Bertemu Mantan di Supermarket, Dia Mengira Aku Punya Pria Baru—Lalu Duduk di Sampingku Sepanjang Pesta

Ruangan di depanku mulai berputar.

Lampu gantung di langit-langit aula seolah bergerak ke kanan dan ke kiri, sementara suara orang-orang di sekelilingku terdengar semakin jauh. Aku mencoba meletakkan gelas di meja, tetapi tanganku malah menyenggol sendok hingga jatuh ke lantai.

Galang langsung menoleh.

“Kamu pusing?”

Aku memicingkan mata kepadanya.

“Gara-gara siapa?”

“Aku cuma menuangkan. Yang minum sampai habis terus siapa?”

“Kalau gelasku kosong, jangan diisi.”

“Kalau nggak mau minum, jangan diminum.”

Aku menatapnya beberapa detik, berusaha menemukan jawaban yang cukup tajam untuk membalas. Sayangnya, otakku sedang bekerja setengah kecepatan.

Akhirnya aku hanya berkata, “Aku benci kamu.”

Galang terdiam.

Entah kenapa, ekspresi mengejek di wajahnya menghilang.

Melati yang duduk di sebelah kirinya menoleh kepada kami.

“Tari nggak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja,” jawabku cepat.

Namun ketika mencoba berdiri, kedua kakiku langsung kehilangan keseimbangan.

Galang menangkap lenganku sebelum aku jatuh mengenai meja.

Ayah langsung bangkit dari kursinya.

“Tari?”

“Dia cuma pusing, Om,” kata Galang. “Biar saya antar ke ruang istirahat.”

“Aku bisa sendiri.”

Aku mencoba melepaskan tangannya.

Galang sama sekali tidak menggubris.

“Ayo.”

“Aku bilang aku bisa sendiri.”

“Kalau bisa sendiri, dari tadi kamu nggak hampir masuk ke piring sup.”

Beberapa sepupu Galang tertawa.

Aku ingin membalas, tapi Galang sudah menarikku keluar dari aula.

Begitu pintu tertutup, aku langsung menghentakkan tangannya.

“Lepasin.”

Dia melepaskan genggamannya.

Aku berjalan beberapa langkah menuju sofa di ujung lorong, lalu menjatuhkan diri ke sana.

Galang berdiri di depanku.

“Kamu belum berubah.”

Aku mendongak.

“Apanya?”

“Kalau kesal, selalu menyiksa diri sendiri.”

Aku tertawa kecil.

“Lucu. Yang menuangkan minumanku terus siapa?”

“Aku kira kamu akan berhenti setelah gelas kedua.”

“Kenapa kamu peduli?”

Galang tidak langsung menjawab.

Lorong hotel itu sepi. Dari balik pintu aula hanya terdengar musik dan suara percakapan samar.

Aku menyandarkan kepala ke sofa.

“Balik saja ke dalam. Ada Melati.”

“Apa hubungannya?”

“Dia datang khusus buat kamu.”

“Kamu tahu dari mana?”

Aku menutup mata.

“Semua orang tahu.”

Galang tiba-tiba duduk di sebelahku.

Terlalu dekat.

Aroma parfumnya langsung mengingatkanku pada sesuatu yang berusaha kulupakan selama empat tahun.

Malam terakhir sebelum dia pergi.

Hujan deras.

Kami berdiri di bawah atap kecil di belakang rumah.

Dan aku mengatakan sesuatu yang menghancurkan semuanya.

Aku membuka mata lagi.

“Jangan duduk dekat-dekat.”

Galang malah bersandar santai.

“Katanya kamu punya janji.”

Aku menelan ludah.

“Memang.”

“Dengan siapa?”

“Bukan urusanmu.”

“Pria?”

Aku menoleh.

Tatapannya lurus ke depan, tetapi rahangnya terlihat mengeras.

Barulah aku mengerti.

Senyumnya di mobil tadi menghilang saat aku mengatakan punya janji.

Di supermarket dia juga langsung bertanya apakah aku sudah punya orang baru.

Aku mendengus.

“Kenapa? Kamu cemburu?”

Galang akhirnya menatapku.

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Bagus.”

Aku mengangguk berkali-kali.

“Karena aku memang sedang menemui seseorang.”

Kali ini dia benar-benar diam.

Aku sengaja melanjutkan.

“Dia baik. Dewasa. Kerjanya juga bagus.”

“Namanya?”

“Rahasia.”

“Sudah berapa lama?”

Aku tersenyum.

“Kenapa jadi interogasi?”

Galang berdiri.

Wajahnya berubah dingin.

“Kalau begitu telepon dia.”

“Apa?”

“Suruh dia jemput kamu.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

“Kamu bilang punya pria baru. Masa pulang dalam keadaan begini masih berharap mantan yang antar?”

Nada bicaranya membuat dadaku ikut panas.

“Siapa juga yang minta kamu antar?”

“Bagus.”

Dia berbalik.

Untuk beberapa detik aku hanya melihat punggungnya semakin jauh.

Entah karena alkohol atau karena kebodohanku sendiri, tiba-tiba mulutku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

“Galang.”

Dia berhenti.

Aku seharusnya diam.

Namun aku malah berkata, “Melati cantik.”

Dia menoleh setengah badan.

“Terus?”

“Cocok sama kamu.”

Wajahnya mengeras.

“Empat tahun nggak ketemu, ternyata kamu masih suka mengatur hidup orang lain.”

Aku langsung terdiam.

Kalimat itu menembus bagian paling sensitif dalam diriku.

Galang pergi tanpa menunggu jawaban.

Aku duduk sendirian di lorong.

Pusingku perlahan berkurang, tetapi rasa sesak di dada justru semakin berat.

Beberapa menit kemudian Maya menelepon.

Aku baru ingat bahwa “janji” yang sejak tadi kubicarakan sebenarnya adalah bertemu dengannya untuk menemani konsultasi di sebuah klinik kecantikan.

Tidak ada pria baru.

Tidak pernah ada.

Aku menolak panggilannya dan mengirim pesan singkat bahwa aku tidak bisa datang.

Saat kembali ke aula, kursi Galang kosong.

Melati sedang berbicara dengan Tante Mira.

Aku diam-diam merasa lega.

Aku duduk di samping Dito.

“Kak, habis dari mana?”

“Toilet.”

“Lama banget.”

“Perutku punya privasi.”

Dito mengangkat kedua tangan menyerah.

Acara berlanjut sampai hampir pukul sembilan malam.

Ketika keluarga mulai berpamitan, Ibu mendekatiku.

“Kamu pulang sama Galang saja.”

Aku hampir tersedak.

“Kenapa?”

“Ayah dan Ibu mau mampir ke rumah Tante Rini. Dito ikut. Mobil kita penuh.”

“Aku pesan taksi online.”

“Galang searah.”

Aku menatap sekeliling.

Lelaki itu ternyata sedang berdiri dekat pintu, berbicara dengan Melati.

Melati tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakannya.

Ada perasaan aneh di dalam dadaku.

Aku buru-buru memalingkan wajah.

“Nggak usah.”

Namun Tante Mira sudah ikut campur.

“Galang!”

Anaknya menoleh.

“Antar Tari pulang, ya.”

Galang menatapku beberapa detik.

“Bisa pesan mobil sendiri, kan?”

Aku langsung menjawab, “Bisa.”

Tante Mira memukul lengan anaknya.

“Jangan begitu. Rumah kalian sebelahan.”

Galang mengambil kunci mobilnya tanpa berkata apa-apa.

Sepanjang perjalanan pulang, kami diam.

Aku duduk di kursi penumpang depan sambil memandang keluar jendela.

Lampu Jakarta melintas seperti garis-garis panjang.

Ketika mobil berhenti di lampu merah, Galang tiba-tiba berkata, “Empat tahun lalu, kenapa?”

Aku membeku.

Itu adalah pertanyaan yang selama ini kutakuti.

“Apa?”

“Jangan pura-pura nggak mengerti.”

Aku menatap lurus ke depan.

Galang melanjutkan, “Kenapa kamu selingkuh?”

Tanganku mengepal di atas paha.

Empat tahun lalu, dua minggu sebelum Galang berangkat ke Australia, dia menemukan foto diriku bersama seorang laki-laki di sebuah kafe.

Foto itu memperlihatkan lelaki tersebut memelukku.

Aku tidak menyangkal apa pun.

Aku hanya mengatakan hubungan kami sebaiknya berakhir.

Galang pergi ke luar negeri dengan keyakinan bahwa aku memilih orang lain.

Dia tidak pernah tahu seluruh kebenarannya.

“Apa gunanya dibahas sekarang?”

“Aku cuma mau dengar langsung.”

“Kamu sudah tahu jawabannya.”

“Tidak.”

Lampu berubah hijau.

Mobil bergerak lagi.

Galang menggenggam setir lebih erat.

“Yang aku tahu hanya apa yang kamu ingin aku percaya.”

Aku merasa tenggorokanku mengering.

“Galang.”

“Siapa dia?”

Aku tidak menjawab.

“Pria di foto itu siapa?”

“Sudahlah.”

“Aku mencari tahu tentang dia.”

Jantungku serasa berhenti.

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

“Namanya Reza Mahardika.”

Aku langsung pucat.

Galang tertawa pendek tanpa humor.

“Lucu, kan? Empat tahun aku pikir dia pacar barumu.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Lalu beberapa bulan lalu aku tahu dia sudah menikah bahkan sebelum foto itu diambil.”

Aku menunduk.

Galang melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Lebih aneh lagi, ternyata dia bekerja di perusahaan ayahmu waktu itu.”

Aku menggigit bibir.

“Berhenti.”

“Kenapa?”

“Aku bilang berhenti.”

Galang tiba-tiba menepikan mobil.

Kami berhenti di jalan kecil beberapa ratus meter dari kompleks rumah.

Dia mematikan mesin.

“Sekarang jelaskan.”

Aku menatapnya.

Empat tahun kemarahan terlihat jelas di matanya.

Namun di baliknya ada sesuatu yang lebih menyakitkan.

Kebingungan.

“Aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena sudah selesai.”

“Buat kamu mungkin.”

Suara Galang meninggi untuk pertama kalinya.

“Buat aku nggak pernah selesai.”

Aku terdiam.

Dia menarik napas dalam-dalam.

“Aku pergi ke luar negeri sambil berpikir orang yang paling aku percaya ternyata bisa menggantikan aku dua minggu sebelum keberangkatanku. Kamu tahu rasanya?”

Mataku mulai panas.

“Tahu.”

“Nggak. Kamu nggak tahu.”

“Aku tahu!”

Suaraku pecah.

Galang terdiam.

Aku menunduk, berusaha menahan air mata.

“Reza bukan pacarku.”

Untuk beberapa detik hanya suara kendaraan di kejauhan yang terdengar.

Galang menatapku tanpa berkedip.

“Lalu?”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Dia orang yang membantu ayahku waktu perusahaan hampir bangkrut.”

Galang masih diam.

“Ayah punya utang besar. Kalau saat itu gagal bayar, rumah kami bisa disita. Ayah juga bisa terkena masalah hukum karena salah satu rekannya membawa kabur uang perusahaan.”

“Apa hubungannya sama kamu?”

“Reza bilang dia bisa membantu.”

Galang mengerutkan kening.

Aku tertawa pahit.

“Sebagai gantinya, dia ingin aku menjauh darimu.”

“Apa?”

“Dia tahu keluarga kalian mau membantu ayahku. Tapi ayah menolak karena malu. Reza sengaja membuat seolah dia tertarik padaku supaya kamu marah.”

Galang menggeleng.

“Itu nggak masuk akal.”

“Memang nggak.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tapi waktu itu aku berumur dua puluh tahun dan takut keluargaku kehilangan semuanya.”

“Kenapa kamu nggak cerita?”

“Karena Reza mengancam akan menarik bantuannya. Dan aku tahu kalau aku cerita, kamu akan membatalkan rencana kuliahmu dan tinggal.”

Galang membeku.

Itulah bagian yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun.

“Aku tahu kamu akan memilih aku,” bisikku. “Makanya aku membuatmu membenci aku.”

Wajah Galang perlahan berubah.

Semua kemarahan di sana seperti runtuh sekaligus.

“Aku menunggu sampai kamu benar-benar pergi. Setelah itu aku memutus semua hubungan dengan Reza.”

Galang menatapku lama.

“Foto itu?”

“Dia sengaja memelukku. Aku tahu temanmu ada di kafe.”

“Kamu sengaja?”

Aku mengangguk.

Galang menutup mata.

Tangannya mengepal di atas setir.

“Empat tahun, Tari.”

“Aku tahu.”

“Empat tahun.”

“Aku tahu.”

Dia membuka mata.

“Dan kamu pikir aku bakal berterima kasih karena kamu memutuskan semuanya sendirian?”

Aku menangis tanpa suara.

“Nggak.”

“Seharusnya kamu percaya sama aku.”

“Aku takut.”

“Aku juga takut!”

Aku terkejut.

Galang memukul setir sekali.

“Aku umur dua puluh satu tahun waktu itu. Aku pergi sendirian ke negara lain. Aku juga takut. Tapi setidaknya aku pikir ada kamu yang menunggu.”

Aku tidak punya jawaban.

Kami duduk dalam diam cukup lama.

Akhirnya Galang menyalakan mesin lagi.

Dia mengantarku sampai depan rumah.

Sebelum turun, aku berkata pelan, “Maaf.”

Galang tidak menatapku.

“Aku belum bisa maafin kamu.”

Aku mengangguk.

“Aku ngerti.”

Tanganku baru menyentuh gagang pintu ketika dia berkata, “Tapi aku juga belum pernah punya orang lain.”

Aku berhenti.

Perlahan aku menoleh.

Galang masih menatap lurus ke depan.

“Empat tahun?” tanyaku.

“Empat tahun.”

“Melati?”

“Sepupuku.”

Aku terpaku.

“Apa?”

“Sepupu jauh dari pihak Ibu. Keluarganya sengaja memperkenalkan seolah kami belum dekat karena mereka ingin menjodohkan dia dengan Dito.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Galang akhirnya menoleh.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya kembali.

“Kenapa? Cemburu?”

Aku langsung membuka pintu.

“Nggak!”

Aku turun dan membanting pintu sedikit terlalu keras.

Galang menurunkan kaca jendela.

“Tari.”

Aku menoleh.

“Besok jam tujuh malam, jangan punya janji.”

“Kenapa?”

“Aku mau menagih empat tahun yang kamu buang.”

Aku memelototinya.

“Siapa bilang aku mau?”

Galang mengangkat bahu.

“Kalau nggak mau, bilang sekarang.”

Aku membuka mulut.

Anehnya, tidak ada suara yang keluar.

Dia tertawa kecil lalu menjalankan mobilnya.

Aku berdiri di depan pagar sampai lampu belakang mobilnya menghilang di ujung jalan.

Ketika masuk kamar, ponselku berbunyi.

Pesan dari Maya.

Aku membuka pesan itu dan langsung membeku.

Maya mengirim sebuah foto yang diambil sore tadi dari depan hotel.

Dalam foto itu, Galang sedang berdiri bersama seorang pria yang sangat kukenal.

Reza.

Di bawah foto, Maya menulis satu kalimat.

Tari, aku nggak tahu apakah kamu sudah tahu, tapi pria yang dulu ada di fotomu datang ke hotel hari ini. Aku dengar dia bilang ke Galang bahwa semua yang kamu ceritakan tentang empat tahun lalu bukan kebenaran sepenuhnya.

Tanganku mulai dingin.

Belum sempat aku menelepon Maya, sebuah pesan baru masuk.

Bukan dari Maya.

Dari Galang.

Besok kita bukan cuma bicara soal kita.

Aku menatap layar tanpa bernapas.

Pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.

Reza bilang ayahmu tidak pernah berutang kepadanya.

Dan dia punya bukti bahwa seseorang dari keluargaku membayarnya untuk memisahkan kita.

Saat itu aku akhirnya mengerti.

Empat tahun lalu, aku memang berbohong kepada Galang.

Namun ternyata, selama ini seseorang juga telah berbohong kepadaku.

Dan orang itu kemungkinan besar masih tinggal hanya beberapa meter dari rumahku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang