AKU BANGUN SETELAH KEHILANGAN BAYIKU, TAPI RUMAH SAKIT MENARUHKU DI ANTARA IBU-IBU YANG SEDANG MERAYAKAN KELAHIRAN ANAK MEREKA SAMPAI SEORANG PEREMPUAN MENANYAKAN SATU HAL YANG MEMBUATKU TAK BISA MENAHAN DIRI

Dimas tidak langsung marah.

Itu justru membuatku lebih takut.

Dia berdiri di samping ranjangku sambil menatap Nisa, lalu bertanya dengan suara yang sangat tenang.

“Benar ada kamar kosong?”

Nisa menggigit bibir.

“Pak, saya sebenarnya tidak punya wewenang untuk menjelaskan soal penempatan kamar.”

“Pertanyaan saya sederhana. Ada atau tidak?”

Nisa menunduk.

“Ada.”

Dimas mengembuskan napas panjang.

“Sejak kapan?”

“Sejak siang.”

Aku melihat rahang Dimas mengeras.

Di belakangnya, seorang bayi mulai menangis. Ibunya segera mengangkat tubuh kecil itu dan menepuk-nepuk punggungnya.

Dimas menoleh sebentar.

Ketika kembali menatapku, matanya berubah.

Kesedihan yang sejak tadi membuatnya terlihat hancur kini bercampur dengan kemarahan.

“Siapa yang memutuskan istri saya tetap di sini?”

Nisa belum sempat menjawab ketika perawat senior yang tadi berbicara dengannya muncul.

Namanya Bu Ratna.

“Pak Dimas, bisa bicara sebentar di luar?”

“Tidak.”

Jawaban Dimas cepat.

“Bicarakan di sini.”

Bu Ratna melirikku.

“Ini masalah internal rumah sakit.”

“Yang sedang kalian bicarakan adalah istri saya.”

“Pak, kami memahami kondisi Ibu Rani.”

Aku akhirnya menoleh kepadanya.

“Kalau memahami, kenapa saya masih di sini?”

Bu Ratna terdiam.

Aku menunjuk ranjang di sekelilingku.

“Sejak saya bangun, saya mendengar bayi menangis. Saya melihat orang foto-foto. Saya dengar ucapan selamat. Tadi ada orang bertanya bayi saya di mana.”

Suaraku mulai bergetar.

“Sementara kalian punya kamar kosong.”

“Bu Rani, kamar itu sudah dialokasikan.”

“Untuk orang yang belum datang.”

Bu Ratna tampak terkejut.

Dia menoleh tajam kepada Nisa.

Nisa langsung berkata, “Saya tidak memberi tahu.”

“Aku dengar sendiri,” kataku.

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan keluarga di ranjang sebelah mulai berhenti berbicara.

Bu Ratna menarik napas.

“Baik. Saya akan bicara dengan kepala ruangan.”

“Tidak perlu.”

Dimas mengambil ponselnya.

“Saya mau bicara dengan manajemen rumah sakit.”

Bu Ratna terlihat panik.

“Pak, jangan salah paham.”

“Salah paham?”

Dimas akhirnya meninggikan suara.

“Istri saya baru kehilangan anaknya pagi ini. Kalian menaruh dia di bangsal ibu dan bayi selama berjam-jam hanya karena kamar kosong mau disimpan untuk pasien VIP. Bagian mana yang harus saya pahami dengan benar?”

Aku memegang lengan Dimas.

“Mas.”

Dia langsung menoleh.

Aku tahu dia marah, tetapi wajahnya berubah lembut ketika melihatku.

“Aku cuma mau keluar dari sini.”

Dimas menggenggam tanganku.

“Iya. Kita keluar.”

Bu Ratna akhirnya pergi.

Sekitar lima belas menit kemudian, seorang laki-laki berjas datang bersama dokter Maya.

Laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai Bapak Hendra, manajer pelayanan pasien.

Dia meminta maaf berkali-kali.

Katanya terjadi kesalahan koordinasi.

Katanya bangsal sedang penuh.

Katanya kamar 512 memang kosong, tetapi sedang dipersiapkan untuk pasien yang membutuhkan privasi khusus.

Aku tidak peduli lagi.

Semua penjelasannya terdengar seperti suara dari televisi yang menyala di ruangan lain.

Sampai dokter Maya berkata,

“Bu Rani akan dipindahkan sekarang.”

Aku menatapnya.

“Ke 512?”

Pak Hendra terdiam.

Dokter Maya menjawab tegas.

“Ya.”

Lima menit kemudian, ranjangku mulai didorong keluar.

Saat melewati lorong, aku melihat pintu-pintu kamar dihiasi bunga.

Ada keluarga yang membawa boneka.

Ada ayah yang berdiri sambil menggendong bayi dengan wajah ketakutan sekaligus bahagia.

Aku memalingkan wajah.

Dimas berjalan di sampingku sambil terus memegang tanganku.

Ketika kami sampai di kamar 512, aku baru sadar kamar itu jauh lebih besar.

Ada sofa.

Ada jendela lebar.

Ada kamar mandi sendiri.

Di atas meja bahkan sudah tersedia rangkaian bunga putih yang masih dibungkus plastik.

Seseorang jelas sudah mempersiapkannya.

Nisa masuk beberapa menit kemudian untuk mengganti infus.

“Maaf, Bu,” katanya.

Aku memandangnya.

“Kamu tidak perlu minta maaf.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Saya seharusnya lebih cepat memperjuangkan Ibu.”

“Kamu sudah mencoba.”

Dia diam.

Kemudian berkata pelan,

“Saya pernah mengalami hal yang mirip.”

Aku terkejut.

Nisa tersenyum tipis.

“Bukan saya. Kakak saya.”

Dia menarik selimutku dengan hati-hati.

“Dua tahun lalu kakak saya kehilangan bayinya saat lahir. Setelah itu dia ditempatkan di kamar bersama ibu yang bayinya sehat.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Dia bilang hal yang paling menyakitkan bukan cuma kehilangan anaknya. Tapi harus menjelaskan kehilangan itu berkali-kali kepada orang yang bertanya.”

Aku menatap Nisa.

Kalimat itu tepat sekali.

Kehilangan ternyata bukan sesuatu yang terjadi sekali.

Ia terjadi lagi setiap kali seseorang bertanya.

Setiap kali melihat kereta bayi.

Setiap kali mendengar tangisan.

Setiap kali mengingat nama yang tidak akan pernah dipanggil.

“Apa kakakmu sekarang baik-baik saja?”

Nisa berpikir sebentar.

“Lebih baik.”

Bukan baik-baik saja.

Lebih baik.

Entah kenapa jawaban itu membuatku merasa sedikit lebih lega.

Malam semakin larut.

Dimas duduk di sofa.

Kami hampir tidak bicara.

Sekitar pukul sebelas, aku akhirnya bertanya sesuatu yang sejak tadi kutakuti.

“Mas.”

“Hmm?”

“Arya sekarang di mana?”

Dimas membeku.

Aku langsung tahu ada sesuatu yang belum dia katakan.

“Mas?”

Dia berdiri dan mendekat.

“Rani…”

“Di mana anak kita?”

“Masih di rumah sakit.”

“Aku boleh lihat?”

Dimas menunduk.

“Dokter bilang boleh.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Dia menatapku dengan mata merah.

“Takut kamu semakin hancur.”

Aku menatap suamiku lama sekali.

Kemudian aku berkata,

“Aku sudah hancur.”

Dimas menutup matanya.

“Tapi aku ibunya.”

Air mataku jatuh.

“Aku belum pernah lihat wajahnya.”

Dimas duduk di sampingku.

“Aku lihat.”

Aku langsung menatapnya.

“Kapan?”

“Setelah dokter keluar.”

Bibirnya gemetar.

“Dia kecil sekali, Ran.”

Aku menutup mulut.

Dimas mulai menangis.

Untuk pertama kalinya hari itu, dia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

“Rambutnya banyak.”

Aku tertawa di antara tangis.

“Kamu kan bilang anak kita pasti botak.”

“Iya.”

“Mirip siapa?”

Dimas mengusap wajah.

“Kayaknya kamu.”

“Bohong.”

“Serius.”

Kami menangis bersama.

Aneh sekali.

Beberapa menit itu justru menjadi saat paling dekat yang pernah kurasakan dengan Arya.

Dia sudah tidak ada, tetapi untuk pertama kalinya kami berbicara tentangnya sebagai anak kami, bukan sebagai tragedi.

Aku meminta bertemu dokter Maya.

Setengah jam kemudian dia datang.

Aku mengatakan ingin melihat Arya.

Dokter Maya tidak mencoba mencegah.

Dia hanya bertanya, “Ibu yakin?”

Aku mengangguk.

“Kalau saya tidak melihatnya sekarang, saya akan menyesal seumur hidup.”

Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang perawat datang membawa sebuah ranjang bayi kecil.

Jantungku hampir berhenti.

Dimas langsung berdiri.

Aku tidak sanggup melihat pada awalnya.

Aku menatap jendela.

Kemudian perlahan aku memalingkan wajah.

Arya dibungkus selimut putih.

Wajahnya tenang.

Begitu kecil.

Begitu sempurna.

Aku mengulurkan tangan.

“Boleh saya pegang?”

Dokter Maya mengangguk.

Ketika tubuh Arya diletakkan di lenganku, dunia mendadak sangat sunyi.

Aku melihat hidungnya.

Bibirnya.

Kelopak matanya.

Aku menghitung jari-jarinya.

Sepuluh.

Lengkap.

“Mas.”

Dimas mendekat.

“Lihat hidungnya.”

“Iya.”

“Ini hidung kamu.”

Dimas tertawa sambil menangis.

Aku mencium kening Arya.

Dingin.

Saat itulah sesuatu dalam diriku pecah.

Aku menangis keras.

Bukan tangisan yang cantik.

Bukan tangisan pelan seperti di film.

Aku memeluk anakku dan meraung sampai dadaku sakit.

“Arya…”

Dimas memeluk kami berdua.

“Maaf, Nak.”

Aku tidak tahu berapa lama kami seperti itu.

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Mungkin lebih.

Tidak ada yang menyuruh kami berhenti.

Dokter Maya dan perawat keluar agar kami punya waktu.

Ketika akhirnya aku menyerahkan Arya kembali, rasanya seperti kehilangan dia untuk kedua kalinya.

Namun kali ini aku sempat mengatakan sesuatu.

“Terima kasih sudah datang ke hidup Mama.”

Setelah pintu tertutup, aku tidak punya air mata lagi.

Aku tertidur karena kelelahan.

Pagi harinya aku terbangun karena suara gaduh di luar kamar.

Ada beberapa orang berbicara.

Kemudian pintu terbuka.

Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun berdiri di sana.

Dia mengenakan pakaian rumah sakit dan ditemani seorang laki-laki berpakaian rapi.

Di belakang mereka ada Bu Ratna dan Pak Hendra.

Perempuan itu melihat nomor kamar.

“Ini 512, kan?”

Bu Ratna langsung menjawab, “Bu, ada sedikit perubahan.”

“Apa maksudnya?”

“Kami sudah menyiapkan kamar lain.”

Perempuan itu mengernyit.

“Tapi keluarga saya sudah pesan kamar ini sejak minggu lalu.”

Aku langsung mengerti.

Pasien khusus itu.

Perempuan tersebut melihatku.

Kemudian melihat Dimas.

“Siapa mereka?”

Pak Hendra mencoba mengajaknya keluar.

Namun perempuan itu mulai marah.

“Ayah saya sudah bicara dengan direktur rumah sakit. Saya baru melahirkan dan saya butuh kamar ini.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Dimas berdiri.

“Bu, istri saya sedang dirawat.”

Perempuan itu menatapku.

Kemudian pandangannya jatuh ke meja.

Di sana ada selimut kecil Arya yang tadi malam diberikan perawat kepadaku.

Dia tampaknya salah memahami situasinya.

“Oh, sama-sama habis melahirkan, kan?”

Aku membeku.

Dimas langsung berkata, “Bu, sebaiknya Anda keluar.”

Tetapi perempuan itu justru menatapku dan bertanya,

“Bayinya di mana?”

Kalimat yang sama.

Persis seperti kemarin.

Namun kali ini rasanya berbeda.

Aku menatap perempuan itu.

Aku tidak menangis.

“Anak saya meninggal.”

Wajahnya seketika pucat.

Dia melihat Pak Hendra.

Lalu Bu Ratna.

“Dia kehilangan bayinya?”

Tidak ada yang menjawab.

Perempuan itu menatap sekeliling kamar.

“Dan kalian mau mengusir dia dari kamar ini karena saya?”

“Bu Selina, bukan begitu…”

“Jawab.”

Pak Hendra menunduk.

“Ruangan ini memang sebelumnya dialokasikan untuk Ibu.”

Selina menatapnya tidak percaya.

“Kalian menaruh perempuan yang kehilangan anaknya di bangsal bayi supaya kamar ini kosong untuk saya?”

Bu Ratna buru-buru berkata, “Ada pertimbangan administrasi.”

Selina tertawa pendek.

“Administrasi?”

Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia mengambil ponselnya.

“Telepon ayah saya.”

Laki-laki di sampingnya tampak bingung.

“Sel…”

“Sekarang.”

Beberapa menit kemudian aku mengetahui siapa Selina.

Dia adalah putri salah satu anggota yayasan yang mengelola rumah sakit itu.

Itulah sebabnya kamar 512 tidak boleh digunakan.

Namun yang terjadi berikutnya bahkan lebih mengejutkan.

Selina meminta ayahnya datang.

Sekitar satu jam kemudian, seorang pria berusia enam puluhan masuk bersama direktur rumah sakit.

Aku sudah lelah.

Aku bahkan tidak ingin mendengar permintaan maaf lagi.

Namun pria itu tidak langsung bicara kepadaku.

Dia justru bertanya kepada Pak Hendra,

“Siapa yang membuat kebijakan bahwa kamar harus dikosongkan untuk keluarga saya?”

Pak Hendra terdiam.

Bu Ratna juga diam.

Direktur rumah sakit akhirnya menjawab.

“Saya.”

Semua orang menoleh.

Pria itu menatap direktur.

“Kenapa?”

“Untuk memastikan keluarga Bapak mendapat pelayanan terbaik.”

“Dengan mengorbankan pasien lain?”

Tidak ada jawaban.

Pria itu menarik napas.

“Mulai hari ini, jangan pernah lakukan itu lagi atas nama saya.”

Kemudian dia menatapku.

“Bu Rani, saya tidak akan meminta Ibu memaafkan rumah sakit ini sekarang. Saya hanya ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Ibu tidak seharusnya terjadi.”

Aku tidak tahu mengapa, tetapi justru kalimat itu yang akhirnya bisa kuterima.

Bukan alasan.

Bukan penjelasan.

Hanya pengakuan bahwa apa yang terjadi memang salah.

Dua hari kemudian aku pulang.

Rumah terasa berbeda.

Kereta bayi besar yang dibeli Dimas masih ada di ruang tamu.

Aku berhenti di depan pintu ketika melihatnya.

Dimas langsung berkata, “Aku pindahkan sekarang.”

“Jangan.”

Dia menatapku.

Aku mendekati kereta itu.

Tanganku menyentuh pegangan.

Aku teringat Dimas mendorongnya sambil bercanda.

Air mataku jatuh lagi.

Tapi aku tidak meminta kereta itu dibuang.

Kami menyimpannya di kamar Arya.

Bersama pakaian-pakaian kecilnya.

Bersama foto USG.

Bersama selimut putih yang kubawa dari rumah sakit.

Beberapa minggu kemudian, Nisa mengirim pesan kepadaku.

Rumah sakit membuat prosedur baru.

Ibu yang mengalami kehilangan bayi tidak lagi ditempatkan di ruang pemulihan bersama ibu dan bayi sehat jika tersedia alternatif yang layak.

Staf juga mendapat pelatihan tentang pendampingan keluarga yang mengalami kehilangan perinatal.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada kemenangan dalam cerita kami.

Arya tetap tidak pulang.

Kamar bayinya tetap kosong.

Tetapi setidaknya suatu hari nanti, mungkin ada perempuan lain yang terbangun setelah kehilangan anaknya dan tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama seperti aku.

Enam bulan kemudian, Dimas akhirnya bertanya apakah aku ingin menyumbangkan kereta bayi Arya.

Aku diam cukup lama.

Kemudian mengangguk.

Kami memberikannya kepada sebuah rumah singgah untuk ibu yang kesulitan secara ekonomi.

Ketika petugas membawa kereta itu keluar, aku menangis.

Dimas memelukku.

“Aku pikir aku sudah siap,” kataku.

“Tidak harus siap.”

Aku melihat kereta itu semakin jauh.

“Mas.”

“Iya?”

“Aku takut suatu hari aku lupa wajahnya.”

Dimas mengeluarkan ponselnya.

Dia membuka sebuah foto.

Foto yang belum pernah kutahu ada.

Arya berada dalam pelukanku malam itu.

Aku sedang menunduk mencium keningnya.

Dimas berdiri di sampingku dengan satu tangan menyentuh kepala kecil anak kami.

Dokter Maya rupanya mengambil foto itu menggunakan ponsel Dimas.

Aku langsung menangis.

“Kenapa baru kasih lihat?”

“Aku menunggu sampai kamu siap.”

Aku memperbesar foto itu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kami bertiga sebagai sebuah keluarga.

Hanya untuk beberapa saat.

Tapi nyata.

Aku menyentuh layar tepat di wajah Arya.

Lalu aku tersenyum.

Dulu aku mengira menjadi ibu berarti membawa anak pulang, melihatnya tumbuh, mengantar sekolah, memarahinya karena pulang terlambat, dan suatu hari melihatnya membangun kehidupannya sendiri.

Ternyata tidak selalu begitu.

Ada ibu yang hanya diberi beberapa menit untuk memeluk anaknya.

Ada yang hanya punya foto.

Ada yang hanya punya nama.

Dan ada cinta yang hidup jauh lebih lama daripada orang yang dicintainya.

Arya tidak pernah pulang ke rumah bersama kami.

Tetapi dia pernah ada.

Dia punya nama.

Dia punya ayah.

Dia punya ibu.

Dan selama aku masih hidup, tidak akan pernah ada satu hari pun ketika keberadaannya dianggap tidak penting hanya karena hidupnya terlalu singkat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang