Wulan tidak langsung bertanya.
Ia hanya menatap tangan Aditya yang menggenggam lipstik itu terlalu cepat, seolah benda kecil tersebut adalah sesuatu yang tak boleh disentuhnya.
“Punya siapa?” tanyanya akhirnya.
Aditya memasukkan lipstik itu kembali ke laci.
“Entahlah. Mungkin punya sepupuku. Mobil ini kan tiga tahun dititipkan.”
Jawabannya terdengar masuk akal.
Hampir terlalu masuk akal.

Wulan mengangguk pelan. Dari kursi belakang, Bimo masih bercerita tentang teman sekelasnya tanpa menyadari perubahan udara di dalam mobil.
Namun Wulan mencium parfum itu lagi.
Manis, sedikit tajam, dan jelas bukan aroma yang biasa ada di rumah mereka.
Sesampainya di sekolah, Bimo berlari masuk setelah mencium pipi ibunya. Kepada Aditya, ia hanya melambaikan tangan.
Dalam perjalanan pulang, Wulan mencoba membuka percakapan.
“Kamu kemarin dari bandara langsung ambil mobil?”
“Iya.”
“Sama siapa?”
Aditya meliriknya sekilas.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma tanya.”
“Aku capek, Wulan. Jangan mulai macam-macam.”
Kalimat itu membuat Wulan terdiam.
Ia bahkan belum menuduh apa pun.
Hari-hari berikutnya tidak membuat keadaan membaik.
Aditya memang pulang, tetapi keberadaannya di rumah justru membuat Wulan merasa lebih kesepian daripada ketika pria itu berada ribuan kilometer jauhnya.
Ponselnya selalu menghadap ke bawah.
Ia memasang kata sandi baru.
Kadang ia keluar ke balkon untuk menerima telepon. Kalau Wulan mendekat, percakapan segera dihentikan.
Yang paling menyakitkan justru perubahan-perubahan kecil.
Aditya tidak lagi suka kopi buatan Wulan karena katanya terlalu manis. Ia tidak lagi memakai sabun yang selama bertahun-tahun mereka beli bersama. Bahkan suatu pagi, Wulan menemukan sebotol parfum pria mahal di kamar mandi, merek yang tak pernah digunakan Aditya sebelumnya.
“Kamu berubah banyak,” kata Wulan suatu malam.
Aditya sedang mengetik di ponselnya.
“Orang memang berubah.”
“Hanya dalam tiga tahun?”
Kali ini Aditya mengangkat kepala.
“Tiga tahun itu lama.”
Wulan tersenyum hambar.
“Aku tahu.”
Aditya tidak memahami maksudnya.
Tiga tahun memang lama.
Cukup lama bagi Wulan untuk belajar mengurus semuanya sendirian.
Cukup lama bagi Bimo untuk lupa bagaimana rasanya punya ayah di rumah.
Dan rupanya cukup lama bagi seorang suami untuk pulang sebagai orang asing.
Seminggu setelah kepulangan Aditya, Wulan sedang mencuci pakaian ketika menemukan sebuah struk di saku celana suaminya.
Struk restoran di kawasan Dago.
Tanggalnya sama dengan hari Aditya pulang.
Pukul 17.26.
Dua orang.
Ada dua menu utama, dua minuman, dan satu potong tiramisu.
Tangan Wulan dingin.
Pesawat Aditya mendarat sekitar pukul tiga sore.
Ia baru sampai rumah hampir pukul delapan.
Selama ini Wulan mengira suaminya terlambat karena macet.
Ternyata ia makan bersama seseorang.
Malamnya, Wulan meletakkan struk itu di meja.
Aditya baru keluar dari kamar mandi ketika melihatnya.
Wajahnya berubah sesaat.
“Siapa perempuan itu?”
Aditya menghela napas panjang.
“Kamu bongkar-bongkar sakuku?”
“Aku sedang mencuci pakaianmu.”
“Nggak semua hal harus kamu curigai.”
“Kalau begitu jawab.”
Aditya mengambil struk tersebut.
“Teman kerja.”
“Perempuan?”
“Kenapa kalau perempuan?”
Wulan menatapnya.
“Karena aku menunggu kamu tiga tahun. Dan di hari kamu pulang, sebelum menemui istri dan anakmu, kamu memilih makan bersama perempuan lain.”
Aditya mengusap wajahnya.
“Dia membantu banyak selama aku di luar negeri.”
“Namanya siapa?”
Aditya terdiam.
“Aditya.”
“Larissa.”
Nama itu terasa asing.
Namun cara Aditya mengucapkannya tidak.
Terlalu lembut.
Terlalu terbiasa.
“Lipstik itu punya Larissa?”
Aditya tidak menjawab.
Wulan sudah mendapatkan jawabannya.
Malam itu mereka bertengkar untuk pertama kalinya sejak kepulangan Aditya.
Tidak ada teriakan keras. Justru suara mereka rendah karena Bimo tidur di kamar sebelah.
Aditya bersikeras bahwa Larissa hanya rekan kerja. Ia mengatakan perempuan itu kebetulan pulang ke Indonesia pada waktu yang sama dan mereka membicarakan urusan pekerjaan.
Wulan ingin percaya.
Tuhan tahu betapa ia ingin percaya.
Sebab mempercayai Aditya jauh lebih mudah daripada menerima kemungkinan bahwa tiga tahun penantiannya mungkin diberikan kepada orang yang salah.
Dua hari kemudian, kebohongan berikutnya datang sendiri.
Aditya mengatakan ia harus pergi ke Jakarta untuk menemui mantan atasannya.
Sekitar pukul sembilan malam, ponsel Wulan berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Mbak Wulan?”
“Iya. Siapa?”
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Saya Larissa.”
Wulan merasa seluruh tubuhnya menegang.
Pesan berikutnya lebih panjang.
“Saya rasa kita harus bertemu. Ada sesuatu tentang Aditya yang seharusnya Mbak tahu. Tapi bukan seperti yang Mbak pikirkan.”
Mereka bertemu keesokan siangnya di sebuah kedai kopi di kawasan Braga.
Wulan datang lebih awal.
Ketika seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun masuk, Wulan langsung mengenalinya tanpa pernah melihat fotonya.
Bukan karena wajahnya.
Karena aroma parfumnya.
Aroma yang sama dari mantel Aditya.
Larissa mengenakan blus krem sederhana dan celana hitam. Tidak ada penampilan mencolok seperti perempuan yang selama semalaman dibayangkan Wulan.
Ia justru terlihat gugup.
“Mbak Wulan?”
Wulan mengangguk.
Larissa duduk di depannya.
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
“Lipstik itu punya kamu?” tanya Wulan tanpa basa-basi.
Larissa tampak terkejut.
Kemudian mengangguk.
“Iya.”
Jantung Wulan seperti dijatuhkan.
“Kalian punya hubungan?”
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
“Saya tidak bohong.”
Larissa membuka tasnya, mengambil sebuah map tipis, lalu meletakkannya di meja.
“Aditya memang sering bersama saya selama dua tahun terakhir. Tapi bukan karena kami selingkuh.”
Wulan tidak menyentuh map itu.
“Lalu karena apa?”
Larissa menatapnya cukup lama.
“Karena suami Mbak sakit.”
Wulan membeku.
Larissa mendorong map itu mendekat.
Di dalamnya terdapat salinan hasil pemeriksaan rumah sakit dari luar negeri.
Nama Aditya tercetak jelas.
Ada hasil pemindaian, laporan operasi, dan sejumlah istilah medis yang tidak sepenuhnya Wulan pahami.
Namun satu kata langsung menangkap matanya.
Tumor.
Wulan mengangkat wajah.
“Apa ini?”
“Dua tahun lalu Aditya pingsan di tempat kerja. Dari pemeriksaan ditemukan tumor di kepalanya. Untungnya bisa dioperasi.”
Wulan merasa suara di kedai kopi menghilang.
“Kenapa aku nggak tahu?”
“Dia melarang kami memberi tahu Mbak.”
“Kenapa?”
Larissa menarik napas.
“Karena operasinya berisiko.”
Wulan menatap halaman-halaman itu lagi.
Tangannya mulai gemetar.
“Tapi dia sudah sembuh.”
“Secara fisik, sebagian besar.”
“Sebagian besar?”
Larissa menunduk.
“Setelah operasi, ada komplikasi. Beberapa bagian ingatannya terganggu.”
Wulan merasa tengkuknya dingin.
Larissa melanjutkan dengan hati-hati.
“Dia masih ingat identitasnya. Pekerjaan. Banyak hal dari masa lalu. Tapi ada bagian-bagian tertentu yang terasa seperti potongan gambar tanpa emosi.”
Wulan tidak mampu berkata apa-apa.
“Termasuk saya dan Bimo?”
Larissa tidak langsung menjawab.
Itulah jawaban paling kejam.
Air mata Wulan jatuh sebelum sempat ditahannya.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Pelukan kaku kepada Bimo.
Tatapan kosong kepadanya.
Jawaban-jawaban pendek.
Jarak di tempat tidur.
Wulan menutup mulutnya.
“Kenapa dia pura-pura?”
“Dia nggak pura-pura sepenuhnya. Dia tahu Mbak istrinya. Dia tahu Bimo anaknya. Dia punya foto, video, percakapan kalian. Tapi mengetahui fakta dan merasakan kedekatan itu dua hal berbeda.”
Larissa mengusap matanya.
“Selama hampir setahun, dia berusaha mengingat kalian.”
Wulan terisak.
“Kenapa nggak pulang?”
“Karena dia takut.”
“Takut apa?”
“Pulang dan melihat Mbak menyadari bahwa dia sudah tidak bisa mencintai dengan cara yang sama.”
Wulan tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Dikhianati mungkin akan lebih sederhana.
Ia bisa marah.
Ia bisa membenci.
Namun bagaimana ia membenci seseorang karena bagian otaknya tak lagi mampu menghubungkan wajah istrinya dengan tiga tahun kerinduan?
“Lalu kenapa kamu ada di mobil?”
“Saya menjemput dia dari bandara.”
“Restoran?”
“Dia panik.”
Larissa tersenyum pahit.
“Di perjalanan ke rumah, dia minta berhenti. Tangannya gemetar. Dia bilang dia nggak tahu harus berkata apa ketika bertemu Bimo.”
Wulan teringat Aditya tiba hampir lima jam setelah pesawat mendarat.
Selama empat jam itu, ia marah karena sup menjadi dingin.
Sementara mungkin suaminya sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu rumahnya sendiri.
Wulan pulang sore itu dengan mata bengkak.
Aditya sudah berada di rumah.
Begitu melihat map di tangan istrinya, wajahnya pucat.
“Kamu ketemu Larissa.”
Bukan pertanyaan.
Wulan meletakkan map itu di meja.
“Kenapa?”
Aditya duduk perlahan.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Tiga tahun, Dit.”
Suara Wulan pecah.
“Aku menunggu kamu tiga tahun.”
“Aku tahu.”
“Nggak. Kamu nggak tahu.”
Untuk pertama kalinya, Wulan meninggikan suara.
“Aku bawa Bimo ke rumah sakit sendirian. Aku naik lima lantai bawa beras ketika lift rusak. Aku rekam setiap ulang tahun, setiap pentas sekolah, setiap kali dia belajar sesuatu yang baru karena aku pikir suatu hari papanya akan pulang dan melihat semuanya!”
Air mata mengalir deras.
“Aku bertahan karena kupikir kamu juga sedang bertahan untuk pulang kepada kami.”
Aditya menunduk.
“Aku memang mencoba.”
“Tapi kamu membiarkan aku berpikir kamu punya perempuan lain.”
“Aku nggak tahu kamu berpikir begitu.”
“Karena kamu bahkan nggak melihatku cukup lama untuk tahu!”
Keheningan jatuh.
Dari lorong terdengar suara kecil.
“Ma?”
Bimo berdiri di depan kamar sambil memeluk boneka dinosaurusnya.
Wulan buru-buru menghapus air mata.
Namun Bimo sudah melihat.
Anak itu memandang ayahnya.
“Papa bikin Mama nangis?”
Aditya tidak menjawab.
Bimo berjalan mendekati ibunya dan memeluk pinggang Wulan.
Kemudian, sesuatu yang tidak disangka siapa pun terjadi.
Aditya tiba-tiba menutup wajahnya.
Bahu pria itu bergetar.
Bimo menatapnya kebingungan.
“Papa?”
Aditya menangis.
Tangisnya bukan tangis pelan seorang pria dewasa yang malu menunjukkan kelemahan. Ia menangis seperti seseorang yang baru kehilangan sesuatu dan baru menyadari betapa berharganya hal tersebut.
“Aku minta maaf,” katanya terbata.
Bimo melepaskan Wulan dan mendekatinya.
Aditya menatap wajah anak itu.
“Aku ingat sesuatu.”
Wulan membeku.
“Apa?”
Aditya menunjuk boneka dinosaurus di tangan Bimo.
“Yang hijau itu.”
Bimo mengangkat bonekanya.
“Dino?”
Aditya mengangguk sambil menangis.
“Aku yang beli.”
Wulan menutup mulut.
Boneka itu memang dibeli Aditya sehari sebelum keberangkatannya tiga tahun lalu.
“Aku ingat kamu nangis karena nggak mau aku pergi,” bisik Aditya. “Kamu masih kecil sekali. Kamu gigit hidung boneka itu.”
Bimo tertawa kecil.
“Bimo masih suka gigit.”
Aditya tertawa di antara air mata.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, senyumnya terlihat seperti Aditya yang Wulan kenal.
Namun Wulan tidak langsung memaafkan semuanya.
Mereka memulai dari awal.
Benar-benar dari awal.
Aditya menjalani terapi lanjutan. Wulan berhenti memaksanya mengingat. Setiap malam, mereka memilih satu video dari galeri ponselnya.
Video Bimo pertama kali bersepeda.
Video ulang tahunnya yang ketiga.
Video Wulan memasang lampu sendiri sambil mengomel kepada kamera.
Kadang Aditya tidak merasakan apa pun.
Kadang kepalanya sakit.
Kadang sebuah detail kecil muncul tiba-tiba.
“Gelas itu dulu hadiah pernikahan kita.”
“Kamu nggak suka daun bawang terlalu banyak.”
“Kamu selalu dingin kalau tidur, makanya kakimu suka nempel ke kakiku.”
Setiap ingatan kecil menjadi kemenangan.
Tetapi Wulan juga belajar sesuatu yang lebih sulit.
Ia tidak boleh menghabiskan hidup menunggu Aditya yang lama kembali.
Suatu malam, beberapa bulan kemudian, mereka duduk di balkon setelah Bimo tidur.
Aditya berkata pelan, “Kalau ingatanku nggak pernah kembali sepenuhnya, kamu bakal kecewa?”
Wulan menatap lampu-lampu Bandung di kejauhan.
“Dulu aku pikir cinta itu soal menunggu seseorang kembali.”
Ia menoleh.
“Ternyata nggak selalu.”
Aditya diam.
“Kadang orang yang kita tunggu memang nggak bisa kembali seperti dulu.”
Wajah Aditya meredup.
Namun Wulan menggenggam tangannya.
“Jadi mungkin kita nggak perlu menunggu.”
Aditya menatap tangan mereka.
“Kita kenalan lagi saja.”
Untuk pertama kalinya, ia menggenggam tangan Wulan lebih erat.
Setahun kemudian, saat mereka membersihkan mobil untuk dijual, Bimo menemukan sesuatu di bawah kursi penumpang.
Sebuah lipstik merah kecokelatan.
“Ma, punya Mama?”
Wulan mengambilnya.
Lipstik Larissa.
Benda kecil yang dulu membuatnya berpikir rumah tangganya telah berakhir.
Aditya yang sedang berdiri di luar mobil menatap benda itu lalu mengernyit.
“Aku kayak pernah lihat.”
Wulan tersenyum.
“Nggak penting.”
Ia hendak membuangnya ketika Aditya tiba-tiba berkata, “Tunggu.”
Wulan menoleh.
Aditya menatap lipstik itu lama.
Kemudian wajahnya berubah.
“Bandara.”
“Apa?”
“Aku ingat hari aku pulang.”
Napas Wulan tertahan.
“Aku duduk di restoran sama Larissa. Aku bilang aku takut kamu akan lihat aku dan sadar aku bukan suamimu lagi.”
Aditya menelan ludah.
“Terus Larissa bilang sesuatu.”
“Apa?”
Aditya menatap Wulan dengan mata basah.
“Dia bilang, pulanglah. Kalau Wulan masih perempuan yang selama ini kamu ceritakan sebelum operasi, mungkin dia nggak akan meminta Aditya yang lama kembali. Mungkin dia akan mengenal Aditya yang sekarang.”
Wulan tidak bergerak.
Aditya tersenyum kecil.
“Dan ternyata dia benar.”
Bimo yang tidak memahami percakapan mereka menyelip di antara keduanya.
“Papa, Mama, jadi lipstiknya dibuang nggak?”
Wulan tertawa sambil menangis.
Ia memasukkan lipstik itu ke dalam kotak kecil di rumah.
Bukan sebagai kenangan tentang perselingkuhan yang tidak pernah terjadi.
Melainkan sebagai pengingat bahwa terkadang benda yang terlihat seperti bukti berakhirnya sebuah cinta justru menjadi awal dari cara mencintai yang baru.
Selama tiga tahun, Wulan percaya kesetiaan berarti menunggu seseorang pulang.
Namun hidup akhirnya mengajarinya sesuatu yang lebih sulit.
Ada kepulangan yang tidak membawa kembali orang yang sama.
Ada kehilangan yang tidak membutuhkan pemakaman.
Dan ada cinta yang tidak diselamatkan dengan menghidupkan masa lalu, melainkan dengan keberanian dua orang untuk saling memilih sekali lagi, bahkan ketika mereka harus memulai sebagai dua orang asing.
