12 JAM SEBELUM PERNIKAHANKU, AKU KEMBALI UNTUK MENGAMBIL MANTELKU

Malam itu, di bawah keremangan lampu kota, aku tidak lagi merasa seperti Samantha yang rapuh. Aku adalah Samantha yang telah lahir kembali di dalam api pengkhianatan. Aku berkendara kembali ke hotel, tetapi bukan untuk menangis di bahu pengiring pengantin. Aku berkendara menuju kehancuran mereka.

Rencana yang Sempurna

Sesampainya di hotel, aku tidak langsung masuk ke kamar pengantin. Aku duduk di mobil selama satu jam, menyusun teka-teki pembalasanku. Aku menghubungi pengacara pribadiku, pria yang sama yang telah memperingatkanku tentang perjanjian pranikah itu—peringatan yang dulu kuabaikan karena rasa cintaku yang buta.

“Pak Baskoro,” suaraku tenang, sedingin es, “saya ingin Anda mengubah draf perjanjian tersebut. Saya tidak ingin membatalkannya. Justru, saya ingin Anda memastikan bahwa pasal tentang pembagian saham itu tetap ada, namun dengan satu tambahan kecil yang fatal: hanya akan berlaku jika pernikahan berlangsung lebih dari 365 hari tanpa ada bukti kecurangan dari pihak manapun.

Aku tersenyum. Rafael tidak akan pernah sabar menunggu setahun untuk membunuhku. Dia adalah serigala yang lapar; dia ingin hasil instan.

Selanjutnya, aku memanggil seseorang dari tim IT perusahaanku yang paling setia. Aku memintanya meretas sistem keamanan kondominium kami dan menyalin seluruh rekaman CCTV selama sebulan terakhir ke server awan (cloud) yang terenkripsi.

Sandiwara di Altar

Pagi harinya, pukul 08:00 tepat, aku tampil sempurna. Riasan wajahku menutupi mata yang tidak tidur, dan gaun pengantinku tampak seperti baju zirah yang indah. Diana, si pengkhianat, memegang gaunku dengan senyum palsu yang memuakkan.

“Kamu terlihat cantik sekali, Sam,” bisiknya. “Aku sangat bahagia untukmu.”

Aku menoleh, menatap matanya dalam-dalam. “Terima kasih, Diana. Aku tidak mungkin sampai di titik ini tanpamu.”

Di altar, Rafael menungguku dengan tatapan penuh kasih yang sekarang kutahu adalah topeng belaka. Dia memegang tanganku. Tangannya hangat, tapi di mataku, itu hanyalah tangan seorang algojo yang sedang mengukur leher korbannya. Aku tidak menarik tanganku. Aku justru meremasnya dengan erat, memberi kesan bahwa aku sangat membutuhkan perlindungannya.

Upacara berlangsung khidmat. Saat pendeta bertanya apakah ada yang keberatan, aku melihat ke arah pintu gereja. Tidak ada. Mereka tidak tahu bahwa dalam saku gaunku, sebuah alat perekam kecil tersembunyi, siap menangkap setiap detik momen berharga ini.

Resepsi Berdarah

Resepsi diadakan di ballroom hotel termewah. Ratusan tamu penting hadir. Di tengah-tengah acara, saat Rafael sedang sibuk menyapa para investor, aku mendekati mikrofon.

“Selamat malam, semuanya,” suaraku menggema di seluruh ruangan. “Malam ini bukan hanya perayaan pernikahan saya. Malam ini adalah perayaan… kebenaran.”

Rafael mendekat, mencoba merangkul pinggangku dengan bisikan peringatan, “Apa yang kamu lakukan, Sayang? Kembali ke meja kita.”

Aku menepis tangannya, tidak kasar, namun sangat tegas. Aku memberi kode kepada operator audio visual. Layar besar di belakang panggung menyala. Bukan foto-foto pre-wedding yang manis, melainkan video dari ruang kerja Rafael semalam.

Suara percakapan mereka terdengar jernih ke seluruh penjuru ruangan. “…dia akan mengalami kecelakaan tragis… semuanya akan menjadi milik kita.”

Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Wajah Rafael berubah pucat pasi, seperti mayat hidup. Diana menjerit kecil dan mencoba melarikan diri, tetapi pintu-pintu ballroom telah dikunci oleh tim keamananku.

Twist yang Tak Terduga

Rafael, dalam kepanikan luar biasa, mencoba melakukan langkah terakhirnya. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan pistol kecil, dan menodongkannya tepat ke arahku di depan ratusan saksi.

“Hentikan semua ini, Samantha! Atau aku akan mengakhiri hidupmu sekarang juga!” teriaknya histeris.

Aku tidak bergeming. Aku tertawa kecil. “Rafael, apakah kamu pikir aku akan sebodoh itu? Kamu lupa satu hal.”

Tiba-tiba, lampu ruangan meredup dan berubah menjadi lampu strobo polisi. Pintu utama didobrak bukan oleh tamu, melainkan oleh tim kepolisian yang sudah kami siapkan sejak tadi malam. Namun, bukan itu kejutan sebenarnya.

Saat Rafael hendak menembak, dia menarik pelatuknya—tetapi tidak ada peluru yang keluar. Dia menatap pistolnya dengan bingung.

Aku melangkah maju, mengambil pistol itu dari tangannya yang gemetar. “Kamu mencuri pistol ini dari koleksi ayahku minggu lalu, kan? Aku tahu. Aku sudah mengganti semua pelurumu dengan peluru hampa (blank bullets) sejak pagi tadi.”

Rafael terduduk lemas di lantai. Namun, saat polisi hendak memborgolnya, Diana tiba-tiba berteriak dengan suara yang pecah.

“Rafael, kamu bilang kamu hanya mencintaiku! Kamu bilang Samantha adalah target!”

Rafael menatap Diana dengan kebencian yang mendalam. “Aku tidak pernah mencintaimu, bodoh! Kamu hanyalah alat untuk memanipulasi harta kekayaannya karena kamu adalah orang kepercayaannya!”

Akhir yang Memilukan

Pengakuan itu semakin memperburuk keadaan mereka. Mereka berdua dibawa pergi dengan tangan terborgol, diiringi makian para tamu yang merasa dikhianati.

Namun, di sini twist sejatinya dimulai.

Aku berdiri di panggung sendirian, menatap kerumunan yang masih ternganga. Aku meraih mikrofon sekali lagi. “Kalian mungkin berpikir saya adalah korban yang berhasil menyelamatkan diri. Tapi ketahuilah, selama dua tahun terakhir, saya sudah tahu Rafael berselingkuh. Saya membiarkannya. Saya membiarkan dia merasa menang. Saya membiarkan dia menyusun rencana pembunuhan itu agar dia terjerat pasal pembunuhan berencana, bukan sekadar penipuan.”

Aku berhenti sejenak, memandang foto mendiang nenekku yang tertempel di buket bunga.

“Pernikahan ini sah secara hukum karena dokumen yang mereka tandatangani di menit-menit terakhir sebelum masuk gereja sebenarnya adalah surat penyerahan seluruh aset pribadi Rafael kepada yayasan amal saya. Mereka tidak hanya kehilangan kebebasan; mereka kehilangan segalanya—bahkan martabat mereka sendiri.”

Malam itu, aku tidak pulang ke kondominium. Aku pulang ke rumah nenekku, sendirian, dengan segelas wine mahal di tangan. Aku menang karena aku telah membuang sampah dalam hidupku dengan cara yang paling bersih dan efisien.

Namun, saat aku meletakkan ponselku, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pesannya hanya satu kalimat: “Permainan yang bagus, Samantha. Tapi kamu lupa bahwa bukan hanya Rafael yang mengincar sahammu. Masih ada orang ketiga yang membuat Rafael melakukan semua ini atas perintahnya.”

Jantungku berhenti berdetak untuk kedua kalinya dalam 24 jam. Aku menoleh ke arah balkon, dan di sana, di balik tirai yang tertiup angin malam, sesosok bayangan berdiri diam, menatapku dengan senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada milik Rafael.

Permainan belum berakhir. Sang dalang yang sebenarnya baru saja muncul ke permukaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang