaimana Rizky mendapat dokumennya?”
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab Dimas.
Jawabannya datang sore harinya.
Arman meneleponku.
“Budi, aku menemukan sesuatu. Rizky pernah bekerja di perusahaan subkontraktor proyek Bekasi.”
Aku berdiri dari kursi.
“Sebagai apa?”
“Bagian administrasi pengadaan.”
Semuanya terhubung.
Rizky memiliki akses terhadap dokumen lama.
Dia mengetahui kecelakaan itu.
Dia mengetahui adanya tanda tangan palsu.
Dan dia mengetahui aku sekarang memiliki karier serta tabungan yang cukup besar.
Tapi ada satu hal yang masih menggangguku.
Indah.
Mengapa dia membiarkan mantan kekasihnya menyentuhnya seperti itu?
Malam kedua aku akhirnya pulang ke BSD.
Bukan karena ingin berdamai.
Aku membutuhkan jawaban.
Indah sedang duduk di meja makan ketika aku masuk.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi sikap angkuhnya masih ada.
“Kamu akhirnya pulang.”
Aku meletakkan setumpuk cetakan transaksi di atas meja.
Wajahnya langsung berubah.
“Enam ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu.”
Indah menelan ludah.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Dia menatapku cukup lama sebelum akhirnya duduk.
“Rizky punya bukti soal proyekmu.”
“Aku sudah tahu.”
Matanya membesar.
“Dari siapa?”
“Tidak penting.”
Indah menarik napas.
“Dia bilang kalau aku tidak membayar, kamu akan masuk penjara.”
“Kenapa kamu tidak bicara padaku?”
“Karena aku tahu sifatmu.”
“Apa?”
“Kamu pasti akan mendatanginya.”
Aku tertawa getir.
“Jadi solusi terbaikmu adalah menghabiskan seluruh tabungan kita?”
“Aku mencoba menyelamatkanmu.”
Aku menatapnya lurus.
“Dengan membiarkan dia memeluk pinggangmu?”
Indah terdiam.
Itulah pertama kalinya kesombongannya benar-benar runtuh.
“Aku tidak selingkuh.”
“Aku melihat sendiri.”
“Dia sengaja melakukannya.”
“Dan kamu membiarkannya.”
Air mata mulai menggenang di mata Indah.
“Karena dia mengancam akan menghancurkan semuanya kalau aku membuat dia marah.”
Aku ingin mempercayainya.
Sungguh.
Lima tahun pernikahan bukan waktu yang singkat.
Namun kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dari air mata.
“Berikan ponselmu.”
Indah menatapku.
“Untuk apa?”
“Kalau kamu tidak berbohong, tunjukkan semua percakapan kalian.”
Tangannya mulai gemetar.
Dan saat itulah aku tahu ada sesuatu yang lebih besar.
“Indah.”
Dia menundukkan kepala.
“Aku sudah hapus beberapa.”
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengulurkan tangan.
“Berikan.”
Setelah hampir satu menit, dia akhirnya menyerahkan ponselnya.
Percakapan dengan Rizky memang sebagian besar sudah dihapus.
Namun Indah melakukan satu kesalahan.
Sinkronisasi cloud di tablet rumah masih aktif.
Aku mengambil tablet dari kamar.
Pesan-pesan lama muncul.
Aku mulai membacanya.
Awalnya sesuai cerita Indah.
Rizky mengancamnya.
Mengirim foto dokumen proyek.
Meminta uang.
Namun semakin jauh aku menggulir, percakapannya berubah.
Rizky mulai menulis dengan bahasa mesra.
“Kamu masih sama seperti dulu.”
Indah membalas.
“Jangan mulai.”
Kemudian beberapa minggu berikutnya.
“Aku cuma nyaman cerita sama kamu.”
Balasan Indah membuat tanganku dingin.
“Aku juga kadang kangen masa dulu.”
Aku berhenti membaca.
Indah menangis.
“Budi, dengar dulu.”
Aku melanjutkan.
Dan akhirnya menemukan pesan yang jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.
Rizky menulis dua bulan lalu.
“Kalau semua beres, uang terakhir ini cukup buat kita mulai bisnis baru. Budi tidak akan tahu.”
Indah membalas.
“Aku takut.”
“Takut apa? Rekening itu atas nama kalian berdua. Kamu berhak pakai.”
Indah menulis lagi.
“Kalau ketahuan, aku bisa kehilangan semuanya.”
Rizky menjawab.
“Makanya jangan sampai ketahuan.”
Aku menatap Indah.
Seluruh tubuhku terasa mati rasa.
“Jadi pemerasan itu cuma awal.”
Indah menangis semakin keras.
“Awalnya benar-benar pemerasan.”
“Tapi kemudian kamu ikut?”
“Aku bingung.”
“Jangan bilang bingung.”
Aku menunjuk layar.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan.”
Indah menutupi wajahnya.
Rizky ternyata menggunakan ketakutannya sebagai pintu masuk.
Setelah beberapa transfer, dia meyakinkan Indah bahwa dokumen itu bisa dijual kembali kepada perusahaan atau digunakan untuk menekan Pak Surya.
Dia menjanjikan keuntungan.
Bisnis baru.
Kehidupan baru.
Dan perlahan-lahan Indah berhenti menjadi korban.
Dia berubah menjadi kaki tangan.
Yang lebih mengejutkan, Rp637.500.000 itu belum seluruhnya habis.
Sebagian uang hanya dipindahkan.
Rizky menyimpannya di rekening lain untuk modal perusahaan fiktif yang akan didaftarkan atas nama Indah.
Aku menutup tablet.
“Kamu menjadikan aku sumber modal.”
“Budi…”
“Dan kalau skema kalian gagal?”
Indah tidak menjawab.
“Aku yang akan disalahkan atas proyek itu.”
Air matanya jatuh.
“Aku tidak pernah ingin kamu masuk penjara.”
“Tapi kamu bersedia mengambil uangku sambil merencanakan hidup dengan dia.”
Tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki kalimat itu.
Keesokan paginya, dengan bantuan Arman, aku membuat laporan resmi mengenai dugaan pemerasan, pemalsuan dokumen, dan penggelapan dana.
Rizky ditangkap beberapa minggu kemudian setelah mencoba menarik sebagian uang dari rekening penampung.
Penyelidikan terhadap proyek Bekasi juga dibuka kembali.
Dan nama yang akhirnya muncul sebagai orang yang memerintahkan pemalsuan tanda tanganku adalah Pak Surya.
Rizky selama ini memegang bukti itu, tetapi bukannya mengungkap kebenaran, dia memanfaatkannya untuk memeras kami.
Indah juga harus menjalani pemeriksaan.
Karena meskipun pada awalnya menjadi korban pemerasan, bukti digital menunjukkan bahwa kemudian dia secara sadar ikut merencanakan pemindahan uang.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Hari terakhir sebelum aku meninggalkan rumah BSD untuk selamanya, Indah berdiri di dekat pintu.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.
“Budi.”
Aku berhenti.
“Kalau waktu itu aku langsung cerita semuanya, apa kita masih bisa bersama?”
Aku menatap perempuan yang pernah menjadi pusat hidupku selama lima tahun.
“Mungkin.”
Air matanya jatuh.
“Tapi yang menghancurkan kita bukan cuma Rizky.”
Aku mengangkat tas.
“Yang menghancurkan kita adalah saat kamu mulai percaya bahwa aku lebih pantas dijadikan korban daripada dijadikan pasangan.”
Aku pergi tanpa menoleh lagi.
Enam bulan kemudian, sebagian besar uang berhasil dibekukan dan dikembalikan melalui proses hukum.
Pak Surya ditetapkan sebagai tersangka atas pemalsuan dokumen dan manipulasi laporan keselamatan.
Namaku akhirnya dibersihkan.
Karierku tidak hancur seperti yang ditakutkan Indah.
Justru untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar bebas.
Suatu sore aku melewati rumah lama kami di BSD.
Di halaman depan, mawar merah yang dulu kutanam bersama Indah masih berbunga.
Aku sempat tersenyum.
Dulu aku mengira pengkhianatan terbesar adalah menemukan mantan kekasih istriku di sofa rumah sendiri.
Ternyata aku salah.
Pengkhianatan terbesar bukan ketika seseorang mencintai orang lain.
Pengkhianatan terbesar adalah ketika orang yang paling kita percaya diam-diam menjadikan kepercayaan kita sebagai alat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan sejak hari itu aku memahami satu hal.
Cinta memang membutuhkan pengorbanan.
Namun ketika hanya satu orang yang terus dikorbankan, itu bukan lagi cinta.
Itu adalah tumbal.
