SUAMIKU MENGUSIRKU SETELAH PERCAYA PADA KEKASIHNYA, TANPA TAHU REKAMAN DI TASKU BISA MENGHENTIKAN INVESTASI TERBESAR DAN MEMBONGKAR RAHASIA PERUSAHAANNYA DI HADAPAN SEMUA ORANG YANG SELAMA INI MEMUJANYA PART 1

Tiga hari sebelum investasi Rp4,2 triliun yang diyakini Arga akan menyelamatkan perusahaannya cair, aku duduk di ruang pemeriksaan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta dengan tubuh yang masih terasa nyeri.

Dokter perempuan di depanku tidak banyak bertanya setelah melihat kondisiku.

Ia hanya memeriksa dengan hati-hati, lalu menatapku cukup lama.

“Bu Dara, saya perlu mencatat semua temuan ini dalam rekam medis.”

Aku mengangguk.

“Catat semuanya, Dok.”

“Apakah Ibu merasa aman untuk pulang?”

Aku tersenyum pahit.

“Saya sudah tidak punya rumah untuk pulang.”

Setelah keluar dari rumah sakit, Maya menungguku di mobil.

Begitu melihatku, dia langsung memelukku.

Aku tidak menangis ketika Arga menyakitiku.

Aku tidak menangis ketika Selena berdiri di kamar kami seperti calon pemilik rumah itu.

Aku bahkan tidak menangis ketika Rini memecahkan hadiah terakhir dari ibuku.

Namun ketika Maya berkata, “Sekarang kamu aman,” pertahananku runtuh.

Aku menangis hampir sepuluh menit tanpa mampu mengucapkan apa pun.

Setelah aku sedikit tenang, Maya menyalakan laptopnya.

“Sekarang kita pisahkan dua masalah,” katanya. “Pertama, apa yang Arga lakukan kepadamu. Kedua, apa yang terjadi di perusahaannya.”

Aku menyerahkan salinan rekaman.

Maya mendengarkan bagian ketika Dimas berbicara mengenai pendapatan yang dicatat lebih awal, biaya yang dialihkan ke perusahaan terkait, serta rencana menggunakan dana investasi untuk menutup kewajiban selama enam belas bulan.

Wajahnya berubah serius.

“Dara, ini lebih besar dari perceraian.”

“Aku tahu.”

“Dan soal dokumen yang kamu tanda tangani tadi malam?”

“Aku menandatanganinya karena ditekan.”

“Bagus kamu merekam situasinya.”

Aku memandang jalanan Jakarta dari balik kaca mobil.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, rasa takut dalam diriku mulai berubah bentuk.

Bukan menjadi keberanian.

Belum.

Menjadi kemarahan yang sangat tenang.

Siang itu aku tiba di kantor Nusantara Growth Capital melalui pintu samping.

Tidak ada satu pun foto diriku terpajang di lobi.

Itu memang sengaja.

Keluargaku membangun perusahaan investasi itu jauh sebelum aku menikah dengan Arga. Ayah selalu mengajarkan bahwa nama keluarga tidak boleh menjadi tiket untuk mendapatkan jabatan.

Karena itulah aku memilih jalur profesional sendiri.

Aku menjadi spesialis investigasi keuangan dan menggunakan nama Dara Prameswari, nama keluarga ibuku, dalam sebagian besar pekerjaan profesional.

Sementara di dokumen keluarga, aku adalah Dara Mahendra.

Arga mengenalku sebagai perempuan dari keluarga berada.

Dia tahu ayahku punya investasi.

Tapi dia mengira kekayaan keluargaku hanya berasal dari properti dan portofolio saham.

Dia tidak pernah bertanya lebih jauh.

Dan aku berhenti menjelaskan setelah suatu malam, tiga tahun lalu, dia berkata sambil tertawa, “Kamu tidak perlu sok bicara bisnis. Biar aku saja yang mengurus hal besar.”

Hari itu, kalimat tersebut terasa seperti ironi yang kejam.

Di lantai dua puluh tiga, enam orang sudah menunggu.

Ayah duduk di ujung meja.

Di sampingnya ada kepala bagian hukum, direktur risiko, dua anggota komite investasi dan seorang auditor eksternal.

Tidak ada yang memanggilku sebagai anak pemilik perusahaan.

Mereka memanggilku berdasarkan fungsiku.

“Silakan mulai, Bu Dara.”

Aku menampilkan rangkaian transaksi yang selama tujuh bulan terakhir kami telusuri.

PT Sentra Arunika, perusahaan milik Arga, terlihat berkembang sangat cepat.

Pendapatan meningkat.

Kontrak baru bertambah.

Nilai perusahaan melonjak.

Namun sebagian pertumbuhan itu ternyata dibangun di atas transaksi dengan perusahaan yang saling berhubungan.

PT Cakra Distribusi Mandiri menerima pembayaran besar.

PT Sembada Karya Utama menampung sejumlah kewajiban.

Beberapa transaksi memiliki pola yang tidak masuk akal.

Selama ini kami memiliki indikasi.

Sekarang kami memiliki konteks.

Aku memutar rekaman suara Dimas.

Ruangan menjadi sunyi.

Ketika kalimat “begitu uang Nusantara Growth masuk, kita punya ruang untuk membereskan semua yang tertunda selama enam belas bulan” terdengar, direktur risiko menutup pulpennya.

“Ada lagi?” tanyanya.

Aku mengeluarkan rekaman malam sebelumnya.

Suara Arga terdengar.

Kemudian suara Selena.

Lalu percakapan mengenai dua perusahaan dalam lampiran kesepakatan pemisahan aset.

Kepala bagian hukum menatapku.

“Mereka mencoba memasukkan nama Anda ke struktur kewajiban?”

“Kelihatannya begitu.”

Ayah tidak berkata apa-apa.

Namun aku melihat tangannya mengepal di bawah meja.

Setelah hampir dua jam, komite mengambil keputusan.

Pencairan dana dihentikan.

Bukan dibatalkan.

Belum.

Nusantara Growth akan meminta klarifikasi terakhir secara resmi.

Dan untuk mencegah Sentra Arunika menghilangkan bukti atau membuat narasi baru, mereka tidak akan diberi tahu mengenai rekaman tersebut.

Malamnya Arga meneleponku sebelas kali.

Aku tidak mengangkat.

Pesan-pesannya berubah dari marah menjadi menghina.

Kamu ambil dokumen perusahaan?

Jangan macam-macam, Dara.

Kalau kamu mencoba merusak reputasiku, kamu akan menyesal.

Lalu sekitar pukul sebelas malam datang pesan berbeda.

Besok ambil sisa barangmu. Selena akan pindah.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Anehnya, tidak ada lagi rasa sakit.

Aku hanya mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada Maya.

Dua hari kemudian, Sentra Arunika mengadakan acara besar di sebuah hotel bintang lima di kawasan Sudirman.

Acara itu sudah direncanakan berbulan-bulan.

Arga akan mengumumkan ekspansi perusahaan setelah investasi Nusantara Growth masuk.

Ratusan orang hadir.

Bankir.

Investor.

Mitra bisnis.

Media.

Karyawan senior.

Selena mengatur seluruh acara.

Menurut unggahan media sosial perusahaan, tema malam itu adalah “A New Era of Growth”.

Aku hampir tertawa ketika membacanya.

Pukul tujuh malam, aku tiba bersama tim Nusantara Growth.

Aku mengenakan setelan hitam sederhana.

Tidak ada perhiasan selain jam tangan ibuku.

Begitu memasuki ballroom, beberapa orang mengenaliku sebagai istri Arga.

Bisikan langsung terdengar.

“Itu Dara?”

“Bukannya mereka sudah berpisah?”

“Ngapain dia datang?”

Kemudian Selena melihatku.

Wajahnya berubah.

Dia berjalan cepat menghampiriku.

“Kamu tidak diundang.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu keluar.”

Aku menatapnya.

“Aku datang bersama investor.”

Selena terdiam.

Sebelum dia sempat bertanya, direktur investasi Nusantara Growth berjalan mendekat.

“Bu Dara, semua anggota komite sudah tiba.”

Wajah Selena kehilangan warna.

“Bu?”

Aku melewatinya.

Di atas panggung, Arga sedang berbicara.

Dengan setelan mahal dan senyum percaya diri, dia terlihat seperti laki-laki yang hidupnya sempurna.

“Investasi ini bukan sekadar modal,” katanya. “Ini adalah bukti kepercayaan terhadap integritas dan visi Sentra Arunika.”

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Aku berdiri di belakang ruangan.

Arga melihatku.

Senyumnya langsung menghilang.

Beberapa detik kemudian dia turun dari panggung dan berjalan ke arahku.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Bekerja.”

“Jangan bikin malu.”

Aku hampir menjawab, tetapi direktur utama Nusantara Growth sudah naik ke panggung.

“Mohon perhatian sebentar.”

Ruangan kembali tenang.

Arga menatapnya dengan senyum yang dipaksakan.

Direktur itu membuka map.

“Sehubungan dengan rencana investasi senilai Rp4,2 triliun ke PT Sentra Arunika, komite investasi kami telah menyelesaikan evaluasi tambahan.”

Arga mendekatinya.

“Mungkin pengumumannya bisa setelah presentasi saya.”

“Tidak perlu.”

Senyum Arga membeku.

Direktur itu melanjutkan.

“Berdasarkan temuan material yang belum dapat dijelaskan oleh manajemen, Nusantara Growth Capital menangguhkan transaksi ini tanpa batas waktu.”

Suara gaduh langsung memenuhi ballroom.

Arga pucat.

“Apa?”

“Kami juga telah meminta pemeriksaan independen terhadap sejumlah transaksi pihak terkait.”

Dimas yang berdiri dekat meja utama langsung bangkit.

Aku melihat kepanikan di wajahnya.

Arga mengambil mikrofon.

“Pasti ada kesalahpahaman.”

Lalu dia melihatku.

Dan entah bagaimana, dia langsung tahu.

“Kamu.”

Ratusan pasang mata beralih kepadaku.

Arga berjalan mendekat.

“Kamu melakukan ini?”

Aku tetap diam.

Dia menunjuk wajahku.

“Kamu bahkan tidak mengerti bisnis!”

Kalimat itu menggema melalui mikrofon yang masih menyala.

Beberapa orang saling pandang.

Direktur investasi Nusantara Growth kemudian berkata tenang, “Justru Bu Dara adalah salah satu orang yang paling memahami transaksi perusahaan Anda.”

Arga menoleh.

“Apa maksud Anda?”

Ayah berdiri dari meja tamu.

Itulah pertama kalinya Arga melihatnya malam itu.

Wajah Arga berubah lagi.

“Pak Mahendra?”

Ayah berjalan ke depan.

Selama pernikahan kami, Arga hanya bertemu ayah beberapa kali dalam acara keluarga.

Dia tahu ayahku bernama Mahendra.

Tapi tidak pernah menghubungkan nama itu dengan pemegang kendali Nusantara Growth karena perusahaan tersebut dikelola melalui struktur holding keluarga dan jarang menampilkan anggota keluarga di media.

Ayah berhenti di sampingku.

“Dara adalah putri saya.”

Keheningan jatuh.

Arga tertawa kecil.

Tawa orang yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Baik. Tapi keputusan investasi tentu bukan urusan keluarga.”

“Benar,” jawab ayah. “Karena itu keputusan ini dibuat berdasarkan temuan profesional.”

Arga menatapku.

“Jadi kamu menggunakan ayahmu untuk balas dendam?”

Aku akhirnya berbicara.

“Tidak.”

Aku mengambil mikrofon.

“Kalau aku ingin balas dendam, aku cukup membiarkan uang itu masuk.”

Dimas membeku.

Aku melanjutkan.

“Karena setelah dana masuk, lubang selama enam belas bulan akan ditutup, kan?”

Wajah Dimas menjadi putih.

Rini yang berdiri di sampingnya menutup mulut.

Arga menatap kakak iparnya.

“Apa yang dia bicarakan?”

Dimas tidak menjawab.

Direktur risiko memberi isyarat kepada operator.

Rekaman diputar.

Suara Dimas memenuhi ballroom.

“Begitu uang Nusantara Growth masuk, kita punya ruang untuk membereskan semua yang tertunda selama enam belas bulan.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Lalu terdengar suara Dimas tertawa tentang tim pemeriksaan investor yang dianggap tidak cukup pintar menemukan masalah tersebut.

Seseorang dari meja bank berdiri.

Beberapa wartawan mulai mengetik cepat.

Arga merampas mikrofon.

“Matikan!”

Rekaman berhenti.

Dia berbalik kepadaku.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Dari rumah yang kamu usir aku keluar darinya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Selena mencoba pergi.

Namun kepala bagian hukum Nusantara Growth menghentikannya.

“Bu Selena, kami juga perlu meminta klarifikasi mengenai dua perusahaan yang namanya muncul dalam dokumen terkait.”

Selena berbalik cepat.

“Aku tidak tahu apa-apa.”

Aku memandangnya.

“PT Cakra Distribusi Mandiri.”

Tubuhnya kaku.

“PT Sembada Karya Utama.”

“Aku tidak kenal.”

“Menarik.”

Aku membuka dokumen.

“Karena salah satu pemegang saham awal Cakra adalah kakak kandungmu.”

Selena menatap Arga.

Dan dari ekspresinya, aku tahu sesuatu yang bahkan Arga belum tahu.

Arga mendekatinya.

“Selena?”

Perempuan itu mulai menangis.

Namun kali ini tangisannya tidak bekerja.

Pemeriksaan berikutnya mengungkap sesuatu yang jauh lebih buruk.

Selena dan Dimas telah bekerja sama hampir dua tahun.

Beberapa vendor yang dianggap independen ternyata terhubung dengan keluarga Selena.

Dimas mengatur aliran pembayaran.

Selena menggunakan posisinya untuk menjaga reputasi perusahaan dan mengendalikan informasi yang keluar.

Arga memang mengetahui sebagian manipulasi laporan.

Dia bahkan menyetujuinya karena percaya investasi baru akan memperbaiki semuanya.

Namun dia tidak tahu bahwa Selena dan Dimas juga mengambil keuntungan pribadi dari skema tersebut.

Perempuan yang dia pilih untuk dipercayai dibanding istrinya ternyata juga sedang mengkhianatinya.

Seminggu kemudian Arga datang ke kantor Maya.

Dia terlihat sepuluh tahun lebih tua.

Investasi berhenti.

Bank meninjau ulang fasilitas kredit.

Dewan komisaris menonaktifkannya sementara.

Dimas mengundurkan diri sebelum pemeriksaan internal selesai.

Selena menghilang dari apartemennya dan kemudian diperiksa terkait transaksi perusahaan.

Arga duduk di depanku.

“Dara.”

Aku tidak menjawab.

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

Dulu, dua kata itu mungkin akan membuatku menangis.

Sekarang tidak.

“Aku percaya Selena.”

“Itu pilihanmu.”

“Aku tidak tahu dia dan Dimas melakukan semua itu.”

“Kamu tahu laporan perusahaan dimanipulasi.”

Dia terdiam.

“Kamu tahu aku tidak merusak mobilnya,” lanjutku. “Kamu bisa memeriksa kamera. Tapi kamu memilih tidak melakukannya.”

Arga menunduk.

“Aku marah.”

“Dan kamu merasa kemarahanmu memberimu hak untuk menyakitiku.”

Dia tidak mampu menatapku.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menggeleng.

“Tidak, Ga.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu kehilangan perusahaan karena keputusan bisnismu. Kamu kehilangan reputasi karena kebohonganmu. Dan kamu kehilangan aku jauh sebelum investasi itu dihentikan.”

Matanya memerah.

“Tidak bisakah kita mulai lagi?”

Aku berdiri.

“Tidak.”

“Dara.”

Aku mengambil tasku.

Pena perak itu masih berada di dalamnya.

Benda kecil yang dia pikir hanya alat kerja biasa.

“Aku pernah mencintaimu sampai aku terus mencari alasan untuk memaafkan hal-hal yang seharusnya tidak pernah dimaafkan.”

Aku berhenti di pintu.

“Tapi malam ketika kamu mengusirku, kamu sebenarnya memberiku satu hal yang selama ini tidak pernah berani kuberikan kepada diriku sendiri.”

“Apa?”

Aku menatapnya untuk terakhir kalinya.

“Jalan keluar.”

Enam bulan kemudian, pengadilan mengabulkan perceraian kami.

Dokumen pemisahan aset yang dipaksakan kepadaku dipersoalkan melalui jalur hukum. Pemeriksaan terhadap Sentra Arunika berlanjut, dan sejumlah pihak harus mempertanggungjawabkan keputusan mereka masing-masing.

Aku tidak mengambil alih perusahaan Arga.

Aku juga tidak meminta ayah menghancurkannya.

Aku bahkan mendukung keputusan komite ketika mereka memilih menyelamatkan bagian bisnis yang masih sehat agar ribuan karyawan yang tidak terlibat tidak kehilangan pekerjaan karena kesalahan beberapa orang di puncak.

Pada suatu sore, aku berdiri di ruang kantor baru Nusantara Growth.

Ayah datang membawa sebuah kotak kecil.

“Apa ini?”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada tempat lilin yang pecah saat Rini mengemasi barang-barangku.

Sudah diperbaiki.

Retakannya masih terlihat.

“Ayah minta orang memperbaikinya,” katanya.

Aku menyentuh garis retak itu.

“Tidak bisa seperti semula.”

Ayah tersenyum tipis.

“Memang tidak harus.”

Aku menatapnya.

“Kadang benda yang sudah pecah tidak perlu dibuat seolah-olah tidak pernah rusak. Cukup dibuat kuat supaya bisa berdiri lagi.”

Malam itu aku membawa tempat lilin tersebut ke apartemen baruku.

Aku menyalakan lilin kecil di dalamnya dan meletakkannya dekat jendela.

Cahaya keluar melalui garis-garis retak yang masih terlihat jelas.

Aku berdiri cukup lama memandangnya.

Dulu aku mengira kemenangan terbesar malam itu adalah menghentikan investasi Rp4,2 triliun.

Ternyata bukan.

Kemenangan terbesarku juga bukan melihat kebohongan Arga, Selena, dan Dimas terbongkar di hadapan orang-orang yang selama ini memuja mereka.

Kemenangan terbesarku adalah menyadari bahwa setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, aku akhirnya berhenti meminta orang yang menyakitiku untuk mengakui bahwa aku berharga.

Karena nilai diriku tidak pernah berada di tangan Arga.

Tidak berada dalam rumah yang dia usir aku darinya.

Tidak berada dalam status sebagai istrinya.

Dan tidak berada dalam miliaran atau triliunan rupiah yang bisa kuhentikan dengan satu keputusan.

Nilai itu selalu ada dalam diriku.

Aku hanya terlalu lama dibuat lupa.

Malam semakin gelap di luar jendela Jakarta.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak takut pada malam.

Aku mematikan telepon, menarik tirai, lalu tersenyum melihat cahaya kecil yang menembus retakan tempat lilin itu.

Sesuatu yang pecah memang tidak selalu bisa kembali seperti semula.

Tapi terkadang, justru dari retakan itulah cahaya akhirnya menemukan jalan keluar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang