Beberapa orang di showroom mulai menoleh ke arah kami.
Bagas masih berdiri di samping Tiara, tangannya menggenggam lengan perempuan itu seolah takut ia benar-benar pergi. Sementara aku, tunangannya sendiri, berdiri hanya dua meter di depan mereka seperti orang asing yang kebetulan ikut dalam pertengkaran pasangan lain.
“Yang seharusnya pergi itu dia.”
Kalimat Bagas masih terngiang di kepalaku.
Anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin karena ada titik ketika rasa sakit sudah terlalu penuh, sampai hati berhenti bereaksi.
Aku menatap cincin di jari manisku, lalu tersenyum kecil.

“Baik.”
Bagas mengernyit. “Apa?”
“Aku pergi.”
Aku mengambil tas dan berjalan menuju lift.
“Laras!”
Bagas memanggilku, tetapi tidak mengejar.
Aku tahu karena pintu lift yang mengilap memantulkan seluruh showroom di belakangku.
Tiara berdiri dengan mata merah.
Bagas tetap berada di sisinya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mencari alasan untuk membenarkannya.
Di dalam lift, ponselku bergetar.
Bagas.
“Jangan bikin drama. Pulang dulu. Nanti kita bicara.”
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.
“Aku antar Tiara pulang dulu karena dia lagi nangis.”
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa.
Ternyata bahkan setelah mengusir tunangannya sendiri, hal pertama yang ia khawatirkan tetap perasaan Tiara.
Aku mengetik satu kalimat.
“Tidak perlu buru-buru pulang.”
Lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.
Aku tidak pulang ke apartemen.
Aku pergi ke rumah kakakku, Raka.
Begitu membuka pintu dan melihat wajahku, dia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mundur dan membiarkanku masuk.
“Kamarmu masih sama,” katanya.
Aku berhenti.
“Mas, kalau aku batal menikah, Mama bakal kecewa?”
Raka menatapku lama.
“Kalau kamu menikah dengan orang yang membuatmu bertanya seperti itu, aku yang bakal kecewa.”
Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan yang sejak tadi kujaga.
Aku menangis di ruang tamunya sampai hampir tidak bisa bernapas.
Malam itu aku menceritakan semuanya.
Restoran.
Tamagoyaki.
Iceland.
Parfum.
Pesan yang dihapus.
Showroom.
Raka hanya mendengarkan.
Setelah aku selesai, ia bertanya satu hal.
“Kamu mau meninggalkan Bagas karena Tiara?”
Aku terdiam.
“Bukan.”
“Bagus.”
Dia mengangguk.
“Jangan pergi karena perempuan lain. Pergi karena laki-laki itu sudah berkali-kali memilih untuk tidak menghargaimu.”
Aku tidak tidur malam itu.
Pukul tiga pagi, aku membuka laptop.
Apartemen yang kutinggali bersama Bagas ternyata atas namaku. Kami membelinya tiga tahun lalu. Uang muka kubayar dari tabungan peninggalan Ayah, sedangkan Bagas mencicil sebagian renovasi.
Rumah yang katanya akan kami tempati setelah menikah juga belum pernah dibeli.
Selama ini kami hanya melihat-lihat.
Seperti tanggal pernikahan kami.
Seperti masa depan kami.
Selalu dibicarakan, tidak pernah benar-benar diwujudkan.
Aku membuka folder persiapan pernikahan yang sudah kusimpan hampir dua tahun.
Venue.
Gaun.
Daftar tamu.
Fotografer.
Aku menghapus semuanya.
Terakhir, aku melepas cincin pertunangan.
Pagi harinya, Bagas menelepon sebelas kali.
Aku tidak mengangkat.
Menjelang siang, Tiara mengirim pesan.
“Lar, boleh kita bicara?”
Aku membaca tanpa membalas.
Pesan kedua masuk.
“Aku benar-benar nggak punya maksud merebut Bagas.”
Pesan ketiga.
“Kalau aku tahu hubungan kalian sedang bermasalah, aku pasti menjaga jarak.”
Aku hampir tertawa membaca kalimat terakhir.
Hubungan kami sedang bermasalah.
Seolah dirinya hanya kebetulan berdiri di tengah retakan yang sudah ada.
Aku akhirnya membalas.
“Jam empat. Kafe dekat kantormu.”
Tiara datang mengenakan blus putih dan celana panjang hitam. Wajahnya tanpa riasan tebal, terlihat rapuh dengan cara yang hampir terlalu sempurna.
“Aku minta maaf.”
Itu kalimat pertamanya.
Aku mengaduk kopi.
“Untuk apa?”
“Semua.”
“Semua itu apa?”
Tiara menunduk.
“Kalau kedekatanku sama Bagas bikin kamu nggak nyaman, aku akan menjauh.”
“Kapan?”
Dia menatapku.
“Kapan kamu mulai menyukai Bagas?”
Wajahnya berubah.
“Lar…”
“Malam pertunangan kita?”
“Waktu itu aku mabuk.”
“Atau sebelumnya?”
Dia menggigit bibir.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto Iceland.
“Kamu tahu dia bilang kepadaku pergi ke Norwegia?”
Tiara diam.
“Kamu tahu ulang tahunku minggu lalu?”
Diam lagi.
“Kamu tahu makan malam kemarin seharusnya makan malam pengganti ulang tahunku?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap menerima tamagoyaki darinya.”
Tiara mengusap air mata.
“Aku cuma nggak mau menolak perhatian orang yang baik sama aku.”
Aku menatapnya.
Lima belas tahun kami berteman.
Dari SMA sampai bekerja.
Dia tahu aku menangis ketika Bagas pertama kali menyatakan cinta.
Dia membantuku memilih gaun pertunangan.
Dia bahkan pernah berkata akan menjadi orang pertama yang menangis saat aku menikah.
“Tiara, aku mau tanya satu hal. Jawab jujur.”
Dia mengangguk.
“Kalau Bagas memilihmu, kamu akan menolaknya?”
Tiara tidak menjawab.
Dan diamnya adalah jawaban paling jujur yang pernah ia berikan.
Aku berdiri.
“Terima kasih.”
“Lar!”
Tiara memegang tanganku.
“Aku nggak pernah meminta dia meninggalkan kamu.”
Aku melepaskan tangannya.
“Itulah masalahnya, Tiara. Kamu tidak perlu meminta.”
Saat keluar dari kafe, dadaku justru terasa lebih ringan.
Namun kejutan sebenarnya baru datang malam itu.
Raka meneleponku.
“Lar, kamu kenal orang bernama Dimas Pradana?”
Aku mengenalnya.
Dimas adalah salah satu direktur keuangan di perusahaan Bagas.
“Kenapa?”
“Dia menghubungiku. Katanya harus bicara sama kamu.”
Aku bertemu Dimas keesokan harinya di sebuah restoran kecil di Kuningan.
Wajahnya tegang.
“Aku sebenarnya nggak mau ikut campur urusan pribadi kalian,” katanya. “Tapi karena kamu dan Bagas mau menikah, menurutku kamu berhak tahu.”
Dia meletakkan beberapa lembar dokumen.
“Empat bulan terakhir Bagas memakai rekening operasional perusahaan untuk beberapa pengeluaran pribadi.”
Aku melihat angka-angkanya.
Hotel di Reykjavik.
Restoran.
Penerbangan kelas bisnis tambahan.
Hadiah.
Semuanya terjadi selama perjalanan yang disebut Bagas sebagai perjalanan bisnis.
“Ini untuk Tiara?”
“Sebagian besar.”
Tanganku dingin.
“Tapi itu belum yang paling serius.”
Dimas menunjukkan dokumen berikutnya.
Nama Tiara tercantum sebagai calon penerima saham dalam skema kepemilikan karyawan setelah putaran pendanaan selesai.
Jumlahnya tidak kecil.
“Bagas yang mengusulkan?”
Dimas mengangguk.
“Investor mempertanyakannya karena masa kerja Tiara baru delapan bulan.”
Aku akhirnya memahami mengapa Bagas terus mengatakan kami akan menikah setelah putaran pendanaan.
Bukan karena dia menunggu perusahaan stabil.
Dia sedang menunggu sesuatu yang lain selesai.
Malam itu aku kembali ke apartemen.
Bagas sudah menunggu.
Begitu aku masuk, dia berdiri.
“Kamu ke mana saja?”
Aku meletakkan tas.
“Kenapa?”
“Aku telepon nggak diangkat. Kamu juga pergi dari rumah tanpa bilang.”
“Bukankah kamu bilang yang seharusnya pergi itu aku?”
Wajahnya menegang.
“Aku emosi.”
“Aku tahu.”
Aku mengeluarkan cincin pertunangan dan meletakkannya di meja.
Suara kecil logam menyentuh kaca terasa jauh lebih keras daripada seharusnya.
Bagas memandang cincin itu.
“Apa-apaan ini?”
“Kita selesai.”
Dia tertawa pendek seolah tidak percaya.
“Karena kejadian kemarin?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Karena lima tahun terakhir.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Aku capek menjadi orang yang selalu menunggu kamu selesai memilih hal lain.”
“Laras, jangan kekanak-kanakan.”
“Tiara dapat saham berapa persen?”
Tubuhnya membeku.
Hanya satu detik.
Tetapi cukup.
“Siapa yang ngomong?”
“Jadi benar?”
“Itu urusan perusahaan.”
“Perjalanan Iceland juga urusan perusahaan?”
Dia mengusap wajah kasar.
“Aku bisa jelaskan.”
“Tidak perlu.”
“Tiara punya kompetensi. Saham itu bagian dari retensi karyawan.”
“Delapan bulan kerja?”
“Laras!”
Untuk pertama kalinya aku melihat kepanikan di matanya.
Bukan karena aku pergi.
Karena aku tahu terlalu banyak.
Dia mendekat.
“Dengar. Aku memang dekat sama Tiara. Mungkin terlalu dekat. Tapi aku nggak pernah tidur sama dia.”
Aku menatapnya tenang.
“Aku tidak pernah bertanya apakah kalian tidur bersama.”
Bagas terdiam.
“Karena perselingkuhan tidak selalu dimulai di tempat tidur.”
Aku menunjuk dadanya.
“Kadang dimulai ketika seseorang memberikan tempat yang seharusnya milik pasangannya kepada orang lain, sedikit demi sedikit, lalu menyebut pasangannya berlebihan ketika menyadarinya.”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku mengambil koper yang sudah kusiapkan.
Saat hendak keluar, Bagas memegang tanganku.
“Kalau kamu pergi sekarang, jangan harap aku mengejar.”
Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya sendiri.
“Selama ini pun kamu tidak pernah benar-benar mengejar aku, Bagas.”
Aku pergi.
Dua minggu kemudian, kabar pertunangan kami batal menyebar di antara keluarga dan teman.
Tiara mengundurkan diri dari perusahaan.
Tiga hari setelahnya, dia dan Bagas terlihat makan malam bersama.
Sebulan kemudian mereka resmi berpacaran.
Teman-temanku marah untukku.
Aku justru tidak terkejut.
Yang mengejutkan datang empat bulan kemudian.
Putaran pendanaan perusahaan Bagas gagal.
Audit internal menemukan sejumlah pengeluaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dua investor mundur. Dewan direksi mencopot Bagas dari posisi CEO sementara proses pemeriksaan berjalan.
Suatu malam dia datang ke rumah Raka.
Aku keluar menemuinya di teras.
Bagas tampak jauh lebih kurus.
“Tiara pergi,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Begitu perusahaan bermasalah, dia bilang dia nggak sanggup menghadapi tekanan.”
Ada senyum pahit di wajahnya.
“Aku kehilangan semuanya.”
“Tidak.”
Dia menatapku.
“Kamu kehilangan perusahaan. Kehilangan Tiara. Kehilangan aku. Itu tiga hal berbeda.”
“Bedanya apa?”
“Perusahaan hilang karena keputusan bisnismu. Tiara pergi karena pilihannya. Aku pergi karena pilihanmu.”
Matanya memerah.
“Kalau aku minta kita mulai lagi?”
Aku memandang lelaki yang dulu begitu kuhafal.
Aneh.
Dulu satu pesan darinya bisa membuatku menunggu berjam-jam.
Sekarang dia berdiri di depanku, meminta kesempatan, dan yang kurasakan hanya tenang.
“Bagas, kamu masih ingat aku minum apa?”
Dia terdiam.
Pertanyaan itu begitu sederhana.
Namun dia tidak bisa menjawab.
Aku tersenyum.
“Milk tea tanpa es.”
Wajahnya berubah.
“Dulu kamu hafal.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Tapi beberapa tahun terakhir, kamu bahkan membelikanku susu kedelai manis yang tidak pernah kuminum.”
Aku masuk dan menutup pintu.
Setahun kemudian, tepat pada hari ulang tahunku, Raka mengajakku makan malam.
Ketika mobil berhenti, aku tertawa karena mengenali restorannya.
Omakase yang sama.
“Kamu sengaja?”
“Sedikit.”
Kami duduk di depan chef.
Ternyata chef yang melayaniku malam itu masih bekerja di sana. Dia mengenaliku.
“Selamat datang kembali, Bu Laras.”
Aku tersenyum.
Dia membuka tablet.
“Ada catatan khusus untuk malam ini.”
Aku refleks menegang.
Chef membaca.
“Satu perempuan. Wasabi seperti biasa. Tidak suka uni. Dan hari ini ulang tahunnya, jadi jangan biarkan dia makan sesuatu yang tidak dia sukai hanya karena ingin menyenangkan orang lain.”
Aku menoleh tajam ke Raka.
Dia mengangkat kedua tangan.
“Bukan aku.”
Chef tersenyum dan menunjuk ke ujung meja.
Seorang lelaki yang duduk dua kursi dariku ikut tersenyum canggung.
Aku mengenalinya.
Dimas.
“Aku dengar dari Mas Raka kalian akan makan di sini,” katanya. “Aku cuma titip catatan. Anggap saja pembayaran utang karena dulu membawa kabar buruk.”
Aku tertawa.
“Sejak kapan kamu tahu aku tidak suka uni?”
Dimas tampak berpikir.
“Malam pertama kita ketemu, kamu memindahkan uni dari chirashi ke piring kecil. Aku ingat.”
Aku terdiam.
Bukan karena kalimat itu romantis.
Justru karena tiba-tiba aku teringat Bagas lima tahun lalu.
Lelaki yang dulu juga mengingat detail-detail kecil tentangku.
Bedanya, sekarang aku sudah memahami sesuatu yang dulu tidak kuketahui.
Cinta bukan tentang menemukan seseorang yang mampu menghafal semua kebiasaan kita.
Orang bisa mengingat hari ini dan melupakan besok.
Cinta adalah keputusan untuk terus memperhatikan, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu dan rasa penasaran terhadap satu sama lain tidak lagi terasa baru.
Chef meletakkan sushi di depanku.
Ada wasabi.
Tidak ada uni.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menikmati makanan tanpa memaksakan diri menelan sesuatu yang tidak kusukai.
Ponselku bergetar.
Sebuah nomor yang masih kuhafal mengirim pesan.
Bagas.
“Selamat ulang tahun. Semoga kamu bahagia. Aku baru sadar hari ini sudah enam tahun sejak pertama kali kita makan malam bersama.”
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu menghapusnya.
Dimas menoleh.
“Pesan penting?”
Aku mengambil sumpit.
“Tidak.”
“Yakin?”
Aku tersenyum.
“Hanya catatan pelanggan lama yang seharusnya sudah dihapus sejak dulu.”
Chef di depan kami tertawa kecil meski mungkin tidak memahami maksudnya.
Aku memasukkan sushi ke mulut.
Wasabinya terasa tajam hingga membuat mataku sedikit berair.
Namun kali ini aku tidak keberatan.
Karena akhirnya aku tahu perbedaan antara sesuatu yang menyakitkan dan sesuatu yang memang kusukai.
Dan ternyata, meninggalkan orang yang salah bukanlah akhir dari sebuah kisah cinta.
Kadang-kadang, itu hanya cara hidup mengembalikan kita kepada satu orang yang paling lama kita abaikan.
Diri sendiri.
