Saya meletakkan cangkir kopi saya di atas kap mobil sport saya yang terparkir tepat di luar gerbang. Dengan gerakan santai, saya menarik napas panjang, menikmati udara pagi yang seolah berubah menjadi aroma kemenangan.
“Donya Beatrice,” sapa saya dengan nada tenang, nyaris seperti berbisik, namun cukup tajam untuk membelah keributan truk-truk itu. “Ibu tampak sangat bersemangat. Sangat disayangkan, semangat itu tidak dibarengi dengan ketelitian membaca kontrak.”
Beatrice tertawa sinis, suara tawanya terdengar sumbang di telinga para tetangga yang mulai berkerumun. “Kontrak? Aku sudah membacanya! Mansion ini, beserta seluruh isinya, milik Marcus sekarang. Sekarang, buka gerbangnya sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu keluar!”
Tepat saat itu, sebuah sedan hitam mewah berhenti di belakang saya. Pengacara saya, Pak Aris, melangkah keluar dengan setumpuk dokumen dalam map biru tua. Dia tidak menatap Beatrice; dia menatap jam tangannya, lalu menatap saya dengan anggukan kecil.

“Selamat pagi, Nyonya,” ucap Pak Aris formal. Ia mengeluarkan selembar kertas dari map tersebut. “Sesuai klausul 14-B dalam perjanjian penyelesaian properti yang ditandatangani oleh Tuan Marcus dua jam yang lalu, tertulis bahwa ‘seluruh properti, bangunan, dan fasilitas di atas tanah tersebut telah diserahkan dalam kondisi kosong dan tanpa instalasi sistem pendukung kehidupan atau operasional’.”
Beatrice mengerutkan kening, bingung. “Apa maksudmu? Apa yang kau bicarakan, dasar pengacara sialan?”
Saya melangkah maju, mendekati jeruji besi gerbang. “Artinya sederhana, Beatrice. Rumah itu milikmu sekarang. Bangunannya, temboknya, lantainya. Semuanya milikmu. Tapi, mansion itu adalah rumah pintar (smart home) pertama yang menggunakan teknologi prototipe perusahaan saya. Dan tahukah Ibu? Seluruh sistem operasionalnya—listrik, air, pipa, sistem pendingin, hingga kabel-kabel yang tertanam di balik dinding—adalah milik intelektual perusahaan saya.”
Wajah Beatrice mulai pucat, namun matanya masih menantang. “Kau tidak bisa begitu! Ini rumah!”
“Oh, tentu bisa,” potong saya dengan senyum yang lebih manis. “Pagi tadi, sebelum saya pergi, saya telah memerintahkan tim teknis saya untuk melakukan ‘pemeliharaan’. Mereka telah mencabut seluruh unit server, kabel utama, trafo, dan bahkan sistem filtrasi air yang tertanam di bawah tanah mansion itu. Jika Ibu masuk sekarang, yang akan Ibu temukan hanyalah cangkang beton yang gelap, lembap, tanpa listrik, tanpa air bersih, dan tanpa akses komunikasi.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti jalan itu. Bahkan para tetangga yang tadinya bergosip kini terdiam, menatap ngeri ke arah mansion megah yang tampak megah namun, secara teknis, sudah mati.
Tiba-tiba, suara pintu mobil lain berdecit. Marcus keluar dengan wajah merah padam. Dia baru saja tiba dari kantor, mungkin baru sadar bahwa semua akses rekening perusahaan yang selama ini ia gunakan telah diblokir total.
“Valeria! Apa yang kau lakukan?!” Marcus berteriak, suaranya pecah karena marah dan panik. “Aku tidak bisa mengakses akun bank! Kartu kreditku ditolak di pompa bensin tadi!”
“Tentu saja,” jawab saya santai. “Itu bukan uangmu, Marcus. Itu uang perusahaan saya. Selama tujuh tahun, kau hanya seorang ‘pajangan’ yang saya biayai. Saat saya mengajukan pembatalan nikah, saya sekaligus memutus akses ‘tunjangan hidup’ untuk parasit.”
Beatrice mulai berteriak histeris, menunjuk ke arah Pak Aris. “Ini penipuan! Aku akan menuntutmu!”
Pak Aris tersenyum lebar, menyerahkan dokumen lain. “Silakan, Nyonya. Tapi mungkin Anda perlu tahu bahwa ada satu lagi kejutan kecil. Mansion itu, karena desainnya yang sangat tidak konvensional dan ketergantungan penuh pada sistem teknologi yang telah saya cabut, kini dinyatakan tidak layak huni oleh dinas tata kota. Berdasarkan hukum properti, jika sebuah rumah tidak memenuhi standar kelayakan, pemiliknya wajib melakukan renovasi total dalam waktu 24 jam atau mansion itu akan disita oleh negara sebagai objek pajak terbengkalai.”
“Renovasi?” Marcus terbelalak. “Biayanya akan mencapai jutaan peso! Kami tidak punya uang!”
“Itulah masalahnya,” kata saya, sambil berbalik dan masuk ke dalam mobil. Saya membuka kaca jendela. “Kalian sangat ingin memiliki rumah itu, bukan? Selamat menikmati cangkang beton kalian. Saya harap kalian bisa tidur dengan nyaman di sana malam ini, tanpa listrik, tanpa air, dan dengan ancaman penyitaan pemerintah besok pagi.”
Saat saya melajukan mobil, saya bisa mendengar jeritan frustrasi Beatrice dan umpatan kasar Marcus. Mereka terjebak. Mereka memiliki mansion bernilai 150 juta peso yang tidak berguna, dan hutang yang akan menumpuk untuk merenovasi rumah yang bahkan tidak akan pernah bisa mereka tempati.
Namun, drama itu belum usai.
Satu jam kemudian, ketika saya sedang menikmati makan siang di restoran mewah, ponsel saya berdering. Itu pesan dari detektif swasta yang saya sewa.
“Valeria, ada sesuatu yang harus kau lihat. Marcus dan Beatrice bukan sekadar tamak. Mereka berencana menjual aset mansion itu kepada sindikat pencucian uang yang sudah lama diincar polisi. Mereka berencana menggunakan uang ‘hasil penjualan’ itu untuk kabur ke luar negeri malam ini.”
Saya tersenyum dingin. Saya sudah memprediksinya.
Saya mengirimkan satu pesan singkat kepada pihak kepolisian, melampirkan seluruh rekaman percakapan Marcus dan Beatrice yang saya rekam selama setahun terakhir—tentang bagaimana mereka merencanakan penggelapan pajak dan kolusi dengan sindikat tersebut.
Keesokan sorenya, saat matahari mulai terbenam, saya berdiri dari kejauhan melihat konvoi mobil polisi yang mengepung mansion megah itu. Beatrice diseret keluar dengan tangan terborgol, berteriak-teriak bahwa dia tidak bersalah, sementara Marcus tertunduk lesu saat polisi menemukan tas berisi paspor palsu dan uang tunai dalam jumlah besar di dalam truk pindahan yang mereka bawa.
Bukan karena perabot, tapi karena niat jahat mereka sendiri, mereka menghancurkan hidup mereka.
Saya tidak kehilangan mansion. Saya justru mendapatkan kembali kebebasan saya, dan memberikan pelajaran yang akan diingat oleh seluruh kota: Jangan pernah meremehkan seseorang yang selama ini membiayai kemewahanmu.
Saya mematikan ponsel, memesan segelas sampanye, dan bersulang untuk masa depan yang baru.
Di balik dinding-dinding mansion yang kini menjadi barang bukti kejahatan itu, tidak ada lagi jejak-jejak pengkhianatan. Semuanya sudah bersih. Saya menang, bukan dengan kemarahan, tapi dengan presisi yang dingin. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, saya bisa bernapas dengan lega.
Malam itu, di bawah langit yang cerah, saya menyadari satu hal: mereka tidak pernah benar-benar menginginkan rumah itu. Mereka menginginkan kehidupan saya. Tapi sayangnya, mereka tidak pernah tahu cara mengoperasikannya.
