IBU TIRI SUAMIKU MENGIRIM FOTO MEREKA DI ATAS TEMPAT TIDUKU SAAT MEMAKAI ZAMRUD MILIK MENDIANG IBUNYA DAN MEMANGGILKU “ISTRI MALANG”.

Semua mata tertuju pada kotak raksasa itu. Don Roberto mengernyitkan dahi, sementara Julian tampak tidak nyaman, matanya terus melirik Sylvia yang duduk tegak dengan angkuhnya.

“Apa ini, Clara?” tanya Don Roberto dengan nada dingin yang khas.

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai mataku. “Ayah, hari ini adalah perayaan pencapaian besar perusahaan. Namun, sebagai seorang istri yang setia—dan seorang penyidik forensik—aku belajar bahwa dalam sebuah institusi, baik itu perusahaan maupun pernikahan, integritas adalah fondasi utama. Hadiah ini adalah untuk mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup debu.”

Aku menarik kain beludru itu. Di bawahnya bukan lukisan, melainkan sebuah layar digital beresolusi tinggi berukuran raksasa yang terhubung langsung ke sistem serverku.

“Tolong, nyalakan,” bisikku pada teknisi yang telah kusewa.

Layar itu menyala, menampilkan antarmuka forensik yang sangat teknis. Ruangan mendadak senyap. Sylvia mulai tampak gelisah. Dia meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.

“Julian,” panggilku lembut. “Ingatkah kau malam saat aku di luar kota? Kau bilang kau sedang rapat lembur dengan klien di luar negeri.”

Julian pucat pasi. “Clara, hentikan. Jangan membuat keributan di sini!”

“Ini bukan keributan, sayang. Ini adalah data.”

Dengan satu sentuhan di ponselku, layar itu menampilkan foto yang dikirim Sylvia padaku. Namun, bukan foto itu saja. Layar itu mulai memproses metadata secara real-time. Peta koordinat GPS yang muncul di layar membuktikan bahwa foto itu diambil tepat di kamar kami, di rumah ini, pada jam 02.14 dini hari.

Tiba-tiba, layar berubah menjadi grafis analisis DNA. “Ini adalah hasil dari sampel yang kuambil dari tempat tidur kita,” kataku sambil menunjuk ke arah Sylvia. “Profil genetik campuran antara Julian dan seorang wanita yang memiliki profil DNA identik dengan rambut yang tertinggal di bantal kita.”

Sylvia berdiri, wajahnya merah padam. “Itu fitnah! Itu palsu! Siapa pun bisa merekayasa data digital!”

“Benarkah?” aku melangkah mendekatinya. “Lalu, bagaimana dengan ini?”

Aku menekan tombol lain. Kali ini, layar menampilkan rekaman suara yang diambil dari bug (alat penyadap) yang kupasang di brankas pribadiku. Terdengar suara Julian yang membisikkan kode akses, diikuti suara tawa terkikik Sylvia yang berbisik, “Istri malang itu bahkan tidak akan sadar kalau zamrud ini sudah berpindah tangan.”

Aula perjamuan meledak dalam bisikan. Don Roberto berdiri, rahangnya mengeras. Dia menatap zamrud di leher Sylvia, lalu menatap putranya dengan tatapan yang bisa membunuh.

Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai.

Aku mengeluarkan sebuah folder dari balik gaunku dan melemparkannya ke meja tepat di depan Don Roberto. “Ayah, ini adalah temuan yang lebih menarik. Sylvia bukan hanya selingkuhan Julian. Dia adalah agen yang disewa oleh kompetitor utama perusahaan kita untuk menghancurkan reputasi keluarga ini dari dalam.”

Sylvia terbelalak. “Kau… kau bohong!”

“Tidak,” jawabku dingin. “Sebagai penyidik forensik, aku melacak transaksi keuangan yang masuk ke rekening pribadimu. Uang itu berasal dari perusahaan saingan kita. Kau bukan hanya seorang model, kau adalah spionase korporat yang kebetulan cukup bodoh untuk jatuh cinta pada pria yang kau hancurkan, atau mungkin, kau hanya sekadar memanfaatkannya.”

Julian menatap Sylvia dengan ngeri, menyadari bahwa dia hanyalah pion dalam permainan besar.

“Dan untukmu, Julian,” aku menatap suamiku yang gemetar. “Terima kasih atas akses brankasnya. Karena berkat sidik jarimu di sana, aku menemukan sesuatu yang bahkan tidak kau sadari.”

Aku menunjuk layar. Sebuah dokumen hukum muncul: Surat Perjanjian Pranikah yang telah dimodifikasi secara diam-diam oleh firma hukumku.

“Kau menandatangani dokumen baru bulan lalu, ingat? Saat kau sedang mabuk berat di ruang kerjamu? Kau mengira itu dokumen perusahaan. Sebenarnya, itu adalah surat pengalihan aset secara sukarela atas seluruh saham milikmu kepadaku, karena kau telah melanggar janji pernikahan dan melakukan pengkhianatan.”

Dunia mereka runtuh dalam hitungan detik. Don Roberto memberi isyarat kepada keamanan. “Bawa dia keluar,” perintahnya menunjuk Sylvia. “Dan kau, Julian… kau baru saja kehilangan segalanya.”

Sylvia mencoba berlari, namun dia tersandung gaun mahalnya sendiri. Zamrud di lehernya putus dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping—seperti kebohongannya.

Aku tidak berteriak, tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana, memegang mikrofon dengan tenang.

“Satu hal yang kalian lupakan,” kataku kepada mereka berdua sebelum mereka diseret keluar. “Di dunia forensik, tidak ada jejak yang tidak bisa ditemukan. Kalian hanya melihatku sebagai ‘istri’, tapi aku adalah orang yang membongkar rahasia di balik kematian. Menghancurkan kalian adalah hal termudah yang pernah kulakukan.”

Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi mereka. Sementara aku? Aku berjalan keluar dari gedung mewah itu menuju mobilku, menghirup udara malam yang dingin dengan perasaan lega.

Namun, tepat saat aku hendak masuk ke mobil, ponselku berbunyi lagi. Sebuah pesan dari nomor yang belum kusimpan:

“Permainan yang hebat, Clara. Tapi kau belum tahu siapa yang sebenarnya membayar Sylvia untuk mendekati keluarga itu. Kita baru saja mulai.”

Aku menatap layar ponselku, lalu tersenyum tipis. Ternyata, pengkhianatan ini lebih dalam dari yang kubayangkan. Dan aku, sang penyidik forensik, sudah tidak sabar untuk membedah kebenaran selanjutnya.

Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang