Lampu-lampu gedung di sepanjang Jalan Sudirman masih menyala terang ketika Reno Kusuma melangkah keluar dari lobi hotel bintang lima itu dengan langkah santai.
Aroma sampanye dan parfum Sisca masih melekat di kemejanya.
Delapan bulan terakhir, hotel itu menjadi tempat Reno merasa seperti seorang pria yang memiliki dua kehidupan sekaligus. Di satu sisi, ia adalah suami Laras, seorang perempuan yang sedang mengandung anak pertama mereka. Di sisi lain, ia adalah kekasih rahasia Sisca, perempuan muda yang membuatnya merasa kembali berkuasa, diinginkan, dan bebas.
Reno menyukai perasaan itu.
Pada usia tiga puluh sembilan tahun, ia memiliki hampir semua yang dulu hanya berani ia bayangkan.
Perusahaan konstruksi dengan proyek bernilai ratusan miliar rupiah.
Apartemen mewah di Kuningan.
Mobil mahal.
Relasi dengan pejabat, pengusaha, dan investor.
Namanya beberapa kali muncul di majalah bisnis.
Dan perlahan, tanpa pernah ia sadari, Reno mulai percaya bahwa hukum kehidupan tidak berlaku untuk orang seperti dirinya.
Di dalam lift menuju area parkir, ia membuka ponsel.
Empat belas panggilan tak terjawab dari Laras.
Reno mendecakkan lidah.
Ia tidak membuka satu pun pesan istrinya.
“Paling curiga lagi,” gumamnya.
Ia sudah menyiapkan cerita.
Makan malam investor.
Negosiasi molor.
Baterai habis.
Besok pagi ia akan membelikan Laras bunga, mengusap perutnya, lalu berkata bahwa semua kecurigaannya hanya dipengaruhi hormon kehamilan.
Selama ini cara itu selalu berhasil.
Namun malam itu, ketika pintu apartemen terbuka, Reno langsung tahu ada sesuatu yang berbeda.
Tidak ada televisi menyala.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada aroma minyak kayu putih yang belakangan sering dipakai Laras karena mudah mual.
“Laras?”
Sunyi.
Di atas meja marmer dekat dapur terdapat sepasang anting, sebuah amplop putih, dan cincin pernikahan Laras.
Reno berhenti melangkah.
Dadanya tiba-tiba terasa sempit.
Ia berlari menuju kamar.
Separuh lemari kosong.
Baju hamil Laras tidak ada.
Kotak vitamin hilang.
Foto USG yang biasanya diletakkan di samping tempat tidur juga lenyap.
Reno kembali ke ruang tengah dan membuka surat dengan jari gemetar.
Semakin jauh ia membaca, semakin pucat wajahnya.
Laras tahu tentang Sisca.
Tetapi itu bukan bagian yang paling mengerikan.
Laras juga tahu tentang rekening rahasia, faktur palsu, pembayaran ilegal, pembelian tanah menggunakan nama orang lain, dan transaksi perusahaan yang bahkan tidak diketahui sebagian direksinya.
Reno membaca kalimat terakhir berkali-kali.
Aku membawa semua buktinya.
Ia langsung berlari ke ruang kerja.
Kompartemen tersembunyi di bawah meja telah kosong.
Hard drive itu hilang.
Belum sempat ia berpikir, telepon masuk dari nomor tak dikenal.
“Selamat malam, Pak Reno Kusuma.”
“Siapa ini?”
“Dewan komisaris menunggu Anda. Rapat darurat dimulai tiga puluh menit lagi. Sebaiknya Anda datang bersama pengacara.”
Sambungan terputus.
Reno berdiri mematung.
Beberapa kilometer dari sana, Laras duduk di kursi belakang sebuah mobil hitam.
Tas kecil berisi hard drive berada di pelukannya.
Pria yang mengemudi memperkenalkan dirinya kepada Laras tiga hari sebelumnya dengan nama Armand Prasetya.
Namun Laras tahu itu bukan nama sebenarnya.
“Semua dokumen sudah diambil?” tanya pria itu.
“Sudah.”
“Suratnya?”
“Kutinggalkan di meja.”
Pria itu mengangguk.
Lampu jalan berkelebat di wajahnya.
Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Cara bicaranya tenang, tetapi ketenangan itu justru membuat Laras sulit menebak apa yang ia pikirkan.
Tiga hari lalu, pria tersebut menunggu Laras di sebuah kafe dekat rumah sakit tempat Laras memeriksakan kehamilan.
Awalnya Laras mengira ia wartawan.
Pria itu meletakkan beberapa foto di atas meja.
Foto Reno bersama Sisca.
Foto Reno menerima sebuah tas dari seorang pejabat proyek.
Salinan transfer bank.
Dokumen perusahaan.
Lalu sebuah foto lama yang membuat Laras semakin bingung.
Dalam foto itu, Reno yang masih sangat muda berdiri bersama seorang pria lain di depan kantor konstruksi kecil.
Pria di sebelah Reno adalah ayah Armand.
“Apa hubungan semua ini dengan saya?” tanya Laras waktu itu.
Armand menjawab pelan.
“Karena suami Anda bukan hanya berselingkuh.”
Malam ini, setelah meninggalkan apartemen, Laras akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Siapa sebenarnya Anda?”
Armand tidak segera menjawab.
Mobil memasuki jalan yang lebih sepi.
“Ayah saya bernama Hendra Prasetya,” katanya akhirnya.
Laras menunggu.
“Dua belas tahun lalu dia memiliki perusahaan konstruksi kecil bersama Reno.”
Laras mengerutkan kening.
Reno tidak pernah menceritakan hal itu.
“Reno bilang dia membangun Kusuma Infrastruktur dari nol.”
Armand tersenyum hambar.
“Itulah versi yang dia jual kepada semua orang.”
Hendra Prasetya sebenarnya adalah orang yang mendapatkan kontrak besar pertama perusahaan mereka. Ia ahli struktur, memiliki jaringan, dan dipercaya banyak klien.

Reno mengurus keuangan.
Ketika perusahaan mulai berkembang, Hendra menemukan kejanggalan.
Ada penggelembungan anggaran.
Vendor fiktif.
Pembayaran ke rekening pejabat.
Hendra ingin menghentikannya.
Seminggu sebelum ia dijadwalkan bertemu penyidik, mobilnya mengalami kecelakaan di Tol Cipularang.
Polisi menyatakan rem blong.
Hendra meninggal di tempat.
“Dan Anda menganggap Reno membunuh ayah Anda?” tanya Laras dengan suara pelan.
“Saya menganggap kecelakaan itu terlalu menguntungkan bagi Reno.”
“Punya bukti?”
“Dulu tidak.”
Armand melihat ke kaca spion.
“Sekarang mungkin ada.”
Laras menatap tas di pangkuannya.
Hard drive milik Reno.
Tiba-tiba benda itu terasa jauh lebih berat.
Sementara itu, Reno tiba di kantor pusat Kusuma Infrastruktur.
Ruang rapat lantai dua puluh sudah dipenuhi komisaris.
Direktur keuangan, Bagas, duduk dengan wajah tegang.
Ketua komisaris, Surya Mahendra, tidak mempersilakan Reno duduk.
Di layar besar terpampang salinan transaksi.
“Apa ini?” tanya Reno.
Surya melempar sebuah map ke meja.
“Seharusnya kami yang bertanya.”
Reno membuka map.
Ada invoice proyek tol.
Pembayaran kepada PT Langit Timur.
Perusahaan itu tidak memiliki kantor, karyawan, bahkan aktivitas bisnis nyata.
Namun selama dua tahun terakhir menerima dana lebih dari dua puluh tujuh miliar rupiah dari Kusuma Infrastruktur.
Reno menatap Bagas.
“Dari mana kalian dapat ini?”
Bagas tidak menjawab.
Surya berkata, “Seseorang mengirim salinannya kepada seluruh komisaris sore tadi.”
“Seseorang siapa?”
“Kami tidak tahu.”
Reno tertawa pendek.
“Jadi kalian mengadakan rapat hanya karena email anonim?”
Surya menatapnya dingin.
“Email itu juga ditembuskan ke auditor independen.”
Reno terdiam.
“Dan ke dua lembaga penegak hukum.”
Untuk pertama kalinya malam itu, lutut Reno terasa lemas.
Ia mencoba menghubungi Laras.
Tidak aktif.
Ia menghubungi Sisca.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua ditolak.
Panggilan ketiga baru diangkat.
“Sisca, kamu di mana?”
“Reno, jangan telepon aku lagi.”
Reno tercengang.
“Apa?”
“Aku tidak mau terlibat masalahmu.”
“Kamu bicara apa?”
Suara Sisca terdengar gemetar.
“Dua orang datang ke apartemenku. Mereka tanya soal transfer uang.”
Reno membeku.
Sisca selama ini memang menerima uang darinya.
Namun beberapa transfer dilakukan melalui rekening perusahaan dengan kedok biaya konsultasi.
“Itu bisa dijelaskan.”
“Aku tidak peduli.”
“Sisca, dengarkan aku.”
“Aku sudah menyerahkan ponsel lama yang kamu berikan.”
Reno hampir menjatuhkan telepon.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku menyelamatkan diriku.”
Sambungan terputus.
Saat itulah Reno memahami sesuatu yang sangat menyakitkan.
Orang yang selama delapan bulan membuatnya mempertaruhkan rumah tangga, bukan orang yang akan berdiri di sisinya ketika semuanya runtuh.
Malam itu, dewan komisaris memutuskan menonaktifkan Reno sementara dari jabatan direktur utama.
Rekening perusahaan dibekukan untuk audit internal.
Pagi berikutnya, berita mulai menyebar.
Direktur Utama Kusuma Infrastruktur Diduga Terlibat Transaksi Fiktif.
Saham perusahaan mitra turun.
Dua tender ditunda.
Bank meminta klarifikasi.
Investor Singapura membatalkan pertemuan.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, kehidupan yang dibangun Reno selama belasan tahun mulai runtuh lapis demi lapis.
Namun Reno tidak menyerah.
Ia yakin jika menemukan Laras, ia masih bisa memperbaiki semuanya.
Ia meminta orang kepercayaannya melacak kendaraan yang membawa Laras keluar dari Kuningan.
Hasilnya membawa Reno ke sebuah nama.
Armand Prasetya.
Ketika melihat nama keluarga itu, wajah Reno seketika berubah.
“Tidak mungkin.”
Kenangan yang telah bertahun-tahun ia kubur muncul kembali.
Hendra Prasetya.
Reno masih mengingat malam terakhir sebelum kecelakaan itu.
Hendra datang ke kantornya membawa dokumen.
“Aku akan menyerahkan ini,” katanya.
Reno mencoba membujuk.
Mereka bertengkar.
Namun ada sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Reno memang pernah menyuruh seseorang mengikuti Hendra.
Ia ingin tahu dengan siapa rekannya akan bertemu.
Tetapi Reno selalu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah memerintahkan pembunuhan.
Kecelakaan itu terjadi keesokan paginya.
Setelah Hendra meninggal, Reno membeli saham miliknya dari keluarga dengan harga murah karena perusahaan hampir bangkrut.
Lalu ia membangun kembali bisnis itu dan mengganti namanya.
Selama bertahun-tahun Reno menganggap masa lalu tersebut telah terkubur.
Ternyata tidak.
Dua hari kemudian, Reno berhasil menemukan tempat Laras menginap.
Sebuah rumah milik teman lama Laras di kawasan Kemang.
Ia menunggu di depan rumah sejak pagi.
Ketika Laras keluar bersama Armand, Reno langsung menghadang.
“Laras.”
Laras berhenti.
Armand berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Reno memandang istrinya.
Wajah Laras terlihat lelah. Namun sesuatu telah berubah.
Tidak ada lagi ketakutan di matanya.
“Pulang denganku,” kata Reno.
Laras hampir tersenyum.
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah kita.”
“Rumah itu berhenti jadi rumah waktu kamu membuatku merasa gila setiap kali aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya.”
Reno merendahkan suara.
“Aku salah soal Sisca.”
“Bukan cuma Sisca.”
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Rekening rahasia juga?”
Reno diam.
“Faktur palsu?”
Laras melanjutkan.
“Suap?”
“Jangan bicara di sini.”
“Kamu takut ada orang dengar?”
“Laras, pikirkan anak kita.”
Kalimat itu membuat wajah Laras berubah.
“Kamu ingin bicara soal anak kita?”
Ia menatap Reno lurus.
“Empat belas kali aku menelepon malam itu.”
Reno terdiam.
“Aku mengalami pendarahan ringan setelah pulang dari rumah sakit. Dokter bilang aku harus tenang. Aku takut. Aku telepon suamiku empat belas kali.”
Suara Laras pecah untuk pertama kalinya.
“Dan suamiku sedang di hotel bersama perempuan lain.”
Reno kehilangan kata-kata.
“Aku tidak tahu.”
“Karena kamu tidak pernah membuka pesanku.”
Laras mengusap air mata.
“Anak kita baik-baik saja. Tapi malam itu aku akhirnya sadar, kalau suatu hari aku benar-benar membutuhkanmu, mungkin kamu tidak akan ada.”
Reno menunduk.
Armand maju satu langkah.
“Sudah selesai?”
Reno menatapnya tajam.
“Kamu.”
Armand tidak bereaksi.
“Kamu yang meracuni pikiran istriku.”
Armand tertawa kecil.
“Saya hanya menunjukkan sesuatu yang selama ini Anda sembunyikan.”
“Kamu ingin balas dendam karena ayahmu?”
“Awalnya iya.”
Jawaban itu membuat Laras menoleh.
Armand melanjutkan.
“Selama bertahun-tahun saya mencari bukti bahwa Reno menyebabkan kematian ayah saya.”
“Dan?” tanya Laras.
“Saya menemukan sesuatu.”
Reno tampak tegang.
Armand mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
“Hard drive Reno berisi salinan email lama.”
Ia menyerahkan beberapa lembar kepada Laras.
Salah satunya merupakan percakapan antara Reno dan seorang pria bernama Darto.
Pesan terakhir Reno tertulis singkat.
Ikuti Hendra. Ambil dokumennya sebelum dia sampai tujuan. Jangan sampai dia bertemu penyidik.
Laras menatap Reno.
“Ini maksudnya apa?”
Reno segera berkata, “Aku tidak menyuruh siapa pun membunuhnya.”
Armand menatapnya tajam.
“Darto memotong selang rem mobil ayah saya.”
“Aku tidak tahu dia akan melakukan itu!”
“Namun setelah ayah saya mati, Anda membayar Darto tiga ratus juta rupiah.”
“Itu untuk tutup mulut soal dokumen.”
Armand mendekat.
“Apakah Anda dengar diri Anda sendiri?”
Reno terdiam.
Ia baru menyadari bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulutnya justru semakin menjerat dirinya.
Laras menatap suaminya seperti sedang melihat orang asing.
“Aku menikah dengan siapa selama ini?”
Reno mencoba meraih tangannya.
Laras mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Beberapa minggu kemudian, Reno resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam serangkaian kasus keuangan.
Penyelidikan kematian Hendra Prasetya juga dibuka kembali.
Kusuma Infrastruktur tidak langsung runtuh karena dewan komisaris mengambil alih operasional dan bekerja sama dengan auditor.
Namun Reno kehilangan kendali atas perusahaan yang selama ini menjadi simbol harga dirinya.
Sisca menghilang dari kehidupannya.
Sebagian teman bisnis berhenti menjawab telepon.
Orang-orang yang dulu tertawa paling keras setiap kali Reno membuat lelucon kini bahkan enggan terlihat makan satu meja dengannya.
Laras mengajukan gugatan cerai.
Beberapa bulan kemudian, sebelum proses persidangan pidana Reno dimulai, Laras melahirkan seorang bayi perempuan.
Ia menamainya Amara.
Armand tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan.
Setelah memberikan seluruh bukti yang ia kumpulkan, ia kembali ke Bandung dan melanjutkan pekerjaannya sebagai konsultan teknik.
Suatu sore, Laras menemuinya.
“Aku masih punya satu pertanyaan,” katanya.
Armand tersenyum.
“Apa?”
“Bagaimana kamu tahu hard drive itu disimpan di kompartemen meja?”
Armand terdiam sejenak.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan meja kerja yang sama.
Di sampingnya berdiri Hendra.
“Itu dulu meja ayah saya.”
Laras terpaku.
“Reno mengambilnya setelah ayah meninggal. Dia tidak tahu bahwa kompartemen rahasia di bawah laci itu dibuat sendiri oleh ayah saya.”
Armand tersenyum pahit.
“Ayah saya menyimpan dokumen penting di sana.”
Laras menatap foto tersebut.
Tiba-tiba semuanya terasa seperti lingkaran yang akhirnya tertutup.
Tempat yang dianggap Reno sebagai tempat paling aman untuk menyembunyikan rahasia ternyata adalah tempat yang diwarisinya dari orang yang pernah ia khianati.
Namun Armand belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
Ia menyerahkan sebuah surat tua.
Tulisan di atasnya adalah tulisan tangan Hendra.
Surat itu ditujukan kepada istrinya, tetapi tidak pernah sempat dikirim.
Di salah satu bagian tertulis:
Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan ajarkan Armand membalas dendam. Kebenaran mungkin terlambat, tetapi orang yang hidup dari kebohongan pada akhirnya akan membangun penjaranya sendiri.
Laras membaca kalimat itu dua kali.
Lalu ia menatap bayi kecil yang tertidur dalam gendongannya.
Berbulan-bulan ia mengira hidupnya hancur ketika menemukan perselingkuhan Reno.
Belakangan ia menyadari sesuatu.
Yang hancur malam itu bukan hidupnya.
Yang hancur hanyalah kebohongan yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai kehidupan.
Reno pernah percaya uang bisa membeli loyalitas, kekuasaan bisa menghapus kesalahan, dan kebohongan yang diulang cukup lama akan berubah menjadi kebenaran.
Namun pada akhirnya, bukan polisi, komisaris, atau rival bisnis yang pertama kali menjatuhkannya.
Semua bermula dari seorang istri yang berhenti meragukan dirinya sendiri.
Dan dari sebuah meja tua yang selama bertahun-tahun menyimpan rahasia dua generasi.
Meja yang dipilih Reno untuk menyembunyikan bukti kejahatannya.
Tanpa pernah mengetahui bahwa pemilik pertamanya telah menyiapkan tempat itu untuk menjaga kebenaran.
