PULANG TANPA KABAR DEMI MEMBERI KEJUTAN MANIS USAI ISTRI OPERASI SESAR, BUDI MALAH MENEMUKAN SITI MENANGIS SAMBIL MAKAN MIE INSTAN DI LANTAI DAPUR DAN MENJAGA BAYI MEREKA YANG KEDINGINAN, PADAHAL IA MENGIRIM ENAM PULUH JUTA RUPIAH SETIAP BULAN

Pintu dapur terbuka lebar dan Ibu Ratna berdiri membeku di ambangnya.

Gaun sutra berwarna krem yang dikenakannya berkilau diterpa cahaya lampu. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, sementara di belakangnya Maya memeluk sebuah tas bermerek yang bahkan dari jarak beberapa meter pun aku tahu harganya tidak murah.

Tidak seorang pun bicara.

Mataku berpindah dari wajah Ibu, ke tas Maya, lalu turun ke mangkuk plastik retak berisi mie instan di depan Siti.

Tiba-tiba semuanya terasa begitu jelas.

“Budi?”

Suara Ibu akhirnya memecah keheningan.

“Kok kamu pulang? Kenapa tidak bilang Ibu?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

“Mana perawat Siti?”

Ibu Ratna mengerjapkan mata.

“Apa?”

“Perawat yang katanya berjaga dua puluh empat jam.”

Aku menunjuk Arka yang terbaring di lantai.

“Mana tempat tidur bayi? Mana makanan bergizi? Mana semua yang setiap minggu Ibu bilang sudah dibeli?”

Wajah Ibu berubah tegang.

Namun hanya beberapa detik.

Setelah itu ia tersenyum tipis seolah pertanyaanku tidak masuk akal.

“Ya ampun, Budi. Kamu baru sampai sudah marah-marah. Siti memang suka berlebihan. Perawatnya sedang libur malam ini.”

Aku menoleh kepada Siti.

Tubuh istriku langsung menegang.

“Benar?”

Siti tidak menjawab.

“Siti, lihat aku.”

Perlahan ia mengangkat wajah.

“Pernah ada perawat?”

Bibirnya bergetar.

Aku bisa melihat ketakutan dalam matanya.

Ibu Ratna tiba-tiba menyela.

“Sudah, jangan membuat suasana rumah jadi ribut. Istrimu baru melahirkan. Emosinya belum stabil.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku meledak.

“Aku tanya istriku, Bu.”

Suasana dapur langsung berubah.

Maya yang sejak tadi diam mulai terlihat gelisah.

Siti menggenggam ujung dasternya.

“Tidak pernah ada perawat, Mas.”

Suara itu sangat pelan.

Namun bagiku terdengar seperti ledakan.

Aku menatap Ibu.

“Tidak pernah?”

Ibu Ratna menarik napas panjang.

“Budi, dengarkan Ibu dulu.”

“Siti, lanjutkan.”

Air mata kembali turun dari mata istriku.

“Sejak aku pulang dari rumah sakit, aku tidur di kamar belakang dekat dapur.”

Aku terdiam.

“Kamar belakang?”

Siti mengangguk.

“Katanya kamar atas terlalu bagus untuk bayi karena nanti sering menangis dan mengganggu tidur Ibu.”

Aku menatap lorong menuju kamar tamu rumah itu. Ada tiga kamar kosong di lantai dua. Semuanya memiliki pendingin ruangan, tempat tidur empuk, dan kamar mandi pribadi.

Sementara istri yang baru dioperasi ditempatkan dekat gudang.

“Siti makan apa setiap hari?”

Kali ini ia menangis semakin keras.

“Nasi sama kecap. Kadang telur kalau masih ada. Beberapa hari ini mie.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa kamu tidak bilang saat aku menelepon?”

Siti menatap Ibu Ratna sebelum kembali menunduk.

Jawabannya tidak perlu keluar.

Aku sudah mengerti.

“Handphone-nya Ibu pegang.”

Ibu Ratna akhirnya berkata dengan nada defensif.

“Supaya dia istirahat. Dia baru operasi.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Aku bahkan tidak mengenali suara tawaku sendiri.

“Jadi setiap aku menelepon, Ibu memastikan Siti tidak bisa bicara sendiri?”

“Jangan memutarbalikkan keadaan!”

Suara Ibu meninggi.

“Ibu yang merawat semuanya ketika kamu pergi! Kamu tahu betapa repotnya mengurus orang baru melahirkan?”

“Dengan enam puluh juta setiap bulan?”

Wajah Maya langsung berubah.

Ibu Ratna terdiam.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku.

Tanganku gemetar karena marah.

Sejak naik kapal tiga belas bulan lalu, aku selalu menyimpan bukti transfer. Jumlahnya bukan kecil.

Lima belas juta setiap minggu.

Enam puluh juta setiap bulan.

Dalam tiga belas bulan, hampir delapan ratus juta rupiah sudah kukirim.

Awalnya uang itu memang untuk biaya rumah tangga Siti selama aku bekerja. Tiga bulan terakhir jumlahnya kutambah karena kehamilan Siti semakin besar.

“Ke mana uangnya, Bu?”

Ibu Ratna mengalihkan pandangan.

“Kamu pikir rumah ini hidup pakai udara?”

Aku menatapnya tajam.

“Aku juga rutin membayar listrik dan biaya rumah lewat rekening lain.”

Maya tiba-tiba berkata, “Mas, jangan ngomong sama Ibu kayak gitu.”

Aku menoleh.

“Maya, tas yang kamu pegang berapa harganya?”

Wajahnya pucat.

“Apa hubungannya?”

“Jawab.”

“Ini pemberian teman.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Aku membuka aplikasi bank.

“Kalau begitu kamu pasti tidak keberatan kalau malam ini kita cek seluruh mutasi rekening Ibu.”

Maya menelan ludah.

Ibu Ratna langsung berjalan mendekat.

“Budi, cukup!”

Aku mundur satu langkah.

Untuk pertama kali seumur hidup, suara ibuku tidak membuatku merasa bersalah.

Justru membuatku semakin curiga.

“Aku cuma mau satu hal malam ini. Rekening.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu tidak punya kewajiban melaporkan keuangan kepada anak sendiri!”

“Kalau itu uang Ibu, benar.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Tapi uang itu kukirim untuk istriku dan anakku.”

Siti tiba-tiba menarik lenganku.

“Mas, Arka dingin.”

Semua kemarahanku seketika berubah menjadi kepanikan.

Aku berjongkok.

Tangan kecil putraku terasa dingin.

Aku belum pernah menggendong bayi sebelumnya. Namun malam itu, tanpa berpikir, aku menyelipkan tangan di bawah tubuh mungilnya dan mengangkatnya ke dadaku.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajah anakku dari jarak sedekat itu.

Hidung kecil.

Kelopak mata tipis.

Jemari mungil yang menggenggam udara.

Dadaku terasa pecah.

Aku mencium dahinya.

“Maafkan Ayah.”

Suaraku bergetar.

“Maaf Ayah terlambat pulang.”

Aku mengambil jaket dari tas perjalanan dan membungkus tubuh Arka.

Lalu aku menatap Siti.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Wajah Siti berubah panik.

“Tidak usah, Mas.”

“Bekas operasimu merah dan basah.”

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kali ini dengarkan aku.”

Ibu Ratna menghalangi jalan.

“Jangan dramatis. Luka operasi memang begitu.”

Aku tidak pernah menyangka kalimat berikutnya akan keluar dari mulutku.

“Minggir, Bu.”

Ibu membeku.

Aku membawa Siti dan Arka keluar dari rumah malam itu juga.

Di rumah sakit, dokter mengatakan luka operasi Siti mengalami infeksi ringan karena perawatan yang buruk dan kekurangan nutrisi. Kondisinya belum kritis, tetapi jika dibiarkan beberapa hari lagi, infeksi bisa menjadi jauh lebih berbahaya.

Arka mengalami penurunan suhu tubuh ringan, tetapi beruntung kondisinya cepat stabil setelah mendapatkan perawatan.

Aku duduk di samping ranjang Siti sampai hampir pukul tiga pagi.

Ketika akhirnya kami hanya berdua, Siti mulai menceritakan semuanya.

Bukan hanya sebelas hari terakhir.

Tetapi tujuh bulan terakhir.

Awalnya Ibu Ratna memperlakukannya baik.

Setelah aku berangkat bekerja, semuanya perlahan berubah.

Siti diminta mengerjakan pekerjaan rumah karena menurut Ibu, menantu tidak boleh hanya duduk. Ketika kehamilannya semakin besar, ia tetap harus mencuci pakaian dan membersihkan lantai.

Setiap uang yang kukirim masuk ke rekening Ibu, Siti hanya menerima satu atau dua juta untuk kebutuhan pribadi.

Sisanya tidak pernah ia ketahui.

“Aku pernah mau cerita,” katanya pelan.

“Kenapa tidak?”

“Ibu bilang kalau aku membuatmu khawatir di tengah laut, lalu terjadi sesuatu pada kapalmu, aku yang harus menanggung dosanya.”

Aku menutup mata.

Aku bisa membayangkan bagaimana Siti mempercayai ancaman itu.

“Waktu kamu menelepon, Ibu selalu ada di sampingku.”

Siti menyeka air mata.

“Kalau aku bilang sesuatu yang salah, setelah telepon ditutup Ibu marah.”

“Marah bagaimana?”

Siti diam cukup lama.

Kemudian ia menarik lengan dasternya.

Ada bekas memar samar di lengannya.

Darahku mendidih.

“Siapa?”

“Satu kali Ibu mencengkeram terlalu keras.”

Aku berdiri.

“Mas.”

Siti memegang tanganku.

“Jangan lakukan sesuatu yang membuatmu menyesal.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak akan menyakiti siapa pun.”

Malam itu aku membuat keputusan.

Aku tidak akan berteriak lagi.

Aku akan mencari bukti.

Dua hari berikutnya, tanpa sepengetahuan Ibu Ratna, aku menemui manajer bank. Karena transfer berasal dari rekeningku, aku memiliki seluruh catatan transaksi yang kukirim.

Namun aku tidak bisa melihat penggunaan rekening Ibu secara langsung.

Untungnya, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Maya meneleponku.

Ia meminta bertemu di sebuah kedai kopi.

Ketika datang, wajahnya terlihat jauh berbeda dari malam itu.

Tidak ada tas mahal.

Tidak ada riasan tebal.

Ia duduk di depanku sambil menangis.

“Mas, aku takut.”

“Takut apa?”

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Aku tahu uangmu dipakai buat apa.”

Dadaku langsung menegang.

Maya bercerita bahwa selama hampir setahun, Ibu Ratna menggunakan sebagian besar uang yang kukirim untuk menutup utang bisnis butik miliknya yang bangkrut.

Kalung emas, tas, dan barang-barang mewah bukan dibeli untuk bersenang-senang.

Sebagian barang itu ternyata digunakan untuk mempertahankan citra di depan para investor dan teman-temannya agar tidak ada yang tahu bisnisnya hampir kolaps.

Namun ada yang lebih buruk.

Ibu menggunakan namaku sebagai jaminan informal kepada beberapa pemberi pinjaman, dengan mengatakan aku bekerja di kapal internasional dan akan melunasi semuanya.

“Aku juga salah, Mas.”

Maya menangis.

“Tas itu memang dibeli pakai uang kirimanmu. Aku tahu. Tapi aku pura-pura tidak tahu.”

“Kenapa sekarang kamu bicara?”

Maya menunduk.

“Karena malam kamu pulang, aku lihat Arka di lantai.”

Air matanya jatuh.

“Aku bisa bohong soal uang. Tapi aku tidak bisa terus diam setelah lihat bayi sebelas hari tidur kedinginan.”

Isi flashdisk itu terdiri atas tangkapan layar percakapan, bukti transfer, catatan utang, dan rekaman suara Ibu Ratna membahas penggunaan uangku.

Aku pulang ke rumah Ibu tiga hari kemudian.

Kali ini aku tidak datang sendiri.

Ada Maya.

Ada paman kami yang selama ini menjadi orang paling dihormati dalam keluarga.

Dan ada seorang pengacara.

Ibu Ratna duduk di ruang tamu dengan wajah pucat.

Aku meletakkan tumpukan dokumen di meja.

“Hampir lima ratus juta rupiah dari uang yang kukirim untuk Siti dipakai menutup utang butik.”

Ibu tidak menjawab.

“Delapan puluh juta untuk barang pribadi.”

Diam.

“Lebih dari seratus juta digunakan membayar pinjaman yang bahkan tidak pernah kuketahui.”

Air mata mulai memenuhi mata Ibu.

“Aku terpaksa.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

“Kalau butik itu bangkrut, semua orang akan menghina Ibu.”

Aku menatap wanita di depanku.

Wanita yang sepanjang hidupku kuanggap sebagai manusia paling kuat.

Namun sekarang yang kulihat hanyalah seseorang yang terlalu takut kehilangan gengsi sampai rela mengorbankan orang lain.

“Jadi karena takut dihina orang, Ibu membiarkan istriku kelaparan?”

“Ibu berniat mengembalikannya!”

“Kapan?”

Ia terdiam.

“Setelah Siti mati?”

Ibu langsung menangis.

“Budi!”

“Aku tidak mau dengar alasan lagi.”

Aku menarik napas.

“Aku sudah melunasi kewajiban yang benar-benar atas namaku. Untuk utang lain, Ibu harus menyelesaikannya sendiri.”

Ibu menatapku seolah aku baru saja mengkhianatinya.

“Kamu meninggalkan ibu kandungmu karena perempuan itu?”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

Aku berdiri.

“Aku meninggalkan kebohongan.”

Dua bulan kemudian, aku menyewa rumah kecil untuk Siti dan Arka di Bandung.

Tidak sebesar rumah Ibu.

Tidak ada marmer.

Tidak ada lampu kristal.

Namun setiap pagi rumah itu dipenuhi aroma makanan hangat dan suara tangisan bayi.

Aku mengambil cuti panjang dari kapal.

Suatu sore aku sedang menggendong Arka ketika Siti datang membawa sebuah amplop.

“Ini dari Ibu.”

Aku terdiam.

Sejak malam itu, aku tidak pernah bertemu dengannya.

Di dalam amplop hanya ada buku tabungan dan sepucuk surat.

Ternyata Ibu Ratna menjual rumah besarnya.

Sebagian uang digunakan melunasi utang.

Sisanya ia transfer ke rekening atas nama Arka.

Tidak sebanyak uang yang telah hilang.

Namun cukup besar.

Di bagian terakhir surat, ada satu kalimat yang membuat tanganku gemetar.

Budi, Ibu baru memahami sesuatu setelah rumah itu kosong. Selama ini Ibu terlalu sibuk mempertahankan rumah besar sampai lupa bahwa rumah sebenarnya adalah tempat orang yang kita cintai merasa aman.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Siti duduk di sampingku.

“Mas mau memaafkan Ibu?”

Aku melihat Arka yang tertidur di pelukanku.

“Aku belum tahu.”

Siti mengangguk.

Tidak memaksa.

Beberapa minggu kemudian, tanpa memberi tahu siapa pun, aku membawa Siti dan Arka ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran Bandung.

Ibu Ratna membuka pintu.

Rambutnya tidak lagi tertata sempurna.

Tidak ada emas di lehernya.

Tidak ada gaun mahal.

Ia memakai daster sederhana dan memegang sapu.

Saat melihat kami, bibirnya bergetar.

Tidak ada yang bicara.

Aku menyerahkan Arka kepadanya.

Tangannya langsung gemetar saat menerima cucunya.

Ibu menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang terus jatuh ketika ia mencium kening Arka berkali-kali.

Aku belum sepenuhnya memaafkan.

Siti juga belum melupakan.

Beberapa luka memang tidak selesai hanya dengan satu kata maaf.

Namun malam itu aku mengerti bahwa keluarga bukan tentang siapa yang paling tua, siapa yang paling berjasa, atau siapa yang harus selalu dituruti.

Keluarga adalah tempat seseorang seharusnya merasa aman.

Dan sejak hari aku menemukan istriku makan mie instan di lantai dapur, aku berjanji satu hal pada diriku sendiri.

Aku mungkin masih harus pergi jauh untuk mencari nafkah.

Tetapi tidak akan pernah lagi menyerahkan tanggung jawab menjaga keluargaku hanya kepada uang dan kepercayaan tanpa melihat sendiri keadaan mereka.

Karena ternyata, aku hampir kehilangan istri dan anakku bukan karena aku kekurangan uang.

Aku hampir kehilangan mereka karena terlalu percaya bahwa mengirim uang berarti sudah hadir sebagai seorang suami dan ayah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang