Aku Tulus Mengantar Rantang Bekal Makanan Ke Kantor Suamiku Saat Rapat Mega Proyek, Tapi Dia Malah Membuang Makanan Ke Lantai, Menyuruhku Mengepel Dan Memperkenalkanku Sebagai Pembantu Di Depan Klien Milyarder Senilai Delapan Ratus Miliar Rupiah!

Sosok yang melangkah masuk membuat udara di ruang rapat lantai 42 itu seolah berhenti bergerak.

Seorang pria lanjut usia dengan rambut putih rapi berjalan perlahan sambil bertumpu pada tongkat kayu hitam berujung emas. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya sederhana, tetapi aura kewibawaannya membuat semua orang spontan berdiri.

Rizky mundur dua langkah.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Pak… Pak Hadi?”

Aku menatap pria tua itu tanpa berkedip.

Hadi Purbanegara.

Kakekku.

Pendiri Purbanegara Group, konglomerasi yang selama puluhan tahun bergerak di bidang properti, konstruksi, logistik, dan investasi.

Selama tiga tahun pernikahanku, Rizky hanya mengenalnya sebagai Hadi, seorang pensiunan pengusaha yang sesekali meneleponku dari Yogyakarta.

Rizky tidak pernah tahu nama belakangnya.

Tidak pernah tahu bahwa rumah sederhana tempat aku dibesarkan bukan karena keluargaku tidak memiliki uang.

Itu adalah pilihan ibuku.

Ibuku, Larasati Purbanegara, meninggalkan kehidupan keluarga konglomerat setelah menikahi ayahku, seorang guru SMA biasa. Setelah ayah meninggal, ibu memilih tetap hidup sederhana dan membesarkanku jauh dari gemerlap keluarga besar Purbanegara.

Sebelum meninggal, ibu hanya mengatakan satu hal.

“Kalau suatu hari kamu menikah, pastikan dia mencintaimu sebelum mengetahui siapa keluargamu.”

Aku menuruti pesan itu.

Dan hari ini, aku akhirnya mengetahui jawabannya.

Kakek berhenti tepat di sampingku.

Matanya turun melihat bubur ayam yang berserakan di lantai, kemudian melihat punggung tanganku yang memerah terkena kuah panas.

Tatapan wajahnya berubah.

“Siapa yang melakukan ini?”

Tak seorang pun menjawab.

Indah menundukkan kepala.

Rizky menelan ludah.

Aku memandang suamiku.

“Rizky.”

Kakek perlahan menoleh kepadanya.

“Jadi kamu suaminya?”

Rizky buru-buru maju.

“Pak Hadi, ini pasti salah paham. Saya bisa jelaskan semuanya.”

“Kamu mengenalku?”

“Tentu, Pak. Bapak salah satu tokoh bisnis yang paling saya hormati. Saya pernah menghadiri seminar Bapak dua tahun lalu.”

Kakek mengangguk pelan.

“Bagus.”

Rizky seperti mendapat harapan.

“Tadi hanya ada kesalahpahaman kecil. Siti datang tanpa pemberitahuan dan mengganggu rapat penting. Saya sedang berusaha menjaga profesionalitas di depan klien.”

“Dengan mengatakan istrimu pembantu?”

Rizky terdiam.

“Dengan membuang makanan yang dia masak untukmu?”

Keringat mulai muncul di dahinya.

“Pak Hadi…”

“Dengan menyuruhnya mengepel lantai?”

Suara kakek tetap rendah.

Justru karena itulah setiap katanya terasa semakin mengerikan.

Rizky memandangku.

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan, ada permohonan di matanya.

“Siti, jelaskan kepada Pak Hadi. Aku tadi cuma panik.”

Aku hampir tertawa.

Beberapa menit sebelumnya, aku hanyalah perempuan kampung yang mempermalukan masa depannya.

Sekarang dia memintaku menyelamatkan masa depannya.

Pak Gunawan membuka koper hitam di atas meja.

Beberapa dokumen tebal dikeluarkan.

“Pak Rizky,” katanya, “mungkin Anda belum memahami situasinya.”

Dia membuka halaman pertama.

“PT Mahkota Perkasa memang memimpin proyek delapan ratus miliar yang sedang Anda kejar. Tetapi sebagian besar pembiayaan dan lahan proyek tersebut berada di bawah konsorsium Purbanegara.”

Rizky mulai bernapas tidak teratur.

Pak Gunawan menunjuk dokumen berikutnya.

“Dan pemegang hak manfaat terbesar konsorsium tersebut adalah…”

Dia menoleh kepadaku.

“Ibu Siti Suryani Purbanegara.”

Rizky menatapku seperti baru pertama kali melihat wajahku.

“Kamu… pewaris Purbanegara?”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam dadaku terasa sangat ironis.

“Aku pernah bilang keluargaku punya usaha.”

“Tapi kamu bilang usaha keluarga!”

“Memangnya Purbanegara Group bukan usaha keluarga?”

Pak Gunawan menahan senyum.

Indah semakin pucat.

Rizky tiba-tiba mendekat kepadaku.

“Siti, dengarkan aku. Kita pulang. Kita bicara di rumah. Semua ini cuma salah paham.”

Tangannya hendak menyentuh lenganku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Tangannya menggantung di udara.

Untuk pertama kalinya, ekspresi percaya dirinya runtuh.

Aku lalu menatap gelang di tangan Indah.

“Sekalian saja kita selesaikan kesalahpahaman lainnya.”

Indah refleks menyembunyikan pergelangan tangannya.

“Gelang itu,” kataku. “Hadiah corporate untuk klien wanita, kan?”

Rizky membeku.

Indah menatapnya panik.

“Mas…”

Satu kata itu sudah cukup.

Ruangan kembali hening.

Aku mengangguk perlahan.

“Jadi benar.”

“Siti, bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalimat itu terlalu sering dipakai orang yang ketahuan berbohong.”

Indah mendadak maju.

“Bu Siti, saya bisa jelaskan.”

Sekarang dia memanggilku Bu.

Beberapa menit lalu aku bahkan dianggap tidak layak melewati pintu depan.

“Apa yang mau kamu jelaskan?”

Indah mulai menangis.

“Hubungan saya dengan Pak Rizky tidak serius.”

Rizky langsung menoleh tajam.

“Indah!”

“Aku tidak mau menanggung semuanya sendiri!” bentaknya.

Kemudian Indah mengatakan sesuatu yang membuat wajah Rizky semakin pucat.

“Dia yang bilang pernikahan kalian cuma sementara!”

Dadaku terasa sesak.

“Apa?”

Indah menangis semakin keras.

“Pak Rizky bilang setelah proyek ini berhasil, dia akan menceraikan Ibu. Dia bilang Ibu tidak cocok mendampingi kariernya.”

Aku memandang Rizky.

Tidak ada lagi rasa marah yang meledak-ledak.

Anehnya, justru ada ketenangan.

Karena kadang-kadang kebenaran yang paling menyakitkan sekaligus menjadi hal yang paling membebaskan.

“Kamu bilang begitu?”

Rizky menggeleng cepat.

“Dia bohong!”

Indah tertawa pahit.

“Bohong?”

Dia mengeluarkan ponselnya.

“Aku punya semua chat kita.”

“Indah, tutup mulut!”

“Kenapa? Sekarang kamu takut?”

Indah membuka percakapan mereka.

Pesan demi pesan muncul.

Rizky menjanjikan apartemen.

Liburan ke Singapura.

Pernikahan setelah proyek selesai.

Bahkan ada satu pesan yang membuat tanganku dingin.

Begitu kontrak delapan ratus miliar cair, aku akan tinggalkan Siti. Aku capek punya istri kampungan yang tidak bisa menunjang citraku.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu mengembalikan ponsel kepada Indah.

Tidak ada air mata.

Mungkin karena bagian diriku yang masih ingin menangisi Rizky sudah mati saat rantang itu menghantam lantai.

Kakek mendekatiku.

“Kamu mau Kakek membatalkan proyeknya?”

Semua mata tertuju padaku.

Rizky langsung berlutut.

“Siti!”

Aku terkejut melihatnya.

Pria yang beberapa menit lalu menyuruhku menundukkan kepala kini berlutut di lantai yang masih kotor oleh bubur buatanku.

“Tolong jangan hancurkan karierku.”

Aku memandangnya lama.

“Aku tidak akan menghancurkan kariermu.”

Mata Rizky langsung berbinar.

“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkannya.”

Aku menoleh kepada Pak Gunawan.

“Proyek itu tetap berjalan.”

Pak Gunawan tampak terkejut.

“Bu Siti?”

“Delapan ratus miliar bukan uang pribadi saya. Ada karyawan, kontraktor, pemasok, dan banyak keluarga yang bergantung pada proyek tersebut. Jangan menghukum mereka karena satu orang.”

Kakek menatapku.

Kemudian tersenyum tipis.

Ada kebanggaan di wajahnya.

Aku melanjutkan.

“Tetapi evaluasi seluruh perusahaan yang dipimpin Rizky. Kalau memang layak secara profesional, lanjutkan. Kalau ditemukan manipulasi atau pelanggaran, proses sesuai aturan.”

Pak Gunawan mengangguk.

“Baik.”

Rizky berdiri perlahan.

Wajahnya sedikit lega.

Namun salah satu asisten Pak Gunawan tiba-tiba membuka laptop.

“Pak, sebenarnya kami sudah menemukan sesuatu dalam due diligence.”

Pak Gunawan mengerutkan kening.

“Apa?”

“Beberapa biaya proyek yang diajukan perusahaan Pak Rizky tidak sesuai dengan nilai vendor.”

Rizky langsung menyela.

“Itu normal dalam proyek konstruksi!”

Asisten tersebut memutar layar.

“Ada selisih hampir dua puluh tiga miliar rupiah.”

Ruangan kembali membeku.

“Dan tiga vendor penerima pembayaran ternyata menggunakan alamat yang sama.”

Pak Gunawan menatap Rizky.

“Pemiliknya?”

Asisten itu menjawab pelan.

“Salah satunya terdaftar atas nama kakak kandung Bu Indah.”

Indah langsung terduduk.

Rizky memegang kepalanya.

“Tidak… itu bisa dijelaskan.”

Aku menatapnya.

Ternyata pengkhianatan yang kutemukan hari itu jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Kakek memberi isyarat kepada asistennya.

“Serahkan semuanya kepada tim audit dan hukum.”

Rizky berlari mendekatiku.

“Siti, tolong!”

Dua petugas keamanan yang baru masuk segera menahannya.

“Aku suamimu!”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Suaraku nyaris berbisik.

“Dan itulah alasan aku datang membawa makanan untukmu pagi ini.”

Rizky terdiam.

“Aku bangun jam lima. Memasak bubur karena takut lambungmu sakit. Aku naik bus dan MRT lebih dari satu jam sambil menjaga rantang itu tetap hangat.”

Aku menunjuk makanan yang berserakan.

“Kamu membuangnya karena malu kepadaku.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku salah.”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Kamu hanya akhirnya menunjukkan siapa dirimu ketika merasa tidak membutuhkan aku.”

Petugas keamanan membawa Rizky dan Indah keluar.

Sebelum pintu tertutup, Rizky berteriak memanggil namaku.

Aku tidak menoleh.

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Kakek mengambil saputangan dan membersihkan sedikit kuah yang masih menempel di tanganku.

“Kakek minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Karena membiarkanmu menjalani ujian ini terlalu lama.”

Aku tersenyum tipis.

“Ibu yang meminta identitasku disembunyikan.”

Kakek mengangguk.

“Dan Kakek menghormati pesan ibumu. Tapi sebenarnya ada satu hal yang belum kamu ketahui.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Pak Gunawan menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

Tulisan tangan ibuku masih terlihat di bagian depan.

Untuk Siti, ketika dia akhirnya tahu siapa yang mencintainya tanpa nama Purbanegara.

Tanganku gemetar membuka surat itu.

Di dalamnya hanya ada beberapa baris.

Siti, kekayaan bisa membeli rumah besar, tetapi tidak bisa membeli orang yang tulus tinggal bersamamu di dalamnya. Jangan mencari lelaki yang berlutut ketika tahu siapa keluargamu. Carilah orang yang tetap menggenggam tanganmu ketika mengira kamu tidak punya apa-apa.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Rizky.

Aku menangisi ibuku.

Tiga bulan kemudian, gugatan cerai resmi selesai diproses.

Audit internal juga menemukan serangkaian transaksi mencurigakan di perusahaan Rizky. Kasus tersebut kemudian diserahkan kepada pihak berwenang untuk diproses sesuai hukum.

Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.

Aku juga tidak mengambil alih Purbanegara Group seperti yang selama ini diperkirakan semua orang.

Setidaknya, tidak langsung.

Aku meminta waktu satu tahun kepada Kakek.

Aku kembali ke Yogyakarta.

Di sana, aku membuka sebuah dapur sosial kecil di dekat pasar tempat ibuku dulu menjual kue. Setiap pagi, dapur itu menyediakan makanan murah untuk pekerja harian, pengemudi ojek daring, petugas kebersihan, dan siapa saja yang membutuhkan.

Kakek sempat tertawa ketika mendengar keputusanku.

“Kamu pewaris perusahaan bernilai triliunan, tapi memilih mengurus dapur?”

Aku tersenyum.

“Karena hari ketika hidupku berubah bukan saat aku melihat dokumen warisan.”

“Lalu?”

“Saat seseorang membuang makanan yang kubuat dengan tulus.”

Setahun kemudian, ketika akhirnya aku masuk ke kantor pusat Purbanegara Group sebagai bagian dari jajaran direksi, benda pertama yang kubawa ke ruang kerjaku bukan tas bermerek atau laptop mahal.

Aku membawa rantang stainless steel baru.

Rantang itu kutaruh di lemari kaca tepat di belakang meja kerjaku.

Di bawahnya hanya ada sebuah tulisan kecil.

Jangan pernah menilai rendah orang yang datang kepadamu dengan ketulusan.

Karena aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dipahami Rizky.

Kekayaan tidak pernah menunjukkan seberapa tinggi derajat seseorang.

Kekuasaan juga tidak.

Cara kita memperlakukan orang yang kita anggap tidak memiliki apa-apa, justru menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang